CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Manja Di Waktu Yang Salah


__ADS_3

Terkadang, ibu hamil itu terkesan manja dan super duper bawel bin ngeselin. Tapi ... kemanjaan mereka bukanlah suatu keinginan yang terkadang berasal dari diri mereka sendiri. Melainkan, keinginan dari si jabang bayi yang ada di dalam kandungan.


Arfan tengah buru-buru seakan ingin bertempur dengan sang waktu. Bila perlu melawan sang waktu agar lebih merangkak cepat. Supaya, pertemuan dirinya dan Morgan Tan lekas terlaksana.


Sinar mentari menerangi jagat raya ini. Kilau cahayanya sudah dapat menyilaukan pandangan mata. Arfan telah selesai bersiap untuk pergi ke perusahaan.


Beberapa detik kemudian ...


"Mas ...? Mau kemana, hmm?" Satu kalimat tanya yang sangat konyol terucap jelas dari bibir Fayra.


Lalu, bagaimana ekspresi Arfan saat ini?


Jelas pria itu melongo dan menatap bagaikan orang bodoh ke arah istri tercintanya. Ia serta merta menghentikan gerak tangannya yang tengah memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tas kerjanya.


"Fay, Sayang ... pertanyaan kamu itu bukankah terdengar sangat aneh, hmm?" ujar Arfan dengan lemah lembut tentunya.


Fayra menggeleng cepat seakan tak perlu merasa salah sama sekali. Seiring dengan itu, sebuah kalimat bernada polos pun keluar dari bibir merona Fayra.


"Tidak, aku hanya merasa mas butuh sesekali untuk aku tanyai. Maka dari itu aku pun lekas bertanya, 'kan?" ucapnya yang teramat santai dan tak berdosa.


Ya, memang benar tidak berdosa apa yang di lakukan oleh Fayra. Toh, dia 'kan hanya sekedar bertanya.


"Ya, tentu mas mau ke perusahaan, Sayang ...! Memangnya, mau kemana lagi kalau mas pakai pakaian rapi, begini?" tanya balik Arfan pada si istri yang terlihat makin berbeda lagi dan lagi setiap hari.


"Bisa saja 'kan, kalau mas mau pergi jalan-jalan? Ya, 'kan, Mas ...?" desaknya agar sang suami lekas menjawab, 'iya'.


Sejurus kemudian, Fayra bergelayut manja pada pundak Arfan.


"Fay ... ke-kenapa kamu seperti ini, hmm? Apa kamu sedang lapar? Mau mas buatkan sarapan dulu sebelum mas berangkat kerja, iya?" tanya Arfan mulai gelisah dan tak berdaya.


"Nggak, mau!" jawabannya yang di sertakan dengan gelengan kepala.


"Terus ... kamu maunya apa? Coba, bilang ke mas sekarang!" tuntut Arfan dengan menatap lembut wajah ayu sang pujaan hatinya.


"Aku mau kamu dan waktumu untukku hari ini, Mas ...! Hanya itu, Mas yang aku mau. Tidak ada yang lainnya lagi." Fayra langsung membenamkan wajahnya pada dada Arfan.


Kemudian, Fayra mulai mengendus aroma tubuh sang suami dengan wajah yang tampak tenang, damai dan nyaman.


Suami mana yang akan tega bila telah mendapatkan perlakuan seperti ini? Apakah masih tega untuk meninggalkan istri yang tengah haus akan kasih sayang dan perhatian mu, wahai para suami?


Arfan tak tega dan ia pun meletakkan kembali tas kerjanya. Lalu, memutuskan untuk menghentikan barang sejenak niatnya hari ini untuk bekerja.


Mungkin, inilah waktunya bagi dirinya menghabiskan waktu bersama istri tercinta. Ia sadar betul akan sikapnya yang selama ini kurang perhatian pada sang istri.


Arfan pun mulai mendekap erat tubuh Fayra dengan penuh kasih sayang. Ia elus lembut puncak kepala istrinya. Kemudian, ia kecup lembut kening istrinya itu dengan memejamkan matanya.


"Maafkan, Mas, ya! Mas, sadar selama kamu hamil mas malah keluyuran bekerja hingga lupa untuk memberikan perhatian padamu dan calon anak kita," ujar Arfan yang menyesali perbuatannya selama ini.


Fayra mendongak dan tersenyum sumringah.


"Nggak, apa-apa, kok, Mas! Aku ngerti dan paham akan posisimu saat ini. Jadi, berhenti menyalahkan diri mas sendiri, ya!" Fayra kembali memeluk lebih erat dan menghirup lebih dalam aroma tubuh Arfan.

__ADS_1


"Kalau begitu, mas ganti pakaian dulu, ya! Kamu juga mandilah sekarang. Nanti, kita pergi jalan-jalan,"


"Apa ... aku bermimpi, Mas?" Fayra sekonyong-konyongnya ingin mencubit pipinya.


"Eh, jangan!" cegah Arfan cepat sebelum terjadi dan terlambat.


"Kenapa?"


"Kamu bisa kesakitan nanti," ucap Arfan penuh perhatian.


Mereka pun saling tersenyum dan Arfan kembali memeluk erat tubuh Fayra.


"Udah, jangan terlampau ekstrim, begitu. Mas nggak mau kamu merasakan sakit berulang kali nanti, Fay sayang." Fayra merenggangkan pelukannya dari tubuh sang suami.


"Kok, di lepas?" protes Arfan.


"Maksudnya mas ngomong barusan apa, coba?" tanyanya dengan sedikit memanyunkan bibirnya ke depan.


"Ya, nanti ketika kamu melahirkan anak pertama kita kamu akan jauh lebih merasa sakit daripada sekedar mencubit pipi kamu sendiri, Fay sayang." ucap Arfan dengan menyentuh lembut pipi sang istri kini.


"Oh, iya juga ya, Mas. Hehehe ...,"


"Hehehe, akhirnya kamu kembali normal, Sayang." kelakar Arfan dengan seutas senyum yang tulus nan membahagiakan.


...*****...


Sementara di belahan bumi lainnya. Hamas tengah menunggu jemputan sang bos sesuai dengan isi percakapan mereka sebelumnya di telepon.


"Duh ... nih, sebenarnya si bos jadi jemput, nggak, sih?! Kok, rasanya aku nungguin dari tadi nggak kelar-kelar, ya? Apa iya si bos kena macet di jalan? Ah, ... tapi ini bukan kota Jakarta, kan? Manalah mungkin bisa terkena macet sampai berjam-jam di jalan." gerutu Hamas kesal sendiri di pinggir jalan.


Kring ... kring ... kring ... kring ...


Entah karena Hamas tuli atau memang dia kurang jelas mendengar suara bel sepeda dari seseorang. Makanya, ia hampir saja di tabrak sepihak oleh seseorang. Lebih tepatnya seorang gadis.


"Eh, Mas ... awas ...!" jerit seorang gadis pada Hamas yang hampir saja nyungsep tak punya harga diri di saat ia tengah berdiri seorang diri.


"Astaghfirullah ... hampir saja aku tertabrak." ucap Hamas sembari mengelus dadanya lembut dan manja.


Lalu, bagaimana dengan nasib si gadis itu?


"Aduh ... Masnya iya enak selamat. Lah, saya yang jadinya jatuh nyungsep di trotoar, Mas. Bantuin, dong Mas ...! Malah diam aja di situ!" protes si gadis yang cantik tapi tampak galak.


Hamas menepuk jidatnya dan lantas bergegas menuju si gadis malang itu.


"Eh, iya. Lupa!" ucapnya enteng.


Lalu, ia pun mulai membantu mengambil sepeda si gadis saja. Sebab, tak mungkin rasanya ia akan menyentuh sembarangan lawan jenisnya. Hal itu tidak di benarkan sama sekali, bukan?!


Mereka saat ini belum lagi bertatap muka. Jadi, belum ada interaksi lebih lanjut yang terjadi. Namun, ketika netra mereka telah berjumpa ... baik Hamas maupun si gadis malang itu, sama-sama terperanjat dan tak menyangka.


"Kamu ...?" ucap mereka kompak bak paduan suara.

__ADS_1


"Ngapain, kamu di sini?" lagi kekompakan tanpa di sengaja itu terjadi berulang kali.


"Lah, Mas ini gimana, sih?! Ini jalanan umum. Saya mau pergi kuliah ya lewat sini, Mas! Mas sendiri, ngapain, hah?! Berdiri di pinggir jalan udah kayak pengemis jalanan saja," gerutu Nadhifa kesal pada Hamas.


Ya, Nadhifa dan Hamas sudah sering sekali bertemu dan selalu bertengkar bila bertemu. Sebab, mereka tak pernah bisa sejalan dan sepemikiran.


"Eh, hati-hati kalau ngomong kamu! Saya di sini itu perintah langsung dari bos saya. Yaitu ... masnya kamu!" sentak Hamas tak terima di salahkan begitu saja oleh Nadhifa.


"Lah, Mas Hamas ndak tau, ya? Mas Arfan dan mbak Fayra tadi telepon ke saya. Mereka bilang mau pamit pergi refreshing, tuh! Mau jalan-jalan mereka, Mas. Udahlah ... pulang sana, Mas! Daripada berjemur di pinggir jalan begini. Ntar, Mas makin hitam, Mas ...!" ejek Nadhifa yang membuat Hamas sedikit tersulut emosi. Tapi, ia tahan demi tetap terlihat tampan.


"Astaghfirullah hal adzim ...!" Pada akhirnya, ia hanya bisa beristighfar saja dan mengelus dada karena kecewa pada ucapan Nadhifa.


Sementara itu, Nadhifa berlenggang pergi tanpa permisi. Ia putar balik lagi ke rumah untuk membersihkan diri. Sebab, bajunya yang rapi sudah tak terlihat bersih lagi. Alhasil, ia pun harus berpasrah diri dan belok kanan lagi.


"Lah, ini namanya aku di tinggal dua kali. Nggak, sama masnya dan sekarang di tinggal juga oleh adiknya. Aduh ... lengkap sudah penderitaan hidupku hari ini." ucap Hamas, yang kalut karena ulah Arfan yang tak menginformasikan perubahan jadwal kesepakatan.


Sejurus kemudian, telepon genggamnya Hamas bergetar.


Drettt ... drettt ... drettt ....


"Assalamu'alaikum," ucap Hamas saat mengangkat telepon genggamnya.


"Wa'alaikumsalam, Ham. Begini, saya mau memberikan informasi--,"


"Saya sudah tahu, Pak. Bapak tidak jadi ke perusahaan hari ini, 'kan?" sela Hamas dengan nada kecewa yang masih mendera.


"Loh, kamu tahu dari mana, Ham?"


"Itu tidak penting, Pak. Selamat bersenang-senang, Pak! Assalamu'alaikum!" ucap Hamas menutup sepihak dengan berani pada sang atasan.


Lalu, bagaimana reaksi Arfan sang atasan?


"Kenapa, Mas?" tanya Fayra yang duduk di samping Arfan.


"Nggak, tahu sayang. Mas bingung sama si Hamas. Kenapa tiba-tiba suaranya terdengar sangat kecewa seperti orang yang sedang putus cinta," ucap polos Arfan yang membuat Fayra langsung cekikikan.


"Ahahaha ... Mas ... Mas ...! Kamu ini ada-ada saja! Bukannya, kalian berdua itu sama, ya karakternya?"


Arfan melirik ke arah sang istri yang terlihat bahagia sekali.


"Maksud kamu, apa?"


"Ya, kalian itu 'kan sama-sama takut dekat dengan lawan jenis. Jadi, definisi putus cinta yang mas katakan itu seakan mustahil untuk terjadi pada Hamas, Mas ...!" terang Fayra dengan seriusnya.


"Oh, iya juga, ya?" ucap Arfan sambil garuk-garuk kepala dengan muka kikuknya ketika berbicara.


Hal itu membuat Fayra geleng-geleng kepala dan tersenyum sekedarnya saja. Mereka pun kembali fokus melanjutkan perjalanan menuju taman hiburan.


...*****...


Membahagiakan istri adalah hal yang akan mengantarkan suami pada kebahagiaan yang tak terhingga.

__ADS_1


Selain bernilai ibadah, suami juga akan ikut merasa bahagia. Karena, bagian dari tulang rusuknya telah memberikan ia rasa yang sama.


...*****...


__ADS_2