
Pria lajang memang hidup dengan caranya sendiri. Tentu semuanya ia lakukan sesuka hati. Apalagi belum memiliki istri. Hal itu justru akan membuat dirinya lebih ekstra memperhatikan kebutuhan sendiri.
Raynar baru saja bangun dari lelapnya. Padahal, jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul 09.05 WIB. Bukankah, itu sudah cukup siang? Namun, ia tak peduli akan hal itu.
Ia perlu membersihkan diri sebelum bergegas pergi. Entah ada rencana apa ia selepas mandi. Yang pasti, ia akan melakukan hal yang ia sukai.
Menjadi anak dari orang kaya dan ternama. Jelas membuat ia besar kepala dan berbangga tiada henti-hentinya. Tak jarang, ia menggunakan kekuasaan sang ayah di mana pun ia berada.
Walaupun kelakuannya kerap membuat Adiwangsa sakit kepala dan bahkan sangat murka. Tapi, nyatanya ia tak pernah kapok untuk mengulangi hal yang sama.
...*****...
"Hahhh ... hidupku memang sangat beruntung! Setelah selesai sarapan aku akan langsung pergi bersenang-senang dengan teman-temanku. Apalagi, ini adalah hari Minggu. Waktunya untuk ber-party ria." ujarnya sumringah.
Segera ia teguk minum itu hingga tandas. Kemudian, ia mengambil kunci di atas nakas samping tempat tidurnya.
Tanpa berlama-lama lagi, ia lantas membawa diri untuk keluar dari apartemen mewahnya tersebut.
...*****...
"Halo, Bro! Lho semua lagi di mana? Bisa ketemuan di tempat biasanya, hah?!" jerit Raynar di dalam mobil yang atapnya tengah terbuka. Jadi, suara angin sedikit membuat ia harus mengeraskan suaranya.
"...,"
"Oke-oke ...! Gue akan ke sana langsung. Bye-bye ...!" telpon pun di tutup sepihak oleh Raynar.
Mobil di bawa kencang membelah jalanan. Raynar tak sabar ingin sampai ke tempat tujuan dengan secepat mungkin.
...*****...
Bar ...
Akhirnya, Raynar pun tiba di salah satu Bar favoritnya. Di sinilah biasanya Raynar menghabiskan waktu dan uangnya. Tentunya bersama teman-temannya. Tak hanya itu, di sini dia juga bebas melakukan apa saja dia mau. Termasuk, mencari sentuhan dari seorang wanita.
"Bro ... sini!" panggil salah satu temannya yang ada di sana. Raynar pun sedikit berlari ke arah temannya tersebut.
"Kalian udah pesan minum?"
"Udah, dong! Udah dari tadi malah. Nih, liat si Jo, udah mabok doi! Hahaha ...." tawa temannya yang bernama Robby Danuarta.
"Berisik, Lu, By!" sambar Jodi Prakash.
"Dasar turunan Bollywood emang, gitu! Nggak, sabaran banget pengen mabok!" ujar Raynar pada teman-temannya tersebut.
"Iya, ya. Eh, tumben, Lu nyamperin kita. Ada apa, Bro? Apa pak presiden nggak, bakalan marah, ntar, hah?!" tanya Robby.
"Tenang! Kata mama gue, tuh orang lagi pergi ke Milan. Jadi, gue aman! Hehehe ...." tawa Raynar pun menggema.
Sementara si turunan Bollywood sudah tidak sadarkan diri karena mabuk.
"Eh, Lu, nggak mau pesan minum juga kayak kita, hah?!"
"Pesan, dong! Masa, nggak." lalu, Raynar memesan minuman pada pelayan yang ada di sana.
"Mas, minuman 5 botol, ya!"
"Baik, Tuan!"
Mereka pun minum hingga mabuk juga. Sekarang, ketiga pria lajang itu terkapar di bar tersebut.
Raynar sadar ketika suara bising dari ponselnya yang sangat mengganggunya.
"Duh, siapa, sih yang nelpon?! Ngotot, amat kayaknya." Raynar pun mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Halooo ... eh, Lu siapa, hah?! Ganggu aja!" sewotnya dengan khas orang yang sedang mabuk berat.
"Halo, Kak Raynar?! Kakak di mana, hah?! Papa hari ini pulang. Kakak harus jemput papa di bandara!" ujar Fayra dari balik telepon.
"Eh, Fay ... Kamu aja, ya yang jemput tuh pak presiden. Aku lagi ... eee ... nongkrong sama teman-teman. Jadi, nggak bisa. Hehehe ... sorry, ya adik cantikku!" telepon pun di putus sepihak.
Di seberang sana, Fayra langsung panik karena ulah sang kakak yang tak pernah bia berubah.
"Sayang ...! Kamu mau kemana, hmmm?" pekik Hazna yang melihat Fayra jalan terburu-buru.
"Menyeret anak mama pulang dari lembah dosa!" sahut Fayra dengan pekikan yang tak kalah kuatnya dari sang mama.
Arfan yang tengah mencuci mobil pun di angkut pergi oleh Fayra. Tanpa permisi, Fayra masuk ke dalam mobil yang tengah di cuci.
"Eh, eh, eh ... Non, mobilnya sedang saya cuci. Kenapa main masuk, aja?"
"Buruan masuk kamu! Jangan, banyak nanya!" sarkas Fayra dengan geregetan.
"Ada apa lagi ini? Ya, ampun ...! Lama-lama, aku bisa mati berdiri kalau terus-terusan di ajak pergi tanpa permisi begini!" gerutu Arfan yang tak habis pikir dengan tingkah sang majikan.
"Arfan ...! Ayo! Malah bengong, lagi kamu." sentak Fayra dengan cepat.
"Eh, iya, Non, iya!" Arfan pun bergegas masuk dan duduk di samping Fayra yang sudah siap menerbangkan mobilnya.
Hening!
Mencekam!
"Ya, Allah ... hamba sungguh masih ingin hidup. Jangan sampai, deh non Fayra menabrak sesuatu dan kami ... ah, membayangkannya saja aku sungguh tak sanggup, ya, Allah ...!" ujar Arfan curhat di dalam hatinya.
"Kenapa kamu?! Takut, hmmm?" tanya sinis Fayra sambil terus berfokus pada kemudi setirnya.
"Iya, Non! Saya sangat takut, saya masih ingin hidup, Non. Ini serem banget, Non. Sebaiknya, biar saya saja yang menyetir mobilnya." saran Arfan yang sudah berpegangan pada selt-belt. Saking takutnya, ia sampai memejamkan mata. Gara-gara Fayra yang membawa mobilnya ugal-ugalan seperti seorang preman.
Sementara, Fayra hanya tersenyum geli melihat tingkah Arfan yang penakut tersebut.
Fayra pun menghentikan mobilnya karena ia telah tiba di suatu bar yang biasa di kunjungi oleh Raynar.
"Ayo, turun!" titah Fayra pada Arfan.
"Ini ... tempat apa, Non?"
"Jangan banyak tanya! Ayo, masuk!"
Arfan celingak-celinguk mengedarkan pandangannya. Pemuda tampan itu tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya. Itu sebabnya, ia merasa gugup sekali saat ini.
"Kak Raynar ...! Wah, benar-benar gila kamu, Kak! Bisa-bisanya kamu mabuk di jam segini! Ayo, pulang!" seret Fayra yang langsung mendapatkan kakaknya dalam posisi yang sudah berantakan.
Mendengar suara ribut-ribut Fayra yang tengah menghardik Raynar. Membuat si pemuda keturunan Bollywood itu pun terjaga dari tidurnya.
"Fa, Fayra ...! Apa benar itu kamu, Fay?" tanya Jodi Prakash dengan mata yang masih setengah terbuka.
Sesekali, pria itu juga mengerjapkan matanya. Memastikan kalau itu benar-benar Fayra. Fayra gadis yang ia sukai selama ini. Namun, ia tak pernah berani mengutarakan perasaannya. Ada rasa segan terhadap Raynar karena hubungan persahabatan mereka.
"Hei ... Jodi! Kamu bukannya melarang kakakku, malah kamu juga ikutan mabuk di sini. Dasar kalian pemuda tidak berguna!" seloroh Fayra dengan kasarnya.
Arfan yang baru sadar ini bukanlah tempat yang baik. Ia pun segera membawa Raynar keluar dari tempat itu.
"Nona, sebaiknya kita cepat keluar dari tempat ini! Ayo, Nona!" ajak Arfan yang sudah memapah Raynar.
Tapi, tangan gagah Jodi menghentikan langkah mereka untuk segera pergi dari sana.
"Tunggu ... tunggu dulu, Fay! Aku ... aku masih ingin mengobrol denganmu, Fay. Aku mohon ... tetaplah di sini, Fay!"
__ADS_1
"Lepaskan! Lepaskan tanganku!!" jerit Fayra yang langsung di bantu oleh Arfan.
Arfan dengan gagahnya menepis jauh-jauh tangan Jodi dari tangan Fayra. Dia menarik paksa tangan kokoh Jodi yang menggenggam tangan Fayra.
"Ayo, Nona! Selama ada saya di sisi Nona. Tidak akan saya biarkan satu tangan yang tak sopan memegang tangan mu, Nona!" ucap tegas Arfan yang langsung membuat Fayra deg-degan.
Deg ... deg ... deg ...
"Terima kasih,"
"Tidak perlu, Nona! Ini sudah menjadi tanggung jawab saya terhadap Nona."
Mereka pun keluar dari sana.
"Aku masih mau minum lagi ...!" racau Raynar yang ada dalam dekapan Arfan.
Cetak ...
Fayra menjitak kepala kakaknya dengan cepat.
"Kakak ... kau sudah gila memang! Masih saja ingin minum. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padamu. Berharap saja semoga papa akan memberikan kamu kesempatan untuk tetap hidup." ujar Fayra yang menggerutu karena cemas terhadap nasib sang kakak tercintanya.
"Ternyata, di balik sikap cueknya, nona Fayra masih bisa peduli terhadap saudaranya." puji Arfan dalam hatinya.
...*****...
Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
Berhubung anak yang di minta untuk menjemput tidak kunjung datang. Akhirnya, Adiwangsa meminta supir pribadinya untuk menjemputnya dari bandara. Sekarang, ia pun sudah duduk di sofa dengan segudang pemikirannya.
Ketika tubuh tak berdaya Raynar di letakkan di atas sofa. Adiwangsa pun mulai mendekatinya. Lalu, dengan cepatnya ia menarik kerah baju Raynar.
"Pa ... setidaknya biarkan kakak sadar dulu!" jerit Fayra.
Namun, Adiwangsa mengabaikan saran dari sang putri.
"Bangun kamu anak tidak berguna! Bisa-bisanya kamu mabuk-mabukan lagi seperti ini!"
Bugh ... bugh ... bugh ...
Berkali-kali Adiwangsa memukul sang anak. Sampai pada akhirnya, Hazna menghalangi sang suami.
"Cukup, Mas! Sudah cukup! Biarkan dia sadar terlebih dulu, Mas. Jangan pukul dia lagi, Mas! Hiks ... hiks ...," ucap pilu Hazna yang tak tega melihat sang anak di pukul membabi-buta oleh suaminya sendiri.
Adi berjalan angkuh dengan sekelumit amarah yang masih membara di dadanya. Ia menaiki anak tangga dan menuju balkon.
Arfan seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya barusan. Ternyata, sosok Adiwangsa yang selama ini terlihat lemah lembut, bisa juga murka dengan begitu kasarnya. Arfan menatap iba pada Raynar yang masih belum sadar dari mabuknya. Walaupun ia telah di pukul berkali-kali oleh ayahnya sendiri.
"Arfan, bantu pindahkan Raynar ke kamarnya, ya!" pinta Hazna mengiba.
"Baik, Bu." Raynar pun di papah ke kamarnya oleh Arfan.
...*****...
"Makasih, Fan!" ucap Fayra yang juga ikut bersama Arfan ke kamar Raynar.
"Sama-sama, Non! Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi, Non!"
"Oh, iya. Silakan!" Fayra begitu telaten membuka sepatu sang kakak serta menyelimuti sang kakak.
Ketika Arfan berjalan keluar dari kamar Raynar. Matanya tak sengaja menangkap sosok sang majikan yang tengah melamun di balkon.
"Sepertinya, pak Adiwangsa sedang merasa resah karena peristiwa ini. Kasihan beliau! Baru pulang sudah harus menguras emosi. Hahhh ... kelakuan den Raynar juga tidak bisa di abaikan. Aku harap, semuanya akan baik-baik, saja! Aamiin!" pinta Arfan dalam sanubarinya.
__ADS_1
Lalu, ia pun berjalan menuruni anak tangga.
...*****...