
Perjalanan menuju titik pencapaian dari sebuah pencarian. Mulai di lakoni oleh Savina dan Morgan Tan. Mereka berdua mencari tahu apa yang sebenarnya hati mereka katakan.
Savina mengajak Morgan untuk membuka sebuah kitab suci Al-Qur'an. Terlihat di sana surah yang di buka adalah surah Al-Ikhlas.
Netra Savina dan Morgan saling bertautan. Mereka di bimbing oleh seorang ustadz yang memang sedang berada di sana. Bukan hanya sekedar berdiam diri di masjid. Sang Ustadz lebih bisa di katakan sebagai pemandu wisatawan.
Tak jarang masjid selalu penuh sesak oleh wisatawan yang memang menjadikan masjid sebagai objek kunjungan. Sebab, menjelajahi masjid itu juga perlu. Selain dapat menenangkan hati dan pikiran. Kita juga mendapat banyak pengalaman.
Baiklah, sang ustadz mulai menjelaskan apa yang di maksudkan oleh isi surah Al-Ikhlas tersebut kepada mereka.
Mengapa bukan surah Al-Fatihah?
Sebab, sang ustadz ingin menjelaskan pada mereka berdua. Bahwa, Tuhan itu hanya ada satu-- Dia (Esa).
Baik Morgan maupun Savina mereka mendengarkan penuturan sang ustadz dengan seksama. Menyimak setiap rincian yang di sampaikan.
Perjalanan mengetahui tentang agama Islam sudah berakhir. Sekarang mereka akan menuju gereja yang tak jauh dari sana. Gereja HKBP Kotabaru Yogyakarta. Itulah yang akan menjadi tujuan mereka selanjutnya.
...*****...
Gereja HKBP Kotabaru Yogyakarta ...
Giliran Savina yang merasa bergetar hebat di dalam dada. Jika, tadi Morgan yang bergetar dan berdebar. Kini hal itu berlaku bagi Savina Maheswara.
"Ayo, masuk!" ajak Morgan dengan senyuman.
Savina mendadak kikuk dan nyalinya menciut. Ketika untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di dalam gereja. Savina mulai terbayang setiap penjelasan demi penjelasan sang ustadz barusan padanya. Tergambar pula olehnya setiap kenangan masa lalu yang sering di ajarkan neneknya untuk mengaji dan shalat.
Pendeta mulai membuka sebuah kitab. Dia pun menerangkan isi kitab suci mereka tersebut. Savina justru malah terbayang terus akan isi surah Al-Ikhlas. Sehingga, ia pun tak dapat lagi meneruskan pembelajaran yang di berikan.
"Cukup!!! Aku ingin ke luar sekarang, Morgan! Aku tidak sanggup, aku tidak bisa melakukan semua ini, hiks ...." Savina berlari tanpa henti menuju pintu.
"Vina ... tunggu!" jerit Morgan dan sebelum pergi, ia meminta maaf pada sang pendeta yang mengajarkan mereka.
"Maafkan kami, Pendeta! Sepertinya, kami tidak bisa melanjutkan lagi pelajaran ini. Permisi!" Pendeta itu hanya tersenyum saja menanggapi sikap Morgan Tan dan Savina.
...*****...
Setelah menjauh dari masjid maupun gereja. Savina dan Morgan Tan duduk pada sebuah taman. Taman yang di tumbuhi oleh pohon besar sebagai peneduhnya.
Mereka duduk berdua duduk di bawah pohon rindang di bangku taman. Lalu, Savina menjelaskan pada Morgan akan sikapnya yang ambigu.
"Morgan, maaf! Aku ti--" Morgan menyela dengan cepat ucapan Savina.
"Tidak apa-apa! Aku tahu, aku paham, aku bisa mengerti akan sikapmu yang ambigu. Tidak semuanya bisa dengan mudah kita lakukan dan putuskan, bukan?"
Netra basah itu menatap dalam manik mata pria yang menatapnya penuh kasih. Walaupun begitu, Morgan tetap tersenyum dengan nyaman. Seakan mereka tak pernah melakukan apa-apa sebelumnya.
"Apa kamu sungguh baik-baik saja, Morgan?" tanya yang seharusnya Savina sudah tahu jawabannya.
"Aku tidak apa-apa, Vina!" alibi Morgan dengan amat cerdik dan jeli.
"Kenapa kamu masih bisa tersenyum seperti itu?"
"Itu karena aku percaya bahwa setiap apa yang sudah menjadi garis takdir Tuhan, tidak dapat terbantahkan. Kamu dan aku telah sama-sama mempelajari keyakinan yang kita anut, 'kan? Sekarang aku tanya padamu. Apa yang kamu rasakan ketika tadi berada di dalam masjid dan gereja?"
Savina kembali mengingat setiap momen kebersamaan mereka di ke dua tempat yang berbeda. Di saat mereka berada di masjid. Savina sama sekali tak merasakan getaran apa-apa.
Namun, ketika mereka berada di gereja, Savina mulai merajalela memikirkan tentang isi Al-Qur'an.
"Vina ...?" tegur Morgan yang sedikit membuat Savina membuyarkan ingatannya yang melayang-layang entah ke mana.
"Eh, i-iya? Kenapa?"
"Hahhh ... kamu yang kenapa? Mengapa tidak menjawab pertanyaan ku padamu, hmm?"
__ADS_1
"Maaf, Morgan! Sepertinya, aku sudah memutuskan untuk--" Savina menggantungkan ucapannya.
"Kita lebih baik berpisah saja. Aku tidak bisa merubah keyakinan ku. Aku juga tidak mau memaksa kamu merubah keyakinan kamu demi bisa hidup bersama ku. Lebih baik ... kita jalan sendiri-sendiri saja mulai detik ini. Permisi!"
Savina merunduk dan bangkit dari duduk. Ia mulai melangkahkan kaki untuk pergi. Pada saat itu perasaan Morgan tengah tak menentu. Dia hanya bisa membiarkan Savina berlalu tanpa membuat gadis itu meragu.
"Arghhh ...." Morgan meraup kesal wajahnya yang sudah mulai terlihat menyesal. Menyesal karena dia tak bisa menemukan getaran apa-apa, pada saat dirinya mendengarkan ayat suci Al-Qur'an di bacakan.
Saat ini seakan sebuah melodi lagu tengah mengalun indah untuk kisah cinta mereka. Sebuah lagu dari Mahen yang berjudul, 'Seamin Tak Seiman'.
🎶 🎶 🎶
Salahkah hatiku jatuh hati pada dirimu?
Oh, Tuhan, ternyata hanya temukan tak satukan
Kita adalah ketidakmungkinan yang selalu ku semoga 'kan
Ditemukan namun salah
Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam
Berjalan salah, berhenti pun tak mudah
Apakah kita salah?
Ho-oh, ho-oh
(Ho-oh)
Satu hal yang kutahu
Kita seamin tak seiman
Berbeda, berujar pada kata akhir yang sama
Kita adalah ketidakmungkinan yang selalu ku semoga 'kan
Ditemukan namun salah
Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam
Berjalan salah, berhenti pun tak mudah
Apakah kita salah?
(Apakah kita salah?)
Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam
Berjalan salah, berhenti pun tak mudah
Apakah kita salah? Ho-oh
Aku yang mengadah dan tangan yang kau genggam
Berjalan salah, berhenti pun tak mudah
Apakah kita salah?
Apakah kita salah?
...*****...
Rumah sakit ....
__ADS_1
Arfan tampak lebih bisa membuat Fayra merasa bahagia. Tampaknya, bumil yang satu ini benar-benar terlampau senang mendapati perhatian super ekstra dari sang suami.
"Fay sayang ... kamu mau aku masakin apa nanti saat aku pulang ke rumah?" bisiknya pelan di telinga Fayra.
Fayra tersenyum ia tahu betul suaminya tengah memberikan suntikan penguat mentalnya.
"Aku tidak mau apapun, Mas! Aku hanya ingin kamu ada di sini. Itu sudah lebih dari cukup bagiku, Mas." tuturnya yang membuat Arfan berkerut kening.
"Kenapa ekspresi mas seperti itu, hmm? Jelek banget!" katanya berdusta.
"Aneh! Bukankah, kamu mau aku perhatian padamu, Sayang? Lalu, apa ini? Kenapa kamu malah menolak untuk aku masakin sesuatu?" cecar Arfan dengan banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala Fayra untuk menjawabnya.
"Mas, sabar, dong! Kalau nanya itu satu-satu!" protes Fayra.
"Kamu kayak lebih gelisah ke timbang aku. Padahal, aku yang hamil kenapa kamu yang malah gelisah tak tentu arah?" ucap Fayra sekenanya.
Kembali Arfan berkerut kening. Ia semakin lama semakin heran dan tak dapat lagi menentukan pilihan.
"Jadi, kamu mau aku bagaimana sekarang, hmm?" tanya Arfan yang sudah mengibarkan bendera. Bendera tanda bahwa ia telah pasrah.
"Tolong, ambilkan alat-alat make-up ku, Mas!" pinta Fayra dengan lemah lembut pada suaminya.
"Kamu 'kan lagi hamil, sebaiknya jangan pakai make-up, Sayang!" nasihat Arfan pada Fayra.
Fayra tetap bersikukuh ingin berdandan jua. Entah, apa yang membuat wanita hamil itu bersikap demikian! Hanya dialah yang tahu jawabannya.
"Tapi, Say--" ucapan Arfan tak di hiraukan. Fayra langsung menyambar dan memaksa Arfan untuk membantunya mengambil alat-alat make-up miliknya.
"Buruan, Mas ...!" desaknya tak sabaran.
Terpaksa Arfan menuruti keinginan sang istri. Lebih baik di turuti saat ini. Sebelum nanti ia akan ambil kendali.
"Aku akan menanyakan hal ini pada dokter Febriani. Supaya, bu dokter saja yang menjelaskan padanya. Hahhh ...." gumam sudut hati Arfan yang tengah pasrah.
Arfan menyodorkan tas berisi alat-alat make-up sang istri. Fayra mulai memoles dirinya pada bagian pipi. Lalu, beralih pada bagian bibir. Semua riasan wajah yang ia kenakan hanya sekedar saja.
Baginya saat ini, hal yang sangat penting adalah untuk tetap membuat pandangan netra suaminya terbingkai indah wajah cantiknya. Walaupun, hanya dengan polesan make-up sederhana. Tapi, ia tetap ingin membuat suaminya bahagia melihat wajahnya.
"Aku melakukan semua ini demi membahagiakan kamu, Mas. Aku tidak mau terlihat jelek di matamu. Aku juga tidak ingin kamu berpikir betapa lemahnya aku. Aku tidak mau terlihat pucat di depanmu, Mas." bisik hati kecil Fayra di dalam dada.
...*****...
Setiap istri akan bersikap berlebihan bila menyangkut tentang suami mereka.
Rasa sayang yang mendorong mereka untuk melakukan itu semua.
Percayalah!
Setiap istri tak ada yang ingin membuat suaminya menderita.
Sebab, rasa cinta yang telah tertanam akan membuat mereka saling membutuhkan dan saling ketergantungan.
Wahai, para istri di luar sana!
Ingat, jangan biarkan kekasih halal kalian berkelana mencari cinta lainnya!
Say no to madu!
Atau ... lebih tepatnya racun dunia?
Entahlah, terserah apapun itu namanya.
Tetap jaga harta paling berharga kalian di dunia hingga akhirat-Nya.
Semoga, Allah mengijabah doa terindah itu, ya! Aamiin yaa ... Rabb!
__ADS_1
...*****...