
Sarah mulai beres-beres rumah, setelah Ervan dan Tirta pulang. Ia memandikan si kecil, lalu memberikannya susu. Duduk dengan tenang, untuk memikirkan ulang, keputusan yang harus diambilnya.
Namun, seberapa lama pun ia berpikir, hasilnya tetap sama. Ia sudah luluh dengan ucapan sang suami.
"Tunggu disini, Mama ke dapur dulu." Memberikan Kecupan, sebelum keluar kamar.
Suara bel pintu terdengar, ia meletakkan piring yang baru akan dicucinya.
Siapa yang bertamu sepagi ini? Apa bibik? Bergumam sambil melangkah.
"Anda cari siapa?"
Seorang gadis berdiri didepan pintu, rambut terurai panjang, tapi dengan mata yang sembab.
"Saya Clarissa." Mengulurkan tangan untuk berkenalan."Apa kita bisa bicara?"
"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu."
"Aku tunangan Ervan."
Deg!
Sarah membeku, tersentak dengan pengakuan gadis didepannya.
"Tunangan?" Berusaha bersikap tenang. "Tapi, kami sudah menikah."
"Apa kita bisa bicara didalam?"
Clarissa mulai merasa pegal, berdiri tanpa dipersilahkan masuk.
"Maaf, silahkan."
Pandangan Clarissa, menyapu seisi ruangan. Duduk diatas sofa, dengan terus memperhatikan Sarah yang sudah duduk lebih dulu.
"Ada hal apa mencariku?"
Bukannya menjawab, Clarissa bersimpuh dilantai, terisak dengan suara yang serak. Hingga, membuat Sarah bingung.
"Anda kenapa?"
__ADS_1
"Kak, tolong bantu aku! Hiks...hiks...." Menyeka air matanya. "Aku bingung sekarang, harus bagaimana? Kak Ervan sudah menodaiku, bagaimana jika aku hamil dan dia tidak mau tanggung jawab, hiks....hiks...."
"Apa maksudmu?"
Sarah tersentak dan bangkit dari posisi duduknya.
"Kak Ervan sudah menyentuhku. Aku mohon, tolong lepaskan kak Ervan, agar dia bertanggung jawab padaku."
"Kau gila!" Ritme napas Sarah sudah tidak teratur. "Apa kau punya bukti? Aku tidak percaya pada gadis sepertimu, sekarang pergi!"
Sarah sangat yakin, Ervan tidak mungkin melakukannya. Ditambah penuturan Alan pagi ini, membuat Sarah tidak goyah sedikit pun.
"Kak, aku dan kak Ervan pernah dijodohkan dan hampir menikah. Kau bisa menanyakannya pada tante Sandra dan Paman Izzam. Kami saling mencintai."
Pikiran Sarah mulai bimbang, Clarissa sangat yakin dengan ucapannya, apalagi menyebut nama orang tua Ervan.
"Jika kalian sudah dijodohkan, mengapa ia memilih meninggalkanmu dan memaksaku menikah dengannya." Suara Sarah mulai meninggi.
Apa maksud ucapannya? Kenapa kak Ervan memaksanya menikah? Apa dia sedang membohongiku?
Clarissa bermonolog, menundukkan kepala, sembari menyetel wajahnya. Ia semakin terisak, berlinang air mata, menujukkan betapa sengsaranya hidupnya sekarang ini.
"Karena, dia ingin membalasku. Kak Ervan cemburu dan salah paham, pada seniorku. Tolong, Kak! Percaya padaku!"
Deg. Apa Ervan seperti ini? Mencampakkan setiap gadis yang ditidurinya.
"Duduklah," ujar Sarah, dengan nada lemah. "Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Clarissa bersorak ria dalam hati, masih dengan wajah yang menyedihkan. Ia menghapus air matanya.
"Lihat ini, Kak!" Clarissa menyerahkan ponselnya.
Sarah mengambilnya, tanpa bertanya. Ia langsung menonton video dalam ponsel Clarissa.
Video yang diambil dari samping, hingga dengan jelasnya menampakan dua sejoli yang duduk diatas sofa. Pria dengan satu tangan menurunkan tali baju pasangannya. Tangan lainnya, meraba dada dengan senyum nakal di wajahnya. Sembari berbisik, entah hal apa yang diucapkannya, karena tidak terdengar jelas. Hanya suara wanita, yang mendesah karena mendapat rangsangan.
Air mata Sarah sudah menetes, perasaan bimbang kini lenyap sudah. Video durasi 1 menit 42 detik itu, berakhir dengan suara ******* dan legukan, diatas sofa, meski dua sejoli itu tidak terlihat jelas. Karena, sebelumnya, mereka berpindah tempat, hingga tidak terekam dalam kamera.
"Kak, maafkan aku." Menggenggam tangan Sarah. "Aku tidak bermaksud, menghancurkan pernikahan kalian. Tapi, aku sama sekali tidak mengetahui, jika kak Ervan sudah menikah."
__ADS_1
Sarah membisu, menangis dengan menumpahkan kekecewaannya. Ternyata, semua omong kosong, baik ucapan Ervan ataupun Alan.
"Apa kau sengaja merekamnya?"
Sarah bertanya, bagaimana pun, rekaman video itu seperti sengaja dilakukan.
"Tidak, kak. Aku sebenarnya, tidak tahu akan kamera yang berada di apartemenku. Aku mengetahuinya, saat orang tuaku menunjukkan ini kemarin. Aku shock, ternyata selama ini mereka diam-diam, menaruh kamera agar bisa mengawasiku. Karena, aku memilih untuk tinggal sendiri di apartemen."
Sarah menopang kepalanya dengan kedua tangan, sambil menunduk. Air matanya jatuh diatas lantai. Perasaan yang sudah hancur, tidak bisa diperbaiki lagi. Adegan dalam video dan suara *******, terekam jelas dalam ingatannya.
Dia adalah pria yang seperti itu. Bajingan yang selalu lari dari tanggung jawab. Hati Sarah memaki dan berkecamuk.
Didepannya, Clarissa masih terisak, tapi senyumnya mulai terukir saat wanita didepannya menunduk dengan linangan air mata.
"Kak, lupakan jika aku meminta untuk melepaskan kak Ervan. Dia cukup bertanggung jawab padaku, aku rela jadi istri keduanya. Bila aku tidak hamil, dia bisa menceraikanku."
Sarah mengangkat wajahnya, menatap Clarissa yang jalan pikirannya, terlalu sederhana.
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?"
"Maaf, Kak. Tapi, aku tidak mau jadi orang ketiga yang menghancurkan pernikahan kalian," lirihnya, kembali menunduk seolah merasa sangat bersalah akan semua hal yang terjadi.
"Pulanglah. Aku akan membicarakannya dengan Ervan."
"Tapi, Kak_"
"Aku tahu maksudmu, tapi itu bukan urusanmu. Aku akan melakukan hal yang menurutku benar."
Clarissa mengalah, bangkit meninggalkan apartemen Sarah. Baru saja pintu apartemen tertutup, raut wajahnya sudah berubah. Bahagia bercampur senang tiada tara.
Tidak rugi, ia mengeluarkan banyak uang, untuk membuntuti Ervan. Selain itu, menyewa seorang ahli untuk mengedit video mereka malam itu.
Setelah, mendapatkan hasil yang diinginkannya, Clarissa bersandiwara didepan orang tuanya, menambahkan bumbu dan air mata dalam cerita. Membuat ibu dan sang ayah murka, hingga menemui orang tua Ervan untuk meminta pertanggung jawaban.
Dengan sedikit, bantuan mereka, maka semua jalan yang akan dilaluinya, menjadi bebas hambatan.
Tinggal satu langkah lagi, membuat pertengkaran hebat hingga pasangan itu memilih untuk berpisah. Ah, sangat mudah dan menyenangkan. Clarissa tersenyum, tidak sabar dengar kabar bahagia esok hari.
Di dalam apartemen, Sarah masih duduk di sofa. Menangis sesegukan, setelah kehadiran Clarissa yang mengacaukan hati dan pikirannya.
__ADS_1
Pengakuan gadis itu dan rekaman video, membuat batinnya terguncang. Begitu, mudah Ervan melakukan hal itu. Habis manis sepah dibuang, begitulah pepatah, untuk menggambarkan sifat sang suami.
Keadaan Clarissa saat ini, begitu sama persis, apa yang terjadi padanya dulu. Pertanyaannya kini, apa ia akan mengalah, demi nasib gadis itu? Lalu, bagaimana dengannya? Bagaimana nasib anak mereka kelak?