CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Perjalanan Menuju Kanada {Wisuda Savina}


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Savina dari rumah. Arfan dan Fayra lekas menyiapkan segala keperluan untuk menghadiri wisuda Savina, yang akan di adakan tiga hari lagi dari sekarang.


Mulai dari berkemas pakaian hingga mempersiapkan alat-alat yang nantinya di butuhkan oleh ibu hamil. Arfan sudah tidak terlalu memusingkan urusan pekerjaan. Sebab, ada si kakak ipar yang meng-handle itu semua.


"Fay, apa ini perlu di bawa juga?" tanya Arfan sembari menunjukkan sesuatu pada Fayra.


Ya, ada pembalut yang belum sempat Fayra gunakan. Sebab, saat ini ia sudah hamil. Jadi, dia tak memerlukan benda itu.


"Eh, gak perlu, Mas ... itu pembalut. Aku gak lagi pakai itu sekarang," tampik cepat Fayra yang membuat Arfan melongo.


"Astaghfirullah ... iya, kamu 'kan, lagi hamil." ucap Arfan sembari menepuk jidatnya pelan.


Setelah di rasa semuanya sudah rampung di persiapkan. Maka, Arfan pun meminta sang istri untuk beristirahat sejenak.


"Fay, kamu jangan capek-capek, ya! Mas gak mau kamu sampai kecapekan. Nanti, kasihan kamunya dan anak kita." Fayra tersenyum.


"Kalau gitu, gendong!" ucap Fayra menggoda sang suami yang menanggapi dengan serius kejahilannya saat ini.


"Ya, udah. Sini, Mas gendong kamu," balas Arfan dengan kegagahannya saat ini di hadapan sang istri.


"Mas, kamu serius?" tanya Fayra dengan raut wajah yang melongo tak dapat percaya.


Tanpa perlu menjawab pertanyaan dari sang istri. Arfan gegas membaringkan tubuh Fayra yang berbadan dua ke dalam pelukannya.


"Mas, aku takut ...." jerit Fayra dengan suara yang pelan.


Senyuman dari wajah tampan itu pun terbingkai dengan sempurna. Sebuah kalimat penyejuk hati pun tak lupa terlontar begitu saja.


"Jangan, takut! Mas ada bersamamu di sini. Jadi, kamu tidak perlu mencemaskan apapun. Dan ... tidak perlu merasa takut, oke?" Adegan mesra di antara keduanya pun tak dapat lagi di hindarkan.


...*****...


Menjelang hari bahagia Savina. Tentunya, tak hanya Arfan dan Fayra saja yang akan berkunjung ke Kanada. Melainkan, anggota keluarga yang lainnya juga.


"Mas, sebaiknya nanti aku pakai apa ya di wisuda putri kita?" tanya Hazna yang amat bingung sendiri.


Wanita paruh baya itu tengah memilih dan memilah, mana pakaian yang akan ia bawa dan kenakan saat wisuda putri sulungnya nanti.


Berhubung Adiwangsa (suami) nya tak kunjung jua berargumen. Maka, Hazna pun mencibir terhadap kelakuan sang suami yang terkesan tak peduli padanya sama sekali.


"Gitu, tuh! Kalau lagi asyik sama dunianya sendiri. Jadi, sampai-sampai melupakan istri sendiri, deh!" celetuknya dengan sindiran yang tak henti.


Adiwangsa menutup buku bacaannya dan memberikan sebuah kalimat penenang pada jantung hatinya, yang tengah merajuk tak tentu arah dan tujuannya.


"Kamu mau memakai apa saja akan tetap terlihat sangat cantik, Sayang ...!" ucap Adiwangsa memberikan siraman kebahagiaan pada hati yang haus akan kasih dan sayangnya.


"Bohong!" tampiknya tak memberikan cela untuk sang suami lolos begitu saja.


"Itu adalah fakta, Sayang!" ucap Adiwangsa lagi. Kali ini dengan intonasi yang lebih mendalam.

__ADS_1


"Aku masih belum bisa percaya pada ucapan gombal mu, Mas." sentak Hazna yang sudah kadung termakan api amarah.


Adiwangsa membuktikan ucapannya itu bukanlah sebuah gombalan belaka. Melain, sebuah kesungguhan dan kejujuran dari hati sanubarinya. Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah almari pakaian, yang juga tengah di jadikan tempat berkeluh kesah sang istri saat ini.


Adiwangsa mengambil satu pakaian yang amat bersejarah sepanjang perjalanan kehidupan pernikahan mereka. Pakaian yang tampak elegan. Walaupun, tak terlalu banyak pernak-pernik yang melekat pada pakaian tersebut.


"Pakai ini saja," pinta Adiwangsa yang di barengi dengan lengkungan pada bibir manisnya.


"Ini 'kan ... baju hadiah yang pertama kali kamu berikan padaku di saat aku telah menjadi istri mu, Mas. Aku benar 'kan, Mas?"


"Iya, Sayang. Jadi, apa sekarang kamu masih bingung, hmm?"


"Tentunya, tidak sama sekali, Mas. Terima kasih, ya Mas! Kamu ternyata masih mengingat semua ini setelah sekian lama kita hidup bersama." ucap Hazna dengan sumringah.


Mereka pun saling berpelukan.


...*****...


Kediaman keluarga Arfan Alhusayn ....


Jika, Sanah terlalu bersemangat mempersiapkan segalanya. Berbeda jauh dengan putri satu-satunya yang ia miliki. Nadhifa lebih terkesan santai dan tak terlampau peduli sama sekali.


"Nad, kamu kok malah ndak ada persiapan sama sekali toh? Ini bu'e saja sudah mau selesai berkemas-kemas barang. Kamu kenapa sih, Nduk?"


"Ndak, apa-apa, Bu'e ... Nad, cuma pengen santai saja. Lah ... 'kan, yang wisuda bukan, Nad. Jadi, kenapa Nad harus repot-repot, coba?" ucapnya enteng dengan masih tetap setia pada posisi berbaring di atas sofa, sembari menonton televisi yang ada di hadapannya.


Tanpa aba-aba, televisi pun padam begitu saja. Wajah Nadhifa otomatis berubah menjadi nelangsa.


"Bu'e ... kok, TV nya di matikan?" ucap gadis itu memelas.


"Cepat bergerak dan bereskan pakaian kamu sekarang!" sergah Sanah, yang hampir-hampir hilang kendali atas dirinya sendiri.


"Tapi--" ucapan Nadhifa tak bisa berlanjut. Sanah lekas memangkas dengan tandas, ucapan anak gadisnya dengan satu jeritan sempurna.


"Buruan ...!"


Langkah Nadhifa begitu gontai nya sehingga, Sanah kembali memberikan teriakan instruksi pada sang anak.


"Nad ...!"


"Iya, Bu'e ... ini, Nad juga lagi bersemangat untuk berjalan ke kamar, kok." ucap Nadhifa dengan muka kucel nya. Muka lesu dan tak bersemangat itu selalu membingkai wajah gadis cantik itu.


"Menyebalkan! Siapa yang wisuda? Siapa pula yang di suruh siap-siap?! Dasar, aneh!" gerutu Nadhifa ngedumel dengan gumaman nya.


...*****...


Sementara di rumah sakit, Raynar tengah berdialog dengan Hamas. Kedua pria dewasa itu, tengah asyik berbincang mengenai pekerjaan.


Tapi, mengapa di rumah sakit?

__ADS_1


Hanya Raynar saja yang tahu alasan semua itu. Dia yang memegang kendali atas perusahaan saat ini. Sungguh, seorang bos yang di luar perkiraan, bukan?


"Maaf, Pak! Apakah kita harus membahas hal ini di rumah sakit, Pak?" tanya Hamas agak merasa aneh atas sikap si atasannya yang satu ini.


"Kenapa? Apa ada masalahnya, ya mau melakukan meeting di mana saja yang saya mau, hmm?"


"Ti-tidak sama sekali, Pak. Saya hanya sedikit heran saja," jawab Hamas dengan jujur.


"Oke, bagus! Semua sudah di atur, 'kan? Jadi, sekarang kita akan membahas hal tentang keberangkatan kita ke Kanada. Kamu juga harus ikut saya ke Kanada nanti. Sebab, di sela-sela acara wisuda adik saya nanti. Kamu akan saya jadikan sebagai perantara bagi saya untuk mengangkat telepon dari kolega-kolega bisnis kita, paham?"


"Apa? Sa-saya juga ikut, Pak?"


"Kenapa? Apa kamu keberatan, ya?"


"Mana berani saya menolak perintah atasan, Pak. Baiklah, kalau begitu saya akan mempersiapkan segala keperluan saya," ucap Hamas dengan kecepatan yang maksimum.


"Oh, ya ... nanti, kamu harus siapkan hadiah juga, ya!"


"Untuk siapa, Pak?"


"Kamu ini gimana, sih?! Ya, untuk adik saya lah! Siapa lagi memangnya yang mau wisuda? Kamu ...? Nggak, 'kan?!" Lontaran sarkas tak bisa hilang dalam diri Raynar. Apalagi, ketika netranya bertemu dengan wajah Hamas yang memang sangat cocok sekali untuk ditindas.


"Maaf, Pak! Saya kurang peka. Baiklah, saya akan persiapkan hadiahnya juga. Kalau begitu, apa saya sudah boleh pulang sekarang, Pak?"


"Hmmm, pergilah ...!" Usir Raynar tanpa tolehan sedikit pun pada Hamas.


"Terima kasih, Pak! Assalamu'alaikum," pamit Hamas sebelum pergi.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Raynar dengan jutek dan terkesan acuh tak acuh pada bawahannya yang satu itu.


Hamas berbalik badan dan sedikit bergumam dalam perjalanan menelusuri koridor rumah sakit saat ini.


"Kalau orang kaya memang sukanya semena-mena. Belum tau saja kalian. Jika, nanti aku kaya kalian yang akan aku perlakuan sebaliknya. Astaghfirullah ... eling, Ham ... kamu ngawur banget jadi orang! Hishhh ... bisa-bisanya aku bermimpi setinggi gunung berapi." gerutunya sepanjang koridor rumah sakit yang ia jajaki.


Syukurlah, hal itu tak bisa di dengar oleh si atasan menyebalkan seperti Raynar. Jika, tidak ... entah apa yang akan terjadi pada nasib Hamas nanti.


...*****...


Keesokan harinya, semua orang telah berkumpul di bandara. Semalam, ada yang sudah berpamitan pada orang terkasih. Ada juga yang sudah meminta izin untuk cuti kuliah. Lalu, ada juga yang libur sejenak dari bekerja.


Semua orang sibuk untuk meramaikan acara wisuda Savina. Setelah selesai melakukan check-in semua lekas masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Kanada.


Perjalanan panjang menuju Kanada pun di mulai. Bagi Fayra, ini adalah perjalanan pertamanya sejak berbadan dua. Sedangkan bagi Arfan ini adalah perjalanan ke duanya setelah menikah dengan Fayra.


Pesawat pun mengudara dengan bebasnya. Menyapa awan-awan putih yang berada di atas sana. Menembus setiap pori-pori udara yang ada.


"Bismillah ... ya, Allah ... lindungilah kami semua. Sehingga kami bisa sampai dengan selamat ke Kanada. Aamiin yaa ... rabbal aalamiin ...!" Doa Fayra terbersit di dalam hatinya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2