
Seusai membesuk sang ibu, Arfan berselisih jalan dengan pak ustadz Yusuf dan ustadzah Shafira. Mereka pun saling bertegur sapa.
"Assalamualaikum, Arfan!" sapa ustadz Yusuf lebih dulu.
"Waalaikumsalam, Pak Ustadz! Eh, Ustadz dan Ustadzah." sapa balik Arfan dengan ramah, sedangkan Fayra gadis itu lebih memilih jalan lebih dulu. Benar-benar tidak tahu sopan santun. Tak hanya sampai di situ, Fayra memanggil Arfan dengan berseru kuat.
"Arfan ... Ayo, cepat!" jeritnya dengan langkah yang juga tak kalah cepatnya.
"Terima kasih banyak Ustadz dan Ustadzah! Maaf, saya ndak bisa lama-lama. Majikan saya sudah memerintahkan saya untuk cepat, Ustadz, Ustadzah!"
"Ah, iya. Tidak apa-apa, Fan! Kamu yang semangat, ya kerjanya!" ucap Yusuf.
"Iya, makasih banyak, Ustadz! Saya pamit sekarang. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." jawab Yusuf dan Shafira.
Segera Arfan berlari mengejar sang majikan yang banyak maunya.
...*****...
Di perjalanan menuju perusahaan ..
Fayra sangat sibuk sekali dengan ponselnya sedari tadi. Gadis itu seolah baru mendapatkan mainan baru yang sangat ia sukai. Dia bahkan tidak lagi peduli dengan sekelilingnya.
Sampai suatu ketika ....
Chiiittt ....
Arfan mendadak mengerem mobil dan membuat Fayra terhuyung ke depan.
"Ahhh ...! Kenapa kamu mendadak, sih ngeremnya?!" protes Fayra yang terkejut atas tindakan Arfan barusan.
"Maaf, Nona! Sepertinya, saya baru saja menabrak sesuatu. Saya akan keluar untuk memeriksanya dulu," ucap Arfan.
"Baiklah, periksa yang benar!" seru ketus Fayra dengan masih fokus melihat layar pipih pada ponselnya saat ini.
Arfan keluar dan melihat ban mobil, betapa kagetnya ia ketika si ban berubah menjadi kempes.
"Astaghfirullah ...! Kenapa harus sekarang, sih?! Benar-benar merepotkan saja." keluh Arfan dengan raut wajah yang memprihatinkan.
Pria tampan itu mengusap wajahnya gusar. Kesialan justru menimpanya di saat yang tidak tepat.
Sebab terlalu lama, Fayra pun ikut keluar dari mobil dan menanyai Arfan.
"Kenapa kamu lama sekali, hah?! Memangnya, ada masalah apa?"
"Bannya ... bannya kempes, Nona," jawab Arfan seadanya.
"Apa?! Harus banget sekarang, ya? Ah, sial! Aku lagi buru-buru, nih! Kenapa bannya pakai kempes segala, sih?!" Fayra teramat kesal dan marah-marah tak tentu arah.
"Kalau begitu ... Nona naik taksi saja! Biar saya panggilkan taksi untuk Nona, ya?!" Arfan pun bergegas mencarikan taksi dan menghentikan taksi untuk Fayra.
Fayra pun meninggalkan Arfan demi melakukan pertemuan dengan pembelinya tempo hari. Sebelum itu, dia menatap dalam pada Arfan yang kebingungan dengan situasi yang tengah ia hadapi saat ini.
"Maaf, Arfan! Aku terpaksa sebab, mereka pasti sudah menunggu ku di perusahaan." ucap yang tak terlisankan oleh gadis cantik itu.
Arfan pun menghubungi montir yang biasa ia kunjungi bengkelnya. Cukup lama pria tampan itu menunggu sang montir dan akhirnya mereka pun tiba.
Segera montir itu bertidak dan membenahi lagi ban yang tiba-tiba kempes. Setelah semuanya selesai di perbaiki, Arfan pun berterima kasih lalu pergi.
__ADS_1
...*****...
Perusahaan Fayra Maheswara ...
Arfan bergegas masuk dan menjumpai Fayra yang ternyata tengah berbincang-bincang dengan sepasang suami istri, yang menjadi pelanggannya.
Arfan tidak jadi masuk, dia hanya menunggu di luar saja. Sebab, takut menjadi pengganggu nantinya. Cukup lama perbincangan yang dilakukan pasangan suami istri itu dengan Fayra. Sehingga, Arfan pun merasa pegal karena berdiri terlalu lama.
Melihat Arfan yang kelelahan, salah satu karyawan wanita pun menghampiri pria tampan itu. Dan ... karyawan itu memberikan sebuah bangku untuk Arfan.
"Permisi ...!" sapa ramah sang karyawan yang tiba-tiba baik.
"Ya, ada apa, ya?"
"I-ini, pakailah!" tangan wanita itu terulur memberikan satu bangku untuk Arfan.
"Terima kasih!" ucap Arfan ramah.
"Sama-sama," sahut si karyawan wanita tersebut.
Setelah itu, tampaknya si wanita ingin melakukan sesuatu. Tangannya terulur dan mengucapkan sebuah kalimat.
"Perkenalkan, nama saya Clara Diana." ucapnya malu-malu.
"Oh, iya. Salam kenal! Saya Arfan," sambut Arfan baik, tanpa menjabat tangan si wanita itu. Dengan canggung wanita itu, kemudian menarik lagi tangannya karena malu. Kali ini bukan malu-malu tetapi memalukan!
"Apa mau dibuatkan minuman?" tanya Clara dengan raut wajah yang berseri-seri.
"Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot. Saya bisa membuatnya sendiri jika mau." tolak Arfan yang tak ingin merepotkan orang lain atas dirinya.
"Oh, begitu. Baiklah, aku permisi, dulu!" ucap Clara sudah kehabisan kata-kata untuk mencari perhatian si lelaki tampan yang menggoda hatinya.
Tak lama kemudian, Fayra beserta pasangan suami istri itu pun keluar dari ruangan Fayra. Mereka sekali lagi berjabat tangan tanda serah terima di antara kedua belah pihak tentunya.
Arfan pun segera berdiri dan memberikan senyuman manisnya terhadap pelanggan Fayra. Lalu, pasangan suami istri itu menduga bahwa Arfan adalah suami dari Fayra.
"Wah, ini suami Anda, ya Mbak Fayra? Tampan sekali!" puji si ibu dengan sumringah.
Buru-buru Arfan dan Fayra menepis anggapan tersebut pada mereka.
"Bukan-bukan!" sambar Arfan dan Fayra bersamaan.
"Oh, kirain tadi ... ah, ternyata tidak, ya? Ya, sudah. Kalau begitu kami permisi dulu, ya Mbak Fayra!" ucap ibu Sabrina pada Fayra.
"Iya, kami pamit undur diri dulu, Mbak Fayra." ucap pak Arjuna suami dari ibu Sabrina.
"Ya, hati-hati di jalan!" ucap Fayra.
"Jika sudah jadi, jangan lupa kabari kami, ya!" ujar Arjuna sebelum pergi.
"Siap, Pak! Terima kasih banyak, Pak, Bu!" imbuh Fayra.
Setelah kepergian pasangan suami istri itu, Fayra memerintahkan Arfan untuk ikut dengannya.
"Ikut saya!" titahnya, Arfan pun mengikuti Fayra dari belakangnya dengan patuh.
Setelah sampai di luar, Fayra mengecek ban mobilnya lagi dan bertanya pada Arfan.
"Jadi, apakah kamu sudah memperbaikinya?"
__ADS_1
"Iya, sudah, Nona," sahut Arfan.
"Oh, oke. Baguslah kalau begitu. Sekarang, tugas kamu belikan saya sarapan. Tadi, saya tidak sempat makan di rumah karena kesiangan di tambah lagi mampir ke rumah sakit dulu, 'kan?" ujar Fayra yang sedikit tak ikhlas tampaknya menemani Arfan ke rumah sakit tadi.
"Baiklah, saya pergi sekarang, Nona. Nona ingin di belikan apa untuk sarapannya?"
"Apa saja! Asalkan sarapan sehat. Ini uangnya," Fayra memberikan beberapa lembar uang pada Arfan.
"Siap, Nona. Kalau begitu saya permisi, Nona!"
"Hmmm, hati-hati! Jangan, sampai bannya kempes lagi. Ingat itu baik-baik!" ucapnya ketus seketus ketusnya.
"Siap, Nona!" Arfan pun lekas pergi dari hadapan Fayra.
...*****...
Sekitar 20 menit sudah Arfan pergi, namun pria itu belum juga kembali.
"Duh, kenapa tuh orang nggak muncul-muncul, sih?! Pergi kemana, sih, dia?! Kok, lama banget!" gerutu Fayra yang sudah keroncongan.
Belum lagi terlalu banyak tugas yang harus dia lakukan. Fayra memeriksa beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya.
Beberapa menit kemudian ...
Setelah sekian lama menunggu, Arfan kembali dengan menenteng beberapa kotak menu makanan yang dia pesan. Tapi, kali ini ada yang terlihat berbeda dari pria tampan itu.
Mata Fayra mengedip beberapa kali, ia mencoba untuk memastikan, apakah itu benar Arfan atau bukan!
"Nona, ini pesanan, Nona. Maaf, saya terlambat!" ucapnya dengan ngos-ngosan.
"Arfan, kamu ... kenapa bisa terlihat kacau begitu, hah?! Hahaha ... kamu habis mandi kopi, heh?!" tanya Fayra dengan tawa yang tak bisa ia kendalikan.
"Oh, ini tadi ... ada sedikit tragedi, Nona. Itu sebabnya, saya jadi lama membeli pesanan Nona," terang Arfan.
"Iya, kamu kenapa bisa jadi kotor begitu, hah?!" tanya Fayra yang sudah bisa lebih tenang dari sebelumnya.
"Jadi, tadi itu ... ada seorang wanita yang tidak sengaja menumpahkan minumannya di baju saya. Akhirnya, saya bersih-bersih dulu di toilet. Ternyata, kopi itu sudah menempel sempurna di baju saya. Alhasil, ya ... jadi seperti ini," ucap Arfan tertunduk lesu.
"Ckckck ... ada-ada saja kamu, ya! Apes banget kayaknya kamu hari ini. Ya, udah. Saya kasih kamu uang, setelah itu pergilah membeli baju. Kasihan kamu," ucap Fayra yang sudah merogoh tasnya mencari beberapa lembar uang di dalam dompetnya.
"Ini, ambillah dan belikan pakaian yang cocok untuk kamu!" titah Fayra.
"Tidak perlu, Nona! Nanti, saya bisa cuci lagi di toilet. Ini tadi karena buru-buru takut Nona menunggu terlalu lama. Jadi ...,"
"Ini perintah. Jadi, tolong patuhi. Mengerti?!"
"Tapi, Nona ...,"
"Tidak ada tapi-tapian. Saya tidak mau nanti papa memarahi saya karena kurang peduli padamu," ucap Fayra dengan tegas dan lugas.
"Baiklah, saya akan pergi membeli baju sekarang. Terima kasih banyak, Nona!" ucap Arfan setelah mengambil uang yang di berikan oleh Fayra padanya.
"Hmmm ..., jangan sungkan!" Fayra pun mulai menikmati sarapan yang di belikan oleh Arfan untuknya.
Setelah kepergian Arfan, Fayra kembali tertawa melihat ekspresi wajah Arfan nan lugu dan terlampau polos.
"Hehehe ... dia ada-ada saja kelakuannya." Fayra lalu menyantap makanannya dengan khidmat tak bersisa.
...*****...
__ADS_1