
Kepergian sang nona mudanya, membuat Arfan semakin resah akan lamarannya terhadap ustadzah Maira. Dia berjalan mondar-mandir, mencoba mencari cara agar si nona muda bisa mengalah pada egonya.
Ide tak kunjung tiba, waktu shalat Maghrib pun datang.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ...
Sayup-sayup terdengar suara adzan oleh Arfan. Ia pun segera bergegas masuk ke dalam butik. Di karenakan waktu Maghrib tidaklah lama, maka dari itu Arfan tak sempat lagi untuk pergi ke masjid.
Saat telah sampai di dalam, ia pun menanyai beberapa orang yang sedang berlalu-lalang.
"Mas, mau numpang tanya. Di sini, ruangan untuk shalat ... di mana, ya?" tanyanya pada seorang pria yang memakai topi.
"Oh, Mas jalan lurus dari sini. Nanti, belok ke kiri. Nah, di sana nanti ada papan penunjuk arah. Mas tinggal baca, deh ke mana selanjutnya ruang untuk shalat." terangnya panjang lebar pada Arfan.
"Oh, gitu. Terima kasih banyak, Mas!"
"Sama-sama, Mas," ucap pria itu pada Arfan.
"Masnya nggak mau ... sekalian shalat?" tanya Arfan.
"Mas, aja yang shalat saya ntar aja, deh!" ucapnya sembari nyengir kuda.
"Oh, gitu ... oke, sekali lagi makasih, Mas!" ucap Arfan yang terheran-heran melihat si masnya yang barusan nyengir padanya.
Arfan kembali melajukan langkah kakinya. Benar ternyata, ada ruang ibadah di sana.
"Aneh, kok, mereka pada abai ya untuk melaksanakan shalat? Apa cuma aku sendiri yang belum shalat atau gimana?" ucap Arfan yang merasa tak banyak orang yang berada di ruang ibadah itu. Kemudian, ia lekas berwudhu dan melaksanakan shalat Maghrib di sana.
"Allahu Akbar ..." Arfan melaksanakan shalat Maghrib sendiri di tempat itu.
...*****...
"Fay, udah waktunya shalat, nih! Yuk, shalat bareng kita!" ajak Hasna yang sudah berdiri untuk pergi.
Sementara Fayra, gadis itu masih asyik bermain dengan ponsel pintarnya.
"Iiihhh ... Fay ...! Ayolah ...!" ajak Hasna sekali lagi yang tampak agak frustrasi.
"Kamu shalat, aja duluan. Ntar, aku bakalan nyusul," ucapnya santai seperti di pantai.
"Kapan?"
"Ya, masih usaha, sih untuk nyusul. Ya ... nggak tahu kapan," jawabnya cuek bebek aja.
"Astaghfirullah ...! Ya, udah. Semoga, kamu segera dapat hidayah, ya!"
"Aamiin ...!" ucap Fayra kencang.
Fayra tidak mungkin mengerjakan shalat saat ini. Kebetulan, dia memang sedang lagi datang bulan. Sebenarnya, dia memang bukanlah perempuan yang suka beribadah. Hanya sewaktu-waktu saja dia mengerjakan shalat. Dia bilang, shalat itu tergantung perasaan. Kalau lagi mood ya shalat. Kalau nggak mood ya nggak shalat.
...*****...
Hasna yang sudah berada di ruang ibadah, ia pun melihat sosok Arfan di sana. Maka, semakin kagum lah ia pada pemuda tampan itu. Sebab, jarang sekali ia menemui sosok laki-laki seperti Arfan ini.
"Masya Allah ...." puji Hasna saat melihat Arfan tengah melaksanakan shalat. Memang ruang shalat itu di rancang cukup besar. Jadi, shaf antara laki-laki dan perempuan itu terbagi menjadi dua. Walaupun demikian, kain pembatasnya tidaklah terlalu tinggi. Sehingga, mata Hasna bisa melihat Arfan di sana.
Buru-buru Hasna mengambil air wudhu dan kemudian, melaksanakan shalat juga di ruangan tersebut.
Arfan selesai shalat lebih dulu, ia pun berniat untuk mencari majikannya si nona muda yang banyak menuntut itu.
Arfan berjalan terus menelusuri setiap inci ruangan yang ada di sana. Ruangan butik itu terbagi menjadi dua lantai. Sekarang, Arfan sedang berada di lantai bawah. Sedangkan Fayra berada di lantai atasnya.
Bingung!
Arfan sungguh pusing sekali mencari Fayra, dia sudah bertanya-tanya pada semua anggota kru dan yang lainnya. Tak ada satu pun dari mereka yang melihat Fayra.
"Duh ... di mana kamu sebenarnya nona Fayra? Saya sedang buru-buru, dia malah tidak ketemu-ketemu." ujar kesal Arfan, sambil mengacak-acak rambutnya gusar.
Melihat Arfan yang tengah kebingungan, Hasna pun menghampiri Arfan.
"Mas, Arfan! Cari Fayra, ya?"
"Eh, Mbak Hasna. Iya, Mbak. Saya belum melihat dia dari tadi," ucap gusar Arfan.
__ADS_1
"Oh, dia ada di ruangan saya di lantai atas, Mas. Masnya mau sekalian ke sana bareng saya?"
"Iya, boleh tuh, Mbak. Dengan senang hati,"
"Yuk!"
Mereka pun berjalan menuju lantai atas ke ruangan Hasna. Ketika tiba di sana, terlihatlah sebuah pemandangan yang membuat Arfan dan Hasna bergeming sesaat.
Tubuh kecil Fayra yang masih lagi berbalut gaun pengantin berwarna putih, tengah tertidur dengan posisi terduduk di atas sofa yang ada di sana.
Netra Arfan berkaca-kaca, kala ia melihat posisi tidur sang nona mudanya. Serta hatinya tak luput untuk berkata, "Ya, Allah ... sepertinya nona Fayra terlihat sangat kelelahan. Aku sungguh kasihan padanya. Ternyata, ketika ia tertidur pulas seperti itu, semakin membuat aku tak bisa tega untuk memarahinya. Walaupun, mati-matian aku mencoba untuk marah akan sikapnya. Tapi, tetap saja aku tak bisa. Ah ... apa yang terjadi pada hati hamba ya, Allah ...?! Mengapa menjadi meragu, begini?!" batin Arfan merasa remuk redam akibat sulit untuk memahami akan hatinya sendiri.
Hening!
Setelah keheningan itu menghilang, Arfan pun mengambil tindakan.
"Mbak Hasna ...?"
"Ya, Mas? Kenapa?"
"Boleh, saya minta tolong, Mbak?"
"Boleh, Mas. Katakanlah!"
"Temani saya sampai ke parkiran sebagai saksi atas apa yang akan saya lakukan sebentar lagi," ujar Arfan yang membuat Hasna berkerut kening.
"Maksudnya, Mas ... apa, ya?"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Arfan dengan gagah menggendong tubuh ramping nona mudanya masuk ke dalam pelukannya.
"Mas, yakin ingin melakukannya?"
"Iya, Mbak. Sudah tidak ada waktu lagi. Ayo, Mbak!"
"I-iya, Mas ...." Hasna pun mengikuti perintah Arfan.
Bergegas Arfan langkahkan kaki-kakinya yang mulai gemetaran, sebenarnya. Tapi, ada perasaan hangat dalam hatinya saat ini. Apalagi, ketika tangan Fayra Hasna lingkarkan pada tengkuk leher Arfan si pemuda tampan.
Adegan itu sungguh seperti mereka adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya. Hasna sampai-sampai berdoa dalam hati kecilnya untuk sahabat karibnya itu. Doa yang ia panjatkan dengan penuh ketulusan.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, perasaan Arfan semakin meragu untuk melanjutkan hubungan dengan ustadzah Maira. Dia hanya bisa banyak-banyak beristighfar saja saat ini di dalam hati.
Akhirnya, sampai juga mereka di parkiran. Tak lupa Arfan berterima kasih pada Hasna yang sudah bersedia menemani dirinya dan Fayra yang masih anteng dalam pelukan hangat Arfan.
Arfan masih berdiri di ambang pintu mobil, sebelum kemudian memasukkan Fayra ke dalamnya.
"Makasih banyak ya, Mbak!" ucapnya yang kemudian memasukkan Fayra ke dalam mobil, agar nona mudanya itu bisa tertidur dengan lebih nyaman.
Arfan pun menutup pintu mobil bagian belakang. Lalu, ia duduk di depan dan mulai memakai sabuk pengaman. Mereka pun pergi meninggalkan butik milik Hasna.
Sedangkan Hasna, ia hanya bisa tersenyum bahagia. Ia semakin ingin melihat Fayra benar-benar menikah dengan Arfan nantinya.
...*****...
Kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Ketika tiba di rumah megah nan terkesan mewah. Arfan kembali melakukan hal serupa saat di butik milik Hasna tadi. Ia kembali menggendong tubuh ramping si nona muda, untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
Ketika Arfan hendak melakukan tindakan, Fayra mulai mengigau tidak karuan.
"Emmm ... Arfan ... Fan ... Aku ... emmm ...," racau Fayra tak terselesaikan. Padahal, Arfan menunggu dengan raut wajah penuh pengharapan.
Akankah, semua tanyanya itu ada jawaban?
Akankah, semua rasanya itu terbalaskan?
Akankah, Fayra membuka pintu hatinya untuk bisa merasakan kehadiran seorang Arfan?
Itu masih menjadi misteri yang belum dapat di jelaskan dan di pastikan!
Sebab, ada tangan Yang Maha Kokoh yang sedang mengambil keputusan. Keputusan bagi masa depan, seorang gadis bar-bar yang bernama Fayra Maheswara dan Arfan Alhusayn.
Kemudian, Arfan kembali melanjutkan niatnya. Ketika Arfan tiba dengan menggendong Fayra ke depan pintu rumah. Ia pun membunyikan bel pintu tersebut dengan tenang.
__ADS_1
Ting tong ... Ting tong ...
Pintu pun mulai terbuka dan yang membukanya adalah Hazna.
Terkejut!
Kaget!
Pasti!
"Arfan, Fayra ... kalian?!" ucap Hazna yang masih bingung, ketika melihat penampilan Arfan dan Fayra yang masih lagi memakai gaun pengantin berwarna putih tadi.
"Panjang ceritanya, Bu. Nanti, saya akan jelaskan kepada Ibu," ucap Arfan yang sudah mulai merasakan pegal di sekujur badan.
"Ah, iya-iya ... ayo, cepat masuk!" Hazna pun menutup pintu dan buru-buru meminta Arfan, untuk langsung membawa Fayra ke kamarnya yang berada di lantai atas.
...*****...
Di kamar Fayra ...
"Makasih banyak ya, Fan. Kamu pasti kewalahan menghadapi sikap anak Ibu ini. Ah, dia memang suka membuat onar. Apakah dia sangat merepotkan kamu hari ini, Nak Arfan?"
"Sebenarnya, iya ... Bu. Tapi, ... tidak apa-apa! Aku ikhlas melakukannya." ucap Arfan dalam diamnya yang tak terlisankan.
"Ah, tidak, kok, Bu ... saya permisi dulu mau pulang ke rumah saya. Apakah boleh, Bu? Soalnya, saya masih ada keperluan," pinta Arfan dengan raut memelas yang terpampang.
"Iya, pergilah! Hati-hati di jalan, ya!"
"Iya, terima kasih banyak ya, Bu. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam ...!"
...*****...
Langkah cepat ia gunakan, walaupun rasa ngilu di sekujur tubuh tak dapat ia pungkiri. Tapi, entah mengapa ada perasaan lega di dalam dada.
Begitu kira-kira apa yang di rasakan Arfan saat ini.
"Waduh ... gawat! Ini sudah jam setengah delapan malam. Belum mandi, shalat dan bersiap-siap. Janjinya selepas Magrib. Eh ... ini malah sudah Isya. Pasti keluarga ustadzah Maira kecewa dan menunggu-nunggu ku dari tadi ini! Ponselku? Di mana ponsel ku?" ucap Arfan kebingungan.
"Astaghfirullah ... aku, 'kan, menaruhnya dalam saku celana yang ku pakai tadi. Sekarang, aku saja masih memakai baju pengantin ini. Pasti itu banyak panggilan tak terjawab dari dik manis." keluhannya yang semakin frustrasi.
Buru-buru dia langsung pergi.
...*****...
Di rumah keluarga Arfan Alhusayn ...
"Nad, apa kamu sudah kirim pesan pada mas, mu?"
"Sudah, Bue ...! Tapi, mas tetap ndak angkat ataupun balas pesan dari Nad, Bue ...! Nad, bingung ... apa sebenarnya telah terjadi sesuatu pada ...,"
"Wis, ndak usah mikirin yang ndak-ndak kamu! Berpikir itu yang baik-baik saja, toh!" titah Sanah pada anaknya.
"Iya, Bue ...." jawab Nadhifa menurut.
Tiba-tiba ustadzah Maira mengirimkan pesan kepada Nadhifa.
Assalamualaikum ...
Dek, bilang sama mas mu. Jangan, datang melamar malam ini! Abi ku marah besar. Sebab, mas Arfan tidak menepati janjinya. Ini sudah lewat dari waktu yang telah di janjikan. Jadi, Mbak minta kamu tolong sampaikan hal ini pada mas Arfan. Biarkan, tunggu amarah abi ku mereda dulu.
"Astaghfirullah ...." ucap Nadhifa dengan raut terkejut dan sedih.
"Kenapa? Ada apa, Nad? Kenapa kamu malah istighfar begitu, hah?!" tanya Sanah yang juga mulai cemas.
Nadhifa pun membacakan isi pesan dari ustadzah Maira.
"Astaghfirullah ... sudah ndak usah di ambil pusing! Mungkin, ini sudah jalan-Nya harus begini, Nad!" ucap Sanah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya.
Tak lama terdengar suara sepeda motor dari luar.
Nadhifa dan Sanah langsung membuka pintu. Wajah mereka telah memancarkan kesedihan. Saat Arfan datang dengan sangat terlambat.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bue ... Dik Manis! Kenapa mukanya di terlihat sedih, begitu?"
...*****...