
Sore hari, yang sebenarnya sudah menjelang malam. Langit mulai gelap, tampak lampu-lampu sudah dinyalakan. Mulai dari jalanan, gedung perkantoran hingga rumah-rumah disepanjang jalan.
Tirta mengemudi, dalam keheningan. Gurat kelelahan tergambar jelas pada wajahnya. Dasi yang terasa mencekik leher, dilonggarkannya. Ia ingin mandi dan tidur sebentar, tapi sore ini, ia harus mampir di apartemen Alan.
Mobil masuk dalam basement, parkir disana. Tirta membeli beberapa cemilan dan minuman. Karena, Ervan lagi luar kota, ia merasa pekerjaan hari ini, sedikit berkurang.
Pintu lift terbuka, melangkah dengan cepat. Tirta tidak mengetuk pintu atau membunyikan bel. Ia langsung menerobos masuk, karena mengetahui kata sandi apartemen Alan.
Tirta terhimpit diantara pintu, bersusah payah menarik tubuhnya untuk masuk. Sekilas tidak ada yang berbeda, dari kondisi apartemen Alan. Sebab, ia adalah pelaku yang mengatur sofa dan meja tambahan, milik Zia.
Satu dua langkah, ia langsung membeku ditempatnya. Menjatuhkan barang bawaannya diatas lantai, dengan mata membelalak. Seperti, seorang istri yang memergoki perselingkuhan suaminya.
"Kalian!" cicit Tirta, tapi masih terdengar oleh Alan dan Zia.
Pasangan yang sedang berciuman didapur depan wastafel, menoleh dengan tersentak. Zia memalingkan wajah, sementara Alan sudah cengengesan, seperti orang bodoh.
"Kau sudah datang?" Alan mendekati Tirta, lalu berikutnya ia berbisik. "Kenapa kau datang? Kau mengganggu acaraku?"
"Bukannya, kau yang memintaku datang, hah!" bisik Tirta.
Plak. Alan memukul bahu Tirta, dengan pelan.
"Tirta sayang, sebaiknya kamu pulang. Besok baru kita bertemu lagi."
"Cih! Kau membuangku, karena dia!"
Kalimat apa itu? Alan ingin melayangkan tendangan. Dia seperti istri yang sedang protes dan menyalahkan orang lain.
"Apa sih? Pulang sana!" usir Alan dengan mendorong Tirta sampai didepan pintu.
"Tidak perlu, biar aku yang pulang." Zia berjalan arah mereka. Setelah merapikan lipstriknya. "Aku kerja shift malam."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu." Alan menepikan tubuh Tirta, hingga membentur tembok.
Tirta membeliak. Apa pria yang sedang jatuh cinta, akan bersikap seperti ini? Sikap Alan yang sekarang, sama persis dengan Ervan. Yah, walaupun Ervan berada diatas level parah.
"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi." Zia menatap Tirta. Merasa tidak enak dan canggung. "Pak sekretaris, maaf aku harus pulang."
Tirta hanya mengangguk, memperhatikan Zia keluar apartemen, dibantu Alan yang menggeser posisi sofa, untuk membuka pintu.
Sejak kapan mereka bersama? Padahal, Alan baru pulang dan bukankah mereka sedang bermusuhan? Tunggu! Apa karena barang-barang ini, mereka berbaikan?
__ADS_1
Alan langsung duduk, setelah menutup pintu. Ia tertawa sumbang, melihat Tirta yang masih bersandar ditembok.
"Hahaha, maaf. Duduklah!"
"Ambil sana!" perintah Tirta, dengan menunjuk dua kantong plastik diatas lantai.
"Iya, iya." Alan menurut, dengan segera bangun dari posisinya.
Alan meletakkan diatas meja dan mengeluarkan isinya. Minuman kaleng, keripik dan cemilan lainnya. Satu kantong plastik, berisi ayam goreng yang masih panas. Alan meletakkan minuman kaleng yang sudah dibuka, untuk Tirta.
"Minum! Jangan menatapku seperti itu! Aku seperti sedang ketahuan berselingkuh."
"Kenapa dia berada disini? Apa kalian sudah bersama?" Tirta berpindah tempat, disamping Alan.
"Yah, berkat si gunung es itu dan juga dirimu." glek, glek. Alan meletakkan minuman kalengnya. Menyambar, keripik dan membuka bungkusnya.
"Jadi, kamu menemuinya, karena barang-barang ini?" Tirta mengambil keripik itu dan meletakkannya dengan asal. Ia merasa terganggu dengan aktivitas makan Alan.
"Kau kenapa? Berikan padaku!" Mengambil kembali keripik itu.
"Ceritakan dulu. Kalian baru bertemu hari ini dan langsung berciuman? Kenapa secepat itu?"
Tirta ikut minum dan menyambar ayam goreng. Kunyah, kunyah, sembari melirik Alan yang melakukan hal yang sama.
"Cih! Kau mendapat hadiah setelah pulang. Sementara, aku hanya mendapat keringat."
"Memangnya, kalian melakukan apa selama aku pergi?"
"Kami mencarimu di bukit. Ervan dengan gilanya, mengajakku kesana. Katanya, kau mau bunuh diri." Tirta, berapi-api bercerita. Alan sendiri sudah tergelak, dengan air mata yang menetes. "Kau tahu? Kami menemukan sepupumu disana. Dan dia, tertawa, lalu menyalahkanmu. Mungkin, jika disusun. Omelannya sudah sampai satu buku."
Alan kembali tergelak, memegang perutnya. Ia merasa lucu dengan cerita dan ekpresi Tirta. Seperti, seorang anak kecil, yang mengadu dan minta dendamnya untuk dibalas.
"Terus? Barang-barang ini?"
"Ini milik Zia. Dari bukit, kami langsung menuju makam orang tua Sarah dan sekalian melihat rumahnya. Ternyata, Zia sedang mengangkat barang-barangnya. Ia meminta Ervan untuk menerima barang-barang yang lain, karena apartemennya tidak muat."
"Oh, lalu kau meletakkannya di apartemenku? Karena, si gila itu tidak mau menerimanya?"
"Hahahaha." Tirta tertawa sumbang. Ia mundur perlahan dari duduknya. "Ervan yang memaksaku. Tapi, kan, berkat kami, kau berbaikan dengannya."
Benar juga. Tapi, Alan masih merasa dongkol dengan Ervan.
__ADS_1
"Kapan dia pulang?"
"Lusa." Tirta menghela napas panjang. "Katanya, dia mau bulan madu dan membuat adik untuk si kecil."
Uhuk, uhuk, uhuk. Alan tersedak, setelah berusaha menelan minuman. Kenapa Tirta, selalu saja berbicara langsung tanpa di filter? Untung, mereka hanya berdua.
"Tirta. Sebaiknya, kau mandi dan cuci mulutmu!"
"Sebentar. Aku sudah malas." Tunggu!! Tirta kembali merapatkan posisinya. "Kalian berciuman, apa sudah mengungkapkan perasaan?"
Alan terdiam, mengingat-ngingat kejadian tadi.
Zia sedang mencuci piring dan Alan membantunya. Awalnya, mereka membicarakan hal ringan, mulai pekerjaan hingga kehidupan mereka. Tapi, tiba-tiba, keduanya membisu dan saling menatap. Tanpa aba-aba, Zia langsung mendaratkan bibirnya. Alan tersentak, tapi tidak menolak. Ia justru, membalas hingga memeluk pinggang wanita itu.
"Langsung seperti itu?" Tirta kembali bertanya, seolah tidak percaya. Apa seseorang langsung berciuman tanpa mengatakan apa-apa.
"Iya. Dia duluan dan aku hanya menerimanya." Tertawa dengan bangga, seolah baru saja melakukan hal baik. "Padahal, aku sudah bertekad untuk melupakannya. Tapi, sepertinya, aku harus memikirkannya kembali."
"Maksudmu, kau mau melamarnya?"
"Melamar apa? Aku saja belum tahu perasaannya. Aku masih harus memastikan, lalu aku akan mengungkapkan perasaanku."
"Terus, lamarannya?"
"Apa sih, Tirta. Kau pikir, melamar itu gampang. Semua itu, butuh proses. Masih ada, orang tua dan keluarga yang perlu diperkenalkan."
"Hah, lama juga."
Tirta bangkiit, merasa bosan dengan obrolan mereka.
"Mau kemana?"
"Mandi dan tidur."
"Hei, pulang sana. Untuk apa, tidur disini."
"Aku malas dan aku sudah mengantuk."
Tirta sudah berjalan masuk kamar, dengan mengambil jalan ninja. Yah, menginjak sofa dan melompat melewatinya.
Alan membereskan meja. Membuang kaleng minuman kosong, dan bungkusan cemilan. Ayam goreng yang masih bersisa, diletakkannya diatas meja makan dan menutupnya. Sisa minuman kaleng yang belum dibuka, dimasukkan dalam kulkas.
__ADS_1