CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 11 Semakin terdesak


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Tirta mengajak Ervan berkeliling, bercerita satu sama lain dan memberinya sedikit nasehat. Tapi, kemarahannya belum juga mereda. Pikirannya masih tertuju pada Sarah yang menolaknya dan uang tagihan yang entah berasal dari mana.


“Selamat sore, sayang,” sapa mama melihat putranya melangkah masuk dalam rumah.


Ervan tidak menjawab, sorot matanya terkunci pada seorang gadis yang merangkul tangan ibunya dengan akrab. Gadis itu tersenyum dengan malu, membalas tatapan Ervan kepadanya. Ervan memutar bola matanya, lalu pergi begitu saja, mengabaikan gadis itu yang masih mencuri pandang.


“Ervan.”


“Ma, aku lelah,” jawabnya tanpa menghentikkan langkahnya.


Mama menyerah karena tidak ingin berdebat di depan tamunya. Apalagi, wajah putranya tidak bersahabat hari ini.


Di kamar, Ervan membuka jasnya, menghempaskannya dengan kasar, lalu menginjak-injak meluapkan kemarahannya. Sial, sial! sambil terus mengumpat.


“Kau beruntung karena putramu. Tapi, kau menolakku. Dasar wanita murahan, anakmu saja tidak diketahui siapa ayahnya dan berlagak sok suci didepanku,” ucap Ervan sambil terus menginjak-injak jasnya.


Merasa lelah, Ervan menendang jasnya hingga ke sudut ruang. Melangkah ke tempat tidur, menatap ranjangnya yang kosong, lalu kembali melempar bantal dan guling hingga mengenai tembok.


“Dasar, wanita tidak tahu terima kasih.”


Ervan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya, memejamkan mata sesaat. Lalu, kembali bangkit mengambil bantal dan gulingnya yang tergeletak.


“Sial,’ umpatnya, lalu kembali berbaring.


Pukul tujuh malam, saatnya makan malam. Ervan menuruni anak tangga, menggunakan kaos berwarna hitam dan celana pendek. Ia kembali mengerutkan alisnya, gadis sore tadi masih di sana, terlihat sibuk mengatur meja makan bersama ibunya dan para pelayan.


Ervan menarik kursi dan duduk begitu saja, mengabaikan gadis yang mengambil posisi duduk disampingnya. Kedua orang tuanya, bergabung bersama mereka, membiarkan gadis itu mencari perhatian putranya.


“Siapa namamu?” tanya Ervan akhirnya, membuat orang tuanya tersenyum.


“Saya Clarissa, panggil saja Risa.” Senyumnya sambil melirik.


“Hoh, setelah ini sebaiknya kamu pulang. Saya tidak menyukai perempuan yang agressif dan cenderung menawarkan diri.”


“Ervan,” bentak papa.


Ervan menghentikkan makan malamnya, menyambar gelas jusnya lalu pergi begitu saja. Mengabaikan gadis itu yang tengah meneteskan air mata dan ibunya yang masih memanggil namanya.


“Ervan,” panggil papa yang ternyata menyusulnya menuju kamar.

__ADS_1


“Ada apa, Pa?’


“Apa kamu perlu bersikap seperti ini? Mana sopan santunmu? Clarissa adalah anak teman Papa dan dia wanita yang akan menjadi istrimu, titik.”


“Istri? Papa tidak berhak mengambil keputusan, aku akan memilih sendiri siapa yang akan menjadi istriku.”


“Papa tidak mau mendengar alasan kamu lagi, suka atau tidak suka kamu harus menikah dengan anak teman Papa.”


“Aku tidak mau. Jangan memaksaku, kecuali Papa ingin gadis itu menjadi janda dalam sehari.”


“Ervan, jaga mulutmu!” hardik mama yang ternyata ikut menyusul dalam kamar.


Ervan menyambar kunci mobilnya, berlari kecil menuruni anak tangga, mengabaikan teriakan orang tuanya. Di ruang tamu, Clarissa mencegah langkahnya.


“Minggir,” ujar Ervan dengan dingin


“Kak Ervan, tolong jangan seperti ini. Kasihan tante dan om.” Clarissa bertutur lembut, menyelaraskan wajah polosnya.


“Aku bilang minggir,” Ervan mendorong Clarissa hingga tubuhnya menepi.


Tak lama, terdengar suara deru mesin mobil keluar dari halaman rumah. Ervan mengendarai dengan kecepatan tinggi, pikirannya kalut seperti lilitan benang kusut, ia terus melajukan kendaraannya hingga berhenti di depan rumah sakit tempat Sarah dirawat..


Ervan memutar haluan menuju apartemen Tirta, yang tidak jauh dari rumah sakit. Sepuluh menit perjalanan, Ervan keluar dengan membanting pintu mobilnya. Menekan bel pintu berkali-kali, lalu menendang pintu aparteman Tirta, hingga penghuninya keluar dari apartemen.


“Kau mau merusak pintuku?” tanya Tirta mendapati Ervan dengan wajah menakutkan dan menatapnya dengan menusuk.


Ervan menerobos masuk, dilihatnya Alan sedang bermain Playstation dengan santainya menikmati hidup yang bebas, tidak seperti dirinya. Ervan mengambil joystik milik Tirta, menemani Alan bermain game boxing.


“Hajar dia,” ujarnya sambil terus menekan joystik dengan kuat, seperti akan merusaknya.


Alan menggelengkan kepala, membiarkan Ervan mengalahkannya, jika tidak pria itu akan membanting apa yang sedang dipegangnya. Tak lama, Tirta menghampiri mereka dengan menyajikan minuman bersoda dan beberapa cemilan, Ervan meletakkan joystick dengan asal, lalu meraih gelas sodanya.


“Tirta, suruh anak buahmu menyeret wanita itu kemari,” perintah Ervan setelah meneguk sodanya.


“Van, jangan seperti ini. Kau bisa memaksanya menikah, tapi ia tidak akan bersedia bekerja sama untuk membohongi orang tuamu,” saran Alan.


“Aku kehabisan waktu, Lan. Ayahku sudah memilih calon istri untukku,” ucap Ervan yang sudah frustasi.


Tirta dan Alan saling menatap, Sepertinya Ervan semakin terdesak. Terlihat dari raut wajahnya yang menakutkan dan meluapkan kemarahannya pada benda-benda disekitarnya.

__ADS_1


“Baiklah aku akan membantumu membujuk wanita itu.”


Tirta merogoh ponselnya, menghubungi anak buahnya yang selalu siaga. Menyampaikan perintah sesuai instruksi Ervan, lalu kembali memasukkan ponselnya dalam saku.


“Bagaimana?” tanya Ervan tidak sabar.


“Kita harus menunggu,” jawab Tirta.


Alan memperbaiki posisi duduknya, meneguk sodanya dengan perlahan sambil memperhatikan raut wajah Ervan. Alan meletakkan gelasnya, sambil mencuri pandang. Ingin menyampaikan sesuatu tapi tertahan karena raut wajah pria dihadapannya belum juga berubah.


“Van,” tegur Alan.


“Hemm,” jawab Ervan singkat.


“Apa kamu tidak ingin menerima perjodohan orang tuamu atau menjalin hubungan serius


dengan seorang gadis.”


“Apa maksudmu?” Ervan mengerutkan dahinya.


“Aku merasa apa yang kamu lakukan ini sia-sia,” ujar Alan


“Jangan bertele-tele, Alan. Katakan, apa maksud ucapanmu?”


“Kamu hanya ingin menikah kontrak dengannya, bukankah setelah kontrak selesai orang tuamu akan kembali menjodohkanmu. Kamu hanya menghabiskan waktumu dengan sia-sia dan kamu akan terus melakukan kejadian yang berulang-ulang,” papar Alan yang mencoba membuka cara berpikir Ervan.


“Kamu tahu, kalau aku tidak bisa. Jika aku menikahi wanita yang tidak aku cintai, sama saja aku kembali melakukan kesalahan yang sama. Sampai saat ini, aku sama sekali belum melupakannya. Begitu aku tahu jika ia bunuh diri dalam keadaan hamil, aku seperti ikut mati. Setiap malam aku selalu memimpikan hal yang sama,


Lan. Kamu tahu, kalau aku sangat tersiksa.”


Ervan menutup matanya sambil mencengkam dadanya yang terasa sesak, perlahan air matanya mengalir menjelaskan rasa penyesalannya yang sudah terlanjur mengakar dalam hatinya.


“Maaf, aku hanya ingin kamu bisa hidup dengan tenang, tanpa ada desakan orang tuamu,” balas Alan, mendekati Ervan lalu mengusap punggungnya. “Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi aku berharap kau bisa membujuknya dengan cara yang lembut. Hidupnya juga tidak mudah, karena memiliki seorang anak yang harus ia pertimbangkan.”


Ervan menganggukkan kepalanya, menghapus air matanya lalu memeluk Alan yang sudah seperti saudara baginya. Diantara persahabatan mereka, Alan memang memilki sisi yang lebih dewasa dalam memecahkan permasalahan, meskipun kadang ia lebih banyak bercanda gurau. Setelah menenangkan perasaan masing-masing, mereka kembali mengobrol seperti biasa, lalu sebuah panggilan telepon membungkam mereka secara serentak.


“Angkat,” perintah Ervan kepada Tirta yang lalu menyetelnya dalam mode speaker.


“Pak, wanita itu pergi. Kami sudah mencarinya dikontrakkan, tapi ia sudah pergi siang tadi. Kami masih mencari

__ADS_1


jejaknya.”


__ADS_2