
Tak ingin lagi menunda akan keputusan yang telah di buatnya. Arfan beserta keluarganya datang berkunjung ke rumah ustadzah Maira Nadira.
Sesuai dengan isi percakapan mereka semalam. Bahwa, apapun yang terjadi keduanya telah memutuskan, untuk tidak bisa melanjutkan hubungan di antara mereka lagi.
Mengingat, betapa tidak konsistennya sikap Arfan karena ulah Fayra. Maka, hal itu pulalah yang membuat Abi ustadzah Maira menjadi marah.
...*****...
Kediaman keluarga Maira Nadira ...
Lingkungan pesantren tentunya akan selalu akrab dengan kehidupan santri dan santriwati. Jadi, Arfan sudah tidak lagi merasa canggung akan hal itu.
Namun, satu hal yang akan membuat dirinya merasa gugup dan amat bersalah nanti. Apalagi kalau bukan, permohonan maaf yang akan disampaikannya secara lisan.
Semua para santri dan santriwati sedang melakukan proses belajar mengajar. Jadi, suasana di lingkungan pesantren tak terdengar bising.
Arfan beserta keluarganya menuju rumah ustadzah Maira Nadira. Ia persiapkan mental baja. Sebab, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sungguh sudah pasrah.
"Assalamualaikum," ucap salam Arfan sekeluarga.
"Waalaikumsalam," sambut baik oleh ustadzah Maira langsung.
"Mari, Bu, Mas dan Nadhifa masuk!" ajaknya ramah pada keluarga Arfan.
Jujur, ada rasa tak enak hati pada diri Arfan saat ini. Namun, ia berusaha untuk tetap rileks saja. Walaupun, hatinya amat sangat merasa bersalah.
"Iya, terima kasih!" sahut Arfan dan keluarganya.
Mereka pun masuk dengan di iringi oleh ustadzah Maira.
"Ayo, silakan duduk!"
Maira pun dengan hati yang tegar dan ikhlas menghadapi situasi saat ini. Tak lupa juga ia mengukir senyum di wajah. Walaupun hatinya amat terluka.
Tapi, apa mau dikata?
Tali jodoh memang sudah tak ada di antara mereka.
Itulah gambaran sikap tegar seorang Maira Nadira. Wanita shalihah yang selalu berprasangka baik terhadap siapapun saja. Tapi, malah Arfan memilih majikannya. Sungguh, ini adalah sebuah dilema yang melanda jiwa!
Baik Arfan maupun Maira. Mereka lebih memilih untuk tidak saling menaruh dendam dalam hati. Sebab, itu hanya akan merusak segalanya.
Sulit?!
Tentu saja sulit!
Garis kehidupan kita tak pernah tahu, bagaimana dan dengan cara apa kita melaluinya. Jikalau bukan karena Allah! Mungkin, Arfan dan Maira tidak bisa bersikap dewasa.
__ADS_1
Semuanya telah di persiapkan oleh Maira dan uminya. Gadis itu menyuguhkan berbagai macam cemilan khas pesantren.
Tak lama kemudian, abi Maira datang. Dengan raut wajah yang sudah bisa Arfan tebak.
Marah?
Ya, sudah pasti!
Orang tua mana pun akan marah apabila anaknya di kecewakan!
Tapi, kembali lagi! Garis jodoh itu di tangan Allah, bukan manusia!
Arfan mencium tangan sang ayah yang telah berhasil mendidik seorang putri nan shalihah.
"Aku sudah tahu perihal kedatangan kamu ke sini, Nak Arfan," ucap Kyai Abdul Malik dengan penuh ketegaran dan ketenangan.
Perbincangan diantara mereka pun berlangsung cukup lama. Inti dari pertemuan ini telah di utarakan oleh Arfan sekeluarga. Dan, tak banyak kata yang bisa di ungkapkan oleh Kyai Abdul Malik.
"Monggo di cicipi suguhan khas pesantrennya, Bu Sanah sekeluarga!" ucap Halimah Humaira, umi dari ustadzah Maira Nadira.
"Terima kasih, Bu Halimah!" balas Sanah dengan ekspresi wajah, yang berusaha biasa-biasa saja.
"Tidak perlu merasa canggung, Nak Arfan. Saya sudah memaafkan segala sesuatunya. Sebab, jodoh itu di tangan Allah. Bukan kita yang menentukan. Siapa yang paling terbaik untuk kita." ujar kyai Abdul Malik pada Arfan.
"Iya, saya sungguh tidak berniat untuk mempermainkan perasaan ustadzah Maira, Pak Kyai. Sungguh ...," ucapan Arfan di sela oleh kyai Abdul Malik.
"Mungkin, saya juga terlalu berharap putri saya mendapatkan calon suami yang baik akhlaknya seperti kamu, Nak Arfan. Bisa saja ini adalah sebuah teguran untuk saya. Agar, saya tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang belum bisa di pastikan."
Arfan tertunduk semakin merasa bersalah pada ustadzah Maira Nadira dan keluarganya.
"Sudahlah, Abi ...! Maira sudah ikhlas. Insya Allah ... ini akan membuat Maira jadi semakin mencintai Allah. Dan lebih mendekatkan diri lagi pada-Nya, Abi ...." ucap Maira dengan penuh ketegaran hati.
"Maafkan, atas segala khilaf dan ketidak sopanan kami sekeluarga, Pak Kyai, Bu Halimah dan Nak Maira! Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menyakiti hati Pak Kyai dan keluarga. Sungguh, berat hati saya ingin menerima Nak Maira menjadi menantu saya. Tapi, anak saya juga sudah berusaha untuk mencoba. Namun, malah membuat kecewa Pak Kyai dan keluarga." ujar Sanah panjang lebar dengan hati yang tegar.
"Ya, sudah. Tidak perlu di bahas lagi. Saya mau permisi untuk pergi melihat kondisi anak-anak santri. Saya pamit undur diri. Assalamualaikum," ucap kyai Abdul Malik, dengan langkah kaki yang kian lama kian menjauh.
"Waalaikumsalam," sahut mereka semua.
...*****...
Di perjalanan pulang ...
Arfan dan keluarganya menaiki mobil yang telah di sewanya. Sepanjang perjalanan maupun di rumah ustadzah Maira, Nadhifa benar-benar tak bersuara.
Tampaknya, ia sudah bisa menerima keputusan masnya. Gadis itu hanya sesekali membuang nafasnya berat.
"Nad, kamu baik-baik, aja, 'kan?" tanya Sanah pada anaknya.
__ADS_1
"Iya, Bue! Nad, sudah terima dengan ikhlas pilihan dari mas Arfan. Toh, mas Arfan yang mau menjalani hidupnya. Nadhifa juga sudah berusaha untuk menjernihkan pikiran mas Arfan. Tapi, mau bagaimana lagi! Nasi sudah jadi bubur." celetuk Nadhifa dengan sindiran halus terhadap masnya.
"Dik Manis ... katanya sudah ikhlas. Kenapa masih menyindir Mas dengan ucapan mu, hmmm?" tanya Arfan yang masih fokus menyetir mobil.
Nadhifa bergeming yang membuat suana menjadi hening.
...*****...
Kediaman keluarga Adiwangsa Maheswara ...
Sudah beberapa hari terakhir ini, Fayra tidak banyak berbicara. Dia bahkan, sering mengunci diri dalam kamarnya.
Sesekali, terdengar suara Fayra tengah berbicara dengan seseorang via telepon. Dia menjadi seseorang yang semakin hari semakin berbeda.
Ia lebih bersikap dewasa dan lebih menurut daripada sebelumnya.
Malam ini, Fayra tengah berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatnya. Mereka melakukan video call yang di sambung tiga. Yaitu Fayra, Hasna dan Selty.
Lama tak ada kabar dari sahabatnya yang satu ini. Dia adalah Selty Apriani seorang gadis yang dulunya tomboy, kini menjelma menjadi gadis cantik nan imut sekali.
"Assalamualaikum, kalian apa kabarnya?" tanya Fayra pada kedua sahabatnya.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, aku baik. Kalian?" ucap Hasna, yang masih lagi setia dengan pensil yang tak pernah lepas dari tangannya.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, aku juga baik. Bisa lihat, 'kan, sekarang aku udah berubah?" sahut Selty yang antusias sekali.
"Iya, kamu sekarang, kok malah udah pakai hijab kayak si Hasna, sih? Lama nggak ada kabar, eh ... sekali nongol udah Insyaf, aja kamu, Sel!" ucap Fayra.
"Iya, dong! Hidup itu terus berjalan maju! Emang kayak kamu, hah? Masih betah aja bikin huru-hara," celetuk Selty pada Fayra.
Hasna asyik menikmati suguhan drama mini seri antara Fayra dan Selty. Sesekali, Hasna sambil memakan cemilan.
"Eh, aku juga udah nggak bikin huru-hara lagi, ya! Sembarangan, kamu!" tampik Fayra dengan secepatnya.
"Oh, ya? Masa'? Kok, aku nggak percaya, ya?" ucap Selty lagi dengan ekspresi mengejek Fayra.
"Beneran, Sel ... dia udah mulai berubah, kok. Kamu belum lihat desain gaun pengantin aku yang baru, ya? Itu modelnya Fayra sama ...," ucapan Hasna langsung di sambar oleh Fayra.
"Stop! Jangan, bahas dia lagi! Dia udah nggak kerja di rumahku lagi, Na. Dia juga udah pergi selama-lamanya dari kehidupan aku." tutur Fayra dengan nada sendu berbalut lesu.
"Ooh, jadi ... sekarang kamu udah bisa move on dari mantan, Fay?" tanya Selty yang ikut menimpali.
"Udah, ya. Aku mengantuk. Besok, aku juga mesti ke perusahaan. Banyak yang mau ambil pesanan. Tapi, tertunda gara-gara aku sakit beberapa hari. Bye-bye ... semua! Assalamualaikum," Fayra menutup sepihak video call mereka.
Hasna dan Selty hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum saja. Tampaknya, mereka sudah memahami situasi yang terjadi saat ini.
...*****...
__ADS_1