
Di dalam kamar, Ervan tengah berlutut, meminta permohonan maaf dan menginginkan Sarah kembali.
"Maafkan aku, Sarah. Tolong, kembalilah pulang bersamaku.."
Sarah yang duduk ditepi ranjang, masih enggan membalas. Ia memaki hatinya yang begitu lemah, karena terlalu cepat luluh hanya karena melihat suaminya mengemis didepannya.
"Sarah, Ayo, kita mulai lagi dari awal."
"Beri aku waktu Ervan, aku butuh berpikir."
"Berapa lama? 1 jam? 2 jam?"
"Satu minggu!"
"Apa? Kenapa lama sekali? Satu hari. Aku memberimu waktu satu hari saja."
"Baiklah."
Sarah mengalah, padahal satu hari atau seminggu, jawabannya akan tetap sama. Mungkin. takdir mereka sudah seperti ini. Balas dendam pun, mungkin sudah tidak berguna lagi. Sebab, waktu tidak bisa diputar kembali.
Di dapur, dua jomblo masih sibuk memasak. Daging yang sudah dibumbui sebelumnya, sudah dipanggang diatas wajan datar. Tirta sudah menyelesaikan kentang gorengnya, kini mulai menyiapkan saus BBQ.
Aroma daging panggang menyeruak, Alan dan Tirta sudah tidak sabar mencicipi hasil kerja keras mereka. Selain membuat steak, keduanya juga membuat bubur untuk si kecil. Bubur yang dimasak bercampur daging cincang.
"Babababa.... hoamm."
"Kamu sudah mengantuk? Buburmu sebentar lagi matang.
Hoammm! Si kecil kembali menguap sembari mengucek matanya.
"Dia sudah mengantuk, bawa saja pada ibunya."
"Tapi, mereka masih didalam Tirta. Aku tidak mau mengganggu Ervan."
Obrolan mereka terhenti, dua orang keluar dari kamar, berjalan beriringan menuju dapur. Ervan dengan wajah mulai terlihat cerah, sementara, Sarah hanya terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kalian sudah selesai?"
Ervan menghampiri, lalu menatap daging yang mulai dipanggang.
"Ini kentang gorengnya. Aku juga merebus sayuran, jika kau suka."
"Aku akan menyiapkan meja."
Ervan mengambil piring, menata dengan pisau dan garpu. Tak lupa, menuangkan wine yang mereka beli.
Sementara, Sarah kembali ke kamar untuk menidurkan si kecil. Pintu kamar tertutup, sekejap mata dua orang kepo merapatkan diri mendekati Ervan.
"Bagaimana? Apa berhasil?"
"Dia meminta waktu untuk berpikir."
"Lalu, apa yang kau katakan?"
"Aku memberinya waktu satu hari."
Alan dan Tirta, seperti kehilangan semangat. Tidak ada yang seru, dari cerita Ervan. Padahal, di dapur tadi mereka berdua sudah berimajinasi dengan kegiatan Sarah dan Ervan didalam kamar.
__ADS_1
Mereka kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaan. Alan membalik daging, sementara Tirta menyiapkan pelengkap diatas piring.
"Aku tidak sabar mencicipinya."
"Aku juga," balas Alan yang menelan salivanya.
Semua sudah tersaji diatas meja, steak dengan saus BBQ diatasnya, dihiasi dengan kentang goreng dan sayuran brokoli serta wortel. Gelas yang berisi wine dan lilin yang menyala diatas meja, menambah suasana romantis yang tercipta.
"Cih, kalian benar-benar menganggu," gerutu Ervan yang menatap Alan dan Tirta.
"Hei, kau yang mengajak kami. Memangnya, kau terganggu karena hal apa?"
"Lihat!" Ervan menunjuk lilin diatas meja. "Suasana romantis, diciptakan untuk dua orang, tapi kita berempat. Bahkan, kalian berdua sudah seperti pasangan."
"Kalian sudah makan?"
Sarah menghampiri, mengambil posisi duduk disebelah Ervan. Alan dan Tirta saling mendorong kursi mereka, mengambil jarak. Memang benar, mereka seperti sedang kencan ganda. Bedanya, keduanya tidak memiliki pasangan.
"Wow, kelihatannya enak. Terima kasih," puji Sarah.
"Sama-sama. Ayo, bersulang."
Mereka mengangkat gelas berisi wine, kecuali Sarah yang gelasnya berisi jus jeruk yang dibuat Alan. Karena, wanita itu masih menyusui.
Mereka meletakkan gelas bersama, saling melempar senyum.
"Aku, coba, ya!" Sarah mengambil potongan daging, yang sudah dipotong oleh Ervan sebelumnya.
Dengan senyum, steak itu masuk dalam mulutnya. Perlahan wajah Sarah mulai berubah, seiring ia mulai mengunyah. Sampai akhirnya, ia menyambar tissu dan memuntahkan makanannya yang belum cukup satu menit berada didalam.
"Asin, sangat asin."
"Hei, kalian memakai garam berapa kilo? Kenapa menjadi sangat asin."
"Seingatku, aku menaruhnya sangat sedikit. Apa kau yang menambahkannya Tirta?" Alan berkilah, lalu menuduh Tirta.
"Aku tidak melakukan apa-apa pada dagingmu. Aku sibuk memotong kentang."
"Tidak, kau pasti menambahkannya, saat aku mengurus si kecil. Mengakulah!"
Keduanya, saling menyalahkan dan menuduh. Sarah geleng-geleng kepala, sambil tersenyum. Kejadian ini, mengingatkannya pada saat mereka bertemu di rumah sakit. Sangat lucu!
"Diaammm!" Ervan berteriak membuat dua jomblo membeku ditempat. "Tirta, kau makan sayurannya dan Alan, kau makan kentang gorengnya."
"Lalu, kalian?"
"Aku akan memesan makanan baru."
Tirta dan Alan terperangah, sekejap saja pria sialan itu sudah berubah. Menghianati mereka yang sudah membantunya sejauh ini.
"Sudah, biar aku saja yang memasak." Sarah menengahi mereka. "Tapi, aku butuh bantuan."
Mereka segera bangkit, mengikuti langkah nyonya besar ke dapur.
"Kalian, memotong ulang daging tadi."
Ketiganya, mengambil daging diatas piring masing-masing. Lalu, memotongnya kecil-kecil.
__ADS_1
Sementara, Sarah memotong bawang-bawangan dan paprika.
"Ini, sudah." Ervan menyerahkan.
"Kalian duduklah, aku akan memasaknya."
Alan dan Tirta kembali duduk manis. Sedangkan, Ervan memilih untuk tetap membantu sang istri.
"Lihat, si gunung everest itu. Cepat sekali dia meleleh, saat bertemu Sarah." Alan berdengus kesal, melihat Ervan yang tersenyum.
Tirta mengikuti Alan, yang mengunyah kentang goreng buatannya, sambil menonton pemandangan didepan mereka.
Sepasang suami istri, yang sibuk memasak. Tapi, sang suami sibuk mencari muka.
Begitulah, kira-kira judul drama yang terlintas dalam benak Tirta.
"Alan, apa kau tidak ingin mencari pacar?" kunyah-kunyah, tanpa mengalihkan pandangan didepannya.
"Bagaimana, aku mau mencari pacar jika kalian berdua terus mengangguku. Apa lagi kamu, Tirta. Bahkan, tidur di apartemenku setiap malam minggu."
"Bukannya, kau yang memanggilku?"
Mereka saling menatap, lalu kembali membuang muka.
"Apa?"
Tirta merapatkan kursi, lalu berbisik.
"Apakah wanita itu berbahaya?"
"Maksudmu?"
"Apa kau ingat, wanita yang bernama Clarissa?"
"Ya, aku ingat. Memangnya, kenapa?"
"Ervan berkata, kalau dia wanita yang berbahaya, karena ingin menidurinya. Tapi. aku bingung. Apanya yang membahayakan jika hanya ingin menidurinya?"
Alan ternganga, bahkan mulutnya terbuka luas. Tirta si penggila kerja, sepertinya mulai sekarang harus mencari pacar.
Bagaimana mungkin, dia tidak mengerti akan hal itu.
"Kau sialan!" umpat Alan yang kesal. "Kau tahu Tirta, dengan sifat polosmu ini. Sehari, bisa seratus perempuan yang datang tidur denganmu."
Alan menarik Tirta menuju ruang tengah.
"Kau dan Ervan sungguh sangat cocok menjadi pasangan. Si boss yang bodoh dan sekretaris yang polos. Wanita itu berbahaya, jika berhasil menidurimu. Bagaimana jika dia hamil dan memintamu menikahinya, sementara kau tidak mencintainya.."
Tirta mangut-mangut, menyilangkan kedua tangannya.
"Ah, jadi yang berbahaya itu, jika dia hamil!"
Plak,
Alan menjitak kepalanya, karena sangat kesal.
"Tirta, dengarkan aku. Jika seorang wanita menawarkan diri padamu, jauhi dia. Karena, sangat membahayakan."
__ADS_1
Alan memberi nasehat seperti Tirta seorang adik perempuannya, yang takut seseorang akan menjebaknya.