
Keesokan harinya, tiga orang pria yang sudah membuat janji, bertemu di sebuah swalayan.
Tirta mendorong keranjang, sementara Alan dan Ervan mencari bahan yang akan mereka masak.
"Bukankah itu terlalu sedikit?" protes Alan, yang melihat sebungkus daging. "Tambah lagi."
Ervan mengambil sepuluh bungkus, lalu memasukkannya dalam keranjang.
"Kita butuh apa lagi?" tanya Ervan kepada Alan yang memegang catatan belanja mereka.
"Bawang bombai, paprika warna-warni, bla ... bla...." Alan terus menyebut bahan makanan.
"Bukankah kita akan membuat stik?" sela Tirta.
"Kita akan belanja untuk keperluan Sarah sekalian."
"Hooo."
Ketiganya sibuk memasukkan bahan dalam keranjang, sesuai dalam catatan yang dibuat Alan.
Setelah selesai, mereka beralih pada rak bumbu.
"Kecap manis, kecap asin, kecap inggris, sa ...."
"Kenapa begitu banyak jenis kecap? Bukankah satu kecap sudah cukup?"
Ervan menyela, karena bingung dengan kecap yang ternyata memiliki banyak varian rasa.
"Hei, aku tidak tahu. Ini sesuai catatan dan aku hanya mengikutinya."
"Memang, siapa yang menulisnya?"
"Bibik di rumah," jawab Alan.
Mereka kembali mencari bumbu, setelah berdebat gara-gara kecap.
"Selanjutnya, saus tomat, saus tiram, saus sambal, saus teriyaki, sa ...."
"Lagi??" Ervan dan Tirta menyela bersama. Mereka kembali bingung, apalagi warna saus terlihat sama di mata mereka.
"Ini saus tomat atau sambal, keduanya berwarna merah. Ini lagi!" Ervan mengambil saus tiram dan teriyaki. "Ini seperti kecap."
"Kenapa kalian selalu bingung? Lihat saja kemasannya." kesal Alan.
Cukup lama mereka terjebak di rak bumbu, akhirnya mereka berjalan menuju kasir.
"Apa kita tidak membeli buah?"
Tirta asal bertanya, karena melihat beberapa ibu-ibu membeli buah dalam keranjangnya.
"Ah, iya, buah."
Ketiganya kembali mendorong keranjang, menuju tempat buah.
"Ambil semua," titah Ervan.
Mereka pun mengambil semua jenis buah, dan memasukkannya.
Ketiganya mengantri di meja kasir, padahal satu orang sudah cukup.
"Apa kamu sudah menyiapkan kalimat terbaikmu?"
Alan mengambil posisi duduk, disebelah Tirta yang akan mengemudi.
"Sudah. Aku bahkan sudah latihan berkali-kali semalam."
"Biarkan aku mendengarnya!"
Ehem! Ervan berdehem sebelum memulai.
__ADS_1
"Sarah,"
"Pergi kau!" lanjut Alan yang berperan sebagai Sarah. Bahkan, mengganti suaranya seperti wanita.
"Maafkan aku. Aku sangat menyesal karena tidak mengenalimu."
"Tidak, aku tidak mau dengar. Pergi kau dari sini." Suara dan ekspresi Alan yang mencoba menggambarkan situasi, membuat Tirta berusaha menahan tawa.
"Aku mohon dengarkan aku."
"Pergi, aku bilang pergi."
Plakk!
"Buahahahahha....." Suara tawa Tirta meledak, saat Ervan mendaratkan pukulan di kepala Alan.
"Kau akan memukulnya, jika terus menolakmu. Begitu?"
"Aku mual melihat ekspresimu."
"Hahahaha ....." Tirta menepikan mobil, tidak sanggup melihat drama disampingnya.
"Hei, aku hanya sedang berperan menjadi dirinya. Bagaimana jika ia terus menolakmu?"
"Ah, sudahlah. Kamu membuatku ingin muntah."
Tirta kembali melaju, setelah drama dua penumpangnya selesai. Sepanjang jalan, Alan terus berceramah tentang hal yang perlu dilakukan Ervan, saat bertemu Sarah.
"Ingat, cukup dengarkan dia. Biarkan dia memakimu, sampai perasaannya lega."
"Aku mengerti."
"Jangan mencari alasan pembenaran atas sikapmu."
"Aku mengerti."
Dua orang yang terlibat pembicaraan panjang, tidak menyadari jika mereka sudah tiba diparkiran.
Sudah didepan pintu, mereka belum menekan bel. Ketiganya tampak tegang, bahkan Alan yang dari tadi memberi nasehat, tampak bingung.
"Ervan, tekan belnya."
Ervan menarik napas, sedangkan, Alan dan Tirta sedang mengatur barisan.
Bunyi bel terdengar, ketiganya seperti menahan napas.
Bukalah pintu bersama si kecil. Kami mohon.
Ceklek! Pintu terbuka.
Sarah menggendong anaknya, menatap tiga orang pria berdiri dengan barang bawaan masing-masing.
"Papapapa,"
Si kecil merentangkan kedua tangannya, meminta Ervan memeluknya.
"Oh, sayangku. Papa merindukanmu."
Sarah mundur, membiarkan mereka masuk, meski merasa canggung dengan situasi ini.
"Kami membawa barang."
"Letakkan di dapur saja, dokter."
Alan dan Tirta menuju dapur, meletakkan barang diatas meja dan membukanya.
"Ini apa, dokter?"
"Kami mau makan malam disini. Kamu tidak keberatan, kan. Jika kami menggunakan dapurmu."
__ADS_1
"Sama sekali tidak, dokter."
"Terima kasih. Pergilah, temani si gila itu, dia sudah hampir kehilangan kewarasan, karena tidak melihatmu."
Baru saja, Sarah hendak melangkah, Ervan sudah muncul di dapur bersama si kecil.
"Babababa...."
Si kecil merentangkan tangannya pada Alan, yang kemudian memeluknya.
"Maaf, paman lupa membelikannya."
"Memang dia meminta apa?"
"Es boba."
"Buaahahahaha...." tawa Tirta kembali meledak, tidak masuk akal dengan jawaban Alan. Mana mungkin, bayi sekecil itu meminta es boba.
"Kalian tidak percaya?"
"Sayang, baba itu boba, kan?"
"Babababa..."
"Kalian dengarkan sendiri!"
"Hahahaha...." Ervan geleng-geleng kepala, bahkan tanpa sadar merangkul pinggang Sarah yang berdiri disebelahnya.
"Kenapa, aku benarkan?"
Alan tetap bersikukuh.
"Kalian lanjutkan saja, aku ke depan dulu beres-beres."
Sarah melepaskan tangan Ervan.
"Susul dia, bodoh!"
Alan setengah berbisik, lalu Ervan secepatnya menyusul langkah Sarah.
"Sarah."
Ervan meraih tangannya.
"Jangan sekarang! Aku tahu, kita perlu bicara, tapi, tidak sekarang. Aku masih butuh sendiri."
Ervan tidak menyerah, ia kembali mengikutinya masuk dalam kamar. Tanpa aba-aba, ia memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu. Dua tahun ini, aku seperti orang gila karena kehilanganmu."
Sarah tidak menjawab, ia membiarkan Ervan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Aku mencarimu, Sarah. Tapi, wanita yang tinggal di rumah kalian mengatakan kau sudah mati bunuh diri, karenaku."
Air mata Ervan menetes, ia memutar tubuh Sarah agar menatapnya.
"Aku pikir, kau sudah mati. Aku pikir kau sudah meninggalkanku dan tidak akan kembali. Aku minta maaf, karena tidak mengenalimu."
Sarah ikut menangis, bibirnya kelu untuk menjawab. Ia tidak menyangka wanita rentenir itu, mengatakan hal bodoh kepada Ervan. Meski, mereka membencinya, tapi mengapa harus menganggapnya mati, bahkan bunuh diri.
"Tolong, maafkan aku Sarah. Aku tahu hidupmu tidak mudah, biarkan aku menebusnya sampai akhir hidupku. Tolong, kembalilah."
Sarah terisak, bahkan memeluk Ervan. Ia menenggelamkan wajah didada suaminya.
"Maafkan aku, aku mohon."
Ervan masih terus memohon maaf. Ia membalas pelukan sang istri dengan erat.
Meninggalkan dua orang yang tengah bermaaf-maafan dalam suasana romantis. Alan dan Tirta sibuk didapur, untuk membuat stik. Dua orang jomblo, yang sama sekali tidak bisa memasak. Mereka mengandalkan ponsel, untuk menonton video melalui youtube.
__ADS_1
Alan pekerjaannya dua kali lipat, karena harus mengawasi si kecil yang bermain diatas kereta bayinya. Sementara, Tirta sedang memotong kentang. Jika dilihat, Tirta sudah hampir menghabiskan kentang yang mereka beli. Karena selalu mengulangi, jika potongan kentangnya tidak sesuai dalam video.
Alan memberi bumbu pada daging, anak matanya melirik pada si kecil yang masih bermain. Entah berapa banyak garam dan bumbu yang ia berikan, karena mata dan pikirannya tertuju pada hal lain.