CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 19 Kunjungan Tiba-tiba


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Ervan. Pria itu, tidak pernah lagi datang berkunjung, ia hanya mengirim pesan, meminta untuk menunggu. Gelisah menggelitik pikirannya, jika Ervan membatalkan perjanjian mereka, padahal tinggal selangkah lagi, ia sampai ditujuan.


Tok....Tok ....Tok.


“Selamat pagi, Nona Sarah.”


Dua orang pria berdiri didepan pintu, satu orang yang terlihat masih muda, menyapanya dengan hormat, pria lainnya yang sudah paruh baya berdiri dibelakangnya dengan balutan jas, dan sangat berwibawa.


“Kalian siapa?” tanyanya dengan debaran jantung yang tak karuan saat nama Sarah berdengung ditelinganya.


“Saya, Papanya Ervan.” Kali ini pria baruh baya itu yang bersuara.


DEG,


Kenapa ia tidak memberitahuku,


kalau ayahnya akan datang?Apa Sekarang waktunya bermain drama?


“Silahkan masuk.”


Papa melangkah masuk seorang diri, meninggalkan Daniel menunggunya di teras rumah. Matanya berkeliling, mencari sosok bayi yang ia rindukan. Langkahnya terhenti,


bayi yang tengah menghamburkan mainannya di depan TV, menatap dengan senyum seolah menyambut kedatangannya.


“Dia cucuku?”


Sarah mengangguk.


Papa langsung duduk diatas karpet, ikut bergabung dengan cucunya. Ersan merangkak, disambut dengan papa yang merentangkan kedua tangannya


“Tu ... tuan?” Sarah terbata, hatinya diliputi kecemasan, akan kedatangan ayah Ervan yang tiba-tiba.


Papa menoleh, tanpa melepaskan cucunya dari pelukan. “Berapa umurnya?”


“10 bulan, Tuan.”


“Cucuku sudah sebesar ini. Kenapa kamu tidak datang, saat mengetahui kehamilanmu?”


Apa kalian akan menyalahkanku? Setelah, apa yang diperbuat putramu! Ingin rasanya, mulutnya berteriak mengatakan itu, tapi tentu saja otak warasnya masih berfungsi dengan baik.


“Bagaimana saya bisa datang, Tuan. Jika putra Anda, bahkan melemparkan cek kepada saya?”


Papa beralih duduk di sofa, memangku cucunya yang entah mengapa anak itu, juga merasa nyaman.


“Saya mengerti perasaan kamu. Sekarang, berkemaslah, saya akan membawa kalian di kediaman utama. Mulai saat ini, Ervan akan membayar apa yang sudah ia perbuat padamu.”


“Tapi, Tuan?”


Apa ini? Kenapa begitu tiba-tiba? Mereka menerimaku begitu saja? Bukankah dalam drama, mereka akan melemparkanku segepok uang?


“Kenapa? Kamu merasa ini mendadak.” Tersenyum. “Saya memang memilih calon menantu yang sepadan dengan keluarga kami, berpendidikan tinggi dan tentu saja berasal dari relasi bisnis. Tapi, saat mengetahui keberadaan kalian, saya berpikir untuk


mencoba menerimamu.”


Sarah menunduk, masa suram sepertinya akan segera menghampiri saat ia menginjakkan kaki di keluarga Nugrah. Pria didepannya, yang mungkin akan dipanggilnya mertua kelak, tidak sepenuh hati menerima kedatangannya.


“Sekarang, berkemaslah. Kamu tidak perlu membawa semua pakaian, karena ibu Ervan akan menyiapkannya untukmu. Ia belum mengetahui kedatanganmu, tapi jangan khawatir, dia wanita yang lembut.”


Glek! Kata ‘lembut’, entah kenapa terasa menakutkan dipendengaran Sarah.


Papa kembali duduk diatas karpet, bermain dengan cucunya, membiarkan Sarah menuju


kamar untuk berkemas. Mendorong mobil-mobilan, dengan tawa memenuhi ruangan.


Menjawab celoteh cucunya, meski perkataan anak itu absurd baginya.


“Saya sudah siap, Tuan.”


Papa mendongak, lalu bangkit perlahan dengan memeluk cucunya, di depan pintu Daniel mengambil barang bawaan Sarah,


memasukkannya dalam mobil. Sarah duduk didepan samping Daniel yang mengemudi,


sedangkan papa bercanda gurau dengan sang cucu di kursi belakang.

__ADS_1


“Baba...tatcaca, Mama.” Celoteh Ersan yang mengajak kakeknya mengobrol.


“Benarkah?Jangan takut, Kakek akan menjagamu.”


Kenapa obrolan mereka, mengingatkan aku dengan seseorang?


“Kita sudah sampai, Tuan.” Sarah terjaga dari pikirannya yang berlarian, saat Daniel berbicara.


“Ayo, masuk, Sarah.” Papa berjalan lebih dulu, dengan senyum yang masih mengembang di


wajahnya.


Sesaat, Sarah mematung, menatap para pelayan menyambut kedatangan mereka. Berbaris rapi dengan seragam yang selaras.


“Sarah?” Tersadar, saat namanya kembali dipanggil.


“Iya, Tuan.”


Kembali berjalan, melewati para pelayan rumah yang masih menunduk. Ia mengedarkan matanya, pada kemewahan dalam rumah.


“Duduklah dan tunggu sebentar.” Sarah mengangguk.


Papa berjalan, masuk dalam sebuah ruangan. Di sudut kamar, istrinya duduk diatas sofa, raut wajah yang tampak murung. Terdengar helaan napas yang begitu berat. Papa mendekat, menurunkan cucunya duduk berdekatan dengan istrinya.


“Mamamama ....” mama menoleh.


DEG,


“Anak siapa ini, Pa?” Tersentak dengan seorang anak yang duduk disampingnya.


“Lihatlah, wajahnya.”


“Dia, dia Ervan. Pa.” mama masih tidak percaya, menatap suaminya menuntut penjelasan


“Dia cucu kita.”


“Apa benar itu, Pa? Dia cucu kita.” papa mengangguk


“Oh,maafkan Nenek sayang. Maaf, yah. Nenek hanya tidak percaya.” Kembali menciumminya.


Sarah kini duduk di ruang keluarga, setelah berjumpa dengan ibu Ervan. Wanita paruh


baya itu, terus memeluk dan meminta maaf, atas perbuatan putranya. Saat ini, saja mama duduk disampingnya, dengan senyum cerah yang terukir sejak kedatangan cucunya.


“Sarah, sayang. Ayo, ikut Mama.” Menarik tangan, berjalan menapaki anak tangga.


“Untuk sementara, kamu tidur di sini, nanti setelah kamu menikah. Kamu bisa tidur di


kamar Ervan yang ada di sebelah.”


“Terima kasih, Nyonya.”


“Berhenti memanggilku seperti itu, kamu adalah menantuku.”


“Maaf, Ma.”


“Ya, sudah kamu bereskan pakaianmu. Besok kita pergi berbelanja.”


Sarah hanya mengangguk, menatap punggung ibu mertuanya yang perlahan hilang dari balik pintu. Ia berbaring, mencerna situasi saat ini. Ia tidak boleh terlalu tenggelam dengan kebaikan orang tua Ervan, karena tujuannya kemari hanya ingin mendapatkan dokumen resmi untuk putranya. Setelah itu, ia akan kembali dengan kehidupan yang sebelumnya.


Setelah merapikan pakaiannya, Sarah turun bergabung dengan mertuanya yang masih bermain dengan cucunya.


“Sini, duduk.” Mama meraih tangannya.


“Nanti setelah Ervan pulang, kita akan membahas pernikahan kalian. Mudah mudahan malam ini, ia kembali.”


“Memangnya, Pak Ervan tidak pernah pulang, Ma.”


“Panggil Ervan saja, dia nanti akan jadi suamimu,” protes Mama, “Sudah dua hari dia


tidak pulang. Dia menghindari kami, saat ia mengaku menghamili kamu. Pantas


saja, setiap Mama menjodohkannya, dia selalu menolak.”

__ADS_1


Dia mengaku? Jadi selama ini, dia masih mengingatku.


“Sarah, apa kamu bisa menceritakan kami. Apa yang sudah kamu lalui hampir dua tahun


ini?”


“Saya datang ke kota ini, setelah saudari kembar saya meninggal. Saya mencari pekerjan sambil mengontrak rumah. Untung saja, waktu itu Ervan memberikan saya cek. Jadi, saya menggunakannya untuk biaya persalinan dan kebutuhan kami.”


“Ya, Tuhan. Kasihan sekali kamu, Nak.” Mama memeluk Sarah dengan iba. “Awas saja, anak


itu pulang.” Melerai pelukan, berganti memeluk cucunya. “Cucuku yang malang, jika ayahmu pulang nenek akan memberinya pelajaran.”


Sarah tersenyum, keluarga yang begitu hangat dan menerimanya dengan tangan terbuka. Keduanya tidak mempertanyakan tentang keluarganya, tapi keadaan yang dilaluinya selama ini.


“Kamu sekarang memiliki kami, jadi jangan sungkan. Anggap ini rumahmu dan kami adalah orang tuamu.” Kali ini papa yang berbicara dengan lembut, membuat Sarah


menitikkan air matanya.


“Sekarang, kita makan siang.”


Mama menggandeng tangan menantunya menuju meja makan, meski Sarah masih merasa canggung.


“Biar saya yang menyuap Ersan, Pa.” Ujar Sarah, yang merasa tidak enak jika papa


mertuanya yang harus menyuap putranya.


“Sudah tidak apa-apa, Sarah. Kamu makan saja, sudah lama kami tidak seperti ini.


Besok, Mama akan mencari pengasuh untuknya.” Papa mulai, menyuap cucunya dengan bubur yang dibuatkan oleh koki di rumah.


Sarah hanya mengangguk pasrah, menerima perlakuan mertuanya yang menganggapnya


seperti anak. Tadinya, ia berpikir masa suram akan menyambutnya, tapi tak disangka keluarga ini sangat hangat kepadanya.


Ditempat lain, Ervan bersiap meninggalkan perusahaan. Sudah dua hari, ia tidur di apartemen Tirta dan Alan. Mimpi buruk, membuatnya enggan tidur seorang diri.


“Kapan kamu akan pulang di rumahmu?”


“Kamu sedang mengusirku? Atau kamu merasa terganggu dengan kedatanganku?”


“Tentu saja, tidak. Bukankah, kamu harus memberitahukan orang tuamu tentang Tamara? Apalagi, wanita itu sudah menyetujuinya.”


Aku mohon pulanglah ke alammu! Aku bisa gila, jika malam ini kau kembali tidur bersamaku.


Pikiran Tirta melintasi waktu saat Ervan menginap di apartemennya.


“Aku akan tidur di tengah, kalian berdua di sisi kiri dan kananku. Ingat jangan mendengkur atau aku akan menutup hidungmu hingga kau pingsan.”


Ervan memejamkan mata, tidur dengan menghadap ke arah Alan yang masih mengintip dari celah matanya yang menyipit. Alan mengangkat kepalanya sedikit, menatap Tirta yang sudah terlelap dengan posisi membelakangi Ervan. Ia pun menyusul ke alam mimpi.


Sampai akhirnya, di tengan malam.


Ntuuutt.....


Suara yang keluar karena angin terjepit, bunyinya tidak terdengar diantara para lelaki yang sedang tertidur pulas. Tapi, perlahan aromanya merebak, memenuhi kamar seperti pengharum ruangan. Ervan mengernyitkan dahinya, saat aroma dengan bau khas menusuk hidungnya.


“Apa ini? Bau sekali.” Berlari keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.


Dari arah belakang, Tirta berlari menyusul dengan menutup hidungnya.


“Apa kau buang angin Tirta?” Masih menutup hidungnya.


“Tidak bukan aku, sumpah!” Tirta mengangkat dua jarinya.


Kini mereka memiliki satu tersangka, yang masih terlelap tanpa rasa berdosa setelah


melepas awan beracun ke udara.


Ervan berdengus kesal, jika saja saat ini pria itu sedang tidak bermimpi indah, mungkin ia akan kembali mendaratkan pukulan. Akhirnya, Tirta dan Ervan, pindah di kamar sebelah meninggalkan Alan.


Sejak itu, Ervan tidak ingin tidur bersama Alan lagi, membuat Tirta semakin frustasi. Seharusnya, ia memeluk guling dan berleha-leha dengan kasurnya yang luas. Tapi, justru ia


harus berbagi dengan pria yang memiliki banyak aturan, meski hanya untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2