
Belum lagi usai kesalahpahaman yang tercipta karena ulah sang ayah. Morgan harus menerima berita dari Arfan. Ketika Morgan mencoba menenangkan Savina, Arfan pun menelpon dirinya.
"Vina ... tolong jangan salah paham padaku, ya?!" ucap Morgan memohon sembari terus menggandeng tangan Savina dengan erat.
"Vina ... ak--,"
Drettt ... drettt ... drettt ....
Telpon Morgan bergetar di dalam saku celananya. Ia pun lekas mengangkat dengan tergesa-gesa.
"Ya, halo ...?"
"Halo, Tuan Morgan Tan. Maaf, bila ini terkesan mendadak. Tapi, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Anda. Bisakah, kita bicarakan masalah mengenai kerjasama kita waktu itu sekarang?" ucap Arfan dari belahan dunia lainnya.
"Maaf, Arfan! Tapi, saat ini saya sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu sama sekali. Bisa kita bicarakan hal ini lain kali saja, 'kan?!" balas Morgan dengan menukik tajam dari balik ucapannya pada Arfan.
"Kalau begitu, sepakat! Itu artinya kerjasama di antara kita selesai tanpa perlu di mulai, bukan?" ancam Arfan yang tak mau kalah dari Morgan.
"Apa ...?! Bagaimana bisa begitu ...?! Ini tidak adil, Arfan!" pekik Morgan dari balik telepon.
Sementara, Savina telah melangkah menjauh dari Morgan. Savina merasa lelah, muak, marah dan masih banyak lagi hal lainnya yang Savina rasakan saat ini. Deritanya seolah tak pernah berkesudahan. Selalu saja ia merasa tersudut dan dipojokkan.
"Saya akan mengurus mu nanti, Arfan! Saya berjanji akan membuat perhitungan denganmu dan perusahaan ayah mertuamu itu nanti!" Morgan lantas memutus sepihak sambungan telepon genggamnya.
Morgan mengejar langkah kaki Savina yang teramat gontai.
"Vina ...! Tunggu ...!" jeritnya yang telah meluncur ke arah Savina berada.
"Apalagi, sih ...?! Bukannya, kamu sudah berhasil membuat aku merasa tertekan dan menderita? Apa ini ...? Apa inilah tujuan sebenarnya kamu mendekati aku, Morgan?!" pekikan kuat Savina lontarkan tepat di wajah tampan Morgan Tan.
Savina tak hanya sampai di situ, ia gegas menarik kerah baju Morgan Tan dengan sekuat tenaganya.
"Apa sekarang kamu sudah puas, hah ...?! Apa sudah cukup kalian semua mempermainkan perasaanku selama ini, hah ...?! Tidak, keluargaku. Tidak, kamu! Semua orang hanya ingin bermain-main dengan hati nurani ku saja! Hiks ... hiks ... hiks ...!" Savina meraung-raung tepat di bawah kaki Morgan Tan.
Derai air matanya mulai bercucuran membasahi bumi. Bumi yang menjadi pijakannya saat ini.
Morgan berjongkok mengikuti tubuh perempuan yang tengah lemah itu. Ia pegang pundak rapuh itu dengan tangan yang berbalut keyakinan.
Ia coba untuk meyakinkan hati Savina yang telah hancur itu sekali lagi. Agar, gadis cantik itu kembali ceria lagi.
__ADS_1
"Vina ...? Harusnya aku yang bersimpuh di kakimu. Bukan kamu, Vina!" Savina bergeming dari tangisnya. Ia tatap lekat wajah tampan itu dalam diam. Namun, derai air matanya tak urung jua sirna.
"Jangan menangis seperti ini! Aku ... aku yang salah. Maafkan aku! Seharusnya, tidak aku biarkan kamu ikut terseret dalam permasalahan yang tengah aku hadapi." ucap sesal Morgan Tan kemudian.
Ada yang berbeda dari pengucapan Morgan Tan akhir-akhir ini. Ia tak lagi berbicara formal pada Savina. Seakan ia merasa hubungan di antara dirinya dan Savina sudah semakin dekat dan akrab. Kata 'saya' sudah berubah menjadi 'aku'.
"Apa kamu bilang ...?! Menyeret ku ...?! Itu berarti ... berarti selama ini kamu memang mempunyai motif di balik kedekatan kita, iya ...? Begitu, 'kah, hah ...?!" Pekikan kuat lagi-lagi Savina hujamkan di depan wajah tampan Morgan Tan.
"Maaf!" ucap Morgan semakin lirih dan merasa bersalah yang teramat dalam.
Savina tak dapat lagi mempercayai ucapan Morgan Tan saat ini. Dia berbalik badan dan mulai mencari taksi yang berseliweran di jalanan.
Savina mencoba menghentikan taksi sebisa dan semampunya. Namun, nihil! Sepertinya, para supir taksi satu pun tak ada yang mau berhenti.
"Ada satu hal yang selama ini tidak pernah aku bohongi, Savina Maheswara!" Satu pernyataan keluar dari mulut Morgan Tan dengan satu pekikan.
Savina pun menghentikan aksinya yang mencoba untuk memberhentikan para taksi yang berseliweran. Ia hapus jejak-jejak tangis kesedihan pada wajahnya. Ia bulatkan tekad untuk tidak menjadi perempuan lemah. Ia mulai mendengarkan dengan seksama.
"Ada hati dalam diri setiap manusia. Dan ... hati ku ini telah berbicara bahwa ia teramat sangat mencintai mu saja. Bukan sebuah bualan belaka yang ku sampaikan. Tapi, suatu perasaan yang nyata adanya. Aku memang tidak pandai merangkai kata-kata yang indah. Namun, jika kali ini saja kamu percaya. Aku akan benar-benar memperjuangkan sebuah rasa yang ada di dalam dada. Akan tetapi, bila hatimu tidak sama denganku. Aku hanya dapat berpasrah."
Hening dalam kebisingan pun terjadi di antara mereka. Laju kendaraan bermotor mulai dari yang beroda empat, dua hingga tiga pun tak lagi mereka hiraukan.
Tatapan mata mereka saling bertemu, sebab Savina telah membalikkan badannya menghadap ke arah Morgan, si pembicara saat ini yang juga telah bersikap berdiam diri.
Savina mulai berani melawan rasa egoisme yang mendekap erat di dalam dadanya. Mulai memberanikan kaki untuk melangkah dan melontarkan sebuah tanya.
Sambil terus berjalan, Savina berucap lirih.
"Apakah kali ini benar tidak ada kebohongan yang kau sampaikan? Apakah kali ini aku bisa dapat mempercayai setiap kata yang terucap dari bibir mu, itu? Apakah kali ini kita benar-benar berpijak pada pijakan yang sama? Atau ... ini hanyalah sebuah rekayasa?" Setiap tanya itu terus Savina luapkan sebagai bentuk dari pelampiasan kekecewaan yang teramat dalam tak bertuan.
Hanya satu kata yang terus menerus Morgan Tan ucapkan.
"Ya,"
"Benarkah?" tanya ulang Savina yang masih tak bisa percaya dengan mudahnya.
"Ya," lagi-lagi kata yang sama yang Morgan ucapkan padanya yang terus saja bertanya.
"Benarkah seperti itu, Morgan? Apa benar kamu tulus mencintai diriku yang memang haus akan kasih sayang ini, hah?!" pekiknya yang juga memukul kuat dada Morgan Tan dalam posisi mereka yang saling berhadapan saat ini.
__ADS_1
"Ya ...! Aku mencintaimu seperti langit merindukan bumi. Aku mencintaimu seperti hujan merindukan datangnya pelangi." ucap Morgan Tan dengan lantangnya.
"Aku ... mencintaimu seperti seorang kekasih yang kehilangan belahan jiwanya." ucap Morgan Tan lagi yang semakin lama semakin melemah.
Morgan bersimpuh dan tertunduk lemah. Bukan karena ia merasa kalah. Akan tetapi, karena ia merasa amat sangat bersalah. Ia menyesali perbuatannya pada Savina.
"Bangun!" seru Savina.
Morgan tetap kekeuh tak bangkit dari duduk bersimpuhnya.
"Aku bilang bangun, Morgan Tan ...!" kali ini Savina menaikkan intonasinya.
"Kamu itu seorang pria. Di mana harga dirimu itu, hah?! Jangan menjadi lemah hanya karena keegoisan orang tua kita! Jangan menjadi hina hanya karena mereka tak pernah tahu tentang perasaan kita yang sebenarnya!" Tangis Savina pun pecah lagi, lagi dan lagi.
"Maafkan aku Savina Maheswara! Hanya itu yang bisa aku lakukan padamu yang benar-benar aku sayangi dan cintai,"
"Kalau begitu, berikan aku bukti! Tunjukkan padaku ketulusan mu itu!" tantangnya pada pria tampan itu dengan lantang.
"Kamu mau aku melakukan apa? Aku akan melakukannya sekarang juga!" ucap Morgan dengan yakin se-yakin-yakinnya.
"Berikan aku kasih sayang yang tulus dan nyata!" ungkap Savina dengan menundukkan kepalanya.
Savina merasa malu sebenarnya untuk berkata seperti itu pada Morgan Tan. Tapi, di satu sisi ia memang sangat membutuhkan perhatian. Namun, di sisi lainnya ia juga harus menelan rasa malunya dalam-dalam.
"Baiklah! Mulai hari ini, jadilah kekasihku dan kita hadapi semua ini bersama-sama. Aku akan berusaha memberikan pelayanan sebagai seorang kekasih padamu dengan setulus hati. Tapi, ...,"
"Tapi, apa?" Savina membulatkan manik matanya sempurna.
"Izinkan aku untuk selalu menggandeng tanganmu kemana pun kita pergi. Boleh?" Satu senyuman melengkung terbit dari bibir Savina.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke tempat yang entah di mana berhentinya. Tak penting lagi ingin kemana. Bagi mereka kebersamaan saat ini adalah sebuah anugerah yang patut untuk di syukuri selagi bisa.
Sebab, akan ada masa kita tak dapat lagi bersama-sama dalam kurun waktu yang lama. Atau ... mungkin untuk selamanya tak lagi bisa bersama. Begitulah kehidupan mengajarkan kita dengan banyaknya ujian.
...*****...
Ya, begitulah kira-kira sikap wanita. Dia akan melemah jika pria telah bisa memahami isi hatinya. Namun, dia akan terus berkeras hati. Bila pria tak dapat memahami situasi dan tak bisa mengambil kendali.
Menjadi kuat itu sangat di anjurkan untuk mu wahai para wanita di luar sana. Tapi, menjadi lemah hanya karena keadaan. Tolong ... jangan lakukan!
__ADS_1
Berpikirlah maju dan ambil baju terbaikmu. Lalu, berjalan ke depan tanpa lagi mau menoleh ke masa kelam. Masa di mana kamu tenggelam dalam keadaan yang membuat mu merasa semakin karam.
...*****...