
Iringan roda mobil yang terus berputar-putar menggelinding di jalanan aspal. Membuat Arfan mempercepat kendaraan beroda empat itu. Ia tak tega melihat Fayra yang tengah memejamkan matanya, sebab gadis itu terlihat amat sangat kedinginan.
Terpaan angin yang terus saja menjadi-jadi di luar mobil. Tak mengurungkan niat Arfan yang terus melihat Fayra menggigil.
"Sabar, Nona! Saya akan mempercepat mobilnya. Supaya kita bisa segera pulang ke rumah Nona." ucap Arfan yang terlihat sangat gelisah dan khawatir.
"Fan ... tolong ... jangan tinggalkan aku, Fan!" ucap Fayra lirih setengah mengigau.
Arfan menoleh dan berkata, "Ya, Nona. Saya tidak akan pergi kemana-mana lagi. Saya akan meminta restu pada papa Nona. Agar ... agar beliau memberikan izin pada saya untuk segera menikahi mu, Nona." sahut Arfan dengan nada yang bergetar hebat di dalam rongga dadanya.
Sebisa mungkin, Arfan mengendalikan dirinya. Agar tak membuat suatu kesalahpahaman, atas apapun yang akan ia perbuat terhadap Fayra.
"Nona, maafkan saya! Saya tidak bermaksud untuk ...," tangan Arfan di pegang oleh Fayra, ketika Arfan mencoba untuk membetulkan posisi jaketnya yang membalut tubuh Fayra.
Netra mereka bertemu untuk sesaat, benar-benar sesaat saja!
Tiba-tiba saja Fayra membuka matanya yang membuat Arfan menjadi gelagapan.
"Maaf! Maafkan, atas kelancangan saya barusan, Nona!" ucap Arfan yang sudah menarik jauh tubuhnya dari si nona mudanya.
"Tidak, kamu tidak salah apa-apa, Fan! Justru, selama ini akulah yang telah salah menilai kamu, Fan. Maafkan, atas kesalahan yang sering aku perbuat padamu, ya, Fan!"
"Jadi, apa Nona juga mendengar semua yang ...," Arfan tak sanggup dan merasa malu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Emm, aku mendengar semuanya walaupun samar-samar. Tapi, jangan khawatir! Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya, Fan. Lakukanlah, jika memang kamu menginginkannya. Bukan karena aku yang sudah membuat kamu meragu, Fan. Aku tahu letak kesalahan ku dimana, Fan. Jadi, pikirkanlah dengan matang-matang apa yang baru saja kamu tuturkan." Fayra kembali memejamkan matanya.
Tampaknya, ia ingin merasakan, meresapi, menelaah dan menikmati semua yang Arfan katakan hanya dalam hatinya saja.
Arfan kembali lagi melajukan mobil yang tadinya mulai melamban. Kini, setiap ucapan dari Fayra seakan membuat otak Arfan berputar-putar.
Wajar saja bila Arfan merasa aneh dan kebingungan!
Sebab, tidak ada yang mengerti jikalau sudah menyangkut perkara hati! Terkadang, hati itu bercabang dan sering sekali menciptakan kebingungan.
Di saat itu pulalah pertolongan Allah akan selalu menjadi jalan keluar, dari setiap masalah hidup yang tengah kita hadapi.
...*****...
Kediaman Adiwangsa Maheswara ...
Fayra dan Arfan berjalan beriringan menuju rumah.
"Fan?"
"Ya, Nona. Kenapa?"
"Pulanglah! Nanti, aku khawatir ibu dan adikmu mencari-cari dan menunggu kamu di rumah. Lagi pula, sekarang kamu sudah tidak bekerja lagi di rumahku. Jadi, pulanglah, Arfan!" Fayra pun berbalik badan dan menekan tombol bel pintu rumahnya.
Arfan masih bergeming, ia masih lagi setia terpaku dalam berdirinya. Ketika pintu rumah itu terbuka, terlihat wajah yang tak asing bagi mereka berdua.
"Assalamualaikum, Mbok Minah!" ucap Arfan terlebih dulu, sehingga Fayra menolehkan kepalanya ke arah Arfan lagi.
"Waalaikumsalam! Eh, Le, kamu masih balik lagi ke sini?" tanya si mbok dengan raut senang dan girang.
__ADS_1
"Loh, kok, kamu nggak pulang, Fan? Mau ngapain lagi, hmmm?" tanya Fayra yang ikut mencecar Arfan dengan pertanyaan.
"Saya ingin tinggal di sini. Makanya, saya balik lagi ke sini, Mbok." Arfan menundukkan kepalanya karena malu.
"Hayuklah masuk, Non, Le! Kenapa jadi, malah berdiri di depan pintu begini? Itu nyonya sama tuan besar sedang makan malam. Sebaiknya, Non Fayra sama Nak Arfan juga ikutan, ya?" tawar si mbok pada dua insan anak manusia yang tengah di landa rasa cinta itu.
"Kami sudah makan malam, Mbok!" sahut mereka serempak dan kompak.
Mbok Minah jadi senyum mesem-mesem sendiri. Sebab, jarang-jarang melihat Fayra dan Arfan sekompak sekarang.
"Yuk, masuk!" Mereka pun masuk ke dalam.
Arfan duduk di ruang tamu, ia menunggu kedatangan Adiwangsa dan Hazna. Sedangkan Fayra, ia langsung naik ke lantai atas. Ia sudah tidak tahan untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah.
Sebelum itu, ia berbalik badan dan berkata pada Arfan, "Fan, pergilah ganti pakaian mu dulu! Nanti, kamu masuk angin." ucap Fayra, sembari melanjutkan lagi langkahnya, menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Arfan diam. Dia memilih untuk tak bersuara namun, ia melakukan apa yang di perintahkan Fayra padanya. Ia mengganti pakaian basahnya, dengan pakaian yang masih ada di dalam lemari kamarnya, yang ada di rumah Fayra.
...*****...
Setelah usai mengganti pakaiannya, Arfan kembali lagi ke ruang tamu untuk bertemu dengan Adiwangsa.
Ternyata, pucuk di cinta ulam pun tiba. Adiwangsa dan Hazna tengah duduk di ruang tamu sembari mengobrol santai berdua.
"Eh, Arfan! Ayo, sini duduk!" titah Adiwangsa dengan senyum ramahnya.
"Iya, Fan. Ayo, duduk sini!" timpal Hazna pula.
Kemudian, Arfan duduk dengan tenang. Lebih tepatnya berusaha untuk tetap tenang!
"Ada apa, Fan?" tanya Hazna yang tampaknya mulai mengerti akan isi pikiran Arfan.
"Katakanlah, jangan sungkan!" ucap Adiwangsa pula yang ikut menimpali ucapan sang istri pada Arfan.
"Begini, Pak, Bu! Saya ... saya ingin melamar nona Fayra. Apakah ... apakah saya boleh melamar anak Bapak dan Ibu?" ucap Arfan, dengan penuh kegugupan yang tengah melanda jiwa mudanya.
Adiwangsa dan Hazna saling pandang dan tersenyum. Agaknya, kegugupan Arfan membuat mereka sedikit ingin tertawa. Sebab, saat ini Arfan tak sanggup menatap wajah mereka.
"Mas ... calon menantu mu orang yang berani, ya?" bisik Hazna pada suaminya.
Adiwangsa mengulas senyum dan berkata, "Fan, bukankah saya yang lebih berharap padamu. Jadi, kenapa saya harus menolak lamaran kamu. Tentu saja saya akan menerima lamaran kamu dengan tangan terbuka dan hati yang tulus, Arfan Alhusayn!" ujar Adiwangsa tanpa beban.
"Tapi, Pak. Saya belum benar-benar melamar putri Bapak dan Ibu. Saya meminta izin terlebih dahulu. Sebab, saya ingin melamarnya secara resmi setelah mempersiapkan segalanya, Pak, Bu." tampik Arfan menjelaskan pada Adiwangsa dan Hazna.
"Iya, kami bisa memahami hal itu, Arfan. Kami berdua juga telah sepakat. Bahwa, kami tidak akan meminta apapun padamu. Cukup, kamu jaga dan didik anak kami agar dia lebih bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi nantinya, Fan." ucap Adiwangsa yang kemudian di sambung juga oleh Aneira Hazna.
"Iya, Arfan. Kami percayakan putri manja kami pada kamu, ya? Tolong, ajari dia untuk melakukan sesuatu dengan baik dan benar." timpal Hazna dengan senyum yang terus-menerus terukir di bibir manisnya.
"Alhamdulillah, baiklah Pak, Bu. Saya harap lamaran dadakan ini akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Aamiin ...!" ucap Arfan sembari tersenyum bahagia.
"Aamiin ...!" sahut Adiwangsa dan Hazna berbarengan.
...*****...
__ADS_1
Kediaman Arfan Alhusayn ...
Arfan telah tiba di depan rumahnya, ia segera berlari menuju ibunya berada saat ini. Sanah tengah duduk di depan teras rumahnya. Menunggu kedatangan si anak lanangnya.
"Assalamualaikum, Bu'e!"
"Waalaikumsalam, Le! Pelan-pelan, Le ...! Nanti, kamu bisa jatuh, loh kalau lari-lari begitu, Le!" Sanah memperingati anaknya dengan penuh kasih.
"Iya, Bu'e. Ini karena Arfan terlampau senang dan bahagia, Bu'e. Alhamdulillah, Bu'e ...! Alhamdulillah lamaran dadakan Arfan malam ini di terima, Bu'e."
"Alhamdulillah ...! Allahu Akbar ...!" Sanah sujud syukur dan terharu. Sementara itu, Nadhifa dari dalam rumah hanya bisa bergeming. Ia masih saja mengharapkan ustadzah Maira Nadira untuk tetap menjadi iparnya.
"Mas, kenapa harus dia, sih?" ucap lirih Nadhifa di balik gorden.
...*****...
Di kamar Fayra ...
Fayra masih belum tahu apapun, tentang lamaran dadakan Arfan pada Adiwangsa ayahnya. Gadis itu masih fokus mengeringkan rambutnya di depan cermin.
Sesekali dia mengecek ponselnya dan membaca banyaknya notifikasi yang muncul pada layar ponselnya. Ada beberapa chat dari sahabat-sahabatnya dan juga ada beberapa chat dari kakaknya Savina.
Pesan pertama yang di baca oleh Fayra adalah dari grup persahabatannya.
Fay, kamu di mana, sih? dari Hasna Haniyah. Kok nggak ada kabar?
Kamu tenggelam di mana, Fay? dari Selty Apriani.
Fayra tersenyum membaca isi pesan singkat tapi menggelitik perutnya tersebut. Apalagi, ulah si Selty yang semakin membuat ia menjadi penasaran.
"Aku yang harus bilang gitu ke kamu Selty! Kamu tuh yang tenggelam di mana? Kenapa bisa mendadak berhijab sekarang, hmmm?" ucapnya sendiri sambil mesem-mesem.
Kemudian, Fayra membalas pertanyaan dari sahabat-sahabatnya itu.
Alhamdulillah, aku masih hidup sahabat-sahabatku. Aku tadi sedang sibuk. Maaf, baru bisa kasih kabar sekarang pada kalian, ya!
Fayra pun mengirim pesan tersebut di grupnya.
Kemudian, ia kembali membuka pesan dari kakak Savina.
Fay, kamu sama Arfan kenapa foto pakai gaun pengantin, hah?
Apa kalian berdua mau menikah?
Secepat itu kah, kamu move on dari mantan kamu, **Fay**?
Fayra membaca pesan-pesan dari Savina sambil tertawa cekikikan.
"Nih, orang kayaknya lagi marah, deh! Hahaha ... jangan-jangan, dia naksir sama Arfan, nih? Eh, tapi, tunggu ...! Bukannya, Arfan bilang dia memang suka padaku? Atau tadi dia hanya bercanda, ya? Ah, entahlah! Aku hanya ingin menikmati apa yang telah terjadi di antara kami. Maaf, Kak. Aku tidak akan memberikan jawaban yang ingin kamu dengar. Sebab, aku juga masih ragu. Jadi, lebih baik aku matikan saja ponselku." Fayra pun mematikan ponselnya dan beranjak dari duduknya, untuk segera pergi ke tempat tidurnya.
Ia pun mengambil posisi tidur yang nyaman menurutnya. Kemudian, matanya pun di bawa terpejam dan mulai memasuki alam mimpi.
...*****...
__ADS_1