CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Semakin Terkuak


__ADS_3

Bandara ...


Kedatangan Arfan rupanya telah di sambut oleh istrinya di bandara. Fayra yang kala itu di temani oleh kedua sahabatnya yaitu Hasna Haniyah dan Selty Apriani. Mereka begitu setia menjadi dayang-dayang bagi Fayra. Apalagi saat ini memang Fayra membutuhkan perhatian yang lebih.


"Fay, kamu kalau capek bilang, ya! Biar, kita aja yang nunggu Arfan dan bilang ke dia nanti kalau kamu juga ada di sini," ucap sekaligus seruan dari mulut Selty pada Fayra.


"Nggak, apa-apa! Aku mau tetap berdiri di sini nungguin suami ku, Sel." tolak Fayra yang sepertinya sudah tak sabar ingin melepas rindu pada sang pujaan hati.


"Ya, deh ...! Paham kita, tuh! Kamu lagi rindu berat 'kan, sama Arfan?" celetuk Hasna dengan senyum meledek pada sahabat manjanya itu.


"Udah, deh ...! Jangan pada ngaco! Na, beneran kamu gak apa-apa kalau butiknya di tinggal gara-gara nemenin aku di sini?" tanya yang menyiratkan rasa tak enak hati Fayra pada Hasna Haniyah.


"Iya, santai aja kali, Fay! Aku juga bisa cuti kalau aku mau. Sebab, berkat kamu dan Arfan waktu itu. Sekarang butik aku udah nambah lagi pegawainya," ucap Hasna penuh rasa bahagia.


"Alhamdulillah, kalau gitu, Na."


Mereka bertiga pun menunggu dengan setia di bandara. Sampai pada beberapa menit kemudian, muncullah seorang pria yang selalu menemani Arfan kemana-mana.


Derap langkah kaki pria itu begitu panjang. Sehingga, ia melangkah begitu cepat ke arah ketiga wanita itu berdiam diri.


"Assalamu'alaikum, Semuanya!" sapa Hamas dengan mengucap salam pada Fayra, Hasna dan Selty.


"Wa'alaikumsalam," jawab serempak ketiga wanita cantik tersebut pada Hamas.


"Loh, mas Arfan mana, Ham?" tanya Fayra yang merasa heran akan ketidak hadiran sang suami di samping asisten pribadinya (Hamas).


"Oh, kata pak Arfan dia sedang ada urusan mendesak. Jadi, dia pergi lebih dulu, Bu. Apa perlu saya antar pulang, Bu?" tanya Hamas yang juga melihat ke arah kedua sahabat Fayra.


Hamas sebenarnya merasa risih di tatap oleh Selty sejak tadi. Akan tetapi, ia tetap memberanikan diri untuk menawarkan bantuan.


"Oh, ya. Pak Arfan tahu kalau Ibu akan datang ke sini. Makanya, beliau menitipkan surat ini pada saya tadi saat ada di dalam pesawat. Ini dia suratnya, Bu." Hamas pun memberikan sepucuk surat pada Fayra.


"Aneh! Kenapa mas Arfan malah menulis pesan segala, ya?" ucap Fayra sembari menerima surat pemberian itu dari tangan Hamas.


Fayra ingin membuka surat itu dengan segera. Namun, Hamas melarangnya dengan sigap.


"Eh, Bu ... jangan di baca di sini! Nanti saja di rumah. Begitu pesan pak Arfan lagi pada saya tadi, Bu," jerit kilat Hamas, yang langsung menghentikan pergerakan tangan Fayra untuk membuka dan membaca isi surat tersebut.


"Ya, udah. Kalau gitu kamu antar saya dan teman-teman saya pulang sekarang!" titah Fayra yang di anggukkan oleh Hamas dengan satu kali anggukan kepala.


...*****...


Terdorong oleh rasa penasaran yang amat kuat. Arfan menunda sejenak untuk meluapkan kerinduan hatinya pada sang istri tercinta. Sebab, ada yang lebih penting saat ini yang ingin di cari olehnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Fayra sayang. Aku harus segera menemukan informasi tentang siapa sebenarnya Morgan Tan. Semoga, aku bisa mendapatkan informasi tentangnya. Sebaiknya, aku langsung tanyakan hal ini pada ayah mertua. Dia pasti tahu tentang Morgan Tan." ucap Arfan bergemelut dalam kecemasannya sendiri.


Arfan lekas menghubungi nomor ayah mertuanya. Kemudian, mulai meminta supir taksi menepi sebentar. Sebelum ia memulai misi pencariannya.


Tut ... tut ... tut ....


"Halo ...! Assalamu'alaikum," ucap salam dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam, Pa. Pa, ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Papa ada di mana sekarang, Pa?"


"Loh, kenapa kamu kedengarannya sangat mendesak, Fan. Apa kamu belum tahu kalau Fayra menjemput kamu di bandara?"


"Aku tahu, Pa. Tapi, aku sengaja menunda untuk bertemu dengannya, Pa. Sebab, ada hal yang sangat penting yang ingin aku ketahui dari papa," ucap Arfan menjelaskan alasannya pada ayah mertuanya.


"Apa itu, Fan?"


"Morgan Tan. Apa ... Papa mengenalnya?" tanyanya tiba-tiba yang membuat Adiwangsa Maheswara terdiam sejenak.


Hening!


"Ya, papa sangat mengenal siapa dia dan juga keluarganya. Dia juga sangat mengenal keluarga papa, Fan. Memangnya, kenapa? Apa kamu pernah bertemu dengannya, Fan? Oh, papa ingat sekarang. Waktu itu dia juga menyempatkan hadir ke pernikahan kamu dan Fayra, Fan. Tapi, ... kalian pada saat itu belum saling kenal. Lalu, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentangnya pada papa, Fan? Ada apa ini sebenarnya?" tanya tanpa henti dan jeda Adiwangsa pada menantunya.


"Itu juga yang ingin aku ketahui, Pa. Kalau begitu, bisa papa berikan alamat kantornya Morgan Tan padaku, Pa?"


"Dia menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita, Pa. Itu sebabnya, Arfan ingin menyelidiki tentangnya lebih dalam, Pa. Apa ... papa bisa memberikan aku informasi tentang kepribadiannya, Pa?"


"Temui papa di rumah sakit tempat Raynar bekerja. Nanti, kita akan bicarakan hal ini setelah kamu tiba di sini," titah Adiwangsa pada menantunya.


"Baik, Pa. Kalau begitu aku ke rumah sakit sekarang. Assalamu'alaikum, Pa!"


"Wa'alaikumsalam, Fan!"


Setelah sambungan telepon terputus, Arfan bergegas meminta sang supir taksi untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang sempat tertunda.


"Pak, kita ke rumah sakit 'Kasih Bunda' sekarang, ya!" seru Arfan pada sang supir taksi.


"Baik, Pak!" sahut si supir taksi dan langsung melajukan kembali kendaraan roda empat miliknya.


...*****...


Rumah sakit Kasih Bunda ...


"Makasih, Pak!" ucap Arfan sembari memberikan bayaran ongkos pada si supir taksi tersebut.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak!" Arfan mengayunkan langkah kakinya dengan derap langkah gagah tanpa perlu tergesa-gesa.


Arfan masuk menelusuri koridor rumah sakit. Ia mulai berjalan menuju tempat di mana ayah mertuanya berada.


Adiwangsa melihat sosok menantunya tengah berjalan menuju ke arahnya. Arfan yang tak sabar ingin melepas semua rasa penasarannya pun semakin mempercepat langkah.


Terlihat juga di sana ada sosok Raynar yang tengah menemani Adiwangsa. Akhir-akhir ini Adiwangsa memang lebih sering ke rumah sakit. Jika tidak bersama istrinya maka, dia akan pergi sendiri saja. Inilah salah satu alasan dirinya mengundurkan diri dari perusahaan. Dia ingin menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa ada lagi gangguan tentang perusahaan.


"Assalamu'alaikum!" sapa salam Arfan dengan raut wajah yang sedikit berpeluh.


"Wa'alaikumsalam," sambut Adiwangsa dan Raynar bersamaan.


"Fan, seriusan dari bandara kamu langsung OTW (On the way) ke sini? Terus ... kamu tinggalkan Fay yang lagi nungguin kamu di sana, hah?!" teriak Raynar yang hampir-hampir tak percaya pada kenekatan Arfan.


"Iya, Mas. Saya buru-buru datang ke sini supaya saya bisa dengan segera mengetahui sosok pria yang bernama Morgan Tan, Mas." Mendengar itu, Raynar berkerut kening merasa heran pada penuturan Arfan.


"Jadi, siapa sebenarnya Morgan Tan, Pa? Apakah dia baik atau dia jahat?" tanya Arfan memburu dan tidak memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bernafas terlebih dulu.


"Sebelum itu, duduklah dulu, Fan! Jangan terburu-buru. Memangnya, sepenting itukah sosok Morgan bagi mu?" tanya balik Adiwangsa pada menantunya.


"Iya, sangat penting, Pa. Dia--" Arfan mengurungkan niatnya untuk mengatakan perihal Morgan Tan yang tengah dekat dengan kakak iparnya.


"Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada papa dan mas Raynar. Apalagi, aku juga belum tahu bagaimana hubungan mbak Savina dengan Morgan Tan," gumam Arfan yang tak mampu untuk di ungkapkan dengan lisan.


"Fan?"


"Ya, Pa?"


"Kok, malah melamun?"


"Ndak, apa-apa, Pa. Jadi, siapa sebenarnya Morgan Tan, Pa?" ulang Arfan lagi pada ayah mertuanya.


"Seperti yang sudah papa katakan lewat telepon padamu tadi. Dia anak dari rekan bisnis papa dulu. Sudah lama memang tak ada kabar apapun dari Kai Tan papa Morgan Tan itu."


Hening!


Kedatangan seorang gadis cantik, membuat ketiga pria itu terdiam. Pembicaraan tentang siapa sosok Morgan Tan pun harus tertunda untuk sementara.


...*****...


Setelah semua misteri terkuak. Maka, detik-detik akhir pun akan semakin menemukan titik terang.


Maka, akan berakhir pula semua rasa penasaran yang melanda jiwa. Termasuk jiwa Arfan Alhusayn.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2