CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Penantian Berakhir


__ADS_3

Setelah sekian purnama berlalu. Akhirnya, hari ini Arfan resmi melamar Fayra. Segala sesuatunya telah di persiapkan oleh Sanah selaku ibu dari Arfan.


Sejatinya, apa yang di lakukan Arfan saat ini memang terkesan mendadak. Belum lagi, dia juga di cap sebagai pria yang tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab. Sebab, ia telah memilih Fayra ketimbang ustadzah Maira Nadira.


Tapi, tak apa!


Arfan tetap semangat menjalani pilihannya hari ini. Dia telah memakai pakaian yang rapi dan juga elegan. Beruntung, Arfan mendapatkan pakaian itu juga dari Hasna Haniyah, sahabat dari Fayra.


Akan tetapi, Fayra justru masih belum tahu apa-apa mengenai hal ini. Adiwangsa sengaja memberikan kejutan di hari ulang tahun Fayra, yang bertepatan pada tanggal 20 pada bulan ini.


...*****...


Arfan beserta rombongan telah berada di rumah Adiwangsa Maheswara. Dari balik jendela kamarnya, Fayra melihat ke arah bawah balkon.


"Sebenarnya, kenapa mama repot-repot mempersiapkan aku memakai baju kebaya ini, coba? Dan lagi, itu ...? Ada apaan, sih? Kenapa ada yang pawai di rumah ini? Kenapa rame banget, sih?" gerutu Fayra dari balik jendela kamarnya.


Gadis itu berjalan bagaikan siput, sebab kebaya yang di pakainya menghalangi langkah kakinya untuk cepat berjalan.


Dia mencari-cari sosok mamanya yang ingin segera di tanya-tanya olehnya.


"Mama kemana, sih? Kenapa belum kelihatan juga? Kan, aku nggak minta dirayakan acara ulang tahunnya. Kenapa semua orang pada heboh begini, sih?" Fayra masih kebingungan atas sikap orang-orang di rumahnya.


Pada saat ia celingak-celinguk mencari-cari sosok mamanya. Adiwangsa selaku papanya, pun datang menghampiri gadis yang telah terlihat cantik dan anggun saat ini.


"Fayra, Sayang! Kamu mau kemana, hmmm? Kok, malah keluyuran?" tanya papanya pada Fayra.


"Iya, Pa. Aku cuma heran, aja! Kenapa di luar rame banget, Pa? Dan ... kenapa aku harus pakai baju kebaya segala, sih, Pa?"


"Udah, kamu duduk yang tenang, ya! Papa mau menyambut tamu spesial hari ini."


Adiwangsa pun berjalan menuju pintu. Dia tak segan-segan untuk langsung menyambut kedatangan Arfan dan rombongannya.


Pintu pun terbuka, terlihat Arfan beserta rombongan, tengah berdiri di depan pintu rumah Adiwangsa Maheswara.


"Assalamualaikum, Pak!" ucap mereka semua.


"Waalaikumsalam, mari silakan masuk!" Adiwangsa menyambut baik kedatangan tamu spesial yang di maksudnya tadi, pada sang putri.


Ketika Arfan berjalan masuk beserta rombongan. Tampaklah olehnya sosok gadis cantik yang telah menawan hati dan jiwanya.


"Masya Allah ... sungguh cantik calon istriku ini!" puji Arfan ketika melihat wajah ayu Fayra.


Tak jauh berbeda, Fayra juga sama terkejutnya dengan Arfan. Pasalnya, baju yang mereka kenakan begitu senada dan serasi.


Tentu saja!


Baju itu di dapat dari butik milik Hasna Haniyah. Diam-diam, Arfan membelikan gaun lamaran itu untuk Fayra dari hasil uangnya menjadi pengawal pribadi Fayra selama ini.


Fayra berdiri dari duduknya, tapi Adiwangsa meminta putri manjanya itu untuk lekas duduk kembali seperti semula.


"Fay, duduklah, ya! Sebentar lagi, mamamu juga akan muncul." ucap Adiwangsa.


Dan benar saja!


Hazna datang dengan membawa berbagai macam jenis makanan khas Yogyakarta, sebagai suguhan bagi calon besannya.


Acara lamaran pun di buka oleh orang yang telah di berikan amat sebelumnya dari Adiwangsa. Maksud dan tujuan kedatangan Arfan beserta rombongan pun telah di sampaikan.


Kini, bulir-bulir bening jadi membasahi pipi mulus Fayra. Gadis itu tak menyangka di hari ulang tahunnya ia akan di lamar oleh Arfan.


Padahal, baru saja semalam ia bermimpi untuk merayakan ulang tahun yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dan sekarang, impian itu pun ia dapatkan dengan dadakan.

__ADS_1


"Nona Fayra ...! Bolehkah, saya sematkan cincin ini di jari manis mu?" tanya Arfan dengan hati-hati dan lemah lembut sekali.


"B-boleh, pakaikan lah, Fan!" ucap bibirnya yang sudah digenangi oleh air mata haru karena bahagia.


"Alhamdulillah," ucap semua orang dengan rasa syukur yang teramat sangat.


Hari ini memang tak banyak orang yang datang. Tapi, suasananya begitu tenang. Apalagi, kakak-kakak Fayra dan sahabat-sahabat Fayra, tak bisa menghadiri acara lamaran dadakan Arfan dan Fayra.


Mereka semua sedang berada di luar negeri. Sedangkan, Raynar dia memang belum diberitahukan tentang hal ini. Adiwangsa sengaja tidak mengundang banyak orang. Dia telah memiliki rencana yang lain, setelah acara lamaran Arfan dan Fayra ini selesai.


...*****...


Semua orang telah meninggalkan kediaman Adiwangsa Maheswara. Kini, Fayra mencecar papa dan mamanya untuk menjawab setiap pertanyaannya.


"Pa, Ma? Kenapa nggak bilang ke Fay, kalau hari ini Fayra akan di lamar oleh Arfan?!" rengeknya dengan nada manja pada kedua orangtuanya.


"Apa kakak-kakak Fay tahu akan hal ini, Pa, Ma?" tambah Fayra lagi yang belum bisa berhenti untuk bertanya.


"Belum, Sayang! Semuanya, akan segera diberitahukan. Nanti, setelah kamu dan Arfan menentukan tanggal pernikahan kalian, ya?" ucap Hazna dengan tersenyum bahagia.


"Apa? Menikah?!" Fayra kaget bukan kepalang.


Bagaimana tidak?


Baru juga bertunangan, sudah membahas tentang pernikahan?


Bukankah itu terlalu terburu-buru?!


"Pa, Ma? Kenapa buru-buru sekali? Fayra bahkan belum sempat memikirkan apapun tentang pernikahan!" protesnya, namun tetap saja tak berguna.


"Sudahlah, Fay! Papa dan Mama tahu, kalau kamu dan Arfan saling menyukai satu sama lain. Iya, 'kan?" Satu kalimat tanya dari sang papa membuat Fayra bergeming.


"Ya, sudahlah! Aku pasrah saja!" ucapnya langsung pergi ke lantai atas.


...*****...


Sudah 2 minggu berlalu, segala persiapan pernikahan Arfan dan Fayra telah rampung di laksanakan. Kakak-kakak Fayra juga telah berada di rumah saat ini. Termasuk, Raynar yang selama ini telah menghilang cukup lama.


Semua telah berkumpul di rumah mewah nan megah itu. Mereka membicarakan tentang pernikahan Fayra yang tinggal beberapa hari lagi.


"Papa meminta kalian semua berkumpul di sini, untuk membicarakan tentang pernikahan adik kalian yaitu Fayra. Papa tahu, dia telah salah mendahului kalian berdua. Tapi, mau bagaimana lagi? Toh, takdir setiap orang itu berbeda-beda. Papa harap, kalian berdua tidak akan merasa sakit hati terhadap Fayra. Apa bisa Papa meminta kalian untuk merestui pernikahan adik kalian dengan Arfan?" tanya Adiwangsa yang sebenarnya juga tidak akan bisa di bantah oleh Raynar dan Savina.


"Terserah! Aku tidak akan berkata apa-apa lagi, Pa. Terserah Papa dan Mama mau bagaimana! Aku hanya ingin istirahat saat ini!" ujar Savina yang masih lelah dari penerbangannya.


Savina pun membawa kopernya naik ke lantai atas dengan langkah gontai, gadis itu menyeret koper miliknya.


"Raynar merestui pernikahan Fayra dan Arfan. Tapi, Raynar tidak bisa berlama-lama di sini. Sebab, sekarang Raynar sudah memiliki pekerjaan yang harus Raynar emban. Jadi, permisi! Raynar akan datang di hari resepsi pernikahan Fayra dan Arfan. Tapi, maaf! Raynar tidak bisa membantu apa-apa di sini." Raynar pun pergi meninggalkan rumah megah milik orang tuanya itu dengan hati tegar.


Sementara itu, Adiwangsa beserta istri tercintanya dan juga Fayra. Mereka hanya bisa bergeming. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan mengenai sikap Raynar dan Savina.


"Pa, Ma! Aku naik ke lantai atas, ya? Aku juga ingin istirahat. Permisi, semuanya!" ucap Fayra berpamitan pada kedua orang tuanya.


Adiwangsa dan Hazna amat sangat mengerti, akan situasi yang tengah melanda sang putri bungsu di keluarganya itu.


"Mas?"


"Jangan berkomentar apa-apa! Sebaiknya, kamu tetap fokus pada tugasmu, Sayang! Aku akan pergi ke kantor hari ini. Sangat banyak kolega yang ingin aku temui untuk mengundang mereka secara langsung, Sayang. Jadi, tetaplah fokus, ya!" Adiwangsa menepuk sayang pundak belahan jiwanya, yang tengah merasa gundah.


...*****...


Hari resepsi pernikahan Arfan dan Fayra ...

__ADS_1


Anak seorang, 'Pak Presiden' begitulah Fayra dan saudara-saudarinya memberikan julukan. Hari ini, si anak bungsu akan menikah dengan seorang pengawal pribadinya.


Di sebuah masjid yang ada di Yogyakarta, Arfan dan Fayra melakukan akad nikah. Semua orang yang hadir di sana, pada penasaran siapakah gerangan pria yang berani menikahi anak dari orang terpandang seantero Yogyakarta itu?


Arfan semakin deg-degan!


Ketika mulai berjabatan tangan dengan pak penghulu. Keringat bercucuran di sekujur tubuh Arfan. Walaupun ia telah berusaha untuk merilekskan pikiran dan membuang jauh rasa gugup yang melanda jiwa.


Akan tetapi, kenyataan berbanding terbalik dengan harapan. Arfan mulai deg-degan tak karuan.


Bismillah ...


Arfan pun mulai mengikuti instruksi dari pak penghulu. Kalimat ijab qobul itu pun terdengar memenuhi masjid agung tersebut.


Ketika semua orang berkata, "Sah ...!" Arfan pun mengucap syukur pada-Nya yang telah memberikan kemudahan bagi dirinya, untuk meminang anak gadis dari orang ternama di kota Yogyakarta.


Semua sahabat, karib kerabat, teman dekat maupun jauh. Baik dari pihak Arfan maupun Fayra, ikut meramaikan acara akad nikah Arfan dan Fayra.


...*****...


Pelaminan nan megah berhiaskan berbagai macam pernak pernik yang indah. Telah terpampang nyata menjadi latar tempat resepsi pernikahan Arfan dan Fayra.


Kini, tibalah saatnya bagi Arfan dan Fayra untuk menaiki pelaminan megah tersebut. Banyak sekali para tamu undangan yang berdatangan. Utamanya, karib kerabat, para sahabat dan semua kolega maupun saingan bisnis Adiwangsa Maheswara.


Gaun pengantin yang sempat di jadikan sebagai model dadakan. Ternyata, hari ini resmi di kenakan oleh Fayra dan Arfan di hari pernikahan mereka.


"Nona, apakah kamu sangat gugup? Kenapa diam saja dari tadi?" ucap Arfan seraya berbisik pada Fayra, sang majikan yang telah menjelma menjadi istrinya.


"A-aku? Ahahaha ... tidak! Aku sama sekali tidak gugup. Kamu kali yang gugup, Fan. Iya, 'kan?" ucap Fayra menyangkal dan terkekeh sembari menghindari kontak mata dengan Arfan.


Fayra berusaha untuk menetralisir keadaan gugupnya saat ini.


"Oh, saya kira Nona tadi merasa gugup. Ternyata, saya salah. Maaf, Nona saya telah salah menilai mu barusan." bisik Arfan pada telinga Fayra yang membuat Fayra merasa gamang.


"Astaghfirullah ya, Allah ...! Ini benar-benar sulit di percaya! Kenapa rasanya aneh sekali? Apa yang terjadi pada diriku saat ini? Bukankah, ini yang aku inginkan? Lalu, kenapa aku merasa sangat gugup dan tak tenang?" monolog Fayra dalam hatinya.


...*****...


Kelanjutan resepsi masih akan terus di perpanjang. Tapi, tentu tidak sekarang!


Sebab, akan ada banyak sekali para tamu undangan berdatangan!


Harap sabar menunggu antrian!


...*****...


Cinta hadir secara dadakan


Menikahi mu juga dadakan


Takdir ku dan takdirmu saling berhubungan


Aku harap kamu dan aku terus sejalan


Saling beriringan dalam susah dan senang


Saling mendukung dalam keterpurukan


Saling menjaga dalam kejauhan


Bersama dalam rentang waktu yang panjang

__ADS_1


...{Arfan Alhusayn}...


...*****...


__ADS_2