CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Menuju Halal Maira dan Jodi Prakash


__ADS_3

Hari menuju halal untuk Maira Nadira dan Jodi Prakash, bisa di hitung dengan jari. Tak khayal hal itu membuat ke dua belah pihak menjadi sangat sibuk.


Bagaimana tidak sibuk?


Rangkaian acara demi acara telah di susun dengan rapinya. Belum lagi mereka akan memadupadankan dua adat yang melebur jadi satu.


Bila Jodi Prakash yang keturunan Indonesia dan India. Jauh banding dengan Maira Nadira yang asli turunan Jawa.


Mereka mengambil jalan tengah untuk rentetan acara pernikahan mereka. Mulai dari memakai adat Jawa hingga India.


Tak hanya itu, gaun pengantin yang akan Maira dan Jodi pakai di hari terindah mereka juga akan ada nuansa Indonesia dan India.


Seperti halnya pernikahan pada umumnya, mereka tak lupa untuk meminta tim mendekor pelaminan sesuai dengan keinginan mereka.


Semula tak pernah Maira dan Jodi bayangkan. Bahwa, mereka berdua akhirnya akan di pertemukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Di sebuah tempat yang tengah di sulap menjadi ruang pelaminan. Tepat di salah satu sudut itu, Maira dan Jodi tengah berbincang di temani pula oleh orang-orang, yang sesekali berlalu lalang di depan mereka.


Mereka duduk di sebuah bangku panjang, sehingga bisa membuat duduk mereka sedikit berjarak.


Saat ini, agaknya kedua calon pengantin itu tengah mengobrol santai.


"Ekhemmm ... apa ustadzah Maira benar-benar yakin akan pernikahan kita ini?" Satu pertanyaan yang meluncur bebas dari bibir Jodi Prakash.


"Insya Allah ... atas izin Allah maka aku pun yakin akan pernikahan di antara kita, Mas Jodi. Kalau boleh saya tahu. Mengapa waktu itu, Mas mendadak ingin melamar saya pada abi?"


Deretan gigi putih yang Jodi tonjolkan sebagai jawaban. Tak khayal, apa yang baru saja di tanyakan oleh Maira. Tampaknya, cukup mengusik ketenangan batinnya.


"Loh, kenapa Mas Jodi malah tersenyum, begitu? Apakah ada yang salah dari pertanyaan saya barusan?" tambah Maira lagi yang semakin membuat Jodi gugup bukan kepalang.


"Tidak! Bukan, sama sekali bukan seperti itu, Ustadzah Maira. Saya hanya merasa aneh juga. Saya juga bingung harus mengatakan dari mana ide luar biasa itu berasal. Saya--," Maira menyela ucapan Jodi dengan raut wajah yang sudah memerah.


"Jadi, Mas Jodi tidak tahu dari mana ide luar biasa itu?" tanya Maira yang di dalam hatinya sudah berucap lirih.


"Jawabannya sangat sederhana, Mas Jodi. Semua itu berasal dari Allah." Maira sudah mengatakannya lewat bisikan batin. Tapi, tentu saja Jodi tak bisa mendengar itu dengan indera pendengarannya.


"Maafkan saya, Ustadzah Maira! Tapi, saya melamar ustadzah dengan rasa yang tulus dari dalam lubuk hati saya. Saya hanya ingin mengatakan dengan sejujurnya padamu ustadzah Maira. Bahwa, sejak saat pertama kali kita di pertemukan saat pernikahan Fayra dan Arfan. Sejak saat itu pulalah, saya ingin mengenal mu. Agar lebih bisa dekat denganmu. Itu saja!"


Kali ini jawaban Jodi tak main-main. Jawaban panjang yang berhasil membuat hati seorang Maira Nadira melayang 'tuk sesaat saja.


...*****...


Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...


Sudah beberapa minggu berlalu, kandungan Fayra sudah semakin terlihat. Malam ini, Fayra meminta Arfan untuk memegang perut buncitnya yang belumlah seberapa.

__ADS_1


Sebagai wanita hamil, Fayra butuh yang namanya perhatian dan kasih sayang yang lebih dari sebelumnya. Tak ingin membuat anak dalam kandungannya menunggu lama sentuhan tangan sang ayah. Fayra berjalan mendekat ke arah suaminya yang memang sedang sibuk kerja.


Sejak mengurus perusahaan, Arfan memang tak bisa memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Apalagi kalau harus memperhatikan istri dan calon anak mereka yang ada dalam kandungan Fayra.


Terkesan egois memang!


Tapi, mau bagaimana lagi?


Ia hanya bisa berusaha semaksimal yang ia mampu.


"Mas, kamu kenapa sibuk terus sih dengan laptop mu? Baru juga pulang dari perusahaan. Sampai di rumah, laptop lagi yang kamu pegang. Lalu, akunya ... kapan mau Mas pegang?" ungkap Fayra sembari memanyunkan bibirnya ke depan.


Arfan tersenyum bahagia. Sebab, ia telah lama tak melihat wajah cemberut dari si istri manjanya itu.


Tak menampik gejolak yang ada di dalam dada. Arfan lekas menutup laptopnya dan meletakkan benda persegi empat itu di atas meja. Kemudian, ia tarik tangan istri manjanya ke dekat dirinya berada.


Arfan mulai mendekap lembut tubuh mungil Fayra ke dalam pelukannya. Lalu, ia hadiahi kecupan manis pada bagian mana saja yang ia inginkan.


Saat melakukan hubungan, Arfan melakukannya dengan sayang. Takut menyakiti sang istri yang memang kandungannya rentan. Tapi, tak bisa di pungkiri oleh Fayra. Bahwa, ia amat sangat merindukan kelembutan dan sentuhan kasih sayang itu dari Arfan.


Cukup sekian yang Arfan berikan. Ia takkan melakukan itu dalam waktu yang lama.


...*****...


Kanada ...


"Wah, akhirnya ... setelah sekian lama berjuang di sini. Aku akan segera mendapatkan gelar sarjana juga. Sebaiknya, aku beres-beres dan setelah itu aku akan pergi ke kampus, deh!"


30 menit kemudian ...


Savina telah bersiap untuk pergi ke kampus University of Alberta.


Tada ...


Mobil keren milik Morgan Tan lagi-lagi telah ready menanti.


"A-apa aku tidak salah lihat, nih? Dia datang, lagi?" bisik Savina setengah mengeluh.


Apalagi, ia telah melihat tampang Morgan Tan yang membuat jantungnya berpacu kencang. Persis seperti lomba pacuan kuda yang siap sedia untuk berlomba.


"Morning my sweety girl!" sapa ramah Morgan, tanpa pernah ingin mengingat lagi penolakan jawaban dari Savina beberapa hari lalu.


"Hem ... Morning!" jawab acuh tak acuh Savina sambil berlalu.


"Ayo, naik! Aku akan mengantarkan kamu kuliah. Jadi, jangan menolak! Bukankah, aku telah katakan semuanya padamu, hmm? Lantas, mengapa kamu masih abai padaku? Apa kamu lupa, ya? Aku ini tid--,"

__ADS_1


"Cukup! Iya, aku ingat. Aku akan naik mobilmu. Tapi, jangan salahkan aku bila nanti kamu terlambat pergi bekerja. Awas saja kalau kamu menuntut ku nanti!" ancam Savina hakiki dan tak mau peduli sama sekali.


"Tenang! Aku bosnya. Jadi, kamu jangan khawatir!"


Mereka pun duduk berdampingan di dalam mobil milik Morgan Tan. Tak bisa di pungkiri, beberapa hari ini. Morgan sering sekali menyambangi kediaman Savina.


Walaupun, Savina masih saja dingin dan terkesan mengabaikan dirinya. Namun, Morgan tak pernah gentar untuk menaklukkan hati Savina.


Ia semakin ingin melupakan misi yang di berikan oleh ayahnya. Tapi, di satu sisi ayahnya selalu saja mengancam dirinya. Agar, ia dan Savina segera hidup bersama.


Sejatinya, cinta yang ada dalam diri telah mengambil kendali. Ini bukan lagi tentang perselisihan yang terjadi di antara ayah mereka. Melainkan, hatinya yang telah berbicara.


Morgan merasa nyaman, aman dan tentram bila bersama Savina. Sebelumnya, ia memang ingin menjadikan Savina sebagai batu loncatan. Tapi, sekarang peluru itu berbalik arah menghujam jantung hatinya.


Apa mau di kata?


Bila hati sudah di landa cinta.


Maka, taktik licik sang ayah pun ia kesampingkan.


...*****...


University of Alberta ...


"Savina ...?" panggilannya, saat Savina telah berjalan pelan.


"Ya?" sahut gadis itu yang menghentikan sejenak ayunan langkahnya.


"Bisakah kamu menemani ku menemui orangtuaku?"


"Untuk apa?"


"Aku butuh bantuan mu untuk menjelaskan sesuatu pada mereka?"


"Kapan?"


"Setelah semua ujian mu selesai. Tolong, hubungi aku! Bisa, 'kan?" tanyanya penuh harap.


"Baiklah, hanya kali ini saja! Kalau begitu aku masuk dulu. Permisi!"


"Semoga sukses!"


Savina tak lagi menoleh, gadis itu hanya melambaikan tangannya saja dengan posisi membelakangi Morgan.


"Savina ... Savina ...! Kamu sungguh menggemaskan!"

__ADS_1


Morgan pun segera melanjutkan perjalanannya menuju perusahaannya. Ia pergi dengan hati yang bahagia. Senyum yang indah bagaikan sebuah taman bunga yang sudah tercetak lewat bibir manisnya.


...*****...


__ADS_2