CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab. 48. Tulus atau ada maunya?


__ADS_3

Sore hari yang tampak sepi. Biasanya, para istri akan menyambut kedatangan mereka. Apalagi, Mama, yang sudah tersenyum dari kejauhan.


Tapi, hanya ada pelayan yang menyambut mereka. Dua ratu, dalam rumah tidak terdeteksi.


Izzam dan Ervan berjalan masuk rumah. Ervan memperhatikan sang ayah. Tangannya penuh dengan sebuah bingkisan dan buket bunga.


"Mana istriku?" tanya Izzam kepada kepala pelayan, karena tidak menemukan sang istri dalam kamar.


"Nyonya dan nona muda, pergi berbelanja."


Ya, ya, ternyata dua wanita itu, berbelanja untuk membuang kekesalan dan amarah.


Ervan langsung menapaki anak tangga menuju kamarnya. Menit berikutnya, ia kembali berlari turun.


"Kenapa kamarku terkunci?" Ervan menghampiri kepala pelayan, yang masih berdiri dihadapan ayahnya.


"Kata, Nona muda. Tuan muda tidak boleh masuk kamar. Jadi, gunakan kamar sebelah. Sudah ada pakaian, Anda didalam lemari."


"Buahahahaha....." Izzam tertawa puas. Menertawakan nasib putranya. Ia masih lebih baik, karena pulang nanti, sang istri akan memeluknya.


Yah, Izzam sudah manyiapkan buket bunga mawar, cincin berlian dan perhiasan lainnya. Sementara, putranya datang, hanya dengan tangan kosong.


"Pa, berikan perhiasan itu." Ervan menengadahkan tangannya.


"Apa, sih! Ini milik, Mama. Makanya, kamu peka sedikit jadi laki-laki. Hahahaha, .... emang enak tidur diluar."


Papa kembali tertawa setelah, meledek putranya. Ia berjalan masuk kamar, sambil bersenandung ria.


Ervan tidak tinggal diam, meraih ponselnya menelpon sang sekretaris. Yang selalu siaga setiap diperlukan, dalam keadaan mendesak sekalipun.


"Belikan aku buket bunga."


"Bunga apa?" Yang dibalik telepon bertanya dengan malasnya. Ia pikir ada masalah apa.


"Bunga apa, yah?" Ervan terdiam sejenak, lalu kembali bertanya. "Menurutmu, Sarah menyukai bunga apa?"


"Memangnya, aku tahu. Dia kan, istrimu!"


Tut.


Sambungan terputus, dengan tiba-tiba. Tirta emosi, ia saja masih diperjalanan, setelah mengantarnya. Kini si boss, meminta bunga yang ia sendiri tidak tahu.


"Dasar, sudah berani, kamu yah, Tirta!"


Ervan tidak menyerah. Ia menelpon Alan, sahabat yang katanya playboy, tapi saat ini, belum juga laku-laku.


"Aku sedang sibuk, telepon saja nanti."


Sambungan langsung terputus begitu saja. Padahal, Ervan belum mengatakan apa-apa.


Ia kesal bukan main. Mengacak rambutnya frustasi. Ia sudah menikah dan memiliki anak, tapi ironisnya, tidak mengetahui apa kesukaan sang istri.


"Aku harus memberinya, apa, yah!"


"Tidur diluar, tidur diluar." Izzam berbisik seperti hantu, ditelinga putranya.


Aaaaa!!!


"Papa, bikin kaget saja!" Ervan terlonjak.

__ADS_1


Izzam tertawa, setelah berhasil mengerjai putranya.


"Tidur diluar, tidur diluar!" kembali mengulangi kalimatnya, sebelum pergi.


Ervan semakin gusar, ditambah waktu yang semakin mepet.


"Buat kejutan, saja Tuan muda. Nona muda, menyukai cake keju."


Kepala pelayan, berkata sambil berlalu. Ervan melongo, sebenarnya ada apa, dengan orang-orang ini?"


Tapi, tidak mempunyai pilihan. Ia berlari ke dapur, memberitahu koki, untuk membuat kue.


Urusan kue sudah selesai, dan akan siap, saat makan malam. Ia tinggal menunggu dan mulai merangkai kalimat-kalimat, yang baru saja dipelajarinya dari internet.


Mandi sudah, berpakaian sudah. Ia wara-wiri dalam kamar, dengan jantung berdebar. Melihat kerah luar dari jendela, mobil Mama baru saja masuk halaman. Ia mendeteksi keberadaan sang istri.


Wow!!!


Ervan terpana, cantik dan anggun. Pandangannya, tidak lepas darinya. Dres dengan panjang selutut dan dada sedikit terbuka. Cantik, kata itu meluncur bebas dari mulutnya.


Ervan kembali duduk ditepi tempat tidur. Menunggu suara sepatu berjalan kearah kamar.


"Ah, kenapa lama sekali?"


Sangat tidak sabar, padahal Sarah dan ibu baru saja masuk rumah. Ia menempelkan telinganya dipintu, mendekteksi suara.


Tidak ada!


Tidak ingin menunggu, Ervan keluar kamar. Alasan merindukan putranya, akan menjadi senjata ampuh.


Iya, begitu saja! Ervan bergumam, dengan langkah kaki menapaki anak tangga.


"Anak Papa, dari mana sayang?" Ervan menggendong putranya, dari tangan pengasuh. Kecup sana sini, tapi kedua matanya kearah lain.


"Papapapa,"


"Iya, iya, Papa juga rindu."


Dari kamar, Izzam ikut bergabung, karena lelah menunggu dalam kamar.


"Ma." Mendaratkan pelukan dengan hangat, lalu memberikan sebuket bunga.


Hum!!


Sandra membuang muka, tapi tangannya menerima buket bunga.


"Ma, kita ke kamar, yah. Ada, yang mau papa, sampaikan?"


Lagi-lagi, wanita yang cuek, tapi butuh itu, tidak langsung menurut. Rayuan sang suami masih kurang, menurutnya. Ia ingin minta dibujuk lagi.


"Sayangku, cantikku, manisku. Istriku paling cantik didunia, ...."


"Hahahahaha ....." Ervan terpingkal-pingkal. Baru kali ini, ia melihat ayahnya merayu sang ibu. Sangat lucu dan terkesan seperti buaya darat.


"Diam!" Papa menoleh dan membentak putranya. Lalu kembali, tersenyum saat menatap istrinya.


"Kita ke kamar, yah!" Kembali merayu, dengan wajah memelas seperti anak kucing.


Sandra yang masih cuek cuek butuh, ikut saat tubuhnya direngkuh sang suami. Masuk dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang, kamu mengunci kamar?" Ervan maju, selangkah demi selangkah. Mengulas senyum, seperti ada maunya.


"Iya, kamu tidur di kamar sebelah."


Sarah berjalan menaiki anak tangga. Ervan menyusul, setelah memberikan putranya pada pengasuh.


"Tapi, kenapa?" Menghadang langkah sang istri.


"Karena balonku kecil dan milik wanita itu sangat besar." Menepikan tubuh sang suami, lalu membuka pintu kamar.


"Maaf, maafkan aku. Aku salah."


Ikut berjalan masuk dalam kamar, dan mengunci pintu.


"Kamu mau apa?" panik Sarah.


"Membuktikan, kalau balonmu tidak kecil." tertawa jahat, saat wajah panik sang istri, terlihat lucu dimatanya.


"Keluar atau aku menendangmu!"


"Aku hanya bercanda. Sarah kamu istriku. Maafkan aku. Waktu itu, aku tidak serius."


Dengan sigap, Ervan memeluk erat. Tidak memberikan ruang pada Sarah, untuk menolak.


"Lepaskan aku, Van. Aku tidak bisa bernapas."


"Jawab, aku dulu!"


"Oke, oke. Aku memaafkanmu. Sekarang, lepaskan, aku!"


"Kamu tidak bersungguh-sungguh."


"Aku serius memaafkanmu."


Pelukan dilepaskan, berganti dengan ciuman dibibir. Sarah kaget, tapi tidak menolak. Ia membiarkan sang suami, melakukan aksinya.


Yah, permintaan maaf berlanjut diatas tempat tidur. Ervan tidak melepaskan sang istri, apalagi sudah terlalu lama, ia tidak mengambil haknya.


Di kamar berbeda, perhiasan sudah berada ditangan sang istri. Bibirnya masih mengerucut, berpura-pura tidak menyukainya.


"Mama, tidak suka?" Bertanya, meski sudah mengetahui jawabannya.


"Tidak!" ketusnya.


"Kalau begitu, Papa kembalikan!" Izzam hendak mengambil perhiasan itu kembali.


"Jangan! Ini milik Mama."


Izzam menahan tawa, yang hampir meledak.


"Jadi, Mama memaafkan papa, kan?"


"Papa tulus atau ada maunya?" sinisnya.


"Papa tulus, Ma. Sumpah. Maafkan Papa, Yah." Merengek seperti bayi.


Akhirnya, acara maaf maafan selesai juga. Perhiasan sudah masuk dalam lemari dan Izzam bisa memeluk istrinya.


Diluar, para koki sibuk membuat cake. Yang sebenarnya, tidak perlu lagi, karena yang memberi perintah, sedang berbunga-bunga dalam kamar

__ADS_1


__ADS_2