CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Apapun Untukmu


__ADS_3

Kaki sakit di bawa berjalan dengan langkah yang terburu-buru. Arfan yang tak lagi ingin menghiraukan rasa sakit pada kakinya, ia hanya berfokus pada rasa khawatirnya terhadap keadaan sang ibu.


"Bu'e ... Arfan harap bu'e baik-baik saja! Arfan tidak mau sesuatu yang buruk menimpa bu'e dan teman-teman bu'e. Semoga, Allah selalu menjaga bu'e! Amin ...!" doanya lirih sepanjang perjalanan menuju rumah sang ustadz.


Pada saat Arfan tiba di rumah ustadz Yusuf, ia melihat sang ustadz tengah berbicara dengan seseorang di telpon genggamnya. Tampak jelas raut wajah yang terbingkai cemas terpampang nyata. Sepertinya, sang ustadz tengah mendapat kabar yang kurang baik. Apalagi, dia sempat mengucapkan kata, 'innalillahi wa inna ilaihi raji'un'. Itulah kata yang semakin sering di ucapkan oleh ustadz Yusuf.


Ketika beliau telah selesai berbicara dengan seseorang dari balik telpon itu, Arfan pun menanyai sang ustadz.


"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz!"


"Wa'alaikumsalam, Fan! Eh, ada apa, ya? Tumben kamu datang ke sini," sahutnya sedikit bingung.


"Iya, saya ada perlu sedikit pada Pak Ustadz. Makanya, saya datang ke sini," jawab Arfan.


"Ada perlu apa, ya?"


"Begini Pak Ustadz, saya dari tadi belum menerima kabar tentang ibu saya yang ikut serta dalam rombongan pengajiannya, Pak Ustadz. Kira-kira, apakah Pak Ustadz tahu perihal itu? Apakah mereka sudah ada yang menghubungi, Pak Ustadz?"


"Barusan saya mendapat kabar tentang mereka, Arfan. Katanya, mereka mengalami kecelakaan. Tadi, pihak rumah sakit menghubungi saya. Sebab, salah satu orang yang tidak terlalu parah sakitnya menyarankan untuk menghubungi saya," terang Yusuf pada Arfan.


"Apa?! Bu'e saya kecelakaan, Pak Ustadz?!" jerit tak percaya terlontar dari bibir Arfan.


"Iya, Arfan. Ini, saya mau ke sana untuk mengecek kondisi mereka. Apa ...," belum lagi selesai sang ustadz bicara, Arfan langsung menyerobot ucapan sang ustadz.


"Saya ikut, Pak Ustadz!" serunya dengan cepat.


"Baiklah, ayo!"


Mereka pun bergegas menuju rumah sakit.


...*****...


Di kediaman keluarga Arfan ...


Nadhifa yang masih belum mendapat kabar dari sang kakak. Ia hanya bisa mondar-mandir tidak jelas di dalam rumah.


Sesekali, ia melihat keluar jendela. Kalau-kalau sang kakak tercintanya telah tiba. Tapi, nihil! Arfan belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Duh ...! Kok, mas Arfan lama, ya?! Apa aku susul saja ke rumah pak ustadz itu? Ah, ndak-ndak! Nanti, mas Arfan bisa marah ke aku. Dia meminta ku untuk tetap di rumah." ujarnya gunda gulana.


Sesekali dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Lalu, kembali lagi berdiri untuk melihat ke arah luar jendela.


"Ah, aku udah ndak tahan lagi! Aku harus ke rumah pak ustadz itu sekarang juga!" pekiknya bertekad.


Ia mengunci rapat pintu rumah, lalu bersepeda ke rumah ustadz tersebut.


...*****...


Di rumah sakit ...


Tampak amat banyak sekali orang yang terlihat sedang menunggu giliran. Namun, Arfan hanya berfokus untuk mencari sang ibu saja.


Ustadz Yusuf pun menanyakan tentang para korban kecelakaan, yang belum lama datang ke rumah sakit tersebut.


Kemudian, salah satu suster perawat itu mengantar mereka menuju ruang rawat para pasien kecelakaan itu.


"Apakah ini semua korban kecelakaan itu, Sus?" tanya Yusuf pada suster itu.


"Iya, benar sekali, Pak. Tapi, ada satu pasien yang cukup parah. Ia mengalami pendarahan pada otaknya. Sehingga, ia harus di rawat di ruang ICU (Intensive Care Unit)." terang suster itu, sementara Arfan terus mencari ibunya. Namun, ia tak bisa menemukan sang ibu.


"Pak Ustadz! Kenapa ibu saya tidak ada di sini, ya? Di mana beliau, Pak Ustadz?" tanya panik Arfan yang seharusnya di tujukan pada sang suster. Tapi, dia malah salah alamat.


"Oh, apakah mungkin ibu anda yang sedang di rawat di ruang ICU?" ujar suster itu pada Arfan.


"Tolong, bawa sana ke sana, Sus!" pinta Arfan.


"Mari, ikut saya!"


Mereka bertiga pun menuju ruang ICU.


...*****...


Di ruang ICU ...


Wajah pucat yang tengah terpasang selang infus dan lengkap dengan segala sesuatu yang berbau alat-alat penyambung hidup lainnya. Itulah yang sedang di pakai oleh Sanah saat ini.


Cairan bening yang meluncur bebas dari bola mata Arfan, kini terlihat jelas. Di ikuti dengan isak tangis tak tertahankan dari bibirnya. Mata terus menatap duka, kala sebuah pandangan merobek relung jiwanya.


"Bu ... Bu'e ...! Hiks ... hiks ... hiks ...! Bu'e ...!" teriak tangis yang menyesakkan dada dari seorang pemuda, yang berdiri tepat di depan ruang ICU.


"Sabar, Arfan! Ini semua adalah cobaan. Kita tidak pernah tahu, kapan Allah akan menguji kita. Jadi, perbanyaklah ibadah dan doakan ibu kamu, ya!" nasihat Yusuf pada Arfan.


Arfan diam, tapi bukan berarti ia mengabaikan.


"Pak Ustadz?"

__ADS_1


"Ya,"


"Saya boleh minta tolong pada Pak Ustadz?" tanya Arfan tiba-tiba.


"Katakanlah! Jika saya mampu, Insya Allah saya akan bantu."


"Tolong, jaga ibu saya! Saya akan mencari biaya untuk perawatan ibu saya Pak Ustadz," ujar Arfan yang telah memikirkan tentang semua itu.


"Arfan kamu tenang saja! Kalau masalah biaya, sebisa mungkin saya juga akan ikut membantu. Jadi, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal itu, ya!"


"Tidak, Pak Ustadz! Saat ini, di samping saya harus memikirkan biaya untuk perawatan ibu saya. Saya juga masih harus memikirkan biaya kuliah adik saya. Jadi, kalau Pak Ustadz tidak keberatan. Saya ingin minta tolong agar Pak Ustadz menjaga ibu saya selama saya mencari pekerjaan nantinya," ujar Arfan yang tak ingin membuang-buang waktu yang ada.


"Iya, baiklah. Saya setuju. Nanti, saya juga akan meminta istri saya untuk menjaga ibu kamu, ya."


"Terima kasih banyak, Pak Ustadz!"


"Sama-sama." jawab Yusuf.


...*****...


"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz!" teriak Nadhifa.


"Wa'alaikumsalam," sahut Shafira dari dalam rumah.


"Maaf, Bu Ustadzah. Saya mencari kakak saya, apakah dia tadi kemari?"


"Oh, Arfan, ya?"


"Iya,"


"Dia baru saja pergi ke rumah sakit," jawab Shafira.


"Ru ... rumah sakit?!"


"Iya, tadi suami saya mendapat kabar, bahwa rombongan pengajiannya kecelakaan."


"Apa?! Ke, kecelakaan?!" teriak Nadhifa lagi.


"Iya, jadi mereka berdua pergi ke rumah sakit sekarang."


"Saya juga mau ke sana Bu Ustadzah. Saya mau lihat bu'e. Hiks ...." tangis Nadhifa pun kian pecah di depan rumah sang ustadz.


"Sebaiknya, kita tunggu saja mereka di sini, ya! Nanti, kalau memang sudah boleh ke sana. Saya janji akan menemani kamu, ya!" bujuk Shafira pada Nadhifa.


Akhirnya, dengan berat hati Nadhifa pun menerimanya.


...*****...


Semalaman Arfan dan Yusuf tak pulang ke rumah mereka.


"Pak Ustadz, sebaiknya kita pulang dulu. Saya takut, adik saya mengkhawatirkan keadaan saya. Apalagi, saya tidak sempat mengabarinya tadi malam," ucap Arfan khawatir akan keadaan sang adik semata wayangnya.


"Baiklah, ayo kita pulang dulu! Nanti, saya akan meminta istri saya untuk menjaga ibu kamu, ya?"


"Ya, Pak Ustadz. Terima kasih banyak, Pak Ustadz!"


...*****...


Nadhifa yang masih setia menanti kabar dari sang kakak di rumahnya. Ia tampak tak ceria sama sekali. Sebab, tadi malam ia mendapat kabar yang kurang baik.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Arfan dari balik pintu.


Dengan cepat Nadhifa membuka pintu dan mencecar Arfan dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


"Wa'alaikumsalam! Mas, kenapa semalaman aku nggak dapat kabar sama sekali? Kenapa aku hubungi nomor Mas ndak aktif, hmmm?!"


"Sabar, Dik Manis! Ini Mas mau jelasin ke kamu, ya. Pertama, Mas mau kasih tahu ke kamu. Bahwa, ponsel Mas lowbat. Kedua, Mas ketiduran di ...," Arfan ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Aku udah tahu semuanya, Mas. Katakan, Mas! Bagaimana keadaannya bu'e, Mas?! Nad pengen ketemu bu'e, Mas ...! Hiks ...." kembali gadis cantik itu mengeluarkan air matanya di pagi hari yang cerah ini.


"Bu'e ... Bu'e masuk ruang ICU, Nad. Kamu, harus doakan bu'e terus, ya!" pinta Arfan sembari merangkul tubuh sang adik yang lemah seketika.


"Ke, kenapa bisa, Mas?! Hiks ... bu'e bilang, bu'e pasti akan selalu bersama kita. Tapi, kenapa sekarang bu'e terbaring di sana, Mas?! Hiks ...."


"Istighfar, Nad! Ini semua adalah cobaan dari Allah untuk kita. Kamu tidak boleh bicara seperti itu, ya!"


"Astaghfirullah hal adzim!" ucap Nadhifa khilaf.


"Nanti, kamu pergi ke rumah sakitnya bareng sama istri ustadz Yusuf, ya! Sekarang, kamu harus pergi kuliah!" nasihat Arfan pada adiknya itu.


"Tapi, Mas ...?"


"Ndak ada tapi-tapian, Dik Manis! Istri ustadz Yusuf pasti juga sibuk kalau pagi-pagi begini. Apalagi, mereka itu mengurus pesantren."


"Iya, Mas."

__ADS_1


"Mas mau kemana?" tanyanya setelah melihat kakaknya beranjak pergi.


"Mas mau mandi dan cari kerjaan lain, Nad. Mas ndak mungkin cuma ngandelin usaha Mas. Sementara, bu'e butuh biaya untuk perawatan yang tidak sedikit. Kamu juga sebentar lagi harus bayar semester, 'kan?! Jadi, Mas harus cari kerjaan yang lebih menghasilkan, Nad."


"Gimana ... kalau aku berhenti kuliah aja, Mas?!"


"Apa?! Mas ndak akan pernah menyetujui hal itu, Nad! Bu'e juga pasti tidak akan menyetujuinya, Nad! Kamu ingatkan?! Bu'e pernah bilang, 'walau sesulit apapun, bu'e berharap kalian berdua tetap bisa menyelesaikan sekolah kalian sampai mendapat gelar sarjana'. Apa kamu tega menghancurkan impian bu'e, Dik Manis, hmm?!" tanya Arfan dengan penuh kehati-hatian.


"Maafkan aku, Mas! Aku cuma ndak mau jadi beban bagi Mas! Hiks ...." sesal Nadhifa akan nasibnya yang ia anggap menjadi beban keluarga.


"Sudahlah! Mas minta kamu segera mandi dan pergi kuliah, ya!"


"Baik, Mas."


...*****...


Arfan mulai berjalan menyusuri jalanan aspal itu dengan sepeda motornya yang sudah selesai di perbaiki.


Ia menghampiri hampir setiap gedung-gedung pencakar langit tersebut. Namun, masih saja belum ada yang menerima dirinya. Padahal, ia bersedia kendatipun hanya menjadi seorang cleaning servis di kantor itu.


Tapi, tetap saja belum ada satu perusahaan pun yang bersedia menampung jasanya itu.


"Hahhh ... harus kemana lagi aku mencari kerja, ya?" pikirnya dalam lelah yang mendera. Ia teguk air di botol dalam cengkraman hingga tandas tak bersisa.


Di sisi lain, Adiwangsa Maheswara yang berniat untuk mencarikan seorang pengawal pribadi bagi putrinya. Ia tengah berbincang dengan orang kepercayaannya di perjalanan menuju kantor.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu sudah bisa menemukan orang yang tepat untuk menjadi pengawal Fayra?"


"Belum, Pak Bos. Saya masih mengusahakannya. Maaf, Pak Bos!" ucap Rahmat.


"Cepat kamu carikan orang yang tepat! Saya tidak mau kalau sampai kecolongan lagi. Paham kamu?!"


"Siap, Pak Bos!"


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di 'Maheswara Corp'.


Arfan masih setia duduk di depan perusahaan besar seantero kota Yogyakarta itu. Ia bahkan tak menyadari kedatangan pemilik perusahaan ternama tersebut.


Entah apa yang membuat tubuh gagah seorang Adiwangsa mendadak lemah tak berdaya. Sehingga, ia pun hampir saja terjatuh. Beruntung, tangan sigap seorang pemuda yang bernama Arfan menopang tubuh lemah Adiwangsa. Akhirnya, ia pun tidak jadi terjatuh.


"Bapak baik-baik, saja? Apa ada yang terluka?" tanya Arfan posesif.


"Iya, saya baik-baik saja. Ka-kamu sedang apa duduk di sini di depan perusahaan saya?" tanya Adiwangsa penasaran.


"Saya sedang mencari pekerjaan, Pak. Saya baru dari dalam mengantar surat lamaran kerja." jawab Arfan apa adanya.


"Oh, begitu. Baiklah, ikut saya ke ruangan saya!" titah Adiwangsa tanpa ragu-ragu.


"Ba-baik, Pak!" jawab gugup Arfan kemudian.


...*****...


Ruang CEO ...


Mereka pun duduk di dalam ruangan milik Adiwangsa.


"Jadi, pekerjaan seperti apa yang sedang kamu butuhkan saat ini?" tanya Adiwangsa.


"Apa saja, Pak. Saya pasti akan langsung menerimanya. Asalkan itu halal!" jawab Arfan lugas.


"Apa saja?"


"Iya, apa saja, Pak." ulangnya lagi.


"Hmmm ... bagaimana kalau dia saja yang jadi pengawal Fayra? Kelihatannya dia pemuda yang baik." ujar Adiwangsa menelaah dalam hatinya.


"Kalau begitu, mulai hari ini kamu saya terima bekerja untuk saya. Nanti, saya akan memberitahukan padamu apa-apa saja tugasmu, ya! Sekarang, kamu boleh pergi. Ini kartu nama saya. Jadi, kamu bisa menghubungi saya nantinya. Oh, atau begini saja. Berikan nomor telepon mu. Biar saya yang akan menghubungi kamu nanti setelah saya selesai meeting." usul Adiwangsa bersemangat.


"Ba-baik, Pak! Saya akan berikan nomor telepon saya." kemudian, Arfan pun mencatat nomor telepon di ponsel Adiwangsa.


Betapa senang dan bahagianya Arfan saat ini. Sebab, ia sudah tidak lagi jadi pengangguran.


Walaupun, ia masih penasaran pekerjaan seperti apakah gerangan yang akan diberikan oleh tuan Adiwangsa padanya?


"Alhamdulillah, semoga dengan pekerjaan ini, aku akan menghasilkan banyak uang. Supaya, bu'e juga bisa cepat sembuh. Aamiin ...!" ucap Arfan terlampau senang.


Dia pun bergegas pulang untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda lainnya. Apalagi kalau bukan, 'memahat karya seni'.


Kendati ia telah mendapat pekerjaan. Tapi, bukan berarti tugasnya sebagai seorang seniman ia tinggalkan.


Tidak!


Arfan tak akan pernah meninggalkan bakat yang ia punya. Sebab, membuat karya seni adalah kegemarannya. Di samping itu, ia juga bisa menuangkan segala emosi dalam dirinya melalui karya seni yang ia rakit sendiri.


Dengan demikian, ia pun tak akan merasa bakatnya hilang sia-sia tak di manfaatkan.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2