CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Perjalanan Panjang Berujung Pilu


__ADS_3

Savina memboyong semua barang-barang bawaannya dan tak lupa, ia sempatkan diri 'tuk berdandan lebih rapi.


Savina memoles wajah ayunya dengan make-up. Kemudian ia mulai memberikan sentuhan warna merah muda pada bibir ranumnya.


"Oke, beres semua. Saat aku keluar dan pergi bersama Morgan. Mudah-mudahan, keputusan yang aku ambil ini akan memberikan ku sebuah jawaban pasti." ucapnya, seraya membenarkan poninya yang ia tambahkan bando sebagai penghias-nya.


Beberapa menit kemudian ...


Savina keluar dengan style berbeda dari sebelumnya. Wajah tampan Morgan semakin menampakkan senyuman.


"Yuk, jalan sekarang!" Savina mengangguk dan mendorong kopernya mendekat ke arah mobil.


"Sini, kopernya biar aku masukkan bagasi mobil," ucap Morgan menawarkan bantuan.


"Makasih!" ucap Savina yang mendadak malu-malu.


Mereka berdua pun pergi menuju ke bandara.


...*****...


Sesampainya di bandara, Morgan langsung melakukan check-in bersama Savina. Setelah proses panjang itu telah berhasil mereka lalui. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk menikmati perjalanan panjang mereka.


Di dalam pesawat ...


"Morgan ...?"


"Ya, ada apa?"


"Kok, kita malah ke Beijing, sih? 'Kan, kamu bilang mau ke rumah kamu. Kenapa kita malah pergi ke Beijing?" tanya Savina berulang-ulang kali.


"Lah, rumah ku memang di Beijing, Vina! Kamu lupa ya, Sweety Girl, hmm?" tanya Morgan dengan nada manjanya.


"Ck, lama-lama kenapa aku mendadak geli mendengar mu terus menerus berkata begitu, ya?"


"Kenapa? Bukankah, itu panggilan sayang ku padamu sekarang?"


"Sejak kapan aku bilang kalau aku menerima pernyataan cinta mu itu, hmm?" sungut Savina dengan menaikkan intonasi bicaranya.


"Kalau tidak di terima, lalu kenapa kamu mau ikut denganku ke Beijing, hmm?"


Deg ...


"Oh, iya juga ya? Kenapa aku mau ikut dengannya bila aku menolak cintanya? Hadehhh ... aku ini benar-benar plin-plan, deh!" sesal Savina yang hanya menggerutu dalam batinnya saja.


"Nah, hayo ... tidak bisa jawab, 'kan?" ledek Morgan dengan pongahnya.


"Diam sajalah! Aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu saat ini. Okey ...?!" bentaknya yang tak ingin terlibat percekcokan yang tak berguna itu lebih lama.


"Oke! Fine, aku akan diam mulai dari sekarang." sahut Morgan yang sudah mulai menutup wajahnya dengan jaket miliknya.


"Setidaknya, begini lebih baik." ucap Savina dengan suara yang lirih dan sedikit berdecak.


...*****...


Beijing ...


Selama 12 jam 50 menit ± kemudian, tibalah mereka di Beijing. Setibanya mereka di bandara, Savina meminta Morgan untuk membelikannya makanan.


"Morgan ...!" teriak Savina dengan sedikit membentak nyaring.


"Shuuuttt ...! Jangan teriak-teriak, ya! Aku dengar. Kamu kenapa, hmm?"


"Aku lapar!!!" keluh Savina pada pria tampan itu dengan rengekan yang juga ikut meramaikan suasana.


"Salah mu sendiri, 'kan?! Kenapa tadi di pesawat kamu susah sekali di bangunin?"


"Ya ... itu karena aku sangat mengantuk, Morgan ...! Huhuhu ... ayo, belikan aku makanan enak!" rengeknya bak anak kecil yang kehilangan ibunya.


"Iya-iya. Ayo, jalan!" Morgan lekas menggandeng tangan Savina dan mengajak gadis itu untuk mencari tempat makan terdekat.


...*****...


Kediaman keluarga Kai Tan ...


Selepas dari mengisi perut Savina yang lapar. Tujuan utama Morgan adalah membawa Savina ke rumah orang tuanya.


Sampai detik ini, Savina sebenarnya masih gugup dan canggung. Tak hanya sampai di situ. Savina merasa jauh lebih gemetaran, di tambah lagi perutnya mendadak mulas.


Rasa gugup yang terlampau berlebihan, membuat sistem pencernaan Savina mulai menunjukkan bakatnya di saat yang tidak tepat.


"Wah, gawat! Ini sangat kacau ...! Bagaimana, ini ...? Adakah yang ingin menjadi Dewi pelindungku? Aku sangat membutuhkan itu! Kenapa ...? Kenapa di saat yang sepenting ini perutku malah tidak bisa di ajak kompromi?" Keringat dingin bercucuran dari tubuh Savina yang sudah kewalahan untuk menahan. Menahan rasa ingin buang hajatnya.


"Vina ...?"


"Eh, ya? A-apa?" jawab gelagapan Savina yang benar-benar sudah tak tahan.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu terlihat gusar, begitu?"


"Ahahaha ... ma-mana mungkin!" tampiknya yang sok kuat menahan sesuatu yang seharusnya di keluarkan.


"Apa kamu yakin?"


Cusss ...


Savina terkejut dan panik dalam waktu sepersekian detik. Yaitu ketika suara kentutnya yang tertahan keluar dengan tanpa sengaja. Namun, tak bersuara. Tapi, baunya cukup semerbak. Sehingga, Morgan pun dapat menyadari bau itu dengan segera.


"Vina?"


"Eh, iya? Kenapa lagi, Morgan?"


"Apa kamu mencium ba--," buru-buru Savina mengambil tindakan. Sebelum Morgan mempermalukan dirinya yang sudah cukup dengan ketidakadilan yang di pertahankan.


"Sebelum itu, bisakah kamu segera mengajakku masuk, hmm?"


"Oh, iya. Ayo, kita masuk!"


Tok ... tok ... tok ....


Pintu terbuka dengan lebarnya. Wajah cantik dengan tanpa kerutan pun terlihat bahagia. Sosok yang amat sangat terlihat awet muda. Dialah ibu Morgan Tan.


"Hai, Ma! Apa kami boleh masuk?"


"Astaga ...! Maaf, Sayang! Mama sampai lupa mengajak kalian masuk. Sebab, terlalu mengaguminya." ucap ibu Morgan Tan ketika melihat wajah cantik Savina.


"Mari, masuk!"


"Halo, Bibi! Tapi, ini sangat mendesak. Bolehkah ... saya ke toilet?" tanya Savina dengan meneguk salivanya kasar. Sebab ia sudah terlalu gusar.


"Oh, iya tentu saja. Ayo, ikuti bibi, ya!"


Morgan langsung teringat bau-bau aroma yang sesaat di ciumnya tadi.


"Ya, ampun ...! Ternyata bau itu berasal dari kamu." ucap Morgan dengan geleng-geleng kepala dan tersenyum sumringah.


Savina mengikuti ibu Morgan Tan dengan mengucap syukur tak henti-hentinya.


"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih banyak! Akhirnya, bisa pergi juga dari situasi yang mencekam ku tadi. Fiuh ...!" gumamnya lirih.


"Nah, ini toiletnya. Kalau begitu, Bibi tinggal, ya?"


"Iya, jangan sungkan!"


...*****...


Di ruang tamu ...


Wanita yang tak lagi muda itu menghampiri si anak yang baru saja tiba di rumah. Mayleen menghujani si anak dengan ucapan dan pelukan penuh sayang.


"Sayang ...! Itu tadi siapa, hmm? Ayo, cerita ke mama! Mama juga ingin kenal siapa gadis tadi," tanya Mayleen yang baru saja melepaskan pelukannya.


"Iya, Ma ... tapi, harap mama jangan kaget, ya!"


"Loh, kenapa mama harus kaget?! Dia cantik, sepertinya dia juga terlihat sangat cerdas. Jadi, hal apa yang membuat mama akan kaget tentangnya, Sayang?"


"Sebenarnya, dia adalah--,"


"Morgan ...?" sapa seseorang yang baru saja datang.


Morgan dan Mayleen pun menoleh ke arah sumber suara tersebut berbarengan.


"Papa ...!" ucap lirih mereka berdua, ketika melihat wajah Kai Tan yang sudah menyembul dari balik pintu.


"Hai ... jagoan papa! Apa kabar kamu, hah?! Gimana-gimana? Coba ceritakan kabar baik itu ke papa mu ini sekarang, Nak!" titah Kai Tan dengan kobaran semangat yang tinggi.


"Pa, kamu bisa ganti baju terlebih dulu, 'kan?" seru Mayleen pada suaminya yang baru saja pulang ke rumah.


"Nanti, Sayang! Apa kamu tidak lihat aku sedang ingin bercerita dengan putraku, hmm?" ucapnya lembut, tapi menolak halus seruan sang istri padanya.


"Hahhh ... ya, deh ...! Yang lagi ingin kangen-kangenan sama anak semata wayangnya," ucap Mayleen yang sebenarnya sangat memahami situasi saat ini.


"Eh, tapi Morgan gak cuma pulang sendirian loh, Pa!" tambah Mayleen lagi dengan ekspresi wajah yang membuat Kai penasaran.


"Oh, ya?! Lalu, dia pulang bersama dengan siapa, Ma?" tanya Kai yang tak sabaran.


"Emmm ... Mama akan kasih tahu ke papa. Asal ...,"


"Asalkan, apa, Ma? Buruan cerita ke papa, Ma!"


"No, Pa! Yuk, ganti baju setelah itu kita makan malam bersama tamu spesial kita," ajak Mayleen dengan paksa pada Kai Tan.


"Morgan ...! Bilang ke papa, Nak! Lihat, nih! Mama kamu paksa-paksa papa menjauh dari kamu," rengek Kai Tan seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.

__ADS_1


"Udah, Pa. Turuti saja maunya mama, ya! Itu yang terbaik untuk papa. Hehehe ...." ejek Morgan pada ayahnya yang sedang di tarik paksa oleh ibunya ke kamar mereka.


"Papa sama mama emang gak pernah bisa berubah. Selalu saja berulah."


"Morgan ...? Kamu, kok, ketawa sendirian?" celetuk Savina yang baru saja tiba.


"Eh, nggak. Papa sama mama ku. Kelakuan mereka buat aku tertawa. Gimana? Udah selesai, hmm?"


"Iya, udah. Jadi, malam ini apakah kita akan menginap di sini?" tanya langsung Savina tanpa basa-basi.


"Iya, apa kamu tidak suka, Sweety Girl? Kalau misalkan kamu gak suka. Ya ... kita bisa nginap di hote--,"


"Suka, kok." sahut Savina dengan secepatnya.


"Oh, syukurlah kalau gitu!" ucap Morgan manggut-manggut.


...*****...


Di ruang makan ...


Sesi makan malam pun di mulai. Morgan membawa Savina ke ruang makan untuk ikut makan malam bersama keluarganya.


"Duduk sini, Vina!" titah Morgan lembut pada Savina yang terlihat begitu gugup.


"I-iya, makasih." balasnya dengan ekspresi canggung yang menyelimuti diri.


"Hai ...!" sapa ramah Kai Tan pada Savina.


"Ha-halo, Paman! Selamat, malam, Paman!"


"Malam. Silakan makan makanan apa saja yang kamu mau, ya!"


"Ya, Paman!"


Malam ini jantung Savina benar-benar tidak aman sama sekali. Dia harus terus berpacu dengan keadaan. Savina sungguh tertekan bukan kepalang. Otaknya tak mau bekerja sama. Ternyata, seluruh tubuh Savina kian membeku. Sampai-sampai, mulutnya pun menjadi kaku.


Seusai makan malam nan terasa panjang itu berakhir. Savina masih harus berjibaku dengan pertanyaan demi pertanyaan dari mulut Kai Tan.


Rupanya, Kai Tan amat penasaran tentang sosok Savina yang ia harapkan menjadi istri masa depan Morgan.


Kini, mereka beralih ke ruang tamu.


"Jadi, sebenarnya kamu itu Savina anaknya Adiwangsa itu, ya?"


"Iya, Paman. Saya Savina yang dulu sering paman ajak jalan-jalan," terang Savina.


"Wah ...! Sekarang kamu sudah menjadi gadis yang cantik, Nak. Lalu, bagaimana kabar papa dan mama mu, Nak?"


"Alhamdulillah, mereka baik, Paman!"


"Hemmm ... baguslah. Oh, ya. Jadi, apakah kedatangan kamu ke sini adalah untuk mengatakan tentang persetujuan mu yang ingin menikah dengan Morgan, Nak?" tanya spontan Kai Tan tanpa berunding terlebih dahulu pada Morgan putranya.


"Pa ...!" celetuk Morgan dengan intonasi yang meninggi.


"Pa, Savina baru juga datang ke sini. Kenapa kamu malah langsung membahas hal ini, sih, Pa?" berang Mayleen juga pada suaminya yang gegabah itu.


"Apa bedanya, Ma? Toh, nanti kita juga akan menanyakan hal ini padanya, 'kan?" ujar sengit Kai Tan yang membuat Savina malah semakin ketakutan.


"Morgan ...?"


"Ya, Vina?"


"Jelaskan padaku sekarang! Sebenarnya, ini ada apa, hah?!" pekiknya yang sudah tak tahan.


Bukan Morgan yang menjelaskan, melainkan Kai Tan sendirilah yang mengutarakan pemikirannya pada Savina.


"Savina. Sejak dulu, bukankah sudah paman katakan pada ayah mu. Bahwa, ketika kamu besar nanti. Kamu akan menjadi menantu kami. Jadi, mulai dari sekarang kamu sudah harus bisa memahami situasi kami. Oh, satu hal lagi. Kamu harus--,"


"Cukup, Pa! Hentikan semua ini ...!" pekik Morgan yang tak ingin melihat Savina semakin terlihat menyedihkan.


"Kenapa? Apa kamu belum bisa memastikan--,"


"Aku bilang cukup, cukup, Pa ...!" pekik Morgan lagi pada ayahnya.


"Ayo, Vina! Kita pergi dari tempat ini. Tidak seharusnya aku mengajakmu ke sini."


Savina bergeming. Lidahnya terlalu keluh untuk berucap. Air matanya saja yang bisa menunjukkan akan kesedihannya yang belum lagi sirna.


Morgan membawa Savina pergi tanpa menghiraukan lagi ucapan papanya yang terlalu berambisi.


"Morgan ...! Mau kamu ajak kemana anak gadis orang, hah?! Ingat, Nak ...! Jangan buat keluarga mu malu! Kalau kamu mau, segera tetapkan tanggal pernikahan kalian ...!" pekik Kai Tan yang tak di tanggapi oleh anaknya sendiri.


Savina tetap setia dalam gemingnya. Namun, langkah-langkah kakinya tetap mengikuti kemana pun kaki Morgan melangkah. Sampai mereka benar-benar sudah menjauh dari rumah.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2