
Hari itu, semua kembali berjalan normal. Alinna sudah mengikuti orang tuanya pulang. Dan Alan merasa lega, karena tidak perlu lagi dilanda kecemasan.
Bekerja seperti biasa, hingga waktu jam pulang.
"Dia, kita makan siang, diluar, yuk?" ajak Alan.
"Ini sudah sore."
"Tidak, apa. Anggap saja, permintaan maaf ku."
Dia mengangguk. Ia membiarkan Alan menggandeng tangannya, masuk dalam mobil.
"Kita ke cafe, saja."
Sepanjang jalan, Alan mulai menceritakan perihal adiknya. Gadis kecil, yang membuat kedua orang tuanya malu.
"Mungkin, dia menyukai, sekretaris Tirta." Zia mengutarakan pendapatnya.
"Tidak mungkin, Zi. Mereka baru pertama kali bertemu. Aku mengenal adikku. Dia dendam pada Tirta, yang mengacaukan rencananya."
"Lalu, sekarang bagaimana?"
"Dia sudah pulang, ke rumah. Mungkin, ayah akan mengirimnya ke luar negeri."
"Siapa yang akan mengawasinya disana?"
"Paman dan bibiku, tinggal disana. Mereka akan menjaganya."
"Syukurlah."
Mereka sudah tiba. Cafe dengan nuansa alam. Alan melepas jas putihnya, begitu juga dengan Zia.
"Mau pesan apa?" tanya Alan.
Zia memperhatikan buku menu. Waitress berdiri menunggu dengan sabar.
"Aku ingin kopi latte dan roti bakar dengan krim diatasnya."
"Aku sama."
Waitress pergi, setelah mencatat menu pesanan.
"Sekretaris Tirta, bagaimana?"
"Biasa saja. Oh, ya. Aku mau mengatakan sesuatu."
Zia terdiam, dengan irama jantung tidak beraturan. Apa ini? Apa dia akan menyatakan perasaannya? Dia tetap berusaha tenang, menahan gejolak hati.
Beberapa, waitress tiba-tiba datang. Ada yang membawa kue dan buket bunga. Suara musik romantis, juga terdengar, padahal beberapa menit yang lalu, masih terasa hening.
Alan bangkit dan berlutut didepannya. Salah satu tangannya, memegang sebuah kotak beludru berwarna merah.
Zia sudah merona. Matanya terasa panas karena terharu. Ia menutup mulut, dengan kedua tangannya. Saat Alan, membuka kotak itu.
"Menikahlah denganku!" Alan menggengam tangan Zia.
Para waitress bersorak ria, sambil berseru agar Zia mau menerima lamaran itu.
Deg, deg, jantung Zia sudah mau pecah saking bahagianya. Air matanya, juga menetes karena rasa haru.
"Apa jawabanmu sayang?"
"Iya. Ayo, menikah." Semua bersorak bahagia. Alan menyematkan cincin di jari manis, Zia. Selanjutnya, ia memberikan buket bunga.
__ADS_1
"Aku akan membawamu, menemui orang tuaku, minggu depan."
Kue sudah diletakkan diatas meja, begitu juga dengan pesanan mereka sebelumnya.
Zia masih berbunga-bunga dengan kejutan, yang ia dapatkan. Jika dipikir, Alan tidak punya waktu untuk mempersiapkannya.
"Kamu menyukainya?" tanya Alan. Sebab, Zia masih memperhatikan cincin di jari manisnya.
"Aku seperti mimpi. Aku pikir, kamu belum berpikiran ke arah sana."
"Aku sudah menyukaimu sejak awal. Hanya saja, kamu selalu menghindar, bahkan membenciku tanpa sebab."
"Maaf. Aku terlalu mendengarkan orang lain, tanpa bisa melihat ketulusanmu."
"Siapa?"
"Dia sepupuku. Seorang perawat, di IGD. Katanya, kamu mempermainkannya begitu saja. Setelah, aku perhatikan. Mungkin, dia salah paham akan sikapmu padanya."
"Sebab, itulah aku berubah."
Senyum-senyum, dengan malu-malu. Seperti kucing. Zia tidak berhenti tersenyum. Hari ini, adalah hari paling membahagiakan untuknya.
Dari Cafe. Keduanya, lanjut untuk nonton bioskop. Mengukir kenangan, dihari yang membahagiakan.
Alan mengantri membeli tiket. Sementara, Zia membelikan mereka minuman dan pop corn.
Drt, drt, drt.
"Halo, ayah."
"Dua hari lagi, adikmu berangkat. Kamu harus pulang, untuk mengantarnya ke bandara."
"Baik. Aku juga ingin memperkenalkan seseorang."
"Jangan sekarang!" Suara tegas ayah yang penuh penekanan.
"Kenapa?"
"Baik. Aku mengerti."
Sambungan terputus. Alan mendapat giliran membeli tiket.
"Sudah?" tanya Zia dengan tangan penuh.
"Sudah," jawab Alan, yang mengambil dua pop corn dari tangan Zia.
"Wah, kalian berkencan?"
Suara yang terdengar sangat familiar dan insting Alan, berkata untuk menghindar.
Kenapa si gunung es, berada disini?
"Selamat malam, dokter Alan," sapa Sarah.
"Malam, kakak ipar. Kenalkan, dia dokter Zia. Calon istriku!" Zia mengulurkan tangannya yang disambut Sarah.
"Uuuuu.... calon istri!" Ervan terkekeh.
Dia istri CEO? Cantik, sangat cantik. Pantas saja, dia tidak tergoda dengan wanita manapun.
Zia diam-diam memperhatikan Sarah. Rambut kecoklatan yang tergerai lurus. Kulit putih bersinar. Alis tebal dengan bulu mata yang lentik. Perfect!
"Kalian sedang apa, disini?"
__ADS_1
"Pa-ca-ran." Ervan mengeja satu per suku kata. "Sebentar. Dia calon istrimu? Kau sudah melamarnya? Kenapa tidak bicara denganku?" protes Ervan yang merasa tidak dianggap.
"Memangnya, kau ayahku!"
"Sudah-sudah. Ayo, masuk!" ajak Sarah, yang melerai perdebatan.
"Kalian tidak membeli tiket?"
"Kenapa aku harus beli? Tempat ini milikku!"
Cih! Dia pamer. Alan memutar bola matanya. Sungguh sial, ia bertemu Ervan. Acara kencannya, bisa berantakan.
Mereka duduk bersebelahan, di kursi paling depan. Seingat Alan, ia mendapat kursi dibelakang.
"Cepat, berterima kasih padaku!" Ervan sudah menagih janji. Padahal, tidak ada yang memintanya, melakukan hal itu.
"Untuk, apa? Aku, kan tidak minta!"
"Oooo... kau_"
"Diam!" bentak Sarah dengan setengah berbisik. "Filmnya sudah mau dimulai."
Ervan langsung menutup mulut. Menyandarkan kepalanya dibahu sang istri. Dia dalam mode manja.
Zia tersenyum simpul. Sungguh, CEO yang terkenal pemarah dan dingin. Berubah seperti anak kecil, jika bersama istrinya.
Kesialan Alan, dimulai.
"Beri aku minuman dan pop corn."
"Itu milikku," protes Alan. Saat Ervan mengambil minuman dan pop cornnya yang belum ia sentuh.
Dengan santainya, Ervan memberikan minuman itu pada Sarah. Seolah-olah, dia yang membelinya.
Alan mengalah, karena tidak ingin berisik ditempat ini. Ia terpaksa berbagi minum dan pop corn dengan Zia.
Asyik menonton, dengan posisi yang membahagiakan. Seperti dunia milik berdua dan yang lainnya hanya ngontrak. Sarah menyadarkan kepala dibahu sang suami. Ervan mengelus rambut sang istri, sembari mengecup. Tidak peduli, dengan manusia disekitarnya.
"Angkat!" perintah Ervan pada Alan, yang duduk di sampingnya. Dia memberikan ponselnya.
"Kenapa harus aku?" bisik Alan. "Aku bukan sekretarismu." Alan membiarkan Ervan terus memegang ponselnya.
"Begitu, yah! Menarik kembali tangannya. "Aku akan membuatmu jadi pengangguran, hingga gagal menikah."
"Sialan!" Dengan cepat Alan, menyambar ponsel itu. Berjalan keluar, dengan cepat.
Setelah, beberapa menit dia kembali.
"Tirta," ucap Alan dengan berbisik, lalu mengembalikan ponsel. "Periksa emailmu. Ada beberapa yang harus segera dibalas."
"Cih. Kenapa dia masih bekerja saat malam?"
Alan hanya mengangkat bahu tidak peduli. Sudah cukup, ia menjadi sekretaris dadakan.
Ervan fokus pada tabletnya. Tapi, masih mempertahankan posisinya, agar Sarah tidak terganggu.
"Kenapa?" tanya Alan kepada Zia.
"Dia lucu."
Alan menoleh pada Ervan. Yah, dia lucu kalau sedang dalam mode diam. Kumohon, cepatlah pulang!
Mungkin, sudah selesai. Ervan memberikan tabletnya pada Alan.
__ADS_1
"Pegang. Tanganku lelah."
Wah, Alan emosi. Apa seperti ini, posisi Tirta? Rasa ingin memukul dan menendang orang, tapi tertahan karena slip gaji.