
Arfan, Raynar dan Hamas tengah asyik melahap makanan yang tadi mereka pesan. Tiba-tiba Morgan Tan datang dengan raut wajah yang membuat deg-degan.
Bagaimana, tidak?
Ketiga pria itu sontak menoleh dengan gerakan serempak. Pandangan mereka seketika teralihkan pada sesosok tubuh yang tampak rapuh. Sesosok yang tak terlihat baik-baik saja. Sesosok yang menampilkan duka lara.
"Mas Raynar? Ham? Apa kalian juga melihat apa yang saya lihat?" celetuk Arfan yang jengah karena penglihatannya yang mengundang banyak tanya.
"Emmm, aku melihatnya," sahut Raynar pula. Tak jauh berbeda, Hamas pun mengatakan hal serupa.
"Iya, saya juga melihatnya, Pak."
Ketiga pria itu meneguk salivanya dengan sedikit tercekat. Seakan saliva itu tak kunjung jua tertelan masuk melalui kerongkongan.
Morgan mengambil posisi duduk sempurna tepat di hadapan Arfan. Ketiga pria tampan itu melongo dan hampir-hampir tersedak karenanya.
"Gak usah pada sok-sokan kaget deh, Kalian Semua ...! Kalau pertemuan ini cuma untuk membahas hal yang basi. Lebih baik cukup akhiri sampai di sini. Aku sudah tidak sudi lagi membahas hal ini. Tidak perlu ganti rugi! Aku saja yang akan pergi. Beres, 'kan?!" ujar Morgan, tanpa cela dan tanpa jeda.
Daya tarik Morgan memang sungguh luar biasa!
Setiap ucapannya itu terbukti akan selalu di wujudkan secara nyata olehnya. Jadi, tidak menutup kemungkinan untuk yang kali ini juga.
"Apa ...?! Kenapa ...?!" jerit Arfan, Raynar dan Hamas kompak, seperti orang yang sedang melakukan paduan suara.
"Kalian semua jangan berlagak bodoh, deh! Ini adalah strategi kalian, 'kan? Membuat aku patah hati dan pada akhirnya ... kalian semua yang menjadi pemenangnya. Sungguh ... ini adalah cara yang amat licik yang pernah aku terima, sepanjang perjalanan hidupku di bumi. Sudahlah! Jangan, mencoba untuk mencari ku lagi dan menjelaskan tentang semua ini! Aku juga tidak akan pernah memperlihatkan diriku lagi pada kalian semua. Jadi, lupakan tentang apapun yang pernah kita jalin selama ini."
Morgan berdiri dari duduknya dan memberikan seutas senyuman yang cukup mematikan.
"Oh, ya. Sampaikan salam perpisahan ku pada Savina. Katakan padanya, bahwa aku tidak akan pernah mencari dirinya lagi. Semoga, dia mendapat kebahagiaan yang memang tak bisa aku berikan. Usai sudah perjuanganku selama beberapa bulan silam. Aku harap, dia dapat menemukan tambatan hatinya yang entah di mana. Aku pergi. Jangan ada yang merindukan aku, ya! Hahaha ...."
Lagi, lagi dan lagi Morgan membuat ketiga pria tampan itu terperangah tak percaya.
"Mas, apakah saya sedang bermimpi, Mas?" tanya Arfan dengan polosnya.
"Tidak, Fan! Ini adalah kenyataan. Sebenarnya, apa yang telah terjadi pada Morgan? Apakah Savina memutuskan hubungan mereka begitu saja?"
"Maksudnya, Mas Ray apa? Apakah ini semua ada hubungannya dengan mbak Savina?" Raynar mengangguk dan di benarkan pula oleh Hamas.
"Benar, Pak! Ini semua pasti karena efek patah hati." celoteh Hamas yang tiba-tiba nimbrung begitu saja.
"Apa ...? Kamu tahu dari mana?" tanya Arfan dan Raynar seakan memojokkan Hamas sekarang.
"Saya hanya kebetulan saja mendengar cerita mbak Savina dan bu Fayra, Pak. Maaf, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mendengarkan obrolan mereka. Tapi--" ucapan Hamas tercekat, sebab ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya.
"Mbak Savina? Se-sedang apa Mbak di sini, Mbak?" tanya Hamas yang sekarang sedang di sidang oleh Arfan dan Raynar bersamaan.
Savina tak menjawab pertanyaan Hamas. Ia malah memilih untuk tetap fokus pada tujuan utamanya datang menghampiri mereka bertiga.
"Apakah sudah selesai dinner-nya, Fan?"
__ADS_1
"Iya, bisa di bilang sudah selesai, Mbak. Kenapa, Mbak? Apakah terjadi sesuatu pada Fayra, Mbak?"
"Iya, dia membutuhkan kamu sekarang. Kalau tidak ada lagi yang kalian perbincangkan di sini. Lebih baik kalian semua pulang!" sentak Savina yang terlihat sangat terpuruk. Namun, tetap memasang wajah angkuh dan sengak yang luar biasa sempurna.
"Kalau begitu, saya permisi semuanya! Kalian silakan lanjut lagi makan malamnya. Saya harus menjaga istri saya. Berhubung Morgan membatalkan kesepakatan secara sepihak. Maka, semua masalah telah sirna. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Terima kasih banyak untuk traktirannya, ya, Mas Ray! Lain kali, saya yang akan mentraktir mas Ray dan juga semuanya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" jawab mereka yang masih melongo menyaksikan kepergian Arfan dan Savina.
"Apa-apaan, ini? Lagi-lagi di tinggal pergi. Ckckck ... menyedihkan sekali nasibku ini." gerutu Raynar tak menyangka, dirinya akan di tinggal begitu saja.
"Apa lihat-lihat, hah ...? Cepat habiskan makan malam mu itu!" sergah Raynar yang tak pernah ramah pada Hamas.
"I-iya, Pak. Siap, laksanakan." Hamas pun makan dengan perasaan tertekan.
"Setelah itu, kita akan ke rumah sakit. Paham?"
"Kenapa tidak langsung saja, Pak?"
"Jangan mengatur saya, Paham?! Saya mau pesan makanan untuk calon istri dan ibu mertua saya dulu sebelum kita menyusul mereka." Hamas manggut-manggut saja. Sebab, ia takut di marahi lagi oleh atasannya yang satu ini.
...*****...
Rumah Sakit ....
Arfan buru-buru masuk dan memeriksa kondisi terkini istrinya. Dan ... ketika netranya menatap wajah berparas ayu itu, mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Fay, Sayang ... kamu?"
"Iya, Mas. Aku sudah boleh pulang. Jadi, aku menunggu mas sedari tadi. Yuk, Mas kita pulang sekarang!" Ajakan itu bagai sebuah keajaiban.
Bukan sebuah jawaban yang Arfan berikan. Melainkan, sebuah pelukan hangat yang di wujudkan. Sebuah bentuk dari rasa sayang yang mendebarkan dua jantung yang saling bersahutan.
"Mas ... apa kamu baik-baik, aja, hmm?"
Pelukan Arfan semakin erat di lingkarkan. Ia seakan enggan untuk melepaskan. Walaupun hanya sekedar untuk memberikan sebuah jawaban.
"Mas ...? Hei ... aku baik-baik, aja. Kenapa Mas malah seperti ini, hmm?" Fayra meraup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Tatapan mata mereka pun saling bertemu.
"Jangan sakit lagi, ya? Mas gak mau lihat kamu sakit seperti ini lagi," ucap Arfan dengan bibir bergetar.
Fayra menggeleng pelan bagaikan sebuah ketukan yang melamban. Sebelum ia mengutarakan isi kepalanya yang sedari tadi telah menari-nari dalam otaknya.
"Aku juga tidak akan mau terbaring lemah seperti ini lagi, Mas. Tapi, kamu 'kan tahu ... kalau aku pasti akan ke rumah sakit lagi, 'kan?" tutur Fayra yang membuat Arfan berkerut kening dan sedikit kelabakan.
"Ma-maksud kamu apa, Sayang?"
"Mas ... kamu aneh, ihhh ...! Lihat, nih!" Fayra memegangi perutnya. Lalu, Arfan pun baru menyadari kebodohannya yang membuat sang istri jadi tertawa bahagia.
"Astaghfirullah ... oh, iya. Kamu 'kan juga harus melahirkan. Kenapa mas jadi lupa seperti ini, ya, Sayang?" tutur Arfan seraya menepuk pelan jidatnya.
__ADS_1
"Udah, ah! Yuk, kita pulang Mas!" ajak Fayra lagi setelah perbincangan nyeleneh yang mereka lakukan.
"Iya, ayo kita pulang! Mbak Savina juga sudah menunggu di luar."
Mereka pun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit. Tampaknya, Fayra sudah sangat merindukan suasana rumah yang selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan untuknya.
Hal itu terbukti dengan sekali melihat rona bahagia di wajahnya.
"Yuk, Kak kita pulang!" ajak Fayra pada Savina yang duduk termenung seorang diri saat ini.
"Eh, iya. Ayo!"
Sepanjang koridor rumah sakit, Fayra tampak asyik memperhatikan wajah kakaknya yang tampak selalu murung. Ini bukanlah kali pertama Fayra melihat kemurungan itu pada wajah kakaknya. Namun, tetap saja rasa iba itu tak akan pernah sirna.
...*****...
Sesampainya mereka di rumah, Fayra masih tetap setia menatap wajah sendu Savina. Dia pun memutuskan untuk menemani sang kakak malam ini. Berharap, kalau suaminya dapat mengerti dan memahami kondisinya saat ini.
"Mas, tolong izinkan aku untuk menemani kak Savina malam ini, ya? Aku ingin membicarakan hal penting dengan kak Savina. Jadi, gak apa-apa 'kan, kalau Mas tidur sendiri malam ini?" Arfan mengangguk dan mengizinkan sang istri melakukan apa yang diinginkan.
Berhubung terlalu fokus pada luka hati yang di deritanya. Savina sampai tak mendengar apapun yang dibincangkan oleh pasangan suami istri di depannya.
Savina membuka pintu mobil dan turun tanpa menghiraukan seruan Fayra padanya.
"Kak ... Kak Vina? Tunggu ...!" panggil Fayra yang langsung di bantu oleh Arfan juga.
"Mbak Vina? Fayra memanggil-manggil Mbak Vina dari tadi, Mbak." tegur Arfan dengan sedikit menghalangi jalan Savina.
"Eh, kenapa, Fan?" tanya Savina yang seolah baru tersadar dari lamunannya.
"Itu, Fayra manggil Mbak Vina dari tadi, Mbak." Savina menepuk jidatnya seraya berkata, "Ya, ampun ...! Kenapa aku nggak dengar, ya?"
"Kak Vina kenapa, sih? Kok, kelihatannya kurang fokus begitu?" celoteh gemas Fayra yang kelimpungan karena sikap si kakak cantiknya itu.
"Maaf, Fay! Kakak sepertinya kurang minum. Hehehe ...." kelakar Savina seolah ia baik-baik saja.
"Astaghfirullah, Kak! Jangan bilang ini karena efek patah hati, ya?!" celetuk Fayra yang merasa yakin atas tuduhannya barusan.
"Apaan, sih kamu!" balas Fayra tak terima.
...*****...
Terkadang patah hati membuat mu lupa diri. Tapi, bukan berarti kita harus tetap berfokus pada rasa sakit yang meracuni. Sebaliknya, kuatkan tekad dan luruskan niat. Agar kamu bisa selamat.
Bukan hanya sekedar niat yang harus di lakukan. Melainkan juga keinginan untuk melangkah maju menatap masa depan. Menata lagi hati itu untuk orang yang tepat, sebagai pendamping hidupmu. Bukan memberikan ruang untuk meratapi masa lalu mu yang mengundang pilu.
...{Fayra Maheswara}...
...*****...
__ADS_1