CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Penyambutan Kepulangan Fayra


__ADS_3

Berhari-hari di rumah sakit membuat Fayra amat sangat merindukan suasana rumah. Akan ada banyak sekali orang, yang merindukan hal yang sama dengan apa yang Fayra rasakan saat ini.


Sebab, rumah adalah tempat kita kembali dari berbagai tempat yang telah kita kunjungi. Rumah adalah tempat di mana kita mendapatkan kehangatan, kebahagiaan, keharmonisan bahkan, pertengkaran yang tak berkesudahan. Tapi, kita pasti akan selalu merindukannya sebagai tempat yang kita singgahi di bumi.


Fayra mengajak Savina untuk berjalan menuju sebuah ayunan yang biasa mereka duduki dahulu. Mengajak sang kakak untuk bernostalgia ke masa lalu.


"Kak, yuk duduk di ayunan itu!"


"Tumben, kenapa tiba-tiba pengen main ayunan kamu, hmm? Apa kamu lagi ngidam main ayunan?"


"Bukan, Kak. Aku cuma ingin main saja," sambar Fayra dengan menepis tuduhan Savina secepatnya.


Adik-kakak itu duduk di ayunan yang menjadi saksi tempat bermain mereka dulu.


"Fay?"


"Ya, Kak. Kenapa?"


"Kamu rindu gak sih sama masa kecil kita dulu?"


"Rindu banget malah, Kak. Aku selalu membayangkan bahwa aku akan dapat bermain bersama Kak Vina, Kak Raynar dan--" Fayra sadar dan langsung menghentikan ucapannya. Sebab, ia tak mungkin akan mengucapkan nama Morgan lagi di hadapan Savina.


"Kalau mau bilang namanya juga gak apa kok, Fay. Toh ... memang dia adalah sahabat kita, 'kan? Jadi, ya ... gak apa-apa!" ucap Savina yang terlihat lebih kuat dari sebelumnya.


Tak ingin larut dalam obrolan masa lalu yang menyayat hati. Fayra memutuskan untuk beralih topik terkini. Akan lebih baik bila ia membahas mengenai hal lain yang tak melukai hati.


"Oh, ya ... Kak, kapan wisuda kakak di langsungkan? Aku ingin ikut berfoto saat momen bahagia itu, Kak. Jadi, kira-kira kita akan pergi ke Kanada nya kapan, nih?"


"Oh, iya. Sampai lupa 'kan, aku. Persiapannya sih ... udah berjalan 75%. Jadi, sekitar seminggu lagi. Mungkin, besok aku udah harus balik ke Kanada untuk mempersiapkan segalanya. Jadi, kamu harus benar-benar jaga kesehatan kamu. Kalau kamu mau ikut serta dalam momen bahagia ku nanti. Paham, Adik Manja?" tanya Savina dengan mencubit gemes pipi Fayra.


"Auhhhh ... sakit, Kak!" protes Fayra yang merasa amat sangat bahagia. Ia hanya berpura-pura saja berkata 'sakit'. Padahal, ia sama sekali tak merasa seperti itu. Tapi, demi melihat senyum merekah di wajah sang kakak. Ia rela sedikit berbohong putih.


Mereka pun masuk ke dalam rumah seusai bercanda di ayunan lama mereka.


...*****...

__ADS_1


Kepulangan mereka pun di sambut antusias oleh papa-mama mereka dan juga mertua serta adik ipar Fayra.


"Assalamu'alaikum," ucap Fayra dan Savina.


"Wa'alaikumsalam," sambut mereka semua, yang ternyata sudah menyiapkan surprise untuk menyambut kedatangan Fayra yang kembali lagi ke rumah.


Fayra tak mampu berkata-kata. Ia amat sangat merasa bahagia. Rasa syukur tak henti-hentinya ia ucapkan.


"Kenapa lama sekali masuknya, hmm? Apa di luar kalian nggak kedinginan?" tanya Hazna yang selalu mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya.


"Gak apa, Ma. Kita cuma duduk sebentar di ayunan tadi." terang Fayra datar.


Sanah membawa diri mendekati sang menantu. Ia telah lama tak melihat Fayra. Teramat bersalah yang kini Sanah rasakan. Sejak saat Fayra di rawat di rumah sakit. Sanah tak pernah menjenguk si menantu. Ia sibuk mengurus pesanan batik yang harus di selesaikan detik itu jua. Alhasil, tak dapat ia pungkiri bahwa dirinya merasa bersedih.


"Fay, maafkan Bu'e, ya? Bu'e ndak bisa jenguk kamu waktu kamu di rawat di rumah sakit. Bu'e--" Fayra tersenyum dan berkata, "Sudahlah, Bu'e. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang. Oh, ya. Kenapa semua orang berkumpul di sini sekarang?"


"Untuk menyambut kedatangan kamu, Fay sayang." celetuk Hazna.


Mereka semua merayakan kepulangan Fayra dengan makan malam bersama. Seperti biasa hanya Nadhifa saja yang tak terlalu hirau akan kedatangan kakak iparnya itu. Gadis itu lebih berfokus pada ponselnya saja.


...*****...


"Kak, malam ini kita tidur bersama, ya?"


"Kenapa?"


"Aku rindu ingin tidur berdua sama kakak. Dan ... berhubung juga besok kakak ingin balik ke Kanada, 'kan? Jadi, tidak ada salahnya 'kan, bila aku berkeinginan untuk tidur berdua sama kakak malam ini?"


"Baiklah, aku hanya bisa pasrah. Tapi, apa suami kamu ngizinin kamu, hmm?" Fayra mengangguk.


"Eh, itu adik ipar kamu gak mau di ajakin sekalian, gitu?" Fayra menoleh pada Nadhifa yang tampak tak mempedulikan dirinya dan Savina.


"Sepertinya, dia lebih suka bila kita tidak mengganggunya, Kak. Yuk, kita ke atas!" ajak Fayra yang sudah mulai berdiri dari duduknya.


Sebelum pergi, Fayra berpamitan pada Nadhifa yang masih terbuai dalam tonton sebuah film yang tersaji di televisi.

__ADS_1


"Nad, kami ke kamar duluan, ya! Nanti, kalau kamu mau tidur bareng kami. Kamu naik aja ya ke kamar kak Savina di lantai atas," pinta Fayra yang hanya di jawab dengan dengungan saja oleh Nadhifa.


"Emm." sahut Nadhifa malas.


Savina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan si Nadhifa.


"Udah, Kak. Jangan hiraukan! Nanti, dia akan sadar seiring berjalannya waktu." ucap Fayra yang menyunggingkan senyuman.


...*****...


Nuansa kamar Savina masih sama. Hampir tak ada yang berubah dari sebelumnya. Cat berwarna biru kesukaan Savina masih tetap terlihat cerah. Semua tata letak barang-barang kesayangan Savina pun masih berada pada tempatnya.


Kedua kakak-beradik itu berjalan menuju ranjang empuk yang mewah. Ranjang yang sudah lama tak ditiduri oleh pemiliknya. Mereka duduk pada bibir ranjang. Fayra mulai menanyakan banyak hal pada Savina.


Pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Fayra. Cukup membuat Savina terdiam seribu bahasa. Gadis itu lebih banyak merunduk dan bungkam. Rasanya ia ingin pergi saja dari sana sekarang juga. Tapi, kaki-kakinya mendadak lemah.


"Kak Vina ... coba kakak jawab. Apakah memakai pakaian seperti ini tidak membuat kakak merasa gerah saat ini?" ucap Fayra sembari memegangi pakaian sang kakak.


Entah mengapa ... hal itu membuat Savina tersadar. Dan ... dia pun memutuskan untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri saat ini.


"Fay, sebaiknya kamu temani saja suami mu, ya! Kakak mau tidur sendiri saja malam ini. Besok, kakak mau bangun pagi-pagi dan menyiapkan segalanya untuk balik ke Kanada." Savina mengantarkan sang adik sampai pintu kamarnya.


"Tapi, Kak--" Fayra hendak protes. Namun, Savina terlampau kuat keinginan hatinya untuk sendiri malam ini.


"Selamat malam, Fay! Selamat beristirahat dan ... have a nice dream, ok? Bye-bye, Fay!" Savina lekas menutup pintu kamarnya.


Sementara itu, Fayra masih termangu di depan pintu kamar sang kakak. Sampai pada akhirnya, Arfan melihat Fayra sendirian di sana.


"Fay sayang ...! Kamu kenapa sendirian di sini, hmm? Katanya mau tidur sama mbak Savina. Tapi, kenapa kamu malah--"


"Mas, aku heran, deh! Kenapa kak Vina jadi berubah seperti itu?"


"Lho, emangnya kamu tadi tanya apa ke mbak Vina?"


"Aku cuma tanya aja, apakah kak Vina gak merasa gerah saat ini pakai pakaian yang sama seperti aku, Mas ... itu, doang, kok yang aku tanyakan padanya. Tapi, kenapa dia malah--" Arfan menyela.

__ADS_1


"Sudah, ya! Berikan kakak kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Yuk, kita tidur sekarang!" Arfan pun mengiringi langkah sang istri untuk menuju kamar tidur mereka.


...*****...


__ADS_2