CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 60. Merasa aneh


__ADS_3

Sejak kejadian, makan malam itu. Alan tidak pernah lagi mengirim pesan romantis, berbalut perhatian kepada Zia. Tapi, kadang-kadang, ia masih memberi makanan, pada petugas yang sedang shift malam.


Padahal baru sekitar dua hari, Alan sering mengirim pesan. Ia merasa terganggu dan tidak nyaman. Tapi, entah mengapa, hatinya merasa kosong, saat pesan-pesan itu, tidak lagi mengganggu harinya.


Ia benci mengakui, jika ia merindukan perhatian Alan. Meski, hanya sebuah pesan singkat, yang membuatnya seolah menjadi orang yang penting, dalam hidup seseorang.


Zia mengajukan cuti selama tiga hari. Ia sudah mengambil keputusan, untuk mengembalikan rumah orang tua istri sang CEO. Hari ini, ia akan mengosongkan rumah dan memberi tahu sekretaris Ervan, saat kembali ke kota.


Pagi itu, cuaca sangat cerah, meski udara terasa dingin saat angin bertiup. Zia berangkat sejak subuh dan tiba, ketika matahari baru saja naik.


Pakaian dalam lemari, sudah dimasukkan dalam koper. Beberapa bingkai foto dan hiasan dinding, ia letakkan dalam box. Sore nanti, mobil pick up untuk mengangkut barang, akan datang. Jadi, ia harus membereskan semuanya.


Tidak terasa, semua sudah selesai. Zia duduk sejenak, memeriksa ponselnya.


"Dia pergi, tanpa memberitahuku."


Membaca obrolan grup, tentang dokter Alan yang pergi keluar kota untuk seminar. Kebanyakan dari mereka, meminta dibawakan oleh-oleh.


Zia meletakkan ponselnya, tanpa berkomentar dalam grup. Ia terlalu gengsi, meski hanya berbasa-basi bertanya tentang Alan. Padahal, kedua tangan dan hatinya, sudah terasa gatal. Lagi-lagi, akan sehatnya, memberi peringatan.


Kau gila! Mana harga dirimu? Apa kau lupa, bagaimana ia menghinamu, malam itu?


Kata hatinya berkata lain. Apa kau tidak merindukannya? Jangan munafik! Kau sudah punya perasaan padanya, tapi malu untuk mengakuinya. Apa kau tidak takut, dia berubah dan berpaling pada orang lain?


Deg.


Zia merasa was-was sendiri, dengan pikiran dan hatinya yang saling berperang. Jika dia memang mencintaiku, seharusnya dia tidak akan menyerah secepat itu. Tapi, ia sudah membenciku, karena aku tertarik pada sahabatnya.


"Ah, sial! Apa yang aku pikirkan?" Zia bangkit dari posisinya.


Peralatan memasak, belum ia bereskan. Jadi, lebih baik, ia menyiapkan makan siang, dari pada terus memikirkan Alan, yang membuatnya tidak fokus.


Ayam goreng, tumis kangkung dan tahu goreng, sudah tersaji diatas meja. Padahal, ia hanya seorang diri, tapi memasak untuk porsi lebih.


Zia mulai memindahkan lauk diatas piring, bersama nasi hangat. Mencicipi ayam goreng, yang gurih. Lalu, tumis kangkung, yang tiba-tiba membuatnya berhenti mengunyah.


"A-asin!!"


Zia memuntahkannya. Menyambar, segelas air didekatnya. Seperti, sedang memakan satu sendok garam.


Padahal, ia jago memasak, tapi kenapa bisa, seasin ini. Hanya helaan napas, yang terdengar, sembari menatap tumis kangkung itu.

__ADS_1


"Aku bisa gila!" gerutunya, "Sadarlah, Zia! Dia seorang playboy, perhatian kecil seperti itu, pasti sudah sering, ia lakukan pada wanita lain."


Kembali mengunyah, setelah menyingkirkan sayurannya yang tidak layak, untuk dimakan.


Pukul dua siang, mobil yang akan mengangkut barang, sudah tiba.


"Siang, dokter."


"Siang, Pak. Istirahat dulu." Memberikan segelas teh hangat, kepada mereka.


Mereka mengobrol ringan, tentang barang yang akan diangkut dan alasan Zia, untuk pindah. Tidak banyak, yang Zia katakan. Ia hanya beralasan, karena ia bekerja dikota.


Setelah selesai, mereka mulai mengangkat barang. Yang dimulai dari lemari pakaian, dua pintu. Lanjut, meja rias dan tempat tidur.


"Selamat siang, dokter Zia."


Zia menoleh, ada Ervan dan Tirta yang tiba-tiba muncul. Tapi, ia merasa ada yang kurang, karena tidak Alan bersama mereka, padahal ia sendiri sudah tahu, kemana Alan.


"Selamat siang."


"Kau mau pindah?" tanya Ervan pura-pura tidak tahu.


"Benar. Saya sebenarnya, ingin menghubungi Anda. Tapi, saya tidak memiliki nomor ponsel Anda. Jadi, saya berpikir untuk, mengosongkan rumah ini terlebih dahulu," jelas Zia.


"I-itu, ...."


Dua pria didepannya, saling menyiku satu sama lain. Bergumam tidak jelas dan saling melotot, seperti berbicara dengan bahasa isyarat.


"Kalian kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa."


"Kalau begitu, silahkan masuk."


Zia berjalan lebih dulu, dibelakang Ervan mengikuti bersama Tirta.


"Mengenai harganya, dokter meminta berapa? Karena, aku tahu, Anda mengeluarkan biaya banyak untuk renovasinya."


"Nanti saja, Tuan. Jika kita sudah kembali ke kota. Beberapa barang, akan aku tinggalkan. Seperti sofa, meja makan, kulkas, Tv dan kompor."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Saya tinggal diaparteman. Jika membawa semua barang kesana, takutnya akan full dan sempit. Lagipula, aku sudah punya di apartemen, jika membawa lagi, untuk apa."


Tirta mengangguk paham. Tapi beda dengan Ervan, yang sifat angkuhnya, mendadak kambuh.


"Tapi, aku bisa membeli semua barang yang kamu sebutkan tadi. Apa kamu tidak bisa membawanya saja? Kalau perlu, kamu jual pada rekanmu?"


Cih, bilang saja, kalau kau mau pamer, gumam Tirta. Sok-sok, tidak mau barang bekas, tapi menyukai barang gratisan. Apa sifat sombongmu, tidak bisa mengenali tempat? Yah, Tirta ingin bertanya langsung, tapi apalah daya, ia hanya bisa berteriak dalam hati.


"Maaf, Tuan. Jika aku membuatmu tersinggung. Tapi, mobil pick up itu, tidak cukup untuk mengangkut semua barang. Lagi pula, jika aku membawa semua. Aku tidak memiliki tempat untuk meletakkannya. Mengenai menjual, aku rasa semua rekanku, sudah memiliki semua barang-barang itu."


"Kenapa tidak menerimanya saja? Bukankah barang-barang itu masih sangat bagus. Dan juga, mengurangi pengeluaranmu," bisik Tirta, yang mendapat jawaban dengan kakinya yang terinjak dengan keras.


"Aaaa ...." Tirta hampir memekik, untung ia segera menutup mulutnya.


"Pak sekretaris, Anda kenapa?" Zia memperhatikan wajah Tirta yang memerah dan meringis, menahan sesuatu.


"Ti-tidak, apa-apa. Aku hanya kesemutan." Kembali meringis dan menatap tajam Ervan, yang tampak biasa-biasa saja, seolah tidak melakukan apapun.


Dasar laknat. Aku mengutumu, menjadi kotoran sapi. Mudah-mudahan, sepatu mahalmu, menginjak kotoran itu.


Ervan yang tidak ingin berdebat, akhirnya menganggukan kepala. Sebenarnya. Ia tidak mau menerimanya, tapi karena Zia yang bersikukuh, Ervan akhirnya mengalah.


Beberapa barang sudah diangkat dan mobil pick up, sudah siap untuk pergi.


"Tuan, saya pergi lebih dulu. Ini kunci rumahnya." Zia memberikan kunci pada Ervan.


"Mengenai transaksinya, sekretaris saya akan menghubungi Anda."


Zia mengangguk, lalu akhirnya masuk dalam mobilnya. Dan perlahan, pergi dengan mengikuti mobil pick up tersebut.


"Jam berapa?" tanya Ervan.


Tirta membeliak. Bukankah, kau punya jam tangan? Kenapa kau tidak melihatnya dan justru bertanya padaku?


"Jam empat." Marah dan kesal dalam hati, Tapi Tirta menjawabnya, dengan nada yang sangat halus.


"Berapa jarak dari sini, menuju cabang perusahaan kita?"


Kau bertanya padaku? Memangnya, aku tahu. Kenapa kau tidak lihat ponselmu dan bertanya pada dunia maya.


"Aku tidak tahu, Mungkin, sekitar dua jam perjalanan." Kembali menjawab, dengan profesional.

__ADS_1


"Kita ke villa dan menginap disana. Besok, minta mobil perusahaan, untuk mengangkut barang-barang itu dan antar diapartemen Alan."


"APA??"


__ADS_2