
Arfan masih lagi setia bertatap muka dengan sang lawan bicara. Tampaknya, perbincangan mereka semakin menghangat dan mendalam. Bagaikan sebuah telaga air hangat yang siap membuat perasaan nyaman atau malah ... kelepasan dan tak berperikemanusiaan.
Arfan mulai lagi bertanya pada sang lawan bicaranya.
"Apa, Anda telah mengenal lebih tentang perusahaan kami? Sampai tidak perlu lagi untuk berkenalan secara resmi padaku saat ini?" tanya nyelekit Arfan dengan atensi yang mulai meninggi.
Seringai tipis muncul dari balik bibir mempesona seorang Morgan Tan. Ya, pria yang menjadi lawan bicaranya Arfan adalah Morgan Tan. Pria yang tadi, beberapa saat lalu membuat hati Arfan jengkel bukan kepalang.
Eh, justru sekarang mereka malah berdiskusi untuk bekerjasama? Bukankah, itu sesuatu hal sangat gila, Kawan?!
"Tenang sebentar, Arfan! Saya akan jelaskan cara permainan kita di sini. Jadi, jangan khawatir dan buru-buru untuk menjadikan ku terdakwa di sini, ya! Oh, ... apa ini masih menyangkut hal tadi, hmmm? Apa ... kamu menyangkut-pautkan hal ini dengan urusan pribadi ku dengan kakak ipar mu, Savina Maheswara, ya?"
Arfan tak menggubris. Diam seribu bahasa saat ini dan mencoba untuk mencerna pokok pembahasan yang ada. Ya, itulah yang Arfan lakukan.
"Bagaimana, hah?! Apa kamu ingin menyerah dan mengaku kalah?" tambah Morgan Tan yang sepertinya menantang gejolak Arfan.
"Tidak! Dalam hidupku tidak ada kata menyerah! Apalagi itu untuk sesuatu hal yang belum pasti!" ucap Arfan yang menukik dan menekan setiap kata-katanya. Sehingga, terdengarlah ketegasan di dalam setiap ucapan yang Arfan lontarkan.
Bukan Morgan Tan namanya! Jikalau, ia tak bisa membalas balik keberanian sang lawan.
"Baiklah, itu artinya kita sepakat, bukan?" tanya balik Morgan Tan yang membuat Arfan tak dapat memberikan penolakan.
Berat rasanya hati Arfan untuk meng-iyakan. Akan tetapi, mau bagaimana, lagi? Keadaan yang memaksa dirinya untuk menerima. Apalagi, dia baru saja menjabat menjadi seorang CEO. Jadi, semua tindak-tanduknya harus bisa ia perhitungkan dengan matang.
"Baiklah, hubungan kerjasama seperti apa yang Anda harapkan, Tuan--," Arfan tak melanjutkan ucapannya. Sebab, ia belum tahu siapa gerangan orang yang ada di hadapannya kini.
Melihat Arfan menaikkan sedikit alis, menandakan ia tengah berpikir tipis. Jadi, Morgan pun memperkenalkan diri dengan senyum manis.
"Morgan Tan! Itu adalah nama saya, Tuan Arfan Alhusayn," ucap Morgan Tan dengan kembali menyeringai.
"Oh, pada akhirnya Anda mau juga untuk memperkenalkan diri Anda. Saya pikir, tidak akan ada pembahasan tentang perkenalan diri tadi," balas Arfan tak mau kalah dari Morgan.
"Ahahaha ... Arfan, berhentilah bersikap terlalu formal padaku. Bagaimana pun juga, nanti kita akan menjadi ipar, bukan?" ucap Morgan terlampau percaya diri.
"Jangan berucap sesuatu hal yang belum lagi pasti terjadi, Tuan Morgan Tan!" Arfan memberikan peringatan dengan ketegasan yang tidak bisa di ragukan lagi. Setiap tatapan tajam Arfan itu, bagaikan sebuah anak panah yang menusuk mata sang Morgan Tan.
"Oke ... oke! Santai saja, Arfan. Aku tidak akan menyakiti mu dan juga perusahaan ayah mertua mu. Jadi, aku juga tidak akan membuat kakak ipar mu tersakiti karena ku," terang Morgan Tan berupaya meyakinkan Arfan.
"Kita lihat saja nanti. Apapun bisa terjadi," balas Arfan yang tak pernah menemukan titik perdamaian saat bicara dengan Morgan Tan.
Morgan Tan tak bisa untuk tak tersenyum percaya diri. Apalagi, melihat wajah Arfan yang merah padam. Menurut pria itu, Arfan terlihat seperti orang yang akan terbakar oleh bara api yang menyala-nyala.
Lain cerita dengan si Hamas yang sedari tadi hanya bisa berpangku tangan. Kendati pun ia ingin angkat bicara. Namun, ia merasa itu tidak akan ada gunanya.
Setelah cukup lama berdiam diri, Arfan memanggil sang asisten pribadi. Demi menyelesaikan kesepakatan kerjasama yang menegangkan. Serta penuh dengan intrik, drama dan lain sebagainya. Benar-benar kesepakatan yang sangat konyol. Sehingga, Arfan pun menjadi dongkol.
"Ham, cepat urus semua yang di perlukan dengannya. Setelah itu, kita akan segera pergi dari tempat ini," titah Arfan mulai tak sabaran.
"Baik, Pak." Hamas mulai menyiapkan pulpen untuk Arfan menandatangi kontrak kerjasama diantara mereka.
__ADS_1
Sebelum itu, Arfan meneliti terlebih dahulu isi surat kontrak perjanjian tersebut. Mata Arfan mencermati setiap kata demi kata yang tersaji di atas kertas putih. Lalu, Morgan pun dengan setia menanti.
Pada saat Arfan meneliti isi surat tersebut, hatinya berkata dengan rasa bingung yang melanda jiwanya.
"Kalau memang dia sudah kenal dan tahu siapa aku. Lalu, kenapa dia tadi pura-pura tidak kenal denganku, coba? Apakah, ada sesuatu di balik semua ini? Ini terlalu rumit dan pelik. Aku harus bisa membongkar niat yang terselubung Morgan Tan sebenarnya." Sudut hati Arfan bergetar hebat, dengan setiap kecurigaan yang tiba-tiba merayap masuk ke dalam pikirannya.
"Apa sudah selesai mengamati isi perjanjian kontraknya?" sela Morgan, ketika netra Arfan terus menerus menatap ke arah kertas putih yang ada dalam genggaman tangannya.
Berhubung isi perjanjian tidak ada hal yang saling merugikan. Akan lebih baik Arfan membuat deal kesepakatan diantara mereka dengan tanda tangannya.
Lekas pulpen di buka tutupnya dengan tangkas. Lalu, ia mulai mengukirkan sebuah tanda tangan yang amat indah di sana.
Wajah Morgan Tan pun berubah menjadi semakin bahagia. Dia tidak tahu saja. Bahwa, jauh di dasar lubuk hati Arfan yang terdalam. Arfan telah membuat sebuah tekad yang amat kuat.
"Baiklah, perjanjian diantara kita telah selesai saya tanda tangani. Jadi, bolehkah saya permisi sekarang, Tuan Morgan Tan?" ucap Arfan masih dengan memakai etikanya yang telah tertanam sejak dini.
"Tentu! Kamu boleh pergi sekarang calon adik ipar." ucap Morgan Tan dengan wajah yang berseri-seri.
Akan tetapi, Arfan sama sekali tak ingin ambil pusing. Apalagi untuk mempedulikan kata-kata yang terucap dari bibir sang kolega barunya. Ia lebih memilih untuk lekas pergi. Sebelum, kesabaran dalam diri mulai tak terkendali.
"Assalamualaikum," ucap salam Arfan yang sama sekali tidak di jawab oleh Morgan Tan.
Morgan hanya bergeming. Ia tidak mungkin rasanya untuk menjawab salam dari Arfan. Sebab, ia bukanlah orang yang menganut keyakinan yang serupa dengan Arfan.
Hamas lagi-lagi hanya bisa bergeming dan mengikuti langkah panjang sang atasan, yang sudah melenggang.
...*****...
Malam ini, Fayra tengah berharap sang suami untuk menghubungi dirinya. Sudah beberapa waktu berlalu, Arfan belum jua memberikan kabar padanya.
Duduk di pinggir balkon kamarnya, membuat Fayra lebih dekat dengan sang bulan malam. Sinar redup bulan malam ini, menambah sunyi suasana hati Fayra saat ini.
Ponsel yang selalu berada dalam genggaman. Serta, sentuhan lembut untuk perutnya yang masih belum lagi terlihat menonjol. Sebab, kehamilan Fayra masih terbilang muda.
Tak lama setelahnya, getaran dari ponsel pun membuat ia tersadar dari lenanya.
Drettt ... drettt ... drettt ....
"Mas," ucap Fayra sebelum mengangkat telepon genggamnya.
"Assalamu'alaikum, Mas!" ucap salam Fayra, setelah ia mengangkat telepon dari suami tercintanya.
"Wa'alaikumsalam, Fay! Maaf, Mas menganggu tidur mu, ya? Di sini masih pagi. Tapi, di sana pasti sudah malam, 'kan?" tanya Arfan yang begitu mengerti akan perbedaan waktu yang terbentang jauh.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku juga belum tidur, kok. Jadi, bagaimana dengan kerjasamanya, Mas? Apakah lancar?"
Hening!
Arfan agaknya tengah berpikir untuk menjawab pertanyaan dari sang istri.
__ADS_1
"Halo ... Mas ...? Apa kamu masih di situ?"
"Eh, iya. Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, Fay. Bagaimana hasil perkembangan kehamilan anak kita, hmm? Apa semuanya baik-baik, saja?" tanya balik Arfan pada sang istri.
"Alhamdulillah, baik, Mas. Tapi, kandungan ku lemah, Mas. Aku harus banyak minum obat penguat kandungan. Jadi, aku sering minta dokter Febriani untuk meresepkan obat itu untuk ku," terang Fayra yang sedikit mengeluh tentang kehamilannya.
"Sabar, ya! Mas, harap mas akan pulang dengan segera. Lagipula, surat perjanjian kontrak juga sudah mas tanda tangani dengan mudah. Jadi, rasanya tidak ada lagi yang perlu mas pikirkan. Besok mas akan pulang dengan segera. Tentunya, setelah mas berpamitan dengan mbak Savina," jelas Arfan dengan cekatan.
"Jadi, mas udah ketemu sama kak Savina, Mas?"
"Alhamdulillah, Allah mudahkan segala sesuatunya untuk mas menemui kakak kamu, Fay. Jadi, tadi malam mas bertemu dengannya. Dan--," Arfan tak menyelesaikan perkataannya. Sebab, keraguan mengenai Morgan Tan masih lagi terbayang-bayang dalam ingatan.
"Dan apa, Mas? Kenapa ucapan mas terhenti? Ayo, lanjutkan Mas!" desak Fayra yang sudah kadung penasaran. Tapi, Arfan malah sibuk berdialog dalam hatinya.
"Fayra sedang hamil. Aku tidak ingin membuat istriku menjadi cemas dan khawatir akan keadaan mbak Savina. Jadi, lebih baik aku tidak mengatakan apapun padanya saat ini. Ini waktu yang kurang tepat untuk aku menyampaikannya pada istriku."
"Mas ...! Kenapa melamun terus, sih?! Mas lagi banyak pikiran, nih kayaknya," celetuk Fayra yang merasa sedari tadi suaminya itu kurang fokus pada pembicaraan mereka.
"Ya, udah. Lebih baik sekarang kamu istirahat, ya! Lagi pula di situ sudah malam, 'kan?"
"Hemmm ... ya udah, deh! Selamat beraktivitas, Mas! Assalamu'alaikum, Calon ayah!"
Arfan tersenyum dan merasa sangat bahagia. Sebab Fayra mengatakan hal yang membuat hatinya tersentuh.
"Selamat tidur, Calon ibu! Mimpi indah ...! Jaga kesehatannya, ya! Wa'alaikumsalam, Calon ibu masa depan bagi anak-anak ku!" ucap Arfan yang mengundang protes dari sang istri.
"Loh, Mas kamu salah!" bentak Fayra tak terima dan langsung ingin mengoreksi ucapan suaminya itu.
"Salahnya di mana, Sayang?" Arfan kebingungan.
"Harusnya, Mas itu bilangnya calon ibu masa depan bagi anak-anak kita, Mas. Bukan calon ibu masa depan bagi anak-anak mas, aja!" Mendengar hal itu, Arfan cekikikan karena merasa lucu akan sikap sang istri tercintanya.
"Hehehe ...,"
"Mas ...! Kok, kamu malah ngeledek aku, sih?"
"Bukan meledek, Sayang! Mas cuma merasa kamu itu lucu, aja. Mas sama sekali ndak ada maksud untuk meledek kamu. Mas minta maaf kalau kamu merasa mas meledek kamu, ya!"
"Ahahaha ... sekarang malah mas yang baper, nih! Ya, udah. Aku mau tidur sekarang. Assalamualaikum, Calon ayah!" ucap salam Fayra lagi setelah selesai berdebat gemes dengan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, Calon ibu!" Kali ini telepon pun benar-benar tertutup.
...*****...
Setiap kesepakatan itu akan menghasilkan sebuah dampak.
Setiap tindakan itu akan mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga.
Jadi, jangan terlena dengan apa yang kita punya.
__ADS_1
Sebab, akan ada masa semua itu sirna. Bahkan, tak meninggalkan sisa apa-apa.
...*****...