
Di tengah malam tepatnya pukul 02.05 WIB. Arfan terbangun dari tidurnya yang lelap untuk mengerjakan shalat Tahajjud. Dia beranjak keluar dari peraduannya, yang kini tengah di bawah satu selimut yang sama dengan Fayra.
Sebelum beranjak ke kamar mandi, Arfan sempat melihat ke arah Fayra, yang masih lagi setia dengan tidur pulasnya.
"Aku sendiri sajalah. Sepertinya, dia masih lelah aku tidak ingin mengganggu tidurnya." Arfan lantas melangkah pergi ke kamar mandi untuk menyucikan diri.
Cukup lama Arfan berada di kamar mandi, Fayra terbangun dari tidurnya. Ia melihat Arfan tak lagi ada di sampingnya. Ia pun mencari-cari dengan netra hitamnya.
"Loh, Arfan mana? Eh, maksud ku mas Arfan, di mana? Kok, nggak kelihatan?" ucap Fayra dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Samar-samar ia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Sekarang, dia sudah bisa menebak di mana suaminya itu berada.
"Jadi, dia di kamar mandi. Loh, ini masih juga jam dua dini hari. Ngapain, tuh suami polos ku?" ujar Fayra dengan raut wajah penuh tanya.
Ketika Arfan keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Tahajjud. Fayra justru kembali tidur lagi. Agaknya, Fayra masih gugup dan malu, tidur satu kamar dengan pria yang baru menjadi suaminya itu.
"Ah, dia datang. Sebaiknya, aku pura-pura tidur saja." Fayra pun masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya.
Arfan tak menyadari akan hal itu. Ia tetap fokus mengerjakan apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sajadah panjang telah di bentang. Arfan mulai mengucapkan lafadz niat mengerjakan shalat.
"Allahu Akbar ...."
Fayra terus memperhatikan Arfan dengan tatapan penuh damba dan cinta.
"Arfan suamiku ... hatiku telah tertawan oleh akhlak mu. Bagaimana lagi ... haruskah aku katakan untuk mengungkapkan rasa bahagiaku, saat ini atas hadirmu dalam hidupku, Suamiku? Hanya Allah saja yang tahu bagaimana diri ini mencintai mu dengan setulus hatiku."
Munajat cinta Arfan lantunkan dalam hatinya, kala ia bersujud di atas sajadah. Fayra yang masih setia dengan kekaguman dan keterpukauannya pada Arfan. Ia lebih memilih untuk bergeming, tanpa mengalihkan netra dan perhatiannya pada sang suami.
Hanya dalam qalbu ia ucapkan ribuan kalimat pujian pada sang suami shaleh, yang telah di pilih secara tidak sengaja oleh ayahandanya sendiri.
"Apakah ini adalah takdir kita, Fan? Ataukah, ini hanyalah suatu kebetulan saja? Aku sungguh masih bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam hidupku, Fan. Tuhan begitu baik padaku. Padahal aku ... ah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi bila harus mengungkapkan kebenaran tentang hidupku padamu, Fan. Dalam hidupku selama puluhan tahun ini, mungkin hanya sibuk berbuat dosa! Dosa yang sulit sekali untuk di maafkan, Fan. Aku malu bila kamu tetap menerima aku yang tak pantas untukmu, Fan!" Bulir-bulir bening itu, kembali membasahi wajah cantik Fayra.
"Assalamualaikum warahmatullah ...." Arfan pun telah selesai melaksanakan shalat Tahajjud.
Ketika Arfan menangkap sosok Fayra dengan bola matanya. Istrinya itu yang sudah duduk di atas ranjang. Fayra terlihat sedang menangis dalam diamnya. Arfan jadi tidak tega melihat istrinya kembali menangis tersedu-sedu.
Bergegaslah ia mendekati sang istri tercintanya, dengan rasa khawatir yang membuncah di dada.
"Astaghfirullah ... ada apa? Apa kamu memimpikan hal yang buruk? Kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Arfan dengan penuh kelembutan.
Arfan kembali memeluk erat tubuh yang berguncang hebat itu, dengan rengkuhan kehangatan tubuhnya.
__ADS_1
"Berhentilah bila kamu sudah merasa baikan! Lanjutkanlah, bila memang kamu rasa itu di perlukan," ucap Arfan sembari mengelus-elus lembut, puncak kepala perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Fan ...!" Fayra kembali memanggil Arfan dengan sebutan nama saja. Arfan tak ingin mendebatkan hal itu. Sebab, ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempermasalahkan hal tersebut.
"Ya? Katakanlah, ada apa?"
"Aku ... aku dan Ervin pernah melakukan kiss dan itu beberapa kali, Fan. Apakah itu adil bagimu, Fan?" Satu kalimat tanya yang membuat sesak di dada Arfan karenanya.
"Maaf, Fan! Aku sangat merasa bersalah padamu, Fan! Aku tak pantas untuk kamu perjuangkan, Fan. Masih ada waktu bagimu untuk memilih menceraikan aku, Fan. Sungguh ...," Arfan meletakkan telunjuknya pada bibir ranum Fayra.
Arfan menggeleng perlahan-lahan seraya berucap, "Itu semua adalah masa lalu. Tolong ... berhentilah mengatakan tentang masa lalu yang tidak perlu kita ungkit lagi, ya?! Kamu dan aku sudah menjadi suami dan istri. Jadi, sudah cukup! Tidak perlu lagi membahas hal itu saat ini. Oke?" Fayra menyanggupi permintaan Arfan sembari terus membenamkan wajahnya pada dada bidang Arfan suaminya itu dengan posesif.
"Katakan padaku, suamiku. Apa yang harus aku lakukan agar aku tidak terus menerus merasa bersalah padamu, hmmm?" tanya Fayra yang masih membenamkan wajahnya pada dada Arfan.
"Lakukanlah, tugas-tugasmu sebagai seorang istri padaku. Apapun itu, aku akan selalu menerimanya dengan lapang dada." ucap Arfan disertai dengan helaan nafasnya yang teramat berat dan panjang.
Ketika Arfan berdiri ingin pergi, Fayra menarik tangan suaminya dan mengatakan sesuatu, "Aku ingin melakukan tugasku untuk melayani kamu sekarang, Mas." Fayra tertunduk malu-malu, kala kalimat mengundang itu ia sampaikan dengan semburat merah di wajahnya yang sudah menahan malu karenanya.
Dan dengan polosnya Arfan bertanya, seolah tak memahami apa maksud dari istri manjanya itu.
"Ma-maksud kamu a-apa, Istriku?" Fayra mendengus kesal.
"Huft ... kalau tidak mau aku berikan nafkah lahir batin ya, sudah. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya sekarang, Mas." Fayra berbalik badan dan berniat untuk kembali memejamkan matanya.
"Tunggu ... aku mau! Aku ingin melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang suami padamu sekarang, Istriku." Kemudian, Arfan memegang puncak kepala istrinya demi membacakan sebuah doa.
Doa telah Arfan lafadz, 'kan!
Perlahan-lahan, Arfan menarik tubuh Fayra mendekat ke arah tubuhnya. Kemudian, dia mulai menarik tengkuk leher Fayra. Lalu, memberikan kecupan manis pada leher jenjang Fayra. Beranjak pada pipi mulus Fayra, naik ke kening Fayra dan beralih lagi pada pipi sebelah kanan Fayra.
Hampir semua titik pada wajah Fayra di berikan kecupan hangat oleh Arfan. Fayra hanya bisa bergeming. Sebab, ia tak menyangka seorang laki-laki yang ia anggap polos. Ternyata juga bisa melakukan hal yang tak terduga.
"Apakah aku sedang bermimpi lagi, Tuhan? Kenapa aku sangat gugup dan deg-degan?" bisik batin Fayra yang takjub akan ulah suami polosnya.
Arfan menghentikan sejenak sentuhan-sentuhan hangatnya. Hanya untuk sekedar menanyai istri manjanya.
"Istriku, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu takut dan tidak bersedia melakukannya bersamaku?" tanya Arfan dengan wajah yang sudah sangat mendamba.
"Hah?! Bu-bukan seperti itu, aku ... aku hanya terkejut saja, Mas. Aku," Arfan kembali menyalurkan keinginan hatinya, untuk segera memiliki Fayra dengan utuh detik ini jua.
Dia mulai menyentuh lembut bibir Fayra, kemudian menyesap manisnya rasa bibir itu. Fayra yang telah diserang dengan sedemikian rupa, ia tak bisa menampik rasa yang ada dalam qalbunya. Sebab, sebagai seorang istri dia juga mendambakan hal yang sama dengan Arfan.
Kecupan demi kecupan itu berlangsung cukup lama. Arfan sejatinya hanya mendambakan pahala dari apa yang ia nafkah, 'kan dan berikan pada Fayra. Sebab, semua itu adalah suatu kewajiban baginya sebagai seorang suami terhadap istrinya.
__ADS_1
Lanjut ke tahap yang semakin lama semakin memanas. Mereka sudah saling berpelukan dalam selimut tebal, yang membalut tubuh mereka saat ini.
Tunai sudah satu kewajiban Fayra terhadap Arfan sebagai seorang istri seutuh-utuhnya. Walaupun, Fayra sangat gugup namun, Arfan berusaha memberikan pelayanan yang amat sangat baik dan lemah lembut pada Fayra.
"Apakah ini terlalu menyakiti mu?" tanya Arfan di sela-sela kegiatan intim mereka.
"Se-sedikit sakit, Mas. Tapi, aku yakin aku pasti bisa," ucap Fayra yang sudah mulai merasakan sakitnya beribadah bersama suami tercintanya.
"Apakah aku harus berhenti sekarang?" tanya Arfan, dengan raut wajah yang tak tega dan mulai khawatir pada istri tercintanya.
Fayra menggeleng pelan dan berucap lirih pada suaminya, yang telah menguasai penuh ruang geraknya saat ini.
"Lakukanlah, emmm ... sampai tuntas, Mas!" ucap Fayra dengan tekad yang bulat.
"Maafkan aku jika ini terlalu menyakiti mu, ya! Semoga, ini tidak akan berlangsung lama rasa sakitnya. Aamiin ...!" ucap Arfan yang kembali fokus pada tujuannya.
"A-aamiin, Mas!" balas Fayra dengan deru nafas yang tak lagi bisa teratur dan terukur.
Maka, malam itu adalah malam terindah sepanjang perjalanan hidup Arfan maupun Fayra. Mereka kini telah bersatu padu. Mudah-mudahan, setelah ini mereka bisa lebih memahami lagi satu sama lainnya.
...*****...
Ikatan cinta antara anak manusia
Haruslah di jalin dengan ikatan suci
Rasulullah adalah teladan kita
Dialah yang paling mengerti
Bagaimana cara untuk mencintai?
Bagaimana cara untuk mencumbui?
Bagaimana cara menjaga keharmonisan?
Bagaimana cara untuk tetap bertahan?
Semua telah Rasulullah ajarkan!
Tidak perlu repot-repot mencari!
Bukalah kitab suci!
__ADS_1
Maka kau akan dapati apa yang kau inginkan!
...*****...