
Di apartemen Alan.
Pria itu, masih bingung dengan barang-barang dalam apartemennya. Mau di kemana kan semua barang-barang ini. Zia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa bersalah, pada Alan. Karena, semua ini berawal darinya.
"Aku minta maaf. Aku pikir CEO akan menerima barang-barang itu."
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu."
Ini memang bukan salah, Zia. Hanya Ervan lah, yang otaknya mungkin tidak sejajar. Pria penguasa yang selalu seenaknya dan tentu saja, tidak ada yang akan mengetahui sifat aslinya, selain Alan dan Tirta.
"Sekarang, bagaimana?" Zia mengedarkan pandangannya. Apartemen ini, jadi penuh sesak. "Bagaimana kalau kita menjualnya saja?"
Itu satu-satunya, solusi yang terpikirkan oleh Zia. Karena, ia pun tidak bisa menampung barang-barang itu. Bisa-bisa, kondisi apartemennya menjadi seperti ini.
"Tunggu, sebentar!"
Alan meraih ponselnya, menghubungi Ervan. Tersambung, tersambung, tapi tidak diangkat. Ia beralih, menghubungi Tirta.
"Kau ada dimana?"
"Di jalan, menuju perusahaan. Ada apa? Kau sudah pulang? Kenapa baru menghubungiku?"
Alan menghela napas. Kenapa juga, dia bertanya begitu banyak? Apalagi, nada suaranya seperti sedang marah.
"Kenapa pertanyaanmu, banyak sekali?"
"Tentu saja. Kau menghilang selama seminggu dan tidak menghubungiku. Apa kau tidak memikirkan nasibku, bersama Ervan? Bahkan, si gunung es itu, mengajakku mendaki bukit untuk mencarimu."
"Maksudnya, kenapa kalian mencariku dibukit?"
"Karena, Ervan berpikir kau bunuh diri, karena putus cinta."
Alan tergelak. Kenapa juga Ervan berpikir sejauh itu? Apa aku terlihat putus asa?
Zia yang mendengar tawa Alan, maju selangkah Ia penasaran, karena Alan menelpon sembari menatap ke arahnya.
"Kalian gila, yah?" Kembali tertawa dan tidak menyadari keberadaan Zia yang sangat dekat disampingnya. "Pulang nanti, mampir ke mari."
"Baiklah."
Sambungan terputus. Alan tersentak dengan wajah Zia yang hanya berjarak beberapa centi saja.
Ah, sial. Dia sangat cantik, jika dekat begini. Jangan berdetak cepat, sialan. Kau membuatku gugup.
"Bagaimana?" Entah Zia sadar dengan posisinya atau tidak. Bahkan, Alan tidak mampu menatapnya.
"Hah? Oh, itu. Ya, begitulah!"
Alan terbata, mundur selangkah. Jantungnya yang berdetak dengan cepat, membuat otaknya tidak sinkron. Ia bingung harus menjawab apa.
Ah, aku lupa memarahi Tirta.
Karena fokus mendengar curhatan Tirta, Alan jadi lupa, tujuan ia menelpon sahabatnya.
__ADS_1
Zia sendiri, menatap Alan bingung. Apanya yang begitulah? Jawaban, yang entah apa maksudnya, iya atau tidak, pikirnya.
"Ah, maaf. Aku sedang tidak fokus." Alan berdehem. "Mengenai barang-barang ini, aku serahkan padamu. Karena, ini milikmu. Jika mau menjualnya, aku akan membantu."
"Apa kamu punya solusi lain yang lebih cepat?"
Menjual barang, tentu tidak akan laku secepat itu. Perlu waktu. Sementara, keduanya ingin apartemen ini, kembali seperti dulu.
"Solusi lain?" Alan pikir-pikir dulu, tapi akhirnya hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Kita menjualnya saja."
"Baik, terserah kamu. Aku harap, semuanya segera beres dan apartemen mu kembali seperti semula."
"Aku akan meminta bantuan seseorang, untuk mengurusnya." Alan tersadar akan sesuatu. "Ah, maaf. Aku lupa membuat minum. Tunggu sebentar!"
"Tidak usah. Aku pulang saja. Ini sudah siang."
"Ah, oh, baiklah. Biar aku antar."
Akhirnya, Alan mengantar dokter Zia, meski apartemennya berada di gedung sebelah. Keduanya, sudah berada dalam mobil. Alan melaju dengan lambat.
Zia meliriknya, ia bingung harus membicarakan apa lagi. Keduanya, hanya membisu, sejak dalam mobil. Jujur saja, perasaanya saat ini, bercampur aduk. Dan Zia tidak mengerti. Mengapa aku senang melihatnya dan jantungku berdegup?
"Sudah sampai?" Alan memarkir mobil dalam basement.
"Terima kasih. Kamu mau masuk?"
Astaga, Zia. Kau gila, kenapa kau mengajaknya masuk?
"Masuk?"
"Ah, maaf. Aku akan mau mengajak mu makan siang. Karena, sepertinya kamu tidak bisa memasak, dengan keadaan dapurmu."
Dasar, bodoh. Alasan, apa itu, Zia. Dia kan bisa makan diluar atau memesan. Kenapa kau begitu perhatian?
Batin Zia, kembali mengutuk kebodohan, pikirannya. Ia juga bingung, kenapa harus berbasa basi seperti ini. Sikapnya saat ini, seperti bukan dirinya yang dingin dan membenci Alan.
"Baiklah, terima kasih."
Hanya orang bodoh yang akan menolak kesempatan ini, pikir Alan. Lagi pula, wanita itu sendiri yang menawarkan.
Keduanya berjalan, masuk dalam lift. Membisu dengan jarak yang saling menjauh. Hanya, lirikan mata keduanya, yang tak sengaja saling bertemu.
Pintu lift terbuka, Zia berjalan lebih dulu. Membuka pintu, untuk mereka.
"Silahkan masuk."
Alan mengangguk. Ia tidak duduk di sofa, melainkan mengikuti Zia menuju dapur.
"Kau mau apa?"
"Aku akan membantumu. Kamu mau memasak apa?"
"Aku lihat dulu."
__ADS_1
Zia membuka kulkas, mengeluarkan sayuran dan daging ayam.
"Ayam goreng dan tumis brokoli. Apa kamu menyukainya?"
"Tentu."
Keduanya, berdiri berdampingan. Alan memotong sayuran, sedangkan Zia membumbui ayamnya.
Terdengar suara minyak gemericik. Aroma bumbu yang menyeruak, memenuhi dapur.
"Kamu sering memasak?" tanya Alan, yang sedang mencuci tangan.
"Iya." jawab Zia tanpa menoleh. Ia sedang fokus membalik ayam gorengnya.
"Biar aku. Selesaikan saja, tumis sayurnya."
Mereka berganti posisi. Tak menyadari, tangan mereka yang bersentuhan dan tubuh yang merapat tanpa sengaja. Hingga, keduanya mematung dengan pandangan saling terkunci.
Deg, deg.
Detak jantung, yang tak beraturan dari keduanya. Alan tersadar, segera memalingkan wajah.
Woi, sadar bodoh! Ini dapur!!
Setelah menguasai diri, Alan berpijak mengatur meja. Meletakkan piring, sendok dan gelas berisi air putih.
Zia mengantar makanan yang sudah siap. Ayam goreng mendarat, disusul tumis brokoli.
Keduanya. duduk saling berhadapan.
"Maaf." Spontan Alan mengucapkan itu.
"Untuk?"
"Untuk, malam itu. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu."
Zia menunduk, tidak tahu harus menganggapinya bagaimana. Jujur, perasaan marah malam itu, sudah lenyap, berganti kerinduan.
"Aku sungguh minta maaf. Aku sudah keterlaluan," lanjut Alan.
"Tak, apa. Sesaat aku serakah dan lupa diri. Terima kasih, karena sudah mengingatkanku. Berkatmu, aku bisa kembali." Zia tersenyum. Mengambil sesendok nasi, meletakkan diatas piring Alan. Ia juga mengambil sayur dan lauk.
Alan tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Lalu, mulai menikmati makan siangnya.
"Ternyata, kamu punya bakat memasak." Kunyah-kunyah, sembari menatap wajah yang tersenyum menatapnya.
"Terima kasih. Aku memang suka memasak. Jika kamu mau, aku bisa memasak lagi untukmu." Zia tersadar akan ucapannya sendiri. "Maksudku, kita bisa makan bersama lain kali."
Hahahaha, lucunya. Kenapa dia sangat menggemaskan? Tunggu, dia mengajakku makan bersama lain kali. Apa dia? Hei, sadar, dia hanya mengajakmu makan, bukan berkencan.
Hati yang berbunga-bunga, sekejap kembali mendung.
"Apa aku boleh bertanya? Sejak kapan kamu dan CEO berteman?
__ADS_1
Alan tergelak. Jika mendapat pertanyaan itu, maka ia harus menceritakan dari awal. Pertemuan mereka bertiga.
"Kamu mau dengar?"