
Ervan sudah tiba di rumah, ditemani dua sahabatnya. Si tukang servis, sebagai pelaku yang mengedit video, disembunyikan dihalaman belakang, begitu juga pria botak yang baru saja tiba.
Izzam yang mendapat telepon dari Tirta, sedang diperjalanan pulang. Ia emosi mendengar Tirta, mengatakan Ervan akan tanggung jawab. Kemarahan bercampur kesedihan juga dirasakan mama, ia bahkan sempat menampar putranya.
"Mau tanggung jawab bagaimana? Aku mau menikahi dia? Bagaimana Sarah dan anakmu?"
"Ma, aku belum bicara apa-apa. Tunggu, orang tua Clarissa datang!"
Sarah sendiri, mengurung diri dalam kamar bersama putranya. Ia keluar, apalagi setelah mendengar pertengkaran anak dan ibu. Ia merasa pernikahannya, mungkin sampai disini saja.
Dihalaman rumah, mobil Izzam baru menepi. Brak! Suara pintu mobil dibanting keras. Pria paruh baya itu, melangkah tergesa-gesa. Bola matanya, menangkap sosok Ervan dengan pose santai menikmati segelas jus bersama dua sahabatnya.
Papa melemparkan jas miliknya, mendarat sempurna di wajah anaknya.
"Papa." Suara Ervan meninggi, ia hampir saja tersedak, saat meminum jusnya.
"Apa?" Izzam sudah maju beberapa langkah, berkacak pinggang. "Mau tanggung jawab? Papa menyuruhmu mencari bukti, bukan menikahinya. Jadi, benar kamu menyentuhnya, iya?"
Tirta dan Alan, bergeser pelan-pelan dari tempatnya, tak lupa membawa minuman mereka.
"Sabar, dong, Pa. Tunggulah, sebentar lagi orang tua Clarissa datang."
"Memangnya, kalau mereka datang kamu mau bilang apa? Kamu mau mempermalukan Papa, dengan mempunyai dua istri."
Adu mulut ayah dan anak itu terhenti, saat pelayan mendekat, memberitahu kedatangan
orang tua Clarissa.
"Suruh masuk!" perintah Izzam.
Sandra yang berada di kamar, diminta keluar begitu juga Sarah. Mereka duduk bersama diruang tengah.
"Jadi, apa benar kau mau bertanggung jawab atas putriku?" Ibu Clarissa bertanya dengan angkuhnya, duduk disamping putrinya yang terus menatap Ervan.
Ervan tidak menjawab, ia justru membalas tatapan Clarissa. Gadis itu tersipu-sipu, dengan senyum yang merekah.
"Risa." Bertanya dengan nada penuh kelembutan, bahkan Ervan tersenyum seolah menginginkan gadis itu.
"Iya, Kak."
"Apa benar malam itu aku menyentuhmu? Aku akan memberimu kesempatan untuk berkata jujur."
__ADS_1
Deg.
Clarissa menegang, senyum di wajahnya perlahan luntur.
"Apa-apaan ini? Kau mau putriku menceritakan kelakuan bejatmu!" Ibu Clarissa bangkit dengan emosi yang sudah meledak.
"Ervan. Sebenarnya apa maumu? Kamu meminta kami berkumpul dan hanya ingin mendengar omong kosongmu." Ayah Clarissa menimpali, membela putrinya.
"Ya, sudah. Jika tidak mau mengaku. Aku tidak akan memaksa." Ervan menoleh kebelakang, tempat Tirta berdiri menunggu perintah. "Bawa mereka masuk."
Tirta mengangguk, lalu memberi isyarat pada anak buahnya.
Clarissa membelalak, melihat salah satu pria yang baru ditemuinya hari ini. Ia meremas ujung pakaiannya, saat ketakutan menjalar secara pelan-pelan diseluruh tubuhnya.
"Siapa mereka?" Ibu Clarissa bertanya sambil menunjuk dua orang pria yang berlutut diatas lantai.
"Ervan, kamu membuat kami bingung?" Mama bertanya, tanpa melepaskan tangan menantunya.
Ervan lagi-lagi mengabaikan pertanyaan mereka. Ia masih memperhatikan Clarissa yang berwajah pucat.
"Aku masih memberimu kesempatan, sebalum mereka membuka mulut. Katakan, apa malam itu, aku menyentuhmu?"
Semua sorot mata tertuju, pada gadis yang terdiam. Clarissa sepertinya masih berpikir, ia tidak mungkin mengaku dihadapan mereka. Orang tuanya pasti marah besar, karena mempermalukan mereka.
"Kak, tunggu!" cegah Clarissa.
"Clarissa, sebenarnya ada apa? Kamu mengenal mereka?" Ayahnya, mulai curiga terhadap putrinya yang gugup. Berbeda dengan ibunya, yang mulai tidak sabaran.
"Cukup, basa-basinya. Kau menghabiskan waktu kami. Sekarang, katakan kau mau tanggung jawab apa tidak?"
Tirta menendang kaki pria botak yang masih berlutut. Memintanya untuk menceritakan semuanya.
"Nona, maafkan saya."
Clarissa membelalak, tidak ada lagi jalan keluar yang tersisa untuknya. Ia mengepalkan tangan erat, menggelangkan kepala, agar pria didepannya tetap bungkam.
"Saya dibayar Nona Clarissa, untuk berperan sebagai pria yang membuntutinya. Hingga Tuan itu, mengantarnya pulang diapartemen." Pria botak menunjuk Ervan, sebagai pria yang mengantar Clarissa pulang.
"Diam kau, aku tidak mengenalmu!" kilah Clarissa dengan teriakkan yang memekakkan telinga.
"Nona, aku masih menyimpan uang yang Anda berikan padaku. Nona juga memberikan aku sebuah kamera, untuk mengedit isi videonya."
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya. Papa, percaya padaku! Aku tidak mengenalnya, Ervan pasti sengaja menyewa mereka. Karena tidak mau bertanggung jawab padaku."
Clarissa sudah menangis, meraih tangan ayahnya, memohon agar sang ayah tidak mendengarkan mereka.
"Diam!" Ayah Clarissa membentak. Tapi. Tidak dengan sang ibu yang masih membela putrinya.
"Rekaman video itu, aku berikan pada temanku untuk diedit karena dia sangat ahli tentang hal ini."
"Saya masih menyimpan rekaman aslinya." Pria yang satunya, berbicara tanpa diperintah. Ia memberikan Ervan sebuah flashdisk.
Tirta mengambil laptop, memberikannya pada Ervan.
"Risa, bukankah sebaiknya kamu jujur sekarang! Terlalu memalukan, jika orang tuamu melihat tingkahmu malam itu!"
Clarissa membeku, dia teringat akan malam itu. Membuang harga dirinya demi mendapatkan Ervan. Ia tidak ragu menanggalkan pakaian dan menawarkan tubuhnya. Jika orang tuanya melihat itu, entah bagaimana ia menanggung kemarahan mereka. Tapi, jika ia mengaku sekarang, rasa malu yang ia akan tanggung seumur hidup, sangat besar.
"Sudah, cukup!" teriak ayah Clarissa. Ia bangkit dengan dengan menatap tajam putrinya. Ia tahu, Ervan tidak sedang mengulur waktu atau berbohong. Ia hanya sedang memberikan putrinya kesempatan, untuk menutup aibnya. Ia menatap Clarissa, dengan napas naik turun menekan emosinya. "Katakan, Clarissa. Apa tidak terjadi sesuatu malam itu? Kamu sengaja menjebak Ervan agar mau menikahimu?"
"A ... aku, ...."
Plak.
"Memalukan."
"Papa, apa-apan kamu. Kenapa menampar putri kita?"
"Diam," bentak ayah Clarissa. "Ini semua, karena kamu terlalu memanjakannya!"
Ayah Clarissa, maju beberapa langkah, masih dengan emosi yang belum reda.
"Aku minta maaf, atas kelakuan putriku. Aku akan mendidiknya dengan baik. Tolong, masalah ini, sampai disini saja!" Ayah Clarissa menundukkan kepala kepada keluarga Izzam.
Sang istri yang melihat suaminya, tidak terima. Mereka berasal keluarga kaya dan setara dengan keluarga Ervan. Untuk apa, menundukkan kepala, kepada keluarga kurang ajar yang telah menyakiti putrinya.
"Papa." Ibu menarik tangan suaminya. "Apa kau gila? Mereka menyakiti putri kita dan kau meminta maaf."
Ayah tidak menggubris, ia langsung keluar dari rumah itu. Sementara, sang istri menyusul sambil memanggilnya.
"Masih ada, yang kau mau katakan?"
"Kak, maafkan aku. Aku melakukannya, karena sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Ini kesalahan pertamamu, Clarissa dan aku akan melupakannya sampai disini. Tapi, jika kau bertingkah lagi, aku akan menyebarkan video asli kita."
Clarissa menganggukkan kepala dengan air mata yang bercucuran. Ia juga meminta maaf pada orang tua Ervan, begitu juga pada Sarah. Ia akhirnya keluar rumah, menyusul kedua orang tuanya.