
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Tirta.
Saat ini, mereka sedang nongkrong disebuah cafe, menjelang sore.
"Aku tidak mau menundanya lagi. Dia wanita yang tepat untuk mendampingiku." Alan menatap keluar, memperhatikan padatnya lalu lintas.
"Orang tuamu?"
"Mereka pasti setuju. Dari dulu, mereka menginginkan menantu yang juga seorang dokter."
Alan menoleh, menatap Tirta. Sahabat yang selalu meluangkan waktu untuk menemuinya, ketika diminta. Ervan jangan tanyakan dia. Pria sok sibuk, memilih pulang cepat. Katanya, Sarah merindukannya.
"Kau sendiri, apa rencanamu?" lanjut Alan.
"Aku?" Tirta menunjuk dadanya. "Rencana apa?"
"Menikah."
Uhuk!
Tirta tersedak ludahnya sendiri. Menikah dengan siapa? Pacar saja, tidak punya.
"Apa kau tidak salah, bertanya padaku? Menikah dengan siapa? Burung hantu?"
Alan terkekeh. Tirta tidak pernah berpacaran. Ia hanya sibuk belajar dan belajar. Wanita lalu lalang dihadapannya, hanya dilihat sekilas.
"Mau ku jodohkan? Banyak dokter yang masih single."
"Tidak, terima kasih. Aku masih ingin sendiri. Kebanyakan wanita, terlihat merepotkan dan aku tidak suka itu."
Alan meminum jus jeruknya sampai tandas. Langit sudah gelap dan lampu penerang jalan sudah menyala. Ia teringat, akan janji makan malam, bersama Zia.
"Kita pulang. Aku tidak mau terlambat."
"Kemana?"
"Makan malam."
Alan sudah berjalan lebih dulu, sementara Tirta, masih mengaduk jus alpukatnya, yang masih setengah gelas. Ia tidak ingin pulang sekarang, lagi pula tidak ada yang menunggunya di rumah.
Menikah?
Tirta tidak pernah memikirkan itu. Ia hanya ingin bekerja, mengumpulkan uang dan menikmati hidupnya. Wanita? Mahluk Tuhan, yang belum pernah ia pikirkan.
Kembali mengaduk jus alpukatnya, sembari mendengarkan musik pop, yang seolah menenangkan hatinya.
Hah. Tirta menarik napas panjang. Bangkit, setelah kebosanan menghampiri. Ia berjalan menuju parkiran, masuk dalam mobil.
Sepanjang jalan, Tirta mengemudi dengan musik yang menjadi temannya. Ia melaju menuju apartemen Alan. Ia.lebih baik pulang kesana. Bermain game sembari menunggu.
"Kau disini?" tanya Alan yang baru hendak keluar, menemukan Tirta berdiri didepan pintu apartemennya.
"Hmm," jawab Tirta singkat dan langsung menerobos masuk.
"Tunggu, didalam ada _"
Alan belum menyelesaikan kalimatnya, Tirta sudah mematung menatap seorang gadis belia, duduk diatas sofa.
"Dia adikku," ujar Alan.
Tirta memperhatikan gadis yang juga menatapnya tajam. Rambut pendek, kulit putih dan mata bulat. Ia memegang cemilan, dengan layar tv menyala.
"Siapa?" tanya gadis itu, tapi sorot matanya masih terkunci pada Tirta.
"Dia temanku."
__ADS_1
Tirta langsung memutar badan. Berjalan menuju pintu. Lebih baik dia pulang.
"Apa teman kakak takut perempuan?"
Sontak Tirta berhenti. Ia menatap Alan, yang sudah siap dengan kemejanya.
"Jangan dengarkan, dia! Adikku sedikit, yah, begitulah!" jawab Alan, yang sebenarnya memberikan Tirta isyarat, agar segera pergi.
Tirta kembali memutar badan. Raut wajahnya sudah disetel menjadi berbeda, seperti ketika berada di perusahaan.
"Hallo, kakak tampan!" Gadis itu, sudah mendekat, menarik tangan Tirta untuk menerima uluran tangannya. "Namaku Alinna."
Tirta tidak menjawab. Ia hanya menatap Alan, meminta penjelasan.
"Alin." Alan menarik adiknya menjauh. "Dia teman Kakak."
"Memangnya, kenapa? Aku hanya ingin berkenalan." Kembali melangkah, kali ini Alinna menarik Tirta, duduk disofa.
"Kakak bisu, yah? Atau tidak punya nama?"
Alan menarik napas panjang. Bisa-bisa, acara makan malamnya gagal. Bukan karena, mengkhawatirkan adilknya, melainkan sahabatnya.
"Tirta," jawab Tirta akhirnya, yang masih mencermati sifat adik Alan yang sedikit berbeda.
"Tirta, ayo, kita pergi!" ajak Alan, yang sudah menarik tangan Tirta agar segera bangkit.
"Bukannya, Kakak ada acara makan malam? Biarkan, Kak Tirta menemaniku." Menatap Tirta dengan mata berbinar penuh harap. "Iya, kan, Kak?"
"Tidak. Aku lebih baik pulang." Tirta sudah bangkit, menepuk bahu Alan, sebelum membuka pintu.
"Alin, kunci pintunya. Kakak akan pulang terlambat, jangan membuka pintu untuk sembarang orang."
Sang adik tidak menjawab, ia hanya mengangguk dengan malas.
Alan keluar dari apartemen, mengejar Tirta yang masih menunggunya didepan pintu lift.
"Dia memang sudah besar dan membuat orang tuaku, stress."
"Kenapa?"
Alan menarik napas panjang. Sebenarnya, dia sedang malas membicarakan adiknya. Yang mungkin, akan menghabiskan waktu berjam-jam.
Pintu lift terbuka. Mereka melangkah menuju kendaraan masing-masing.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul? Aku pikir kau akan pulang ditempatmu."
"Aku bosan dan berencana menunggumu. Tapi, sudahlah. Aku pulang."
Tirta melambai, sebelum masuk dalam mobil. Ia masih berdiam diri, berpikir keras untuk pulang ke apartemennya. Mobil Alan sudah melaju, membunyikan klakson, sebelum mobil itu menghilang.
Ia tidak punya tujuan lain, selain tempat ini. Ke rumah Ervan? Oh, lebih baik tidak sama sekali.
Mesin mobil sudah dinyalakan, ia juga sudah memasang seatbelt.
Tiba-tiba,
"Kak Tirta, buka!"
Gadis kecil itu, memukul-mukul kaca mobil.
"Kenapa?" Tirta menurunkan kaca, hingga setengah.
"Kak, antar aku, yah. Aku mau bertemu teman-temanku."
"Naiklah."
__ADS_1
Tirta melirik gadis yang duduk disampingnya. Menggunakan dress mini, dengan panjang, diatas lutut. Bagian dada sedikit terbuka.
"Kau mau kemana, dengan pakaian begitu?"
"Bertemu temanku diclub."
Cekiiittt.
Tirta berhenti mendadak, hingga Alin, hampir terbentur.
"Ada apa, Kak?"
"Club? Berapa usiamu?" Suara Tirta sudah meninggi. Bagaimana bisa, ia membiarkan adik sahabatnya yang masih ingusan pergi ke club dengan pakaian minim.
"Apa sih, Kak! Aku sudah dewasa. Aku sudah lulus sekolah. Aku mau bertemu teman-temanku, sebelum berpisah untuk kuliah."
"Ck!" Tirta kembali melaju dengan kencang.
Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya aneh sekali?
"Kak, kita mau kemana?" Alin memperhatikan, jalur yang dilalui Tirta.
"Pulang," jawab Tirta, tanpa menoleh. Gadis kecil ini, ternyata seorang pemberontak. Pantas Alan, berkata jika orang tuanya stres menghadapi adiknya.
"Turunkan, aku. Sialan!"
Tirta tidak peduli, ia tetap melaju dengan tenang. Menutup pendengarannya dari umpatan, gadis disampingnya.
Alin mengedarkan pandangan. Sebuah tempat, yang menurutnya adalah sebuah parkiran.
"Turun!" Tirta sudah membuka pintu untuknya.
"Kau mau membawaku, kemana? Hah!"
Lelah menunggu. Tirta langsung memikul Alin seperti karung beras. Tidak peduli dengan teriakan gadis itu.
"Lepaskan, aku, sialan! Aku akan melaporkanmu pada kakakku. Dasar, laki-laki stress!"
Brukk.
Alin mendarat diataa sofa. Ia mengaduh kesakitan, karena tidak siap.
"Dimana ini?"
"Apartemenku."
"Kenapa kau membawaku kesini?"
"Diam dan tunggu, Kakakmu. Aku akan menelponnya."
Mata Alin sudah melebar. Bisa-bisa, ia gagal kuliah dikota ini. Alan dan orang tuanya, pasti akan mengirimnya keluar negeri dengan pengawasan ketat.
Ah, sial! Kenapa juga, ia meminta sahabat kakaknya untuk mengantar. Dia pikir, Tirta orang yang bisa diajak kompromi dan tidak peduli.
Tunggu, aku! Aku pasti akan membalasmu!
Disudut ruangan, Tirta sedang menelpon Alan. Dengan, mata yang tidak lepas dari pengawasannya.
"Alan akan segera pulang. Sebaiknya, kau duduk diam dan menunggu!"
Tirta berjalan menuju dapur, membuka kulkas. Ia mengambil minuman kaleng dan botol air mineral.
"Minumlah. Aku tidak punya apa-apa, selain itu."
Alin tidak menggubris. Ia membisu dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Pria dingin, seperti mu, harus dibalas dengan cara apa, yah! Dia pasti tidak dekat dengan wanita. Kalau begitu, hahahaha.....