CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Towards Happiness


__ADS_3

Seiring dedaunan maple berguguran, mengikuti instruksi angin yang menyapanya. Sejalan pula dengan sebuah kalimat yang mengundang rasa penasaran, bagi semua orang yang menyaksikan.


Seorang pemuda tampan tengah berjongkok di hadapan seorang wanita yang baru saja di sematkan gelar sarjana. Kedua netra itu saling bertemu pandang. Memberikan sebuah jejak-jejak yang saling berhubungan. Menelusuri setiap inci pada wajah yang tengah di pandangi saat ini.


Ketika bibir si pemuda mulai melontarkan kata-kata. Maka, ketika itu pulalah si wanita mulai berdegup tak tentu arah dan tujuannya.


"Savina Maheswara, maukah kamu menjadi tulang rusukku untuk selamanya?" Akhirnya, kalimat manis itu terucap jua.


Tangan Hamas terulur dengan sebuah kotak di dalam genggaman. Lalu, ia lekas membuka kotak itu dan menunjukkan isinya pada Savina.


Semua orang yang memandangi mereka tampak terkejut, kecuali Raynar seorang saja yang tak sama sekali merasa terkejut karenanya. Pria itu justru membuat lengkungan tipis dan manis pada bibirnya yang di selimuti senyuman tertampan-nya saat ini.


Savina tak lagi mampu berkata-kata. Ia hanya merasa panas di sekujur tubuhnya. Mendadak membeku dalam waktu sekejap saja. Tapi, mampu membuat tubuhnya limbung seketika. Hampir-hampir Savina terjatuh akibat aksi nekat si pemuda padanya.


"Astaghfirullah ... M-Mbak ... apa kamu baik-baik saja, hmm?" tanya Hamas dengan kegugupan yang tiba-tiba timbul dalam dirinya.


"Ah, tidak! Tapi, bisakah kamu jelaskan, apa maksud ucapan kamu barusan padaku?" tanya Savina menatap dalam manik mata Hamas.


Hamas memutar otaknya untuk mengatakan tujuannya mengungkapkan hal tersebut pada Savina.


"Katakan saja yang sebenarnya, Ham ...!" jerit Raynar yang sudah seperti toa.


Tolehan semua mata tertuju pada Raynar yang berujar demikian.


"A-apa maksud Kak Ray sebenarnya, Kak? Apa ini semua adalah ide, Kak Ray, ya?" celetuk Fayra.


"Apa benar itu, Ray?" sambung Adiwangsa pula.


Raynar tersenyum lalu berkata, "Aku hanya mempermudah dia untuk memberikan kado spesial itu, kok. Tidak lebih dan tidak kurang." jawab Raynar yang kemudian berangsur-angsur melangkah maju.


Semua orang tak menyangka bahwa ini semua adalah ide Raynar.


"Jadi, apa jawaban kamu, Vina?" tuntut Raynar bukan Hamas.


Aneh memang! Yang melamar siapa yang menuntut jawaban siapa? Ya, begitulah adanya mau bagaimana lagi?


"A-aku ... masih butuh waktu untuk memikirkannya, Kak. Tolong, berikan aku waktu!" Savina berjalan sedikit cepat mendekati kerumunan keluarganya.


Tak mau ambil pusing dengan lamaran dadakan si Hamas. Savina lebih memilih untuk fokus berfoto-foto bersama orang-orang terkasih.

__ADS_1


Sesi foto-foto pun di mulai. Ada satu momen paling berkesan. Apalagi kalau bukan ketika Hamas meminta izin untuk berfoto bersama Savina. Dengan terpaksa, Savina pun meng-iyakan ajakan Hamas padanya.


...*****...


Sejak kepulangan mereka dari Kanada, Fayra tidak pernah lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Tampaknya, perjalanan yang menyenangkan kemarin itu membuat Fayra merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Mas ...?"


"Ya?"


"Aku sudah lebih sehat sekarang. Apa tidak sebaiknya mas pergi ke perusahaan saja? Aku sudah tidak apa-apa sekarang, Mas ...." Arfan mengerti akan maksud dan tujuan Fayra berbicara seperti itu. Ia paham betul akan isi kepala Fayra saat ini.


"Fay, selama mas Raynar bisa mengelola dengan baik perusahaan. Maka, biarkan saja dia yang mengelolanya, ya! Jangan cemaskan apapun, ya?"


"Tapi, Mas ... ak--" Arfan mengunci rapat bibir istrinya dengan bibirnya. Sentuhan lembut bak sebuah kapas itu terus ia lakukan terhadap pasangan halalnya.


...*****...


Rumah sakit setiap harinya selalu sama. Hal yang tampak monoton itu tak ubahnya sebuah dentingan jarum jam yang menempel sempurna pada dinding.


Clarissa Anastasya selama berada di rumah sakit, tak sekali pun ia meninggalkan ibundanya. Gadis itu terus memantau perkembangan sang ibunda tercinta.


"Boleh, sepertinya itu terdengar sangat bagus. Ayo, antar bunda berkeliling taman, ya, Cla sayang?"


"Iya, Bunda. Ayo!" Clarissa pun membantu sang ibu untuk menaikkan ibunya ke kursi roda.


...*****...


Tak lupa. Seperti biasanya, Raynar selalu menyempatkan dirinya untuk menyambangi rumah sakit sebelum ia pergi ke kantor. Ia hampir setiap hari melakukan hal yang sama. Kecuali, pada saat ia berada di Kanada tempo hari.


Di pintu masuk Raynar bertemu dengan anak dan ibu tersebut. Ia pun langsung mencecar anak dan ibu itu dengan pertanyaan nyelenehnya.


"Wah, Ibu mertua! Calon istri, kalian mau pergi ke mana?"


"Mas, harap jaga ucapan mas barusan, ya! Berhentilah memanggil ibuku dan aku seperti barusan. Jangan sampai ada yang salah paham nantinya, Mas!" ucap ketus Clarissa yang tak mau mendapatkan masalah.


"Eee ... Ini rencananya mau jalan-jalan di taman rumah sakit, Nak. Jadi, itu sebabnya ibu keluar." terang ibu Clarissa pada Raynar.


"Oh, begitu. Kalau begitu, bawa ini bersama ibu, ya! Nanti, di taman ibu bisa memakannya bersama calon istri ku. Oh, ya. Aku ingin membisikkan sesuatu pada ibu. Bolehkah, Bu?"

__ADS_1


"Boleh, Nak." Raynar pun membisikkan sesuatu pada ibunya Clarissa. Sehingga, hal itu membuat Clarissa menaruh curiga.


Setelah usai membisikkan sesuatu, Raynar pun pergi begitu saja. Tak lupa, sebelum ia pergi meninggalkan calon istrinya. Ia mengedipkan matanya sebelah kanan pada Clarissa.


"Dih, apaan, sih! Gak jelas banget, tuh orang!" celetuk Clarissa dengan nada ketusnya.


"Ayo, Bun!"


"Iya, Sayang." balas Nafisah pula pada anak gadisnya.


...*****...


Pada sebuah bangku di salah satu sudut kantor. Hamas tengah melamun saat ini. Jika di lihat dari wajahnya. Sepertinya, ia kurang tidur tadi malam. Pria itu tak terlihat seceria biasanya. Wajahnya tampak pucat, tak bersemangat dan kurang istirahat.


"Hahhh ... harus berapa lama aku menunggu ketidak pastian ini? Apakah dia akan menolak ajakan mendadak ku waktu itu? Atau ... apakah dia masih mengharapkan Morgan Tan? Ah ... sial! Ini sungguh membuat ku kesal. Aku hampir-hampir tidak bisa beraktivitas dengan normal. Tapi, sepertinya tidak berlaku dengannya." celoteh Hamas yang tengah di landa kecewa.


Dari kejauhan, Raynar melihat tingkah laku Hamas yang tak seperti biasanya itu. Raynar melihat saat ini Hamas tengah gunda gulana. Ia pun memutuskan untuk menghampiri si bawahannya tersebut.


Mengambil posisi duduk tanpa permisi, itu sudah biasa bagi Raynar.


"Ada apa, hah?! Masih mencemaskan jawaban apa yang akan di berikan oleh adikku, ya?" celetuk Raynar yang tahu betul akan isi kepala Hamas saat ini.


"Sudahlah, nanti malam datang saja ke rumah. Savina tidak pernah ke mana-mana. Jadi, jangan berpikir sendirian begini lagi. Kalau ingin segera tahu jawaban darinya. Terus pepet dia, paham?"


"Maaf, Pak! Sepertinya, saya memang telah salah dalam memutuskan sesuatu. Jadi, akan lebih baik bila saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Permisi, Pak!" ucapan Hamas begitu meyakinkan Raynar.


Hamas berlalu begitu saja meninggalkan Raynar di sana.


"Wah, sepertinya dia memang sedang patah hati terlampau berat." gumam Raynar kemudian.


...*****...


Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari seseorang, hal itu membuat Hamas melotot tak percaya.


Nanti malam datanglah ke rumah. Aku akan berikan jawaban atas pernyataan mu padaku waktu lalu. By Savina.


Tulis Savina di akhir kalimatnya.


"Mbak Savina ... ingin bertemu denganku? Wah, semoga akan ada kabar baik nantinya. Aamiin ya rabbal alamin ...!" ucap penuh harap Hamas setelah membaca pesan singkat dari Savina.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2