CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 22 Penampilan baru


__ADS_3

Sarah dan ibu Ervan, berada dibutik langganannya. Mencoba beberapa gaun pengantin. Meski, pernikahan mereka hanya diadakan dengan sederhana, ibu Ervan memaksa menantunya menggunakan gaun mewah.


"Setelah, selesai. Kita ke mall ya, Sarah. Mama akan membelikan beberapa pakaian untukmu dan cucuku."


Cukup lama mereka berada dalam butik, hingga siang hari, keduanya memasuki pusat perbelanjaan.


"Selamat siang, Nyonya. Sudah lama Anda tidak berkunjung."


"Benarkah?" Mama terkekeh, lalu meraih tangan Sarah. "Ini menantuku, carikan pakaian yang cocok untuknya."


"Baiklah, Silahkan Nona, ikut saya."


Sarah mengikuti langkah wanita didepannya. Mencoba beberapa gaun, yang memakan waktu cukup lama.


Kakiku sepertinya, akan patah. Jika harus berjalan lagi.


"Bagaimana? Apa kamu menyukainya, Sarah?"


"Suka, Ma."


"Baguslah, kalau begitu, kita pergi mencari tas dan sepatu."


What? Mampus.


"Maaf, Ma. Sarah masih punya sepatu dan tas,"


Tolak Sarah yang merasa tidak enak ditambah energinya yang sudah hampir habis.


"Tidak boleh, sayang. Mama akan membelikan yang baru untukmu. Ayo, ikut Mama."


Pasrah, satu kata yang hanya dilakukan Sarah. Memaksa kedua kakinya, mengikuti langkah ibu mertuanya, yang entah mengapa tidak mengenal lelah.


"Pilihlah."


Sarah membulatkan mata, jejeran tas mewah terpampang dengan rapi.


"Ma. Apa bisa memilihnya untuk Sarah? Aku bingung, karena semuanya seperti sama ."


Mama tergelak, menantunya terlalu polos.


"Baiklah, kalau begitu." Ibu Ervan menoleh ke arah pelayan. "Tolong, bungkus semuanya!"


Apa? Apa Mama berniat membuka toko.


"Baik, Nyonya."


Hei, Tunggu!


"Ma, jangan, biar Sarah pilih,"


Akhirnya, sarah memilih dua tas yang berbeda warna. Keduanya tas selempang, dengan merek yang berbeda.


"Hanya, itu? "


"Iya, Ma."


Dimana hati nuraniku, jika aku mengambil semuanya!


Mama tersenyum, kembali menggandeng tangan menantunya, masuk dalam toko sepatu. Kali ini, Sarah berinisiatif memilih sendiri, jika tidak mungkin ibu mertuanya akan membeli semuanya.


"Sudah, Ma. "


Sarah menunjukan dua sepatu flat yang dibelinya.


"Sayang, kamu juga butuh sepatu untuk ke pesta."


Mama mengedarkan matanya, meneliti berbagi model sepatu di depannya.


"Coba, yang ini."


Mama mengambil dua sepatu high heels dengan model berbeda. Sepatu dengan model sling back heels berwarna silver dan spool heels berwana hitam.

__ADS_1


"Cocok sekali, sayang. Coba berjalan, Mama mau lihat."


Sarah melangkah, sepatu yang cocok melekat di kaki jenjangnya. Ia memang sudah terbiasa, menggunakan sepatu model seperti itu. mengingat dulu, sering mengikuti acara formal saat masih bekerja.


"Kau semakin, cantik. Biar Mama, mengambil model lain untukmu."


"Tidak, perlu, Ma. Ini sudah, cukup."


Sarah, kembali menolak. Mama tampak berpikir.


"Baiklah, lain kali saja. Sekarang, kita ke salon."


"Salon?"


"Iya, sayang. Kamu harus mengubah penampilanmu. Apalagi, rambutmu yang teracak."


Rambut!


Ingatan Sarah, tertuju saat Tirta memanggilnya hantu, gara-gara rambutnya.


Meninggalkan toko sepatu, Mama kembali mengajak Sarah ke salah satu salon langganannya.


"Wen, tolong kamu rubah penampilan menantuku, terutama rambutnya yang terlalu panjang dan kusut sana sini."


"Baik, Nyonya. Jangan khawatir."


Sekitar dua jam Sarah di make over. Menggunakan model A line dress, berwarna tosca dan ikatan pita dibagian depan pinggangnya. Rambutnya terurai lurus, wajah dengan polesan make up natural.


Sarah berdiri ala model, dengan pose salah satu tangannya dipinggang. Memperlihatkan penampilannya pada Mama yang terlihat antusias.


"Aaaa... Mama suka. Kau sangat cantik. Kita kejutkan Ervan dengan penampilanmu yang sekarang."


"Tapi, Mama. Bajunya, terlalu pendek."


Sarah menarik dresnya ke bawah yang panjangnya hanya sebatas lutut.


"Sarah, model bajunya memang seperti ini, ia mengecil bagian atas dan lebar ke bawah. Sangat press, dengan pinggangmu yang ramping. Mama jadi iri, kau seperti seorang gadis."


"Ya, sudah sekarang kita pulang. Besok kita belanja lagi, untuk cucu Mama.


Besok lagi?


Pukul empat sore, keduanya tiba di kediaman. Supir yang mengantar mereka membawa banyak barang dibantu dengan beberapa pelayan di rumah.


"Kalian bersenang-senang?"


Papa menghampiri dua wanita yang baru saja melangkah masuk. Dengan menggendong cucunya, dengan mata berbinar menyambut ibunya.


"Mamamama ..."


"Oh, Sayangku."


Ibu Ervan tampak mengecup cucunya sana sini. Begutu, juga dengan Sarah yang langsung memeluk putranya.


"Kami berbelaja, Pa. Lihat, penampilan baru Sarah. Mama akan memberi pelajaran pada Ervan, karena sudah membuang kalian."


Papa terkekeh, lalu merangkul bahu istrinya.


"Papa senang, kamu sudah tidak cemberut lagi, karena sudah memiliki menantu dan cucu untuk di pamerkan."


Ketiganya, duduk diruang tengah.


"Sarah."


"Iya, Ma."


"kamu istirahat saja. Berikan Ersan pada Mama."


"Tidak perlu, Ma. Mama juga harus istrirahat."


Sarah menolak, karena tidak enak hati.

__ADS_1


"Sudah tidak, apa. Kamu bereskan belanjaan kamu."


Mama menatap beberapa pealyan rumah, membawa belanjaan menuju kamar Sarah.


"Baiklah, Ma. Habis mandi, Sarah akan menjaga Ersan."


Mama berjalan masuk kamar, bersama suaminya. Sementara, Sarah mulai menapaki anak tangga menuju kamarnya dilantai dua.


"Hah, lelahnya," keluhnya, saat mendaratkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Sarah memejamkan mata sesaat, lalu kembali bangkit menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Wajahku, memang sedikit berubah. Mungkin, aku bisa menggunakannya untuk menjerat pria brengsek itu. Setelah itu, ..." Sarah menjeda kalimatnya, lalu tersenyum licik.


Ia menatap beberapa paper bag diatas lantai. Membuka satu persatu, lalu menatanya di dalam lemari.


"Baiklah, seperti ini saja. Lagi pula nanti, aku tidak akan membawanya."


Setelah selesai, Sarah kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lelah. Apalagi, kedua kakinya yang terasa berat dan pegal.


Di kamar sebelah, Ervan baru saja tiba. Membuka jas, dan kemejanya, lalu menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Drt...drt


"Hm."


"Bagaimana? Apa yang terjadi semalam?"


"Kau menelponku, hanya untuk menanyakan itu?"


"Tentu saja, sebagai seorang sutradara aku harus mengevaluasi akting kalian."


"Cih, aku tahu, kau hanya ingin menggosip seperti tante-tante."


"Hei, kenapa kau menyamakan aku dengan mereka? Apa kau tidur bersamanya? Hihihi." Alan terkekeh dari balik telepon.


"Bagaimana mungkin aku tidur dengannya?"


"Jangan berbohong padaku, kau kan takut tidur sendirian. Cepatlah jawab, aku penasaran."


"Sudah, jangan ganggu aku."


Ervan memutuskan sambungan telepon. Tidak lama, ponselnya kembali berdering.


"Apa kau melihat sesuatu yang langka? Hihihi."


Alan kembali terkekeh, dari balik telepon.


"Kau. Apa kau benar-benar senggang? Kenapa kau begitu penasaran?"


"Hahaha, sepertinya memang terjadi sesuatu. Jangan-jangan kau melihatnya sedang menyusui. Apa kau sudah tidak penasaran? Hahaha...."


Dengan kesal, Ervan kembali mematikan sambungan telepon. Wajahnya merona, karena mengingat kejadian semalam.


"Malam ini, sepertinya aku harus tidur sendiri," gumamnya, lalu bangkit menuju kamar mandi.


Pukul tujuh malam, Ervan keluar kamar, menghentikkan langkahnya, saat melihat Sarah berjalan menuju arahnya.


Cantik!


Memuji dalam hati dan pandangan matanya yang tidak lepas dari penampilan sarah.


Satu, dua langkah, Sarah berhenti di depan Ervan. Tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Kamu mau turun?"


Sarah bertanya, tapi Ervan hanya melongo menatapnya tanpa berkedip.


"Van, Ervan."


"Hah! Apa?"

__ADS_1


"Tidak, lupakan saja." Sarah melanjutkan langkahnya.


__ADS_2