CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 18 Identitas Sarah


__ADS_3

Pagi ini, Mama kembali melakukan pemeriksaan kesehatan, sebelum diizinkan pulang. Papa menggenggam tangan istrinya, seolah menenangkannya. Khawatir, terlihat


jelas dari raut wajah papa, dua hari berada di rumah sakit, istrinya terus menanyakan Ervan dan gadis itu, yang membuat tekanan darahnya naik turun.


“Bagaimana, dokter?”


“Tekanan darah Nyonya 120/70. Nyonya harus beristirahat, jangan memikirkan hal yang


membuat tekanan darah Anda naik.”


“Baik, dokter terima kasih banyak.”


“Sama-sama, Nyonya. Kami permisi.” Dokter menunduk hormat, lalu berjalan pergi.


Papa membereskan barang, bersama Daniel sekretarisnya yang akan mengantar mereka. Daniel sudah memiliki informasi lengkap, tentang kejadian yang dilakukan Ervan di Kota


XX. Tapi, ia akan menyampaikannya saat mereka berada di kediaman.


“Sudah beres?” Menoleh ke arah Daniel.


“Sudah, Pak.”


Ketiganya, berjalan keluar ruangan. Papa menggenggam erat tangan istrinya, menuntun


berjalan, dibelakang mereka Daniel menyusul dengan membawa sebuah tas pakaian. Di parkiran, Daniel membuka pintu mobil membiarkan Presdir dan istrinya masuk, lalu menyusul duduk didepan kemudi.


Menempuh perjalanan 20 menit, mereka tiba di kediaman, keduanya disambut para pelayan rumah yang menunggu di halaman.


"Apa Ervan dudah kembali?" Papa bertanya kepada kepala asisten rumah.


"Belum, Tuan. Sudah dua hari, tuan muda tidak pulang ke rumah. Hanya sekretarisnya, Tirta yang datang mengambil pakaian."


"Baiklah."


"Pa, telpon Ervan agar pulang. Mama mau bertemu dengannya."


Mama bersuara setelah mendengar pembicaraan mereka.


"Nanti saja, Ma. Biarkan anak itu tenang dulu. Mama juga harus istirahat, setelah keluar rumah sakit."


"Tapi, Pa. Mama ingin tahu wanita itu."


"Ma, sudah. Sekarang kita masuk."


Papa melanjutkan langkahnya ke dalam rumah, setelah mengakhiri perdebatan mereka.


“Daniel, tunggu aku di ruang baca.” Titahnya, lalu berjalan masuk tanpa melepaskan genggamannya dari sang istri.


Papa mengantar istrinya masuk dalam kamar, Lagi-lagi istrinya, kembali memohon.

__ADS_1


"Pa, bagaimana jika Papa menjemput Ervan? Mungkin, saat ini, ia merasa canggung bertemu kita."


Papa menarik napas, mencoba tenang dengan sikap istrinya yang suka memaksa dan manja jika memiliki kemauan.


"Sayang, dengarkan aku. Papa juga butuh istirahat. Anak kita, bukan lagi umur lima tahun yang harus dijemput pulang. Dia sudah dewasa, dia akan pulang setelah merasa tenang."


Mama memanyunkan bibir, yang membuat suaminya menjadi gemes.


"Istirahatlah, Papa keluar dulu, menemui Daniel." Mengecup dahi istrinya sebelum keluar.


Di ruang baca,


Papa sudah duduk dengan tenang, menautkan jari-jarinya, diatas meja. Menunggu Daniel membaca hasil penyelidikannya, yang masih membuka map di tangannya.


“Namanya, Sarah Maharani, lulusan sarjana Sains, ia bekerja sebagai penanggung jawab


Quality Kontrol di anak perusahaan Kota XX.”


Daniel mulai menjelaskan isi dalam map.


“Lanjutkan.”


“Tuan muda mengunjungi kota XX, untuk melihat perkebunan teh dan pabrik produksi.


Keduanya, sering bertemu membahas kualitas bahan mentah sebelum produksi. Tuan muda mem ....” Daniel menghentikan ucapannya, saat hendak membaca sebuah kalimat yang terlalu vulgar untuknya.


“Kenapa?” Papa menatap sekretarisnya, yang berhenti melanjutkan kalimatnya.


“Kenapa? Kamu tidak nyaman?” Daniel mengangguk. “Kalau begitu, ganti kalimatnya yang membuatmu tidak nyaman.”


“Malam itu, tuan muda mabuk hingga melakukan kesalahan dengan memaksa Nona Sarah bersamanya. Setelah itu, tuan muda pergi meninggalkannya ditengah malam, saat ia sudah sadar dari mabuknya. Keesokan pagi, ia memecat Nona Sarah dengan alasan sengaja menjebaknya untuk naik ditempat tidurnya.”


“Lalu?” Papa memijit pelipisnya.


“Tuan muda kembali mencarinya setelah tiga bulan, tapi nona Sarah sudah pergi meninggalkan Kota XX, saat saudarinya sudah meninggal.”


“Lewatkan yang lain, katakan saja keberadaannya saat ini.”


Papa mulai tidak sabar, mendengar penjelasan Daniel yang terlalu bertele-tele, seperti membuang waktunya.


“Saat ini, Nona Sarah berada di perumahan elit kawasan XX, tuan muda membelikan rumah untuknya.”


“Hah?” Kagetnya. “Maksud kamu, mereka sudah bertemu?”


“Sudah, presdir. Tuan muda sudah bertemu dengan nona Sarah dan putranya yang berumur 10 bulan.” Daniel menyerahkan sebuah foto Sarah bersama putranya.


“Dia cucuku?” Bertanya, sambil terus menatap foto dengan wajah diliputi kelegaan.


“Benar, Presdir.”

__ADS_1


“Mereka sudah bertemu. Tapi, mengapa Ervan tidak mengatakan apa-apa?”


“Sepertinya, Nona Sarah masih membenci tuan muda.


“Baiklah, terima kasih Daniel. Kamu boleh pergi.”


Daniel menundukkan kepala, lalu berjalan keluar. Sebenarnya ada hal penting, yang


belum ia sampaikan, karena Presdir memerintahkannya untuk melewatkannya saja. Ia kembali membawa map itu, menyimpan di rumahnya, mungkin suatu hari akan berguna.


Masih di ruang baca,


Papa masih menatap foto Sarah dan putranya, ia mengusap perlahan, seolah sedang membelai wajah cucunya. Wajah bayi tersenyum dengan lesung pipi yang terlihat


jelas, mata bulat dan garis wajah yang persis dengan putranya Ervan.


“Kau memang cucuku, tidak diragukan lagi.” Mendaratkan kecupan diatas kertas foto.


“Tunggulah, Kakek akan menjemput kalian berdua.”


Papa menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan bingkai foto kosong, memasukkan foto Sarah dan putranya, lalu meletakkannya diatas meja. Ditatapnya kembali, seperti tidak sabar ingin berjumpa.


Papa berjalan meninggalkan ruang baca, masuk dalam kamar, tempat istrinya berada. Wanita itu, sedang terbaring menatap ke arah jendela kamar.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?"


Papa menghampiri istrinya, duduk disamping dengan menyandarkan punggungnya menggunakan bantal.


"Tentang wanita itu." Mama menghela napas. "Mama, bingung harus menerimanya atau tidak. Selama ini, Mama mencari menantu yang setara dengan keluarga kita. Tapi, perbuatan Ervan membuat Mama malu dan marah."


"Mungkin kita harus menebusnya, dengan menerimanya dengan tangan terbuka. Wanita itu tidak salah dan tidak menginginkan putra kita."


"Mama mengerti maksud Papa? Tapi, bagaimana jika wanita itu hanya lulusan SMA. Mau ditaruh dimana muka Mama."


Papa tersenyum, membelai rambut istrinya yang tengah gundah.


"Tenang, saja. Wanita itu berpendidikan dan cerdas."


Mama mengangkat wajahnya, menatap kedua manik suaminya.


"Papa, tahu dari mana? Apa Daniel?"


Suaminya hanya mengangguk.


"Dia akan menjadi menantu yang Mama harapkan. Kita harus menerima mereka, untuk menebus kesalahan Ervan."


"Mama, mengerti. Tapi, bagaimana dengan cucu kita, Pa?"


"Mama, bersabarlah. Besok Papa akan mencari mereka."

__ADS_1


Papa sengaja tidak memberitahu keberadaan Sarah dan cucunya, jika istrinya tahu, mungkin sekarang akan berada dalam perjalanan.


__ADS_2