CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 15 Bujukan Alan


__ADS_3

Alan masih berkutat dengan stetoskopnya, memeriksa pasien dengan keadaan darurat, ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, pingsan dan lainnya, yang membuatnya sangat sibuk beserta para asisten dan perawat.


Duduk sebentar, mengistirahatkan kedua kakinya yang dari tadi terus berjalan kesana kemari, dengan menggantungkan stetoskopnya. Meraih ponselnya, melihat media sosial sekedar mengusir penat. Ponselnya bergetar, menatap nama dilayar, lalu menggeser tombol hijau.


“Ada apa, Tirta?”


“Ervan terjebak dalam rumah, Presdir sudah menentukan calon istri untuknya.”


“Apa?” Mendadak bangkit dari duduknya.


“Ia meminta bantuan, padaku. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”


“Baik, aku mengerti.”


Alan kembali duduk, meletakkan ponselnya diatas meja. Berpikir sesaat, ponselnya kembali berdering secepat kilat mengangkatnya.


“Kau dimana?”


“Di rumah sakit. Aku sudah tahu, Tirta menghubungiku. Tapi, aku tidak bisa membantumu.”


“Bukan itu, bantu aku bujuk wanita itu. Aku sudah kehabisan waktu.”


“Aku mengerti.”


Mendorong kursi ke belakang, melihat sekeliling memastikan tidak ada pasien baru. Lalu meletakkan stetoskopnya, belum kakinya melangkah pergi, suara sirine ambulans terdengar dari kejauhan. Ia kembali meraih stetoskop dan menggantungnya dileher, saat bersamaan ponselnya kembali bergetar.


“Ada apa, lagi? Aku belum menemuinya, aku masih ada pasien.”


“Ceritakan padanya, tentangku dan kejadian itu. Tapi, jangan keseluruhan, cukup identitas dan hubunganku yang hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih. Yakinkan, ia mau berperan menjadi gadis itu dan mengganti


namanya.”


“Apa kau gila? Kau pikir dia mau melakukannya?”


“Tidak peduli, bagaimana kau yakinkan dia. Tapi, dia harus melakukannya.”


Sambungan terputus, saat ujung bibirnya ingin memprotes. Kembali menggeleng, kerjanya di rumah sakit menjadi dua kali lipat dari normal. Bukan hanya orang sakit, orang sakit cinta pun menjadi pasiennya.


Setelah melakukan tugasnya, ia mengarahkan para dokter yang sedang magang, memberikan beberapa penjelasan, sambil menunggu dokter penggantinya datang, karena shift kerjanya sudah selesai.


Alan menyusuri lorong rumah sakit, menaiki lift yang akan membawanya dilantai ruangan VVIP. Harus mulai dari mana, ya! Gumamnya sambil menunggu pintu lift terbuka.


Tepat pintu ruangan, ia menarik napas, memperbaiki jasnya, lalu mengayunkan tangan, mengetuk perlahan agar didalam sana mengetahui kedatangannya.


“Selamat malam, Tamara.” Basa basi sebelum, mengutarakan niatnya. “Bagaimana keadaannya?”


“Selamat malam dokter. Dia sudah baikkan, baru saja tertidur.”

__ADS_1


Sekarang, aku harus bilang apa? Ragu-ragu, Alan berdehem, kembali mengatur jasnya yang terlihat baik-baik saja.


“Apa aku boleh duduk?”


“Tentu dokter, silahkan.” Sarah berjalan, mengambil posisi duduk, dihadapannya.


“Begini, ada yang aku mau bicarakan. Ini masalah Ervan, tentang ....” Ragu-ragu melanjutkan kalimatnya, menatap raut wajah wanita didepannya. “Pernikahan.” Plong juga akhirnya.


“Maaf, Dokter, saya tidak bisa." Sarah kembali menolak dengan tegas.


"Apa kamu masih marah dengan kejadian waktu itu?" Sarah membisu. "Dulu dia tidak seperti itu. Sesuatu pernah terjadi, sehingga ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Malam hari, ia kesulitan tidur dan siang hari ia harus menghadapi orang tuanya."


"Maksud dokter?"


"Dia penerus satu-satunya, sehingga orang tuanya mencarikan jodoh. Mereka menginginkan Ervan memiliki seorang penerus secepat mungkin."


Sarah termangu.


"Dokter, saya tidak memilki keluarga, status dan pendidikan, bahkan saya memilki seorang anak. Sekalipun saya menerima tawaran pak Ervan, saya berpikir kedua orang tuanya tidak akan menerima saya."


Benar juga! Ervan sialan, kenapa tidak memikirkan hal ini?


"Untuk hal itu, sepertinya mereka tetap akan menerimamu. Apalagi jika, melihat cucunya yang sudah sebesar ini."


Alan kembali meyakinkan, sementara ia sendiri tidak yakin akan ucapannya.


Sarah menatap Alan


"Kamu tidak perlu bersusah payah bekerja, bahkan membawanya di perusahaan. Dia masih bayi butuh kehidupan yang lebih baik, dia butuh lingkungan yang bersih untuk pertumbuhannya.”


Kenapa aku seperti Mak comblang?


Alan menoleh kiri kanan mencari botol air, untuk membasahi kerongkongannya yang mengering karena terus mengoceh. Dilihatnya dispenser, mengambil segelas langsung meminumnya, tambah segelas lagi, seperti orang yang benar-benar kehausan. Ia kembali duduk, meletakkan gelasnya yang sudah tersisi pol, di atas meja. Dihadapannya, Sarah masih terdiam, entah apa yang ada dipikirannya.


“Tama, Tamara?” Sarah mengangkat wajahnya, kaget dengan panggilan Alan. “Kamu melamun?”


“Tidak, dok. Saya hanya memikirkan perkataan dokter."


"Ervan akan memberikan kalian kehidupan yang lebih baik, saat ini kamu perlu memikirkan nasib anakmu. Dia masih bayi, kamu membutuhkan tempat tinggal layak. Selain itu, kamu masih perlu memikirkan masa depannya."


Berpanjang lebar, Alan menyerang psikologi Sarah, dengan anak yang merupakan kelemahan terbesar seorang ibu.


"Saat ini mungkin kamu masih bisa menjaganya, bagaimana jika kamu membawanya di tempat kerja? Apa kamu bisa menjamin keselamatannya? Apalagi, dia masih merangkak dan sebentar lagi akan belajar berjalan, yang membuat tubuhnya sering jatuh."


Alan kembali menyerang titik terlemah Sarah,


Ayo, cepatlah katakan, 'Iya', agar tugasku cepat selesai.

__ADS_1


"Dokter, saya tahu, apa maksud dokter. Tapi, ini adalah pernikahan, saya ragu, apakah saya bisa terus berpura-pura? Lagipula, kenapa dia tidak menikah saja dengan kekasihnya?"


"Jika dia punya kekasih, dia tidak mungkin memintamu menikah kontrak."


"Jadi Pak Ervan, tidak punya pacar?" Sarah menautkan alisnya.


Lalu, siapa yang dia rindukan saat memelukku?


"Pacar? Hah!" Alan terkekeh. "Dia itu seperti gunung Everest, sulit didaki. Semakin kita berusaha naik di puncak, cuacanya semakin buruk dan dingin."


Sarah tertawa lepas, Alan menggambarkan sikap Ervan dengan begitu lucu.


"Kamu tidak percaya?"


"Bukan dokter, bukan itu. saya hanya merasa lucu dengan ekpresi dokter. Saya baru mengenal dokter beberapa hari, saya menyukai sifat dokter dan sekretaris Tirta yang tidak kaku dan humoris."


"Benarkah?" Mata Alan berbinar.


Sarah mengangguk senyum.


“Jadi, apa kamu bisa menerimanya?" Alan kembali ke topik pembicaraan semula. "Begini saja, jika kamu ragu, kamu bisa membuat perjanjian tertulis atau kalau kamu mau, kamu bisa mengajukan syarat.”


Sarah mengangkat wajahnya, berpikir, mungkin ini kesempatan baginya, untuk mendapatkan apa yang selama ini menjadi tujuannya.


“Tapi," ragunya, "apa, Pak Ervan bisa menerima beberapa syarat dari saya?”


“Tentu saja, apapun itu.” Alan kembali meyakinkan.


Persetan, dengan Ervan. Terserah bagaimana ia memenuhi syarat itu. Yang penting, aku selamat"


Sarah kembali berpikir, mungkin dia harus menyerah untuk mendapatkan keinginannya.


“Kalau begitu, baiklah dokter, saya bersedia.


"Benarkah? Kamu yakin?"


Sarah mengangguk


Baru saja merasa girang, Alan kembali  lesu.


“Tapi ....” Jedanya. “Kamu harus mengikuti skenario dari Ervan.”


“Maksud dokter, menjadi kekasih yang dicampakkan?”


“Benar, tapi kamu harus menjadi dirinya.”


“Siapa?”

__ADS_1


“Kamu harus menjadi Sarah.”


__ADS_2