CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan

CEO Dadakan Dan Putri Bangsawan
Terjerat Pesona Pemuda Biasa


__ADS_3

Mulai malam ini Arfan akan tinggal di rumah Adiwangsa. Setelah mengetahui apa-apa saja tugasnya sebagai pengawal bagi anak gadis Adiwangsa. Arfan pun lekas membereskan pakaiannya dan memasukkan ke dalam sebuah lemari pakaian, yang ada di dalam kamarnya saat ini.


Sejenak ia terpaku dan mencoba mencerna, serta memahami semua perkataan Adiwangsa padanya tadi.


"Jadi, tugasku di sini adalah menjadi pengawal salah satu anak gadis pak Adiwangsa? Memangnya, putrinya beliau ada berapa, ya? Ah, kenapa aku tadi tidak bertanya? Ya, sudahlah. Hal ini besok aku juga akan tahu. Sebaiknya, sekarang aku telpon dik manis. Mungkin saja, dia masih di rumah sakit. Kasihan dia harus jauh-jauh menjenguk bue." ucap Arfan yang mulai mencari kontak di ponselnya.


Tut ... tut ... tut ...!


"Halo, Assalamualaikum, Mas!" sapa salam Nadhifa dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Dik Manis. Kamu masih di rumah sakit kah?"


"Iya, Mas. Besok, kata ustadz Yusuf dan ustadzah Shafira bue mau di pindahkan saja. Repot juga kalau harus bolak-balik ke sini, Mas. Jaraknya, 'kan cukup jauh. Kalau di Jogja, 'kan, bisa lebih deket jenguk nya, Mas." terang Nadhifa panjang lebar.


"Oh, begitu. Ya, itu lebih bagus. Kalau sempat, Mas juga akan membesuk bue, kalau sudah dekat nanti. Ya, sudah. Kalau begitu kamu istirahat dan Mas juga mau siap-siap untuk tidur, ya."


"Ya, Mas. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam!"


Lalu, Arfan memposisikan tubuhnya di atas ranjang kasur di kamarnya saat ini.


...*****...


Semburat yang menyilaukan mata dari sang Surya, kini telah kembali lagi memberikan sinar terangnya bagi manusia.


Jauh sebelum itu, Arfan telah terjaga. Sebab, ia tak pernah luput untuk menunaikan ibadah shalat malamnya, hingga Shubuh menjelang.


Pemuda shaleh yang tengah mempersiapkan dirinya untuk memulai hari pertamanya bekerja. Tentu saja ia merasa gugup dan juga sangat kikuk. Apalagi, ini adalah sesuatu hal yang baru ia lakukan dalam hidupnya.


Pagi-pagi sekali, ia sudah mempersiapkan diri. Kemarin malam Adiwangsa telah mengatakan tugas-tugasnya yaitu mengecek kondisi mobil yang akan ia pakai untuk mengantarkan anak dari bosnya itu. Kemudian, tak lupa juga sebelum itu ia mencuci mobil yang akan ia pakai selama ia bekerja di situ.


Ketika ia semakin memperhatikan baik-baik mobil itu, maka hatinya terus berdetak dan berkata-kata, "Sepertinya, ini memang mobil yang pernah menabrak ku saat itu. Iya, aku yakin sekali. Apalagi, platnya sama persis. Tidak mungkin juga, 'kan mobil semewah ini banyak yang punya?! Nanti, kalau aku mendengar suara gadis itu, aku baru benar-benar bisa memastikan kalau ini adalah mobilnya." monolog Arfan dalam hatinya.


Setelah selesai mencuci mobil tersebut, Arfan tak merasa berat untuk menyirami tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya. Entah itu bunga ataupun tanaman hias lainnya.


Si Mbok yang sudah memperhatikan Arfan sedari tadi, dia terus tersenyum menatap Arfan yang berbudi baik itu.


"Wah, sepertinya rumah ini kedatangan seorang pemuda shaleh sing apik hati ne!" tukas si mbok dengan penuh rasa syukur.


Lalu, si mbok memutuskan untuk menyapa Arfan.


"Selamat pagi, Le!" sapa si mbok ramah.


Arfan menoleh ke sebelah kanannya dan melihat ada seorang wanita sudah cukup tua. Namun, masih terlihat cantik jelita.


"Eh, selamat pagi, Bu." sapa balik Arfan yang masih terus melanjutkan pekerjaannya menyiram tanaman.


"Wis, biar Mbok saja yang nyiram tanamannya. Ini, 'kan memang tugas Mbok, Le."


"Ndak, apa-apa, Mbok! Tanggung, tinggal sedikit lagi," sahut Arfan menolak seruan si mbok.


"Ya, wis. Makasih banyak, ya, Le!"


"Iya, sama-sama, Mbok!"


"Oh, iya. Nama kamu siapa, Le? Kemarin malam, Mbok belum sempat kenalan sama kamu. Hehehe ...," ujar si mbok malu-malu.


Arfan mematikan selang airnya dan mengulurkan tangannya pada si mbok.


"Saya Arfan, Mbok."


"Oh, nama kamu Arfan, toh! Bagus, namanya sebagus orangnya!" puji si mbok pada Arfan.

__ADS_1


"Makasih, Mbok!"


"Yuk, masuk! Biar Mbok bikinkan kamu minum. Kamu mau minum kopi, teh atau susu?" tanya si mbok sambil terus mengayunkan langkahnya berbarengan bersama Arfan ke dalam rumah.


"Apa saja, Mbok. Pasti, saya akan meminumnya." jawab Arfan.


...*****...


Savina dan Fayra baru saja bangun dari tidur mereka. Begitu juga dengan Raynar yang di paksa oleh ibunya untuk menginap di rumah semalam.


Ketiga anak Adiwangsa itu kemudian mandi dan bersiap-siap untuk sarapan pagi bersama. Tak di sangka, mereka pun keluar dari kamar masing-masing berbarengan.


Raynar dan Fayra yang memang belum tahu akan keberadaan Savina di rumah itu, mereka pun terlonjak kaget dan tak percaya pada penglihatan mata mereka.


"Sa, Savina ...!"


"Kak, Kak Vina ...!" jerit mereka berbarengan dengan pengucapan yang berbeda.


"Good morning! Apa kalian tidur nyenyak tadi malam? Hahhh ... aku sangat nyenyak jadi sampai lupa untuk menyapa kalian. Oh, iya. Kok, kalian belum pada tahu, sih?! Aku, 'kan udah pulang sejak kemarin malam." tanya Savina dengan rona bahagia dan takjubnya.


"Nggak ada yang kasih tahu ke kita kalau Kak Vina udah pulang." jawab ketus si anak manja yaitu Fayra.


"Iya, bener, tuh!" sambung Raynar si kakak playboy.


"Ya, udah, deh! Jangan, di bahas lagi, ya! Yuk, sarapan! Aku udah laper benget, nih!" ujar Savina sambil memegangi perutnya.


"Yuk, turun!" ajak Raynar pada kedua adik cantiknya itu.


Ketika mereka menuruni anak tangga, tak sengaja kerlingan mata kedua gadis cantik itu melayangkan pandangannya tepat ke arah Arfan berada saat ini.


Pemuda tampan itu tengah membantu tugas si mbok yaitu menyapu lantai rumah.


"Wah ...! Pagi-pagi begini, udah ada yang menaikkan mood ku. Ini nyata atau mimpi, sih?!" ucap Savina yang terpesona akan ketampanan pemuda biasa yang tengah menyapu lantai rumahnya itu.


"Ya, kak Vina ada benarnya juga, sih! Itu cowok emang ... ya ... tampan! Tapi, tetap lebih tampan kekasih ku daripada dia!" tampik Fayra tak ikhlas memuji Arfan dalam hatinya.


"Eh, malah pada bengong! Buruan jalannya! Ntar, jatuh di tangga, loh! Mau, hah?!" ucap Raynar sewot.


"Ya, nggaklah, Kak!" sahut Savina paling kencang. Sehingga, mau tak mau Arfan bisa mendengar suara gadis cantik itu. Dan Arfan pun menoleh ke arah mereka. Hal itu semakin membuat jantung Savina berdetak lebih kencang dan cepat.


Deg ... deg ... deg ...!


"Oh, ya ampun! Di tatap seperti itu saja olehnya membuat aku semakin menggila." ucap batin Savina tak karuan.


Mereka lalu turun bersama dan mulai mengambil posisi duduk di meja makan untuk sarapan.


Sementara itu, Adiwangsa masih bersiap-siap di dalam kamarnya. Tentu saja di bantu oleh istri tercintanya.


"Nah, sudah selesai. Yuk, Mas kita sarapan! Oh, iya. Aku sampai lupa membangunkan anak-anak." ujar Hazna.


"Sudahlah! Kamu tidak perlu repot-repot lagi! Mereka sudah besar. Pasti, mereka juga akan bisa bangun sendiri. Apalagi, mereka sudah punya tanggung jawab masing-masing, 'kan?!" ujar Adiwangsa dengan tegas.


"Iya, sih, Mas. Tapi, tetap saja aku merasa perlu melakukan hal itu. Aku sudah terbiasa melakukannya, Mas."


"Mulai sekarang tinggalkan kebiasaan mu itu, ya!" Adiwangsa pun pergi meninggalkan istrinya yang masih termangu.


...*****...


Semua orang telah berkumpul di meja makan. Tibalah saatnya bagi mereka untuk melakukan sarapan bersama. Tak lupa Adiwangsa mempersilahkan Arfan untuk ikut serta bersama mereka sekeluarga.


"Arfan, mau kemana?"


"Saya mau ke dapur, Pak." jawab Arfan.

__ADS_1


"Tidak perlu! Mulai hari ini, kamu ikut sarapan dan makan malam bersama kami di sini, ya!"


"Tapi, Pak ... saya ...,"


"Ini perintah!"


"Baik, Pak!" Arfan pun menuruti perintah Adiwangsa, meski ia merasa tak pantas untuk berada di tengah-tengah keluarga kaya itu.


Di tengah-tengah sarapan berlangsung, Adiwangsa mengatakan tentang profesi Arfan di rumah itu sebagai apa pada semua anggota keluarganya.


"Memangnya, siapa, sih dia?! Sampai-sampai, papa memperlakukan dia seistimewa itu!" ujar Fayra membatin.


"Kalian semua harus tahu, Arfan ini adalah pengawal pribadi Fayra. Jadi, mulai sekarang kemanapun Fayra pergi, dia akan selalu mengikuti Fayra! Papa harap, kamu akan memperlakukan dia dengan baik, Fayra! Jaga sikap kamu padanya, mengerti?! Atau Papa bisa saja menghukum kamu lebih berat lagi dari ini!" tutur Adiwangsa penuh paksa pada Fayra.


Sontak, seketika air yang hendak di telan pun segera berhamburan keluar dari mulut Fayra. Dan air itu tepat mengenai wajah tampan Arfan. Sebab, Arfan duduk tepat di hadapan Fayra.


"Apa, Pa?! Papa pasti bercanda, 'kan?!" tampik Fayra tak terima dengan lelucon papanya barusan.


Dan ... untuk pertama kalinya lagi Arfan mendengar dengan jelas suara gadis cantik yang baru saja menyemburkan air ke wajahnya.


"Jadi, benar dia orangnya!" tutur Arfan yang tak mampu terlisankan.


"Pa, kalau Fayra nggak mau untuk aku, aja, Pa!" sambar Savina.


"Jangan ngaco kamu, Vina! Papa melakukan semua ini supaya adik kamu itu tidak bertindak di luar jalur! Paham, kamu!" bentak Adiwangsa pada Savina.


"Fay nggak mau, Pa!" Fayra bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Perasaan tak enak dan sakit hati tentu sudah pasti dirasakan oleh Arfan saat ini. Rasanya, di tolak keras keberadaan dirinya oleh Fayra, itu cukup membuat luka pada hatinya.


"Kenapa? Kenapa aku merasa sedih dan kecewa seperti ini?!" batin Arfan merasa gundah.


Adiwangsa yang bisa merasakan apa yang di alami oleh Arfan, ia segera memberikan dukungan.


"Sudahlah, Arfan! Jangan kamu ambil hati ucapan putri manja ku itu, ya! Dia memang seperti itu. Etikanya tidak ada sama sekali. Tolong, maafkan kelakuan buruknya padamu, ya!" pinta Adiwangsa seakan memelas pada Arfan.


"Ah, tidak apa-apa, Pak! Saya bisa mengerti akan perlakuan dan sikap putri Bapak kepada saya. Kalau begitu, saya permisi mau memanaskan mesin mobil dulu, Pak!"


"Oh, iya. Silakan!"


...*****...


Tak di sangka, ternyata Fayra tengah duduk di teras depan rumah. Arfan pun menyapanya dengan ramah.


"Hai, apa kabar? Akhirnya, kita bertemu lagi, ya! Saya pikir, saya tidak akan pernah bisa mengembalikan uang kamu, Nona. Saya selalu membawa uang ini kemana-mana. Sebab, saya merasa suatu saat kita pasti akan bertemu lagi." ucap Arfan penuh keyakinan.


"Ka, kamu ... mengingatnya?!" tanya Fayra gugup seketika.


Fayra pikir, Arfan akan melupakan dirinya dan melupakan niatnya untuk mengembalikan uangnya. Lalu, Arfan mengulurkan sejumlah uang yang pernah Fayra berikan padanya beberapa hari lalu.


"Ini, semua uang yang kamu berikan pada saya. Saya kembalikan tanpa kurang dan lebih. Karena niat saya tidak untuk meminta ganti rugi. Melainkan, permintaan maaf dari orang yang menabrak saya. Itu saja!" sindiran Arfan membuat wajah cantik Fayra merah padam.


Tatapan mata Fayra tak berpaling walau hanya sesaat dari memandang wajah tampan Arfan. Namun, tidak dengan Arfan. Ia menghindari tatapan mata Fayra padanya. Sebab, ia takut dosa.


Akankah setelah ini Fayra meminta maaf pada Arfan atas kelakuannya tempo hari?!


Lalu, bisakah mereka berdua menjadi majikan dan bawahan yang akrab dan dekat?!


Semoga saja hal itu bisa terealisasikan secara nyata nantinya!


Amin ...!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2