
Suara nyaring dari seekor jangkrik mampu memekakkan telinga. Raynar yang kala itu tengah duduk seorang diri di bangku taman halaman rumahnya. Pria itu tak kunjung bisa menerka apa alasan di balik penolakan kerjasama yang Arfan putuskan.
Satu tangan kokoh tiba-tiba menepuk pelan pundaknya. Sehingga, ia pun terkaget di buatnya.
"Eh, Papa!" ucapnya tersentak dari alam pikirannya.
"Sedang apa kamu berdiam diri di sini, hmm? Bagaimana tadi di kantor? Apa semuanya baik?" tanya spesifik sang ayah pada anaknya.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku hanya ... hanya sedang memikirkan sesuatu saja. Semuanya baik, Pa. Tidak ada kendala sama sekali. Apa yang papa lakukan di sini?" tanya balik Raynar.
"Papa hanya penasaran akan dirimu yang duduk termenung seorang diri di sini. Malam ini, apakah kamu akan menginap di rumah, Ray?"
"Tidak, Pa. Aku tetap tidur di rumah sakit. Lagi pula, urusan di rumah sakit belum sempat aku selesaikan. Jadi, aku harus tetap kembali ke sana, Pa."
Bulan yang terlihat utuh di tatap dengan tatapan sendu. Adiwangsa tak dapat menerawang jauh. Terlalu sukar untuk ia pahami dan mengerti akan situasi saat ini.
Apalagi dengan kondisi kesehatannya yang semakin hari semakin membuat dirinya tak terkendali. Bahkan tak bisa lagi ia pungkiri, bahwa ia semakin tak memiliki harapan yang tinggi.
"Pa, apakah papa baik-baik saja?" tanya Raynar yang berharap kejujuran dari papanya.
"Memangnya, kenapa? Papa baik-baik saja, Ray." ucapnya dengan senyum yang tak lupa terukir di bibir.
"Benarkah? Tapi, kenapa papa selalu datang ke rumah sakit akhir-akhir ini? Apakah benar kesehatan papa baik-baik saja, Pa? Tolong, jawab aku dengan jujur, Pa!" ujar Raynar yang terlampau memaksakan kehendaknya.
"Jadi, apa kamu sudah tahu semuanya, Ray?" Bukannya menjawab, Adiwangsa malah membalikkan keadaan.
"Jika, iya. Apakah aku salah, Pa?"
"Tidak. Papa sama sekali tidak pernah menyalahkan kamu. Cukup hanya kamu saja yang tahu, ya! Biarkan hal ini menjadi rahasia di antara kita saja, Ray."
Raynar masih belum bisa memahami maksud dari perkataan ayahnya itu dengan terperinci.
"Kenapa, Pa?! Apakah salah bila semua orang tahu tentang yang sebenarnya mengenai kondisi kesehatan, Papa?"
"Belum saatnya, Ray. Semua itu ada masanya. Sudahlah, jangan berdebat lagi tentang masalah ini, ya! Kalau begitu, papa masuk dulu. Kamu hati-hati di jalan!" Adiwangsa beringsut pergi, setelah ia kembali mendaratkan sebuah tepukan pelan pada pundak sang anak.
"Papa memang selalu aneh! Itu tidak akan membuatku terkejut lagi. Mudah-mudahan, ini bukanlah suatu keputusan yang salah." gumam Raynar dalam kesendiriannya.
...*****...
Matahari mulai merangkak naik dengan kecepatannya. Seolah jam di dinding pun berputar kian kencang dari sebelumnya. Rasa cemas masih lagi terbingkai pada wajah insan tampan.
Arfan yang kala itu masih lagi dengan setia menemani sang istri. Seketika menjadi tercengang melihat siapa gerangan yang datang.
Tanpa ada kata sapa, apalagi salam dari sang pemilik netra yang ia tatap dengan rasa tercengangnya. Arfan tak menyangka bahwa si kakak ipar akan tiba dengan seorang pria.
Mereka masuk dan menerobos begitu saja. Lalu, mulai berjalan mendekati Fayra yang masih terbaring lemah.
"Fay, kamu tidak apa-apa? Apa masih sakit, hmm?" tanya Savina dengan raut kecemasan yang terbilang cukup memprihatinkan.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... aku sudah jauh lebih baik, Kak. Tapi, si ... siapa dia, Kak?" Sebuah kalimat tanya yang membuat Arfan juga merasakan hal yang sama dengan Fayra.
Savina melirik sekilas ke arah si pria yang di maksud oleh sang adik.
"Dia ... dia Morgan Tan. Kamu masih ingatkan pada anak cengeng yang dulu sering bermain dengan kita sewaktu kecil dulu?" Fayra mempertajam daya ingatnya untuk kembali ke masa lalu.
"Ja-jadi, dia Morgan yang itu ...?" ucap Fayra, yang sudah mulai bisa mengingat dengan jelas, siapa sesosok pemilik tubuh yang gagah itu.
Savina mengangguk dan berkata, "Emmm, benar. Tapi, sekarang dia sudah jauh berbeda, 'kan?" bisik Savina pada Fayra. Fayra hanya membalasnya denga tersenyum biasa saja.
"Oh, iya ... bagaimana kakak bisa tahu aku di rawat di rumah sakit, Kak?"
"Panjang ceritanya. Intinya Kak Raynar menelepon kakak. Lalu, tanpa berpikir panjang lagi. Kakak langsung buru-buru ingin pulang ke Jogja. Oh, iya ... papa sama mama mana? Apakah mereka tidak menemani kamu di sini, hmm?"
"Mereka pulang dan hanya mas Arfan yang menemaniku di sini, Kak. Lagi pula, aku tidak mau merepotkan mereka. Kasihan mereka, Kak." Fayra tertunduk sebagai bentuk rasa tidak enaknya.
Savina berusaha untuk menguatkan sang adik yang masih lemah. Selagi mereka kakak-beradik asik mengobrol. Dua lelaki tampan itu pun menarik diri untuk menjauh.
"Bisa kita bicara sebentar, Tuan Morgan Tan?" sapa Arfan terlihat tak bersahabat.
"Baiklah," sahut Morgan dengan sigapnya.
"Ikut saya!" seru Arfan yang telah menggiring Morgan untuk segera ke luar dari ruangan tersebut.
...*****...
"Mau apa Anda jauh-jauh datang ke sini, Tuan Morgan Tan?" tanya spontan tanpa sopan santun yang Arfan lontarkan pada Morgan Tan.
"Bukankah ... tadi kamu sudah bisa mendengar dengan jelas ucapan dari kakak ipar mu, Arfan?" Morgan kembali mengingatkan Arfan pada kejadian sebelumnya.
"Jadi, benar. Bahwa, hubungan kalian sudah terjalin sejak lama, begitu?"
"Ya, itu benar. Hanya saja sempat hilang kontak beberapa tahun. Tapi, bukan berarti dapat menghilangkan jejak kenangan yang pernah kami lalui bersama." ucap Morgan dengan penuh penegasan.
Arfan diam. Dia tak dapat menampik masa lalu yang pernah mereka lalui, bukan?
"Apakah kedatangan Anda ke sini juga ada hubungannya dengan kontrak kerjasama yang ingin saya batalkan?"
"Sambil menyelam minum air. Ya, kira-kira begitulah yang akan terjadi nanti," jawab enteng Morgan Tan dengan tingkat percaya diri yang hakiki.
"Sebenarnya, Anda setuju atau tidak kerjasama di antara kita di batalkan?"
"Arfan ... saya ingatkan padamu satu hal yang harus kamu patuhi dalam urusan bisnis. Yaitu etika yang harus kamu jaga bila sudah menentukan pilihan. Jangan kamu campur adukkan urusan pribadimu dengan pekerjaanmu. Paham?!" Nasihat Morgan, cukup membuat Arfan tertampar dengan tak kasat mata.
"Hahhh ... jika kamu sudah menikah. Maka, kamu juga akan tahu bagaimana rasanya berada pada posisiku saat ini, Tuan Morgan Tan." balas Arfan dengan nada bicaranya yang datar, namun penuh sindiran.
"Apakah saya harus menikah terlebih dulu? Supaya saya bisa merasakan hal yang sama sepertimu, Arfan? Tidak, 'kan? Semua itu tergantung bagaimana cara kamu berpikir dan bersikap. Bukan masalah statusmu yang menjadi pembicaraan kita. Melainkan, rasa tanggung jawab mu yang menjadi akar permasalahan ini di mulai."
Tak mau di tuding dengan semena-mena. Arfan mencoba memancing Morgan untuk masuk pada pemikirannya.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kamu lakukan. Bila kamu ada di posisi saya saat ini, Tuan Morgan? Sudah jelas itu bukanlah perusahaan yang kamu bangun atas kerja kerasmu sendiri."
Morgan terdiam dengan seribu bahasa yang membuatnya kaku.
"Di situ saya sudah sangat sadar diri. Berbeda dengan anda yang memang sudah bisa meraih sukses atas kerja keras anda sendiri. Jadi, satu saran yang ingin saya sampaikan juga pada Anda. Tidak semua orang bisa mengendalikan sesuatu hal, yang memang bukanlah haknya untuk melakukan itu." terang Arfan yang seolah menjatuhkan kepercayaan diri Morgan yang sempat berapi-api.
Skak mat ...
Nilai satu sama dalam hal saling sehat menasehati di antara kedua lelaki dewasa itu. Ucapan yang berapi-api cukup membakar hati keduanya saat ini.
"Jadi, kamu tetap ingin melakukan apa yang di perintahkan padamu, begitu?"
"Ya, bila itu yang di inginkan untuk terjadi. Maka itulah pilihan yang bisa saya lakukan." jawab Arfan dengan raut wajah yang sulit di cerna dengan cela yang mudah.
"Baiklah, sesuai isi kesepakatan bersama. Kamu harus membayar penalti atas pembatalan kontrak kerjasama kita yang belum lagi berjalan. Apa kamu yakin ingin memakai cara ini, Arfan Alhusayn?"
"Yakin. Masalah pembayaran penalti itu, bisakah itu menjadi urusan pribadi saya dengan anda saja, Tuan Morgan?"
"Cih ... kamu masih saja berlagak sok percaya diri dengan kemampuanmu sendiri?"
"Bukan! Tapi, lebih tepatnya saya akan mencari solusi tanpa berkeluh kesah pada perusahaan. Saya sendiri yang akan mengganti rugi atas kecerobohan yang saya lakukan. Jadi, tidak perlu melibatkan perusahaan. Bisa, 'kan?"
"Jika kamu sanggup membayar saya dengan kurun waktu yang saya tentukan. Maka, itu tidak jadi masalah. Terserah saja," ucap Morgan Tan dengan mengedikkan bahunya.
"Berapa lama waktu yang kamu berikan pada saya untuk membayarnya?"
"Emmm ... satu minggu. Bagaimana? Apa kamu sanggup?"
"Apa ...? Satu minggu ...?" teriak Arfan dengan nafas yang serasa tercekat dibuatnya.
"Ya, kenapa? Ada masalah?"
"Uang sebanyak itu harus di kumpulkan dalam waktu satu minggu? Apa itu adil?"
"Jangan bicarakan keadilan denganku, Arfan! Jika, kamu memang tidak sanggup. Ya, lanjutkan kerjasama kita. Gampang dan mudah, 'kan?" ucap Morgan yang mulai berdiri dari duduknya. Tangan ia masukkan ke dalam saku celananya. Semakin membuat kepercayaan diri meningkatkan sempurna.
Sedangkan Arfan, ia masih terduduk dengan posisi yang merasa tertekan. Ia meraup wajahnya yang gusar dengan kedua tangannya. Kaki terbuka lebar sebagai sandaran bagi tumpuan kedua siku tangannya.
Tak ingin lagi membahas tentang bisnis yang terancam gagal. Membuat Morgan lebih memilih untuk pergi. Meninggalkan Arfan seorang diri. Berharap, Arfan menyesali keputusannya saat ini. Itulah harapan Morgan yang hakiki.
...*****...
Rasanya Arfan ingin lari saja dari kenyataan. Dia benar-benar merasa amat tertekan. Belum lagi urusannya untuk mengurus sang istri. Sekarang harus di tambah lagi dengan kesepakatan baru antara dirinya dan Morgan.
Perasaan yang ambigu merundung dirinya yang tengah berkabut duka lara. Sebab, cobaan tak kunjung sirna. Selalu saja akan ada prahara yang melanda rumah tangganya.
Entah itu urusan internal maupun eksternal. Semuanya bercampur aduk bagaikan adonan, yang sudah mengembang meminta untuk di selesaikan dengan semestinya.
...*****...
__ADS_1