CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Kedatangan Arfan Kembali


__ADS_3

Cinta harum semerbak menambah rasa


Menyilaukan pandangan mata


Membuka hati nan berdinding kelam


Merajut tali yang sempat tenggelam


Adakah cintamu sama sepertiku?


Adakah rindumu sama denganku?


Apakah harus aku menunggu?


Sampai kapan rasa ini akan terbelenggu?


...{Fayra Maheswara}...


...*****...


Kicau-kicau burung di pinggir jalan, mengiringi langkah Arfan. Dengan setia dia mengendarai sepeda motor yang di pakainya saat ini. Hamparan pemandangan yang menyejukkan hati. Membuat Arfan semakin kuat dan semakin percaya diri.


Setelah sampai di titik ini, dia tidak akan pernah lagi berpikir untuk lari. Jadi, dengan memantapkan langkah dan hati nurani. Ia akan datang lagi ke rumah nona mudanya, nan berhati, 'Bidadari'.


"Semoga saja ... dia tidak akan lagi marah! Aku akan dengan serius mengawal mu hingga halal, nona Fayra!" ucap Arfan dalam gejolak gelora asmara, yang tengah membuncah di dada.


Detak jantung seakan terus berirama dan tak henti-hentinya ia lantunkan dzikir jua. Sebab, ia tak mau mengikuti naf.su yang merusak jiwa. Jiwa suci yang baru merasakan jatuh hati.


...*****...


Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...


Sapaan hangat langsung menyambut kedatangan Arfan di rumah megah itu. Tak lupa pula ia ukir senyum seikhlas dan selebar mungkin.


"Assalamualaikum, Le! Akhirnya ... Mbok bisa juga melihat kamu lagi setelah sekian lama," ucap si mbok pada Arfan.


"Waalaikumsalam, Mbok! Iya, Mbok. Alhamdulillah, aku masih bisa datang ke sini lagi, Mbok."


Mbok Minah membukakan pintu untuk Arfan yang masih berdiri di depan pagar.


"Yuk, masuk, Le!" ajak Mbok Minah pada Arfan.


"Ya, Mbok. Makasih!" sahutnya kemudian.


Mereka pun masuk ke dalam, mbok Minah meletakkan selang air yang dia pakai untuk menyiram bunga-bunga tadi.


...*****...


Di kamar Fayra ...

__ADS_1


Fayra tengah melakukan rutinitas sehari-hari, setelah beberapa hari merasa pusing dan lelah karena cinta. Hari ini, dia memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya, pada pekerjaan yang sempat tertunda.


"Semua udah selesai aku rancang dan ini juga udah kece. Nah, sekarang tinggal menunggu keputusan dari pelanggan saja. Mereka mau yang disain seperti apa. Apakah yang ini? Atau mungkin ... yang ini?" ucap Fayra dengan bermonolog sendiri di depan cerminannya.


"Udahlah, daripada pusing-pusing memikirkan hal ini. Lebih baik aku pergi sekarang." tambahnya lagi yang langsung menyambar tas selempangnya.


Dia berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu itu dengan kasarnya. Buru-buru dia menuruni anak tangga dan hampir saja terjatuh karena sifat cerobohnya.


Lagi, lagi dan lagi Arfan dengan sigap menyelamatkan Fayra.


"Aaahhh ...," teriak Fayra dengan spontan.


"Nona, hati-hati bila menuruni tangga. Nanti, Nona bisa celaka!" teriak Arfan dengan sangat khawatir.


Tangan yang masih melingkar sempurna memegangi bahu gagah Arfan. Membuat kerlingan mata Fayra berotasi dan berhenti, menatap dalam wajah tampan Arfan, yang amat ia rindui selama beberapa minggu ini.


"Ka-kamu ... ngapain kamu di sini?" sentak Fayra ketika ia kembali sadar dari lamunannya.


"Kembali melanjutkan hal yang sempat tertunda, Nona Fayra." Arfan semakin membuat Fayra sulit untuk belajar melupakannya.


"Jangan pernah datang lagi ke sini! Pergilah ...!! Aku tidak akan mencoba menghalangi kamu lagi untuk melakukan apapun yang kamu lakukan, Arfan!" tegasnya dengan kembali lagi menuruni anak tangga yang sempat tertunda.


"Eh, Arfan ...!" suara Adiwangsa menggema, ketika ia melihat Arfan dan Fayra terlibat percekcokan.


Sedangkan Fayra, ia lebih memilih untuk mengabaikan kedua pria yang beda usia itu. Dan lebih memilih fokus pada niat awalnya.


"Daripada sakit berulang kali, lebih baik aku pergi." gumam Fayra dengan suara yang sekecil-kecilnya. Sampai-sampai yang bisa mendengarnya hanyalah dirinya sendiri.


"Apa kabar kamu, Fan? Rasanya, sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya? Saya jadi merasa terharu dan senang kamu kembali datang," ujar Adiwangsa dengan mimik mukanya yang tampak merona bahagia.


"Alhamdulillah, saya baik, Pak! Saya juga senang bisa kembali lagi ke sini, Pak. Bagaimana dengan kabar Ibu, Bapak dan ...," Arfan tak berani melanjutkan ucapannya. Agaknya, ada rasa malu dan campur aduk dalam qalbu.


"Alhamdulillah, kami semua baik-baik saja. Eh, kok kita malah berdiri di tangga begini? Yuk, duduk dulu, Fan! Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu," ucap Adiwangsa, sembari menggiring bahu Arfan menuruni anak tangga.


Mereka pun akhirnya duduk berdua di ruang tamu megah nan mewah. Saat akan memulai percakapan, Arfan justru malah teringat sang majikan si nona muda nan manja. Namun, tetap mempesona di matanya.


Sebab, sikap angkuh dan congkak Fayra telah mampu memporak-porandakan, seluruh bagian terdalam palung hatinya. Kini, hanya ada satu nama gadis yang terukir indah dalam hatinya. Tentu saja hanya ada, 'Fayra Maheswara', yang bersemayam indah dalam relung jiwa.


Matanya masih saja setia menatap kepergian Fayra. Sehingga, Adiwangsa semakin yakin dan percaya. Bahwa Arfan adalah calon menantu pertama yang paling sempurna di matanya.


"Arfan ... haruskah saya biarkan kamu pergi untuk menyusul Fayra saja, hmmm? Atau ... apakah kamu masih ingin lanjut bercerita dengan saya?" Adiwangsa memberikan sebuah pilihan pada Arfan.


"Oh, maaf! Maafkan, atas ketidak sopanan saya, Pak!" ucap Arfan meminta maaf, karena dia tahu betul akan kesalahan yang sudah ia lakukan.


Adiwangsa tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa! Saya izinkan kamu untuk menyusul anak manja saya itu! Tapi, Arfan ... kamu harus tahu satu hal. Selama kamu tidak ada di sini, dia sudah mulai dewasa," ucap Adiwangsa yang juga ikut ditimpali oleh sang istri.


"Iya, Arfan. Apa yang di katakan oleh Papa Fayra itu benar adanya." Hazna memposisikan dirinya untuk ikut duduk bersebelahan dengan suami tercintanya, sembari memberikan suguhan teh hijau dan cemilan untuk kesehatan.


"Mari, di minum dulu, teh dan cemilannya, Arfan!" tawar Hazna dengan amat sangat ramah.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya mau langsung menyusul non Fayra saja. Permisi, Pak, Bu! Assalamualaikum," pamitnya dengan sedikit terburu-buru.


"Waalaikumsalam," jawab Adiwangsa dan Hazna bersamaan.


"Anak muda kalau sudah jatuh cinta, emang begitu, ya, Sayang?" ucap Adiwangsa dengan menatap lekat wajah penguasa hati, jiwa dan pikirannya selama ini.


Satu lengkungan manis nan menggoda, tercetak indah pada sisi bibir Hazna.


"Iya, Mas. Aku jadi ... semakin yakin. Bahwa, Arfan adalah menantu kita yang Allah datangkan dari nirwana." puji Hazna yang memang pantas Arfan dapatkan.


Adiwangsa mengecup lembut kening milik Hazna dengan penuh cinta dan kasih tentunya. Mereka seakan larut dalam romansa masa remaja. Kembali lagi ke usia belia dengan penuh gejolak mesra nan tak kunjung sirna.


...*****...


Di perusahaan Fayra Maheswara ...


Fayra sudah lebih dulu tiba di perusahaannya. Ia lekas turun dari mobil mewahnya. Kaki-kaki jenjangnya di bawa turun berjalan menelusuri koridor perusahaannya.


"Selamat pagi, Bu!" sapa para pegawainya dengan ramah tamah.


"Pagi," sahut Fayra yang tak kalah ramah juga.


Hampir di setiap sudut, para pegawainya menyapa gadis cantik itu. Seakan tak jenuh, Fayra juga selalu tersenyum. Meskipun, hati ia kompromikan untuk tidak menampakkan kesedihan, serta rasa sesak yang menyeruak di seluruh rongga dadanya.


"Huft ...." Fayra membuang nafasnya yang teramat berat ia rasakan.


Pintu lift pun terbuka lalu, Fayra ingin segera masuk ke dalamnya. Dan ... dengan gagahnya Arfan lekas menghadang Fayra untuk masuk ke dalam sana.


"Hahhh ... hahhh ... tunggu, Nona! Hahhh ... tunggu saya ingin bicara padamu, Nona." ucap Arfan dengan terengah-engah.


"Arfan ... kamu?" Fayra semakin dibuat gelang-gelang kepala karena tingkah Arfan tak seperti biasanya.


"Ada apa dengannya? Kenapa sekarang justru dia yang seakan gencar mengejar ku? Apa ini, Tuhan? Apakah aku salah menilai lagi atau ini memang yang dia inginkan? Aku sungguh tidak mengerti! Apa yang sedang dia coba lakukan pada hatiku kali ini?" Fayra bertanya-tanya dengan netra yang masih lagi menatap wajah tampan Arfan.


"Nona, berikan saya kesempatan untuk menjelaskan segalanya padamu, Nona!" ucap Arfan dengan penuh kejujuran, yang terpancar jelas dari bola matanya saat ini.


...*****...


Akankah, Arfan langsung melamar Fayra?


Atau dia hanya menjelaskan tentang hubungannya yang telah kandas di tengah jalan?


Biarkan waktu yang menjadi saksi cinta suci itu untuk bersatu!


Satu hal yang pasti di dunia ini!


Tulang rusuk mu tak akan pernah tertukar, apalagi sampai terganti!


Jika, Allah menghendaki sebuah pertemuan. Maka, kamu akan menemukan jalanmu untuk bertemu. Dengan dia si pemilik hati dan jiwamu yang selalu merasa sunyi dan sepi selama ini.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2