
Langit tampak mendung pada sebagian sisinya. Semakin lama gulungan awan-awan hitam semakin tampak jua. Bukan hanya awan yang semakin menghitam, melainkan juga pemandangan indah yang kian lama kian tenggelam. Akibat dari ulah sang alam yang mulai mengambil kendali karena Sang Ilahi.
Angin kencang juga turut serta meramaikan suasana yang semakin mencekam. Dua anak manusia yang tengah menikmati keindahan alam, dengan disertai oleh makanan dan minuman. Harus rela untuk meninggalkan tempat itu dengan sesegera mungkin.
Sebab, akan ada hujan badai yang melanda kota Yogyakarta. Sehingga, Fayra dan Arfan harus bergegas pindah dari lokasi mereka saat ini.
"Nona, saya rasa sebaiknya kita pergi dari tempat ini sekarang! Tampaknya, hujan deras akan turun sebentar lagi," ujar Arfan yang sudah mulai merasakan kepanikan.
Lalu, apa tanggapan Fayra?
Gadis itu tampak sangat santai dengan apa yang akan terjadi nanti. Dia seolah-olah telah bersiap diri untuk menerima, apapun konsekuensi dari tindakan saat ini.
Fayra bukannya beranjak dari duduknya, ia malah terlihat sangat menikmati makanan dan minumannya.
"Nona ...? Sudah mulai gerimis, Nona ...! Ayolah, kita berdiri dan lekas pergi!" titah Arfan, yang sangat mudah panikan dan tak ingin jadi pusat perhatian.
"Shuuuttt ...! Jangan berisik, Fan! Aku masih mau menikmati makan malam bersama denganmu di sini. Ini adalah makan malam bersama kita di tempat terbuka. Bukankah, ini adalah sebuah momentum, Fan? Jadi, aku akan tetap menyelesaikannya hingga akhir. Dan ... aku juga akan menikmati makan malam ini dengan setulus hati." Fayra semakin lama semakin pandai membuat Arfan jatuh cinta hingga ke relung hati.
Mendengar setiap penuturan Fayra yang disertai oleh dorongan sebuah rasa. Hati Arfan akhirnya luluh jua. Ia pun ikut kembali duduk bersama Fayra.
Mereka tak lagi menghiraukan panggilan dan seruan dari banyak orang, yang ada di sana pada mereka.
Arfan mulai membaca doa makan dan kemudian, mulai memasukkan satu sendok yang berisi makanan itu ke dalam mulut Fayra.
"Makanlah, Nona! Saya sudah membacakan doa makan pada makanan ini. Jadi, mudah-mudahan ini akan menjadi berkah di dalam tubuh Nona nanti. Maaf, jika saya lancang, Nona. Saya ...," belum lagi rampung ucapan Arfan, mulut Fayra mulai terbuka dan menyambar makanan itu dengan segera.
"Aaa ... ammm nyam-nyam ... enak!" celetuk Fayra dengan wajah yang selalu terlihat ceria dan bahagia.
"A-Alhamdulillah, syukurlah jika Nona menyukainya," ucap Arfan semakin deg-degan.
Tik ... tik ... tik ...
Rintik hujan pun semakin lama semakin deras. Di bawah guyuran hujan itu, Fayra dengan lahapnya menyantap makanan yang sudah mulai tak karuan rasanya karena air hujan.
Begitu pula dengan Arfan, dia juga merasakan hal yang sama dengan Fayra. Benih-benih cinta itu, semakin terlihat nyata dalam pandangan mata mereka.
...*****...
__ADS_1
Banyak sekali orang-orang yang sedang bergunjing tentang Arfan dan Fayra. Hampir di sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, mereka mendengar setidaknya celetukan demi celetukan, yang mengatakan bahwa mereka sangat romantis. Bagaikan sepasang kekasih halal, yang tengah melakukan dinner ala anak remaja.
"Eh, mereka so sweet banget, ya, tadi?"
"Iya, aku jadi iri. Mana mukanya sama-sama good looking, lagi! Ah ... jadi pengen!"
"Oh, jadi mereka yang tadi main hujan-hujanan sambil romantis-romantisan? Wah, cocok, ya?"
"Yang cowoknya ganteng! Nah, si ceweknya juga sangat cantik."
"Apa mereka pasangan suami istri? Maksudku pasutri (Pasang Suami Istri) baru."
Bisik-bisik itu terus saja mereka dengar. Arfan dan Fayra pun tak menampik, tentang cuitan-cuitan orang-orang pada mereka.
"Nona? Apakah, Nona kedinginan?" Satu pertanyaan yang tak seharusnya Arfan tanyakan.
Arfan sungguh lugu dan polos sekali!
Kalau main hujan-hujanan apakah akan terasa panas, Arfan?
"Ahahaha ... tidak, Fan! Aku malah kepanasan," guyon Fayra yang membuat wajah Arfan memerah dari sebelumnya.
"Ah, Nona. Jangan bilang seperti itu, saya benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Jadi, apa kita langsung pulang, Nona?" tanya Arfan dengan netra yang tak sanggup menatap wajah ayu Fayra.
Tapi, sejurus kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam mobil Fayra. Sebelum turun tadi, Arfan sempat meletakkan jaketnya di dalam mobil. Rasa panas yang ia rasakan sedikit membuatnya gerah.
Fayra yang masih menunggu kedatangan Arfan, hanya bisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di sana terdapat bunga-bunga yang menambah keindahan tempat itu, sepertinya disain unik dan menarik inilah, yang membuat orang beramai-ramai datang.
"Wah, di sini ternyata cantik banget, deh! Pantesan, ini tempat jadi rekomendasi banget untuk muda-mudi yang lagi merajut tali asmara. Hehehe ...." ucap Fayra terkekeh geli sendiri.
"Pakai ini, Nona! Agar, tidak terlalu dingin lagi. Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud lancang," ucap Arfan yang tengah memakaikan jaketnya pada Fayra.
Fayra diam, namun hatinya terus berkicau bagaikan seekor burung.
"Arfan ... apakah ini adalah sisi lain dari dirimu yang tak pernah aku ketahui selama ini? Apakah sebenarnya, kamu adalah sosok yang amat sangat peduli dan so sweet seperti ini, Fan? Oh, ... ayolah ... jangan membuat aku menunggu terlalu, Fan! Tolong ... halalkan hubungan kami, Tuhan ...!" jerit tertahan Fayra dalam diamnya.
"Sudah, Nona. Ayo, kita pulang!" ajak Arfan yang sudah memayungi nona mudanya. Agar tak tersiram air hujan.
__ADS_1
"Oh, iya. Ayo!"
Mereka berdua pun berjalan beriringan. Namun, Arfan masih menjaga sedikit jarak di antara mereka. Saat air hujan menimpa pundak Arfan, Fayra menarik tubuh Arfan ke dekatnya. Agar air hujan tak akan menimpa Arfan.
"Kemarilah, Fan! Mendekatlah, aku janji tidak akan berbuat macam-macam padamu, Fan!" tutur Fayra penuh keyakinan.
"Tapi, Nona ...," Arfan masih meragukan hal itu.
"Sudahlah, jangan cemaskan apapun!"
Mereka pun saling berdekatan di bawah payung yang sama. Tak bisa Arfan dan Fayra pungkiri. Detak jantung keduanya saling berbunyi dan berirama dengan indahnya.
...*****...
Kediaman keluarga Arfan Alhusayn ...
Nadhifa dan Sanah tengah bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Maghrib. Biasanya, Arfan memberikan kabar pada mereka kalau ia akan pulang terlambat. Tapi, kali ini kelihatannya Arfan telah lalai mengabari ibu dan adiknya.
"Nad, apa mas mu ndak ada ngabarin kamu, hmmm?"
"Ndak, ada Bu'e! Nad, juga udah coba chat dan telepon mas Arfan, Bu'e! Tapi, emang masnya aja yang udah lupa untuk pulang ke rumah. Jangan-jangan ... Mas lagi di siksa, tuh sama si nona-nona manjanya itu," celetuk kesal Nadhifa pada Fayra.
"Wes toh! Kamu itu jangan marah-marah terus atas keputusan mas mu itu bisa, 'kan, Nad?!" nasihat Sanah pada anak gadis satu-satunya di keluarga mereka.
"Ndak, bisa Bu'e! Nad, udah terlanjur ndak suka sama tuh, nona-nona Londo iku!" jawab Nadhifa yang semakin membuat geram Sanah.
"Nad, apa kamu ndak mau sekalian makan beling, hmmm?"
"Loh, kenapa Bu'e malah nyuruh Nad makan beling, sih, Bu'e?" celetuk kaget dan heran Nadhifa karena perkataan ibunya.
"Iya, 'kan, kamu sekarang sedang kesurupan lagi. Ya, 'kan?!" kata Sanah sembari menggiring tubuhnya menjauh dari sang putri ngeyelnya, yang sudah mulai marah.
"Bu'e ... sudah berapa kali Nad bilang. Nad, ndak kesurupan, Bu'e ...!" teriak Nadhifa pada ibunya yang telah menghilang dari pandangan matanya.
Mereka pun melaksanakan shalat Maghrib di dalam kamar masing-masing.
...*****...
__ADS_1