
Ketika semua telah ku rencanakan
Namun ternyata tak sesuai harapan
Maka ku pinta kepada Tuhan
Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian!
...*****...
"Bue ... Dik Manis ... kenapa kalian berdua sedang menangis?" tanya Arfan yang baru saja tiba di depan pintu rumah.
Nadhifa tidak lagi sempat untuk bertanya atau sekedar mengomentari penampilan si masnya. Dia langsung menyodorkan ponselnya pada si mas.
"Kenapa kamu berikan ponsel mu pada Mas, Dik Manis?" mata Nadhifa semakin berkaca-kaca.
"Mas, bacalah pesan yang tertera di sana. Pesan itu untuk Mas yang di sampaikan oleh ustadzah Maira padamu, Mas ... hiks ... hiks ...," tak kuasa menahan dirinya yang tengah menangis sejadi-jadinya, Nadhifa pun buru-buru pergi ke kamarnya.
"Loh ... Dik Manis ... kenapa kamu malah pergi?" pekik Arfan yang sama sekali tak di hiraukan oleh adik tercinta.
Dengan cermat dan cekatan, Arfan membaca rangkaian kata demi kata di sebuah layar ponsel adiknya.
"Astaghfirullah ... hahhh. Maaf, maafkan Arfan, Bue ...! Arfan gagal untuk segera memberikan Bue seorang menantu," Arfan langsung memeluk penuh rasa sayang pada sang ibu. Wanita yang paling ia sayangi dan cintai di bumi ini.
Tetesan air mata yang melekat di baju sang ibunda tercinta. Seakan menandakan rasa bersalahnya, pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Sudahlah, Le! Ini sudah menjadi takdir dari-Nya. Kita hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Ayo, masuk!" ajak Sanah pada anak lanangnya itu.
"Iya, Bue."
Mereka pun masuk ke dalam.
...*****...
Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
Fayra sudah tertidur dengan pulas. Entah ada angin apa yang membuat dia bisa kembali lagi tersadar. Dia mulai meraba-raba rasa empuk dan nyaman. Kemudian, matanya mulai ia buka perlahan-lahan.
Hati Fayra mulai berdialog dengan ria.
"Ah, apa ini? Apakah aku sudah ada di rumah? Apa ini di atas ranjang empuk milikku? Kok, bisa?"
Kini, dia benar-benar telah sadar dari tidurnya yang lena. Dia pun duduk sambil terus bertanya-tanya.
"Loh, kok aku ada di kamar? Siapa yang membawaku ke kamar? Masa si Arfan? Nggak, mungkin, 'kan?! Dia aja alergi aku dekati. Belum lagi penampilannya yang sok religi itu. Ihhh ... masa dia, sih yang membawaku ke kamar?" ucapnya komat-kamit tak karuan.
Berhubung di nona bar-bar sudah kadung penasaran. Ia pun berdiri dan membawa diri keluar kamar. Dia mencari sosok Arfan demi mendapatkan kejelasan.
"Pokoknya, aku harus mencaritahu segalanya malam ini. Aku udah mati penasaran sama tuh, orang! Dia itu benar-benar baik atau munafik!" cerocos Fayra dengan semangat 45 nya.
Dia menuruni anak tangga, sembari mengangkat gaun pengantin yang masih melekat membalut indah tubuh rampingnya.
"Fan ...! Arfan ...! Kamu di mana, hah?! Keluar kamu ...!" pekiknya seperti orang kesetanan.
"Arfan ... keluar ...!!!" jeritnya lebih dahsyat lagi dari sebelumnya.
Si mbok langsung keluar dari kamarnya, demi melihat kelakuan si nona mudanya yang kesetanan. Belum lagi usai Fayra dengan kehebohan yang dia ciptakan. Di tambah pula dengan Adiwangsa yang baru saja tiba di rumah.
__ADS_1
Ting ... tong ... ting ... tong ... ting ... tong ...
Suara jerit bel dari luar rumah, semakin membuat si mbok kewalahan. Entah yang mana yang harus dia dahulukan.
"Arfan ...!" Fayra masih lagi menjerit-jerit seperti orang kesurupan.
Si mbok jadi puyeng tujuh keliling.
"Aduh, iki piye? Wis, buka pintu wae." putus si mbok kemudian.
(Aduh, ini bagaimana? Sudahlah, buka pintu saja.)
Si mbok membukakan pintu dengan terburu-buru. Terbayang sudah di pikiran si mbok, akan raut wajah majikannya bila nanti melihat kelakuan anak gadisnya.
"Sabar ... sabar! Orang sabar makin banyak uangnya. Aamiin!" pinta si mbok sebelum membuka pintu.
Akhirnya, pintu pun terbuka.
"Malam, Pak!" sapa gugup si mbok yang sudah mulai ketakutan.
Adiwangsa mendengar teriakan posesif si anak gadis.
Tanpa aba-aba dan tanpa terduga. Adiwangsa langsung berteriak penuh murka.
"Fayra ...!!!" Fayra pun menoleh dengan satu putaran sempurna.
"Papa ...," ucapnya lirih dan langsung berhenti berteriak-teriak.
"Apa pantas anak gadis teriak seperti ini, hah? Di mana etika kamu, Fayra?! Jaga sikap kamu yang urakan dan tidak baik itu, paham?!" titah Adiwangsa dengan murka.
"Fayra mau bertemu Arfan sekarang juga, Pa. Papa yang minta Arfan untuk menjadi pengawal pribadi Fay, 'kan? Sekarang, Fay butuh waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran. Apa boleh, Pa?" minta Fayra dengan bersimbah air mata.
"Ya, sudah. Papa izinkan, tapi kenapa kamu mencari-cari Arfan dengan pakaian yang seperti ini pula. Ada apa ini sebenarnya, Fayra?"
"Papa dengarkan Fayra baik-baik, ya! Janji, jangan marah lagi ke Fay, ya, Pa?!" pinta Fayra dengan raut wajahnya yang memelas.
"Iya," jawab Adiwangsa lembut. Biar bagaimanapun saat ini sang putri sudah berusaha untuk menurut.
Jadi, tidak ada salahnya, bukan sedikit lemah lembut?
"Jadi, begini, Pa. Fayra selama ini sudah berusaha membuang semua ... semua masa lalu Fayra bersama anak rivalnya Papa. Dia terus menerus meneror Fayra, Pa. Jadi, berikan Fayra kesempatan untuk menghibur diri dengan mengajak Arfan pergi menonton ke bioskop malam ini, ya, Pa? Please ... Fay mohon pada Papa boleh, ya, Pa?" alibi yang sungguh lihai sekali dari mulut manis Fayra ini.
Sejenak, Adiwangsa berpikir dan mengambil keputusan.
"Boleh,"
"Yey ...," jerit senang Fayra kegirangan.
"Eits ... jangan, senang dulu! Di rumah saja nontonnya. Zaman sudah canggih, Fayra. Kamu itu anak perempuan Papa yang harus Papa jaga. Jadi, Papa akan mengizinkan kamu menonton bersama Arfan di rumah saja." ujar Adiwangsa.
"Ya, nggak apa-apa, deh. Setidaknya, papa sudah memberikan izinkan untuk aku berduaan dengan Arfan. Jadi, tidak ada salahnya. Oh, iya. Aku mau minta nontonnya di kamar saja, ah. Biar, aku bisa lebih merasa aman untuk menghujani Arfan dengan segudang pertanyaan yang telah aku siapkan." pikir Fayra yang sudah tidak sabaran.
"Hai ... kok, kamu malah melamun, hmmm?" tanya Adiwangsa penasaran.
"Oke, aku setuju. Tapi, Papa juga jangan menolak permintaan aku yang satu ini, ya. Sekarang, aku, 'kan sudah banyak menurut. Jadi, ... kabulkan permintaan aku yang satu ini, ya, Pa? Ya ... ya ... ya ... please ...!!!" ucap Fayra sembari memohon.
"Cepat, katakan! Apa permintaan mu itu, hmmm?"
__ADS_1
"Papa sini, deh kupingnya!" pinta Fayra manja.
Adiwangsa pun mengikuti instruksi yang diberikan oleh sang putri.
"Aku ingin menonton di kamar berdua dengan Arfan. Dia tidak akan macam-macam. Fay yakin dia anak baik. Bukankah, begitu, Pa?" bisik Fayra yang membuat Adiwangsa tak percaya, sehingga membulatkan matanya sempurna.
"Fayra kamu ...,"
"Pa, please ...!!!"
"Baiklah, di mana Arfan sekarang?"
"Fay, juga nggak tahu, Pa. Makanya, Fay teriak-teriak kayak orang gila tadi," ujarnya penuh kekesalan.
Si mbok yang sejak tadi menjadi pengamat setia, mulai mengembangkan senyumnya. Walaupun ia tak mendengar begitu jelas percakapan antara anak dan ayah itu.
Sama halnya dengan Hazna, dia ternyata diam-diam memperhatikan dari kejauhan interaksi antara suami dan anaknya.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka bisa akur juga. Semua ini berkat kehadiran Arfan di rumah ini. Kelihatannya, Fayra banyak berubah semenjak di kawal olehnya. Syukurlah ... terima kasih ya Allah!" Hazna mengucap syukur pada-Nya.
...*****...
Belum juga Fayra mengganti bajunya, seakan ia benar-benar betah menggunakan gaun pengantin itu. Bahkan, Adiwangsa sempat melontarkan kata-kata, yang membuat si putri manjanya menjadi tersipu malu-malu.
"Ngomong-ngomong, kamu mau menjadi pengantin malam ini, Fay? Papa perhatikan kamu terlihat betah berlama-lama memakai gaun pengantin serta hijab itu. Apa tidak gerah, hah?" tanya penuh goda sang ayah padanya.
"O ... emmm, hihihi ... Papa apaan, sih? Fay, itu tadi sedang membantu Hasna. Dia butuh model untuk rancangan gaun pengantin ini. Jadi, Fayra dan Arfan membantunya, deh." celetuk Fayra santai yang di buat-buat. Padahal, dia amat sangat kikuk saat ini.
"Ya, udah. Papa, akan menelpon Arfan sekarang, ya! Kamu, tunggu sebentar dan jangan nakal!" ancam Adiwangsa dengan nada bercanda.
"Siap, Pak Presiden ku! Hamba, akan patuh!" Fayra pun membalas candaan sang ayah padanya.
"Dasar, kamu ini ... pandai sekali." puji Adiwangsa, sembari melemparkan senyuman manisnya pada Fayra.
Kini, jari jemari Adiwangsa mulai menari lincah mencari kontak Arfan pada ponsel mahalnya.
"Assalamualaikum, halo ... Arfan! Kamu di mana? Bisa pulang ke rumah saya sekarang?"
"Waalaikumsalam, Pak! Iya, siap, Pak. Saya akan segera ke sana."
"Oke, saya tunggu, ya!"
"Ya, Pak."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam!"
Fayra agaknya sudah tahu jawaban apa yang akan di lontarkan sang ayah padanya. Tapi, dia masih pura-pura bertanya. Takutnya, dia salah mengira.
"Apa katanya, Pa?"
"Iya, sebentar lagi dia akan datang. Kamu kenapa senyum-senyum, begitu? Senang sekali nampaknya mendengar Arfan akan ke sini." tanya iseng Adiwangsa pada putri manjanya.
"Hehehe ... lebih baik senang dari pada sedih, 'kan, Pa?"
"Fay, ini makan dulu, Sayang! Kamu juga, Mas makan malam dulu! Kalian habis beraktivitas seharian, 'kan? Jadi, pasti lapar. Mama udah siapin makanan kesukaan kalian berdua. Ayam bakar bumbu," ucap Hazna yang sedari tadi diam-diam menyiapkan makan malam untuk suami dan anaknya tersebut.
__ADS_1
...*****...