
Savina tidak dapat melukiskan, bagaimana bahagianya ia, ketika mendengar setiap tutur kata Morgan padanya. Netranya berkaca-kaca, ia menatap lekat manik mata pria yang ada di hadapannya saat ini.
Savina mulai bisa mengingat dengan jelas. Bahwa, dirinya dan Morgan memang pernah melakukan janji semasa kecil mereka dulu.
Sayangnya, Raynar kala itu selalu meledek mereka. Sebab, Raynar menganggap Morgan itu adalah teman sekelasnya. Jadi, mana mungkin Raynar membiarkan Morgan mengubah status teman menjadi ipar.
Oh, tidak!
Mungkin, selamanya bagi Raynar, Morgan adalah teman sekaligus sahabatnya saja. Tidak akan pernah lebih dari itu!
Takdir siapa yang tahu?
Anehnya, Savina tidak dapat menerka sedari awal siapa Morgan Tan. Tentu saja, Savina tak akan bisa menebak. Sebab, sudah terlampau banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri Morgan Tan.
"Jadi, apa jawaban kamu Savina Maheswara?" Kali ini intonasi Morgan agak menukik sedikit.
"A-aku ... maaf, Morgan! Sebaiknya, kamu pulang sekarang! Ini sudah malam. Tidak baik bila kamu masih ada di sini. Aku takut kalau sampai ada orang yang salah paham pada kita nanti. Dan--,"
"Dan apa?" sela Morgan dengan memegang kedua tangan Savina.
Savina semakin gugup dan tak sanggup untuk lama-lama bersama Morgan Tan. Ia mulai berdiri dan ingin melangkah pergi.
"Mau kemana?" cegah Morgan dengan cekatan.
"Masuk," jawabnya singkat.
"Lalu, saya? Bagaimana dengan saya, Savina? Apa kamu tega membiarkan saya sendirian di sini, hmm?" tanyanya, tanpa ada rasa canggung sama sekali yang menguasai diri.
"Tidak ada yang meminta kamu untuk datang ke sini, 'kan?" tanya balik Savina yang membuat Morgan tergelak miris. Sehingga, hatinya pun cukup merasa sakit.
"Wah ... hahaha ...! Setelah apa yang saya katakan tadi. Sekarang kamu justru terang-terangan mengusir saya, begitu?" ungkapnya tak percaya dan sedikit kecewa.
"Terserah kamu sajalah! Silakan, kamu berpikir seperti apapun mau mu! Aku tidak bisa mencegah itu," tampik Savina tanpa rasa bersalah.
"Oke, kalau kamu mau saya pergi dari sini. Maka, baiklah! Tapi, saya tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidup saya, Savina Maheswara! Tolong, kamu cam kan itu baik-baik dalam hatimu!" Morgan berbalik arah, meninggalkan jauh kediaman Savina dengan kekesalan di hatinya.
"Apa aku sudah sangat keterlaluan? Bagaimana pun juga dia adalah sahabat masa kecil ku dulu. Tapi, semua ini terlalu mendadak Morgan. Maafkan aku ...! Sungguh, aku tak bisa menjawab pertanyaan mu itu sekarang. Ada hal lain yang masih ingin aku tahu tentang mu yang telah lama menghilang selama ini." ocehan Savina seorang diri yang tak mungkin di dengar oleh Morgan Tan.
...*****...
Lama tak terdengar kabarnya, rupanya Jodi Prakash resmi mengundang sahabat-sahabatnya. Tak butuh waktu lama bagi Jodi Prakash untuk menentukan hari pernikahannya dengan Maira Nadira.
Hari ini, dia pergi ke rumah sakit guna untuk mengantarkan surat undangan pernikahan dirinya dan ustadzah cantik nan shalihah itu.
Wajah nan sumringah pun terpampang jelas, sejak awal ia memasuki rumah sakit milik ayahnya tersebut.
Langkah kaki-kakinya ia giring menuju tempat loker milik Raynar. Telah sampai kakinya pada tempat yang ia tuju. Terlihatlah olehnya tubuh gagah milik sahabat karibnya itu, yang tengah berbincang seru dengan seorang gadis nan cantik jelita.
"Ray ...? Di-dia ... bukankah itu gadis yang ada di pesta pernikahannya Fayra waktu itu, 'kan? Apa aku salah lihat, ya?" Jodi bertanya-tanya sendiri, ketika netranya menangkap sebuah adegan seru sahabatnya.
Tak ingin membuat dirinya penasaran lebih lama, ia putuskan untuk mengecek sendiri ke lokasi.
"Hai, Bro!" sapa Jodi dengan menepuk pelan pundak sahabat karibnya itu dengan sedikit cepat.
"Eh, Elu, Bro! Sejak kapan anak pemilik rumah sakit ini nyamperin gue dengan wajah girang, begini?" ujar Raynar meledek Jodi.
__ADS_1
"Sejak saat ini," ucap Jodi yang kemudian berbisik pada Raynar.
"Eh, dia siapa, hah?" bisik Jodi lirih dan itu cukup membuat Clarissa risih.
"Mas lanjut, deh ngobrol ma temennya. Saya mau ngecek kondisi bunda saya dulu. Permisi!" ucap Clarissa berpamitan pada Raynar dan Jodi.
"Iya, nanti kita sambung lagi ngobrolnya ya, Mbak Manis," tawar Raynar yang tengah kasmaran.
"Nggak, ah! Makasih, Mas Kang curhat! Saya udah nggak pengen ngobrol sama mas lagi!" ucap Clarissa penuh keyakinan.
"Tapi, saya yang butuh untuk mengobrol denganmu, Mbak Manis." ucap Raynar yang tidak di pedulikan lagi oleh lawan bicaranya itu.
Sepeninggalan Clarissa, Jodi masih penasaran dengan apa yang baru saja terjadi antara Raynar dan gadis itu.
"Ada hubungan apa kamu sama dia, Ray?"
"Udahlah ... belum saatnya lu tahu. Eh, tumben lu ke sini. Ada apa, hmm? Jangan bilang kalau lu mau nganterin undangan pernikahan, ya?" ucap Raynar sambil cengengesan.
"Wah ... nggak, sangka gue! Ternyata, lu bisa nebak dengan sangat tepat, Bro! Selamat, ya, Bro! Ini ... gue kasih undangan pernikahan gue buat lu dan partner lu tadi, ya! Jangan lupa datang ya, kalian berdua!"
*Jeng ... jeng ...!
Duarrr* ....
Raynar terkejut!
Tentu saja dia terkejut, sudah barang tentu ia akan terkejut. Sebab, ucapannya yang tadi hanyalah sebuah gurauan saja. Siapa sangka itu akan menjadi kenyataan?
"Lu ... lu seriusan, Bro? Ini pasti prank, 'kan? Wah ... bercanda lu, nggak lucu, Bro ...! Hahaha ...," ucap Raynar dengan percaya dirinya.
"Maira Nadira dan Jodi Prakash? I-ini ... beneran undangan pernikahan lu, Bro?" Mata Raynar melotot tak percaya dibuatnya.
"Hmmm ... lu pikir siapa lagi memangnya, hah?" jawab songong Jodi pula pada akhirnya.
Tanpa aba-aba dan persiapan, Raynar merengkuh tubuh tinggi nan jangkung itu ke dalam pelukannya. Dia ke duanya pun saling berpelukan sekarang.
"Selamat, ya, Bro! Gue do'akan ... semoga, kalian berdua langgeng! Aamiin ya rabbal alamin ...!"
"Aamiin ya rabbal alamin ...! Makasih banyak, ya, Bro! Tapi, lu nanti bakalan datang sama cewek tadi, 'kan?" tanya Jodi sembari merenggangkan pelukannya dari tubuh gagah Raynar.
"Doakan, aja, ya!"
"Eh, kalau gitu gue mau pergi lagi, nih!"
"Mau kemana lagi, lu, Bro?"
"Mau ngasih undangan ini ke Robby. Dia 'kan juga sohib gue," ucap Jodi yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Eh, sebenarnya gue masih penasaran. Kenapa bisa jadi elu yang nikah duluan di antara kita bertiga, sih? Secara ... lu kan yang paling kalem," ucap Raynar terpaku dalam berdirinya.
"Hahaha ... takdir Allah, Bro!" jawab enteng Jodi dengan lugasnya.
"Udah, ya! Gue cabut dulu. Assalamu'alaikum, Bro!"
"Wa'alaikumsalam, Bro!" balas Raynar yang masih saja heran terhadap takdir baik sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ck, kesambet apa, tuh anak! Udah pakai salam segala sebelum pergi. Aneh!" keluh Raynar lagi.
...*****...
Kediaman keluarga Arfan Alhusayn ...
Maira menyambangi rumah Sanah si calon ibu mertua tak jadinya itu. Keluarga Arfan sudah Maira anggap seperti keluarganya sendiri. Jadi, ia tak segan-segan untuk mengantarkan langsung undangan pernikahannya dengan Jodi Prakash.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Maria dari balik pintu rumah Sanah.
"Wa'alaikumsalam, tunggu sebentar ...!" teriak seseorang dari dalam rumah.
Ketika pintu di buka dan semakin lebar pintu itu terbuka. Terlihatlah wajah ayu seorang wanita muda nan cantik jelita.
"Eh, Nak Maira! Mari, masuk!" ajak Sanah dengan nada lemah lembutnya terhadap Maira.
"Ya, Bu."
...*****...
Ruang tamu minimalis ...
"Kedatangan saya kemari untuk memberikan secara langsung undangan pernikahan saya ini pada ibu dan keluarga. Silakan di terima, Bu!" ucap santun Maira Nadira dengan keanggunan dirinya.
"Masya Allah ...! Alhamdulillah, akhirnya kamu menemukan pria yang akan menjadi imam bagimu, Nak Maira! Ibu turut senang mendengarnya. Selamat, ya!"
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak, ya, Bu ...! Oh, ya? Di mana, Nadhifa, Bu?"
"Dia masih ada tugas kuliah katanya. Jadi, masih belum pulang. Ada apa ya, Nak Maira?"
"Nggak apa-apa, kok, Bu. Rencananya, saya mau nitip undangan ini untuk mas Arfan dan istrinya. Semoga, Nadhifa mau mengantarkan undangan ini untuk mereka," ucap Maira penuh harap.
"Titipkan saja di sini. Nanti, Ibu akan minta Nadhifa berikan undangan ini pada Arfan, ya!"
"Terima kasih sekali lagi, ya, Bu! Maaf, jadi merepotkan ibu dan Nadhifa!"
"Ndak, apa-apa, Nak! Semoga, lancar hingga hari H, ya!"
"Aamiin ya rabbal alamin ...! Kalau begitu, saya pamit ya, Bu! Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Sanah menatap punggung Maira dengan tatapan bahagia. Ia teramat sangat senang mendengar kabar baik ini dari Maira.
"Semuanya ... memang sudah menjadi bagian dari takdir Allah. Alhamdulillah, akhirnya nak Maira bisa menemukan pengganti Arfan putra ku. Jodoh itu memang Gusti Allah yang Maha mengetahuinya." gumam lirih Sanah dengan mata berkaca-kaca.
...*****...
Selamat tinggal kenangan kelam
Selamat datang masa depan
Penuh harap ku agar nanti tak lagi suram
Bersamamu akan ku hidupkan impian
__ADS_1
...*****...