CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Gara-gara Drama Romansa


__ADS_3

Takdir tidak ada yang tahu


Kapan kita akan bertemu


Hanya Allah yang Maha Tahu


Nikmati prosesnya sambil menunggu


...{M Ridho Husada}...


...*****...


Sambil menunggu kedatangan Arfan, Fayra menyantap makan malam bersama dengan papa dan mamanya.


"Fay, kamu mau ngapain teriak-teriak manggil si Arfan tadi? Mama sampai-sampai udah panik tahu, Fay. Mama pikir kamu pengen merusakkan rumah ini tadi, Sayang ... saking paniknya Mama," celetuk Hazna yang pura-pura tak tahu apa-apa. Padahal, di dalam hatinya ia amat senang dan bahagia.


"Hehe ... maaf, Ma! Fay, cuma butuh refreshing otak, aja. Soalnya, lagi buntu banget nih, Ma." jawab Fayra dengan girangnya yang juga sudah menyiapkan siasat pastinya.


"Malam ini, akan aku pastikan. Apakah kamu benar-benar pria baik-baik, Arfan?! Semua akan terbukti malam ini. Aku udah nggak sabar untuk tahu gimana reaksi anak sok alim itu." pungkas Fayra dalam hatinya yang merasa tak sabaran.


Fayra buru-buru naik ke atas untuk mencari koleksi drama-drama favoritnya. Sampai-sampai, ia tak lagi menghiraukan teriakan sang mama padanya.


"Eeeh ... Fay! Mau kemana kamu, hah? Kok, buru-buru? Awas jatuh!" peringati Hazna pada putri manjanya.


Adiwangsa hanya setia memperhatikan istri dan anaknya, yang kini tengah membuat kehebohan di depan matanya.


Setelah menenggak habis minuman mineral dalam genggaman. Adiwangsa menatap mata indah milik sang bidadari hati yang menguasai relung jiwanya setiap waktu.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu pasti sudah tahu, 'kan? Kalau anakmu itu sedang jatuh cinta pada Arfan?" ucap Adiwangsa sembari mengelap mulutnya yang basah.


"Ma-Mas, kamu ...," belum lagi usai Hazna dengan keterkejutannya. Adiwangsa langsung mengajaknya pergi.


"Ayo, ikut aku. Akan aku jelaskan padamu tentang sesuatu," tangannya langsung menggandeng tangan mulus milik Hazna. Meskipun telah menua. Namun, jiwa mereka masih seperti remaja.


"I-iya, Mas." sahut Hazna yang mulai mengikuti langkah suami tercintanya.


Mereka lalu berjalan menuju balkon kamar mereka. Di mana Adiwangsa, selalu merenungkan sesuatu di sana.


...*****...


Kamar Fayra ...


Gadis manja yang dilabeli sebagai seorang anak bar-bar. Nyatanya, ia juga bisa menyukai laki-laki kalem seperti Arfan.


"Nah, gimana kalau aku tes dia pakai drama ini, aja? Hmmm ... kayaknya, cocok, nih!" Fayra lalu memutar drama itu segera. Mencari dengan cepat adegan romantis dalam drama yang ditontonnya.


Saat tengah asyik menonton, Fayra di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari seseorang.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


"Apakah itu, dia?" pikir Fayra bergumam sendiri.


Tok ... tok ... tok ....


Lagi, suara ketukan itu berbunyi.


Gluk ...


Fayra semakin gugup dan tak karuan ia pun mulai deg-degan.


"Aish, sial! Ini mah, namanya aku yang dites. Bukan aku yang ngetes." Fayra mengutuk dalam hatinya.


Pintu pun di buka oleh Fayra dengan menampilkan wajah yang penuh drama.


"Hai ...," sapa Fayra biasa saja. Padahal, jantung sudah hampir copot di buatnya.


"Hahhh ... apa, Nona butuh sesuatu? Kenapa sampai membuat kehebohan?" tanya Arfan dengan nafas yang masih coba diaturnya. Agar, kembali normal.


Tapi, ... nyatanya ia malah semakin deg-degan. Apalagi, ketika melihat wajah Fayra yang masih terbingkai indah dengan hijabnya.


Cepat-cepat Arfan mengalihkan pandangan. Sebab, ia berusaha mati-matian untuk tidak mengikuti bisikan setan.


"Astaghfirullah ...." batinnya beristighfar.


"Ayo, masuk!" ajak Fayra seakan sangat mempercayai Arfan.


Tapi, memang dasarnya Fayra keras kepala dan tidak bisa menerima yang namanya penolakan. Tentu saja dia menyeret tangan Arfan untuk masuk ke dalam.


"Nah, sekarang kamu duduk di sini, ya! Jangan bergerak sama sekali, paham?!" ancamnya hakiki.


Sementara Arfan hanya bisa berpasrah diri. Berharap, Allah akan selalu melindungi.


"Astaghfirullah ... ya, Allah ... tolonglah hamba ...! Hamba sangat takut di sini, ya Allah." gelisah sudah melanda jiwa. Arfan ingin lari, namun tak bisa. Sebab, Fayra menatapnya terus sedari tadi ia mendudukkan bokongnya.


Setelah usai mempersiapkan segalanya. Fayra mulai memutar episode yang mengandung dosa.


"Ah, dosa-dosa, deh! Aku hanya mau menguji dia saja. Daripada aku mati penasaran. Lebih baik aku coba saja, 'kan? Toh, tidak ada salahnya juga. Siapa tahu dugaan ku salah. Siapa tahu juga, dia itu memang orang bermuka dua!" monolog Fayra dalam hatinya sudah sepanjang perjalanan hidupnya.


Berlebihan memang!


Tapi, itulah Fayra!


Gadis yang pantang menyerah sebelum mencoba. Ia amat sangat gigih dalam mengejar keingintahuannya. Termasuk memakai cara haram sekali pun. Cara yang di mana Allah akan membencinya. Namun, ia rela di benci ketimbang penasaran sampai mati.


"Ingat, jangan berisik, ya!" pekik Fayra dengan nada mengancam.

__ADS_1


Arfan sengaja tidak menutup rapat pintu kamar Fayra tadi. Dia memberikan cela sedikit, yang mana ia akan merencanakan untuk lari secepat kilat. Bila Fayra sampai berbuat nekad.


Bukannya fokus pada layar laptop, Arfan malah lebih memikirkan cara untuk lari dari sana secepatnya.


Netranya selalu tertuju ke arah pintu yang masih sedikit terbuka itu. Sedangkan Fayra, dia telah terbuai dalam imajinasinya. Tapi, imajinasi itu mendadak teralihkan. Sebab, pandangannya mulai fokus ke arah Arfan yang sudah tak tenang.


"Ini orang kenapa, sih? Lagi sakit, 'kah? Atau ... dia sengaja mengabaikan aku? Benar-benar terlalu ...!" monolog Fayra tak terima.


Dengan sekonyong-konyongnya, Fayra menepuk punggung Arfan sekuat-kuat tenaga. Ia mengira, barang kali Arfan tengah melamun saat ini. Atau ... bisa jadi, Arfan tengah kesambet setan.


Bammm ....


"Fan ...?" pekik Fayra yang di barengi dengan tepukan kuat dari tangannya di punggung Arfan.


Sontak, Arfan kaget dan refleks mendorong tubuh ramping Fayra. Arfan pun juga ikut terjatuh bersama Fayra.


Akhirnya, mereka malah melakukan langsung. Tanpa perlu menonton drama romansa yang sedang di putar dengan tanpa jeda.


Mata mereka saling mengunci untuk sesaat saja. Sebelum kedatangan Adiwangsa yang tiba-tiba.


"Arfan ...! Fayra ...! Kalian?" suara Adiwangsa langsung meninggi dengan tingkat oktaf yang terlampau dan tak terhingga.


Arfan langsung sontak berdiri dan mencoba langsung menjelaskan pada si majikan. Berbeda jauh dengan Fayra si nona muda nan manja. Gadis itu lebih memilih untuk terlihat pasrah saja. Seakan ia akan siap menerima putusan apa pun dari sang papa.


"Pak ... saya bisa jelaskan! Ini ... ini tidak seperti yang Bapak kira! Sungguh, ini sama sekali bukan suatu kesengajaan. Ini ... ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja, Pak!" Arfan dengan berbagai cara mencoba untuk menjelaskan. Tapi, Fayra justru malah menikmati adegan demi adegan kalang kabut yang Arfan lakukan.


Seakan ia tengah menyaksikan sebuah drama salah tangkap, yang tengah tayang secara langsung di depan matanya. Bagaikan layar tancap pada masa silam.


Astaghfirullah, Fayra kau sungguh terlalu!


Terlalu terburu-buru berharap Arfan menjadi imam shalat bagimu.


"Ya, Allah ... kenapa aku malah sangat suka kalau saat ini papa salah paham pada kami? Kenapa aku justru berharap ia akan menikahkan kami dengan segera? Ahahaha ... ini sungguh gila!" monolog Fayra dengan girang di dalam alam pikirannya, yang masih lagi menerawang kemana-mana.


"Nona, tolong katakanlah sesuatu! Jangan biarkan kesalahpahaman ini berlangsung lama! Mengapa, Nona malah diam saja?" ucap Arfan makin kalang kabut dibuatnya.


Dan dengan lihainya, Fayra memainkan peran. Seakan ia adalah seorang korban.


"Apa yang harus aku katakan, Fan? Papa, 'kan, sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lalu, kenapa aku harus repot-repot menjelaskan?! Bukankah, Papa lebih bisa menilainya sendiri, Pa?" Fayra tiba-tiba beralih tatap dan bertanya pada sang papa.


Adiwangsa malah semakin ingin tertawa, melihat betapa pandainya sang putri bermain drama.


"Baiklah, Fayra! Papa tahu apa maksud dan tujuan mu. Jadi, cara ini yang kamu pakai untuk mengikat Arfan agar setia dengan keluarga kita? Okelah, Papa akan ikut bersandiwara. Mudah-mudahan, Allah akan meridhoi rencana di balik acting mu ini." monolog Adiwangsa yang siap memainkan perannya.


Apakah Arfan akan diam saja?


Atau dia justru patuh pada apapun perintah Adiwangsa padanya?

__ADS_1


Entahlah, biarkan saja waktu yang akan menjawab semua tanya itu.


...*****...


__ADS_2