CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 10 Ancaman ervan


__ADS_3

Dua hari kemudian....


Ervan kini berada di ruang administrasi rumah sakit bersama Alan dan Tirta. Ia sudah memutuskan untuk memaksa dan mengancam Sarah, agar menerima tawarannya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sebab wanita itu selalu meminta waktu untuk berpikir, seolah mengulur waktu lebih lama. Sedangkan, Ervan semakin terdesak karena kedua orangtuanya.


Seorang petugas administrasi sedang menghitung tagihan rumah sakit Sarah selama dirawat beberapa hari.


“Ini, Pak,” petugas memberikan Ervan secarik kertas yang berisi detail perawatan dan nominalnya.”


“Hanya ini?” Ervan melihat dua angka tertera dengan angka nol yang mengikuti dibelakangnya.


“Iya, Pak. Semuanya 18 juta, untuk perawatan dan ruangan termaksud perawat khusus.” Jelasnya.


“Bagaimana dengan pengasuh?”


“Itu diluar rumah sakit, Pak.”


“Baiklah, tambahkan angkanya 280 juta.” Ervan mengembalikan kertas selembar itu.


“Ap ... apa? Tapi, Pak?” Petugas itu mencoba menolak.


“Tidak ada tapi-tapi, kau sedang melawanku? Lakukan atau cari pekerjaan baru!”


Petugas itu menatap dokter Alan, yang sudah menganggukkan kepalanya. Lalu kembali, mengetik diatas papan keyboard, mencetak lalu menyerahkannya kembali. Ia memperhatikan gerakan Ervan, yang tengah menatap kertas selembar itu. Sejenak petugas itu menghela napas, kembali menatap wajah dari pemilik gedung rumah sakit ini.


Ervan beranjak pergi diikuti Alan dan Tirta dibelakangnya, wajah pria itu tampak menakutkan hari ini. Bahkan Alan yang biasa bercanda dengannya, merasa enggan mendekatinya. Keduanya, hanya terus melangkah mengikuti Ervan tanpa menanyakan perihal tagihan rumah sakit yang membengkak.


Tirta berjalan mendahuli Ervan, membukakan pintu karena suasana hati pria itu sangat buruk hari ini. Ervan masuk tanpa mengetuk apalagi menyapa penghuni dalam ruangan. Dilihatnya, sudah tidak ada tiang infus yang menggantung dan wanita itu sedang membereskan barang-barangnya, seolah bersiap meninggalkan rumah sakit.


“Kamu sedang apa?”


“Saya sedang beres-beres, Pak, mau pulang.”


“Pulang? Hah.” Ervan tersenyum miring, lalu menyerahkan secarik kertas kepada Sarah. “Ambil ini.”

__ADS_1


“Apa ini?” Sarah menerima kertas itu, membacanya dengan cermat, lalu kembali bersuara keras. “280 juta. Saya hanya dirawat lima hari, kenapa sebanyak ini?”


“Bukan 280 juta, tapi 300 juta. Kau harus membayarku 300 juta, hari ini.”


Tirta dan Alan saling menatap, menggelengkan kepala dan tidak berani bersuara. Keduanya, tidak ingin berkomentar, membiarkan Ervan melakukan dengan caranya sendiri.


“300 juta? Apa maksud Bapak 300 juta?”


“280 juta adalah biaya selama kamu di rumah sakit dan perawat khusus untukmu. Sisanya adalah sewa pengasuh untuk anakmu. Kamu mengerti?”


“Bapak sedang memeras saya? Tagihan ini sangat tidak masuk akal, mengenai perawat dan pengasuh Bapak sendiri yang menawarkan, saya tidak pernah meminta,” ujar Sarah yang mulai mengeluarkan tanduknya.


“Tapi, kamu tidak menolaknya, bukan. Aku akan memberimu pilihan 300 juta atau menikah denganku.”


“Apa? Jadi, Bapak menjebak saya?”


“Terserah, bagaimana pendapatmu. Kamu cukup memilih salah satu, kalau tidak anak harammu akan menjadi jaminan.”


PLAK


Dada Sarah bergemuruh, wajahnya memerah menahan amarah. Kristal bening, mulai terlihat dipelupuk matanya dan perlahan jatuh. Karena dialah, anaknya tidak memiliki seorang ayah, sekarang ia menghina putranya sendiri. Sarah tidak bisa menahan penghinaan yang menyangkut putra semata wayangnya. Apalagi, seseorang yang tidak tahu perjuangan hidupnya. Ia mendaratkan tamparan keras di pipi Ervan, meninggalkan bekas yang tercetak jelas.


“Kau menamparku?”


Mata Ervan berkilat-kilat, harga dirinya jatuh, dipermalukan oleh seorang wanita rendah dan hina baginya. Rahang Ervan mengeras, mengayunkan tangannya yang sudah terkepal untuk membalas, tapi tertahan dengan teriakan Alan dan Tirta yang mencegahnya.


“Ervan, dia perempuan,” seru Alan.


Ervan menggantungkan tangannya di udara menatap tajam Sarah yang seperti tidak takut padanya. Wanita itu menantangnya hanya karena ia membutuhkan pertolongan. Dengan napas yang masih naik turun, Ervan mendorong tubuh wanita itu, hingga jatuh tersungkur diantara barang-barangnya.


“Dengar, kau perempuan rendahan. Apa kau pikir, hanya karena aku membutuhkan bantuanmu aku akan berprilaku baik. Kau salah, meskipun nyawaku ada ditanganmu aku tidak akan memohon.”


"Lalu, apa kau pikir dengan memaksa dan berbuat kasar padaku, aku akan menerima bujukanmu?"

__ADS_1


Sarah tersenyum getir, tertampar dengan kenyataan, pria kasar yang tidak pantas untuk menjadi ayah anaknya dan rahasia itu akan dibawanya sampai di liang kubur.


“Aku sudah berubah pikiran. Aku tidak membutuhkan wanita yang sok suci, sepertimu. Kau sudah menamparku hari ini dan aku tidak akan memaafkanmu, kau sebaiknya bersiap menjadi pengangguran dan tagihan rumah sakit, saya ingin kamu membayarnya tunai,” tegas Ervan yang masih diliputi kemarahan.


"Baik."


Sarah bangkit dengan mengepalkan tangannya, ia merapikan pakaiannya lalu, berjalan keluar. Ia menitipkan putranya pada pengasuh dan pergi meninggalkan gedung rumah sakit. Ia Mengedarkan pandangannya, melihat sebuah Bank yang terletak diseberang jalan. Sarah  masih menyimpan uang yang diberikan Ervan padanya dulu dalam bentuk cek. Cek senilai 1 miliar, ia cairkan dan ia simpan dalam rekening, untuk berjaga jika ia membutuhkannya.


Sarah berlari dan menyebrangi jalan, menuju bank. Setelah satu jam, Sarah kembali dengan membawa kantong kresek berwarna hitam. Ia melangkah masuk, menatap tajam pria kasar yang masih duduk dengan santainya.


“Ambillah dan urusan kita selesai.” Sarah mendaratkan kantong kresek diatas meja, lalu pergi membereskan barang-barangnya.


Ervan membuka kantong kresek itu, terlihat uang pecahan seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Ervan syok, kembali manatap Sarah yang membelakanginya. Ia mengacak rambutnya, frustasi, meraih kantong kresek dan menjatuhkan di bawah kaki Sarah yang masih mengatur tasnya.


“Dari mana uang ini?” bentaknya, meraih tangan Sarah untuk berdiri dihadapannya.


“Saya sudah membayar tagihan, jadi tolong silahkan pergi.” Sarah memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Saya bertanya, dari mana uang ini?” Ervan berteriak mencengkam dagu Sarah agar menatapnya.


“Itu bukan urusanmu, Tuan. Saya perempuan rendahan bisa mendapatkan uang dari mana saja.” Sarah melotot, menjawab dengan mengingatkan hinaan Ervan kepadanya.


‘Kau ....” Ervan kehabisan kata-kata untuk menjawab, rencananya hari ini tidak berbuah manis justru membuat wanita itu membencinya.


“Ya, aku wanita rendahan dan memiliki anak haram. Apa kau puas?”


Sarah menatap tajam, ia tidak ingin merasa lemah dengan memohon dan menundukkan kepalaya. Kali ini tidak, tegasnya dalam hati tanpa menurunkkan pandangannya.


Melihat ketegangan Sarah dan Ervan, Tirta dan Alan segera menarik Ervan keluar dari ruangan, mencegah amarah pria ini meledak. Apalagi, wanita itu sepertinya tidak mau mengalah. Tirta berjalan dengan menggenggam tangan Ervan, disusul Alan dibelakang mereka. Sampai mereka tiba diparkiran, Alan membuka pintu mobil


membiarkan Ervan masuk dengan wajah yang memerah.


“Tenangkan dia,” ucap Alan kepada Tirta yang sudah duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


__ADS_2