
Hidup adalah sebuah proses yang harus di lakukan. Walaupun hidupku terkesan dadakan. Tapi, bukan berarti semua itu aku lakukan dengan asal-asalan. Ingatlah, akan selalu ada masa depan yang lebih menjanjikan. Asal, kalian tidak pernah mengabaikan masa lalu yang banyak memberikan pelajaran.
...{Arfan Alhusayn}...
...*****...
Matahari telah tenggelam, waktunya bagi sang rembulan menggantikan tugasnya matahari. Walau sinar bulan malam ini tak seterang malam-malam sebelumnya. Bahkan, sinar bulan malam ini seakan redup tak bercahaya sama sekali. Tapi, hal itu tak lantas membuat tekad Hamas melemas.
Hamas datang dengan harapan yang penuh. Ia berharap, Savina lekas mengatakan 'ya' pada keinginan hatinya.
"Semoga, malam ini adalah malam penentuan hubungan kami. Aamiin ya rabbal alamin." doanya sebelum memasuki rumah keluarga Adiwangsa.
"Aihhh ... ternyata, seperti 'kah rasanya gugup tak menentu di kala hati ini akan berlabuh? Hihihi ... ada-ada saja memang pemikiran ku ini. Huhhh ... baiklah, aku harus fokus ... fokus dan tetap fokus." tambah Hamas lagi sebelum ia benar-benar memencet bel pintu tersebut.
Tepat sebelum bel di tekan, ada seseorang yang sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Hamas terkejut, ia tak menyangka bahwa yang membukakan pintu itu adalah ... Savina Maheswara. Perempuan yang akan ia harapkan menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak.
"Assalamu'alaikum," ucap Hamas sesantai mungkin.
"Wa'alaikumsalam. Ayo, masuk!" balas Savina yang mengajak Hamas untuk masuk bersama dengannya.
"Iya," sahut Hamas lagi.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Di sana telah berkumpul orang-orang yang akan menjadi saksi dari jawaban Savina terhadap Hamas.
"Wah, sepertinya aku mulai gugup dan lebih gugup lagi dari sebelumnya. Mudah-mudahan, aku tidak sampai pingsan nanti." gumam tak terlisankan oleh Hamas dalam hatinya.
Savina mempersilahkan Hamas untuk duduk di sofa.
"Silakan, duduk!" seru Savina pada Hamas.
"I-iya, terima kasih." balas Hamas dengan sedikit kegugupannya.
Raynar sudah tampak sumringah ketika Hamas telah hadir di tengah-tengah mereka.
"Santai saja, Ham. Tidak perlu cemaskan apapun, oke?" Hamas hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Adiwangsa dan istri juga telah bersiap untuk mendengarkan penuturan anak gadisnya. Savina duduk di samping ibunya. Gadis itu mulai menyuarakan pemikirannya.
"Terima kasih banyak kamu sudah berkenan untuk datang ke sini, Ham. Dan ... maaf, jika aku terlambat menjawab pernyataan mu waktu itu," tutur Savina dengan tertaku.
"Tidak apa-apa. Santai saja! Saya tidak merasa seperti itu, kok. Jadi, tidak perlu khawatir!" balas Hamas senyaman mungkin.
"Baiklah, saya akan menjawabnya sekarang." Savina mengambil nafasnya dan mulai menjawab pernyataan Hamas beberapa waktu lalu.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya dengan senang hati menerima lamaran kamu, Hamas." ujar Savina dengan tanpa adanya rasa ragu sama sekali.
"Alhamdulillah," sahut semua orang yang ada di sana.
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kakaknya dan Hamas. Hati Fayra kini dihinggapi rasa bahagia juga.
"Alhamdulillah ... terima kasih banyak ya, Allah ...! Akhirnya, kak Savina akan segera mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia idam-idamkan. Semoga, kak Ray juga akan segera menemukan tambatan hatinya. Aamiin ya rabbal alamin ...!" doa Fayra dalam hatinya.
...*****...
Pagi mulai menyapa lagi. Kali ini ada yang berbeda dari persiapan Raynar sebelum ia pergi ke kantor. Pria itu terlihat sangat rapi dari sebelumnya. Ia mengenakan setelan kemeja putih dengan jas berwarna hitam.
Sesekali Raynar juga terdengar bernyanyi. Tampaknya, ia merasa bahagia sekali pagi ini. Sampai-sampai mengalahkan kicauan burung di pagi hari. Suaranya juga merdu sekali.
"Akhirnya, hari ini datang juga. Bersiap-siaplah calon istriku. Aku akan segera mengajakmu ke penghulu. Ahahaha ...." tawa Raynar dapat memekakkan telinga orang yang bila tak sengaja mendengarnya.
Raynar turun dan menemukan ibunya yang tengah membutuhkan bantuan.
"Mas ... kamu kenapa, Mas? Apa yang terjadi sebenarnya padamu, Mas? Hiks ... hiks ... hiks ...." ucap Hazna dengan berurai air mata.
"Papa ...! Ma, apa yang terjadi pada papa?" jerit Raynar yang juga tampak panik saat ini.
__ADS_1
Tak ada waktu untuk menjelaskan lagi. Mereka pun memboyong Adiwangsa menuju rumah sakit. Arfan dan Fayra yang melihat dari lantai atas pun lekas turun dan bergegas mengikuti ke mana sang papa di bawa.
"Papa ...!" jerit Fayra, ketika papanya dibopong ke dalam mobil.
"Ayo, Sayang! Kita susul mereka,"
"Iya, Mas."
...*****...
Sesampainya di rumah sakit, Adiwangsa segera di tangani oleh dokter yang menjadi dokter pribadinya selama ini. Adiwangsa pun segera mendapatkan perawatan intensif.
Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas saat ini. Rencana Raynar untuk melamar pujaan hati, harus kandas lagi. Tampaknya, ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk melamar pujaan hatinya.
Entah ada angin apa yang mengantarkan Clarissa untuk sekedar menyapa Raynar dan keluarganya.
"Maaf, Semuanya! Permisi, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Papa kami sedang ada di dalam, dia tengah di rawat saat ini." terang Savina pada Clarissa.
"Begitu, ya?"
"Ya." jawab singkat Savina lagi.
Setelah dokter keluar, Raynar langsung menanyai sang dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan papa saya, Dok?"
"Tenang, ya, Pak! Pak Adiwangsa tidak apa-apa sekarang. Sepertinya, beliau mengalami hipotensi tadi. Itu sebabnya, beliau sampai pingsan." terang dokter Maharani pada Raynar dan yang lainnya.
"Lalu, bagaimana dengan penyakit jantung papa, Dok? Apakah sudah sangat parah?"
"Tenang, ya, Pak! Saat ini keadaan pasien sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun, begitu bukan berarti tidak mempengaruhi penyakitnya. Beliau saat ini hanya butuh waktu untuk beristirahat total. Jadi, mohon jangan mengganggu pasien untuk saat ini, ya!"
"Sama-sama. Saya permisi dulu!"
Setelah kepergian dokter Maharani, Hazna mencecar Raynar dengan berbagai macam pertanyaan di benaknya.
"Ray, sejak kapan papa mu punya penyakit jantung? Kenapa mama tidak tahu apa-apa tentang itu, Nak?"
"Maaf, Ma! Papa sendiri yang tidak mau mengatakan hal ini pada Mama dan yang lainnya. Papa tidak mau membuat kalian jadi bersedih.
Semua orang hanya bisa menangis dalam diam mereka. Tak menyangka ternyata selama ini Adiwangsa menghadapi semua ini sendirian.
...*****...
Sejak saat Adiwangsa di rawat dan sudah kembali lagi ke rumah. Maka, sejak saat itu pulalah kebahagiaan selalu menghampiri keluarganya.
Satu persatu anak-anaknya menikah. Baik Raynar maupun Savina. Mereka telah memiliki keluarga kecilnya masing-masing.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya. Rasanya baru kemarin, Adiwangsa merawat purta dan putri-putrinya dalam dekapannya.
Kini, mereka semua telah dewasa dan sudah hidup berumah tangga pula.
...*****...
Beberapa tahun kemudian ....
Seorang anak laki-laki tengah mengajak bermain dua gadis kecil bersamanya di sebuah taman. Mereka tampak asyik bermain. Sampai-sampai melupakan jam makan siang.
Bagi anak-anak, bermain adalah hal utama. Sedangkan makan, itu adalah hal yang paling sering mereka lupakan.
Terdengar jeritan dari beberapa wanita yang memanggil-manggil anak-anak mereka.
"Shabir Ahmad Alhusayn ... kamu di mana, Nak?" panggil Fayra dengan lengkap nama anak laki-lakinya.
__ADS_1
Tak mau diam saja, Savina dan Clarissa juga memanggil nama lengkap anak mereka dengan kompaknya.
"Varisha Asad ... sudah waktunya makan siang sayang. Ayo, sini mama suapi, ya?" jerit Savina pula.
"Cyra Maheswara ... Mama hitung sampai tiga. Kamu harus muncul di hadapan Mama, ya!" jerit Clarissa pula pada putrinya yang agak super bandel. Tapi, cerdasnya luar biasa.
Ketiga mama muda itu lekas mencari-cari anak mereka.
Shabir yang lebih tua dari kedua adiknya itu, lekas mengomandoi kedua adik cantiknya. Agar kedua gadis cilik itu segera berhenti dari aktivitas mereka saat ini.
"Adek-adek mas Shabir. Mainnya udahan dulu, ya! Ayo, kita makan siang sekarang. Mama kita udah manggil kita, tuh! Kasihan 'kan, mereka cariin kita dari tadi," tutur Shabir yang paling bijak di antara mereka bertiga.
"Baik, Mas Shabil," ucap kedua adiknya yang tak bisa berucap benar namanya Shabir saat ini.
Shabir menepuk jidatnya dan berkata lirih, "Kapan kalian akan menyebut namaku dengan benar, hah?" pekik tertahan Shabir yang sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.
Di saat para mama muda tengah kerepotan mengurus anak-anak mereka. Berbeda halnya dengan para papa muda. Mereka sibuk membicarakan bisnis yang tak ada habisnya. Sampai-sampai mereka juga melupakan jam makan siang. Alhasil, para istri juga harus mengingatkan mereka berkali-kali setiap harinya.
"Kalian sudah menghubungi suami kalian?" tanya Clarissa pada kedua iparnya.
"Belum, Kak." jawab serempak Fayra dan Savina.
"Makan siang!" jerit Fayra dan Savina lagi dengan kekompakan yang teramat sangat hari ini.
"Iya, aku juga belum mengabari mereka, nih! Ya, udah. Kalau begitu kita kabari mereka sekarang. Supaya kita bisa makan siang bersama nanti," nasihat Clarissa pada kedua adik iparnya.
"Iya, Kak."
Masing-masing dari mereka pun menghubungi suami mereka masing-masing.
...*****...
Ketika semuanya telah berkumpul di meja makan. Rumah pun terasa lebih ramai dari sebelumnya. Kendatipun mereka sekarang telah berumah tangga. Tetap tak ada yang berubah. Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama dengan Adiwangsa dan Hazna.
Ya, Adiwangsa tak mengizinkan baik anak maupun menantunya meninggalkan rumahnya. Mereka boleh bekerja di mana saja yang mereka mau. Asalkan, tetap tinggal satu atap dengannya.
Begitulah kehidupan mereka sehari-hari. Tak ada perkelahian, tak ada kebencian maupun kesedihan. Kini, yang ada hanya kebahagiaan yang tak akan pernah mereka lupakan.
...*****...
~Arfan POV~
Meskipun awalnya aku hadir dalam hidupnya seperti sebuah kesalahan. Tapi, nyatanya sekarang aku dapat memberikannya kebahagiaan.
Aku bersyukur atas rahmat-Mu, ya Allah. Terima kasih telah memberikanku garis takdir yang teramat berarti ini. Seumur hidupku ... aku tidak akan pernah ingin membuat tangis di wajahnya terpancar kembali.
Cukup sudah penderitaannya selama ini. Aku akan berusaha untuk selalu membuatnya dan orang-orang yang aku sayangi, bahagia berada di sisiku selama.
Terima kasih banyak, 'cintaku'! Kamu adalah inspirasi terbesar dan amat berarti dalam hidupku yang singkat ini. Selamanya kamulah satu-satunya istriku, Fayra Maheswara.
Akan ku nanti lagi kebersamaan kita kelak di Surga-Nya.
...Tamat...
...----------------...
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah mendukung sampai akhir karyaku ini. Semoga, kita semua selalu diberikan kesehatan dan selalu diberikan semangat yang lebih. Agar kita tetap bisa kuat menjalani kehidupan kita di dunia ini.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak baik yang pernah aku sampaikan pada semuanya. Dan tetaplah berjuang untuk teman-temanku tercinta. Sekalipun karya kita kurang di minati di sini.
Percayalah, bahwa apapun yang kita sampaikan dengan niat yang baik. Maka, hasilnya akan baik pula.
...I love you all....
...*****...
__ADS_1