CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 13 Terjebak


__ADS_3

Ruang  perawatan VVIP,


Ervan masih berada disisi ranjang, mengelus rambut anaknya yang sudah tertidur pulas. Sarah yang duduk di sofa menatap dengan perasaan yang bercampur aduk. Bahagia, sedih dan bingung, entah bagaimana harus mengungkapkan perasaannya sekarang.


Dalam keheningan di ruangan itu, Tirta datang membawa makan siang bersama Alan. Mereka hanya tersenyum kepada Sarah lalu meletakkan makanan diatas meja.


“Van,” panggil Tirta, “makan siangmu.”


“Antarkan kemari.” Menjawab tanpa memalingkan wajahnya.


Alan mengangkat kursi untuk Ervan sedangkan, Tirta membawakan kotak makan dan botol minuman.


Sarah mendekat.


“Bergabunglah dengan mereka, aku akan menjaganya.”


“Tidak. Sebaiknya, kamu istirahat. Aku akan menjaganya.”


Sarah kembali duduk bergabung bersama Alan dan Tirta yang mulai menikmati makanan mereka. Beberapa saat, Alan dan Tirta memecah keheningan diantara mereka.


“Aku seperti tidak asing dengan suasana ini,” ucap Tirta.


“Tentu saja, kita baru mengalaminya dua hari yang lalu.”


“Benarkah? Pantas saja. Tapi, apa kita akan menginap lagi?”


“Tidak, kalian harus pergi.” kali ini Ervan yang menjawab.


“Kenapa?”


“Apa kau mau membangunkan kami lagi dengan teriakanmu? Kemarin kau berteriak tentang hantu, jika kamu menginap lagi malam ini, aku rasa kau akan memanggil anaknya tuyul.”


“Buahahaha .....” Alan tergelak dengan memegang perutnya.


Tirta terkekeh menahan malu, melirik Sarah yang sedang menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Tirta bagaimana kalu kita menginap lagi?" Alan melanjutkan kalimatnya dengan berbisik, kepada Tirta. Sesekali kedua mata mereka melirik Ervan dan Sarah. Lalu terkikik, menahan tawa.


Sarah menggeleng, ternyata sikap Tirta yang cuek di perusahaan hanya sampul belaka. Dihadapannya, pria itu berbisik seperti anak kecil yang sedang merencanakan sesuatu.


“Baiklah, kami akan pergi sekarang. Kami akan datang membawakan makan malam.”


Alan dan Tirta pun berpamitan, karena harus melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sekarang, tinggallah Ervan dan Sarah yang terdiam ditempat, tanpa melakukan apa-apa.


“Tidurlah, aku akan menjaganya,” ujar Ervan.


Sarah mengangguk, lalu berbaring di sofa dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Ia membalikkan tubuh, menatap punggung pria yang pernah menyakitinya. Di sana, ia terlihat lembut menjaga putranya, bahkan sangat cemas dan panik saat berada dalam perjalanan siang tadi. Ia pun memejamkan mata, menghalau keraguan yang mulai timbul dalam hatinya.


***


Waktu terus berlalu, Sarah terbangun, mengerjapkan mata, bangkit perlahan lalu berjalan menuju ranjang pasien. Dilihatnya, Ervan tertidur disisi ranjang dengan tangan memegang jari putranya. Sekilas, ia tersenyum lalu mengguncang tubuh Ervan perlahan.


“Hmm, ada apa?” Bertanya tanpa membuka matanya.


“Bangun, ini sudah sore, kamu harus pulang.”


“Hmm.”

__ADS_1


Sekarang, bagaimana? Dia hanya menjawab Hemm


Bingung, Sarah mengambil popok dan mengganti, saat putranya masih tertidur pulas. Lalu, berjalan menuju sofa, sebuah tangan kekar meraihnya hingga langkahnya terhenti. Ervan berdiri, tanpa aba-aba langsung memeluk erat, dan membenamkan kepala Sarah di dadanya.


“Ka ... kamu kenapa?” Sarah terkesiap, berusaha mendorong tubuh Ervan yang menempel.


“Tolong, biarkan aku sebentar saja. Aku hanya merindukannya.” Terus memeluk.


Merindukannya? Siapa? Apa dia sudah punya kekasih?


Pikiran Sarah berkeliaran kemana-mana, melupakan tubuh Ervan yang masih menempel. Merasa cemas, dengan ucapan pria itu. Walau sepengetahuannya, CEO nya belum memiliki kekasih, seperti itulah yang tersebar dalam perusahaan.


Ervan melerai pelukannya, membuat wanita itu tersadar. Ia menatap dengan hangat, mengelus pipi dengan lembut, perlahan memajukan bibirnya, membuat Sarah menutup mata, belum sempat bibirnya mendarat, Ervan tersadar lalu memundurkan langkahnya.


“Maaf,” ucapnya lalu pergi menghilang ditelan pintu.


Degup jantung Sarah berlarian, ia terduduk disisi ranjang, mencerna apa yang baru saja terjadi.


“Apa dia ingin menciumku? Tapi, kenapa?"


Di parkiran, Ervan duduk di depan kemudi, mengelus dada, karena jantungnya seperti akan melompat keluar. Ia mengusap bibirnya, terlintas bibir ranum Sarah seperti menggodanya.


“Ada apa denganku? Kenapa aku ingin menciumnya?”


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Ervan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju kediamannya. Setelah memarkir mobilnya, ia berjalan diatas rerumputan, tersenyum kepada pelayan rumah yang dibalas dengan senyum tatapan heran.


“Ada apa dengannya hari ini?” gumam seorang pelayan.


Kakinya belum berpijak dilantai, Ervan sudah ditarik oleh ibunya di halaman samping.


“Kamu dari mana saja, Van? Semalam kamu tidak pulang, bahkan tidak ke perusahaan.”


“Van, Mama tidak akan memaksa, jika kamu sudah punya kekasih, yang tentu saja harus setara dengan kita. Tapi, Mama bisa membuat pengecualian jika ia memilki pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak. Apa sekarang kamu memilki pacar?”


****! Bagaimana ini? Ia tidak masuk dalam kategori sebagai menantu.


“Van, Ervan. Apa kamu punya pacar sekarang?” Ervan tersentak saat pertanyaan kedua kali keluar dari mulut ibunya.


“Belum, Ma. Aku belum punya pacar.”


“Bagus, malam nanti kamu ikut Mama dan papa, kita akan menemui orang tua Clarissa.”


“Maksud, Mama apa?”


“Kita akan melamar Clarissa, sebagai istri kamu.”


Ervan mengejar ibunya, yang terlebih dahulu masuk tanpa menunggu jawabannya.


“Ma, kenapa mengambil keputusan tanpa bertanya kepadaku? Aku tidak mencintai Clarissa, bahkan kami hanya bertemu sekali.”


“Ervan, perasaan itu bisa terjalin saat kalian sering bertemu. Ayahmu sudah mengambil keputusan, jadi jangan mempermalukannya.”


“Ma, Mama....” Ervan memanggil saat ibunya pergi begitu saja.


Ervan berbalik arah, menuju mobil. Sepertinya, ia tidak bisa tinggal disini sementara waktu. Ia membunyikan klakson, saat pintu pagar tidak juga dibuka oleh satpam.


“Buka, apa kau tidak dengar?”

__ADS_1


“Maaf, Tuan muda. Nyonya melarang, Anda keluar. Silahkan kembali.”


“Sial,” teriaknya, keluar membanting pintu mobil dengan keras.


Ervan berlari masuk dalam rumah mencari ibunya, tapi sayangnya wanita paruh baya itu menolak bertemu. Ia hanya bertemu dengan kepala pelayan, yang mencegahnya masuk dalam kamar sang mama.


“Tuan muda, silahkan kembali ke kamar. nyonya berpesan, Anda bisa menunggu tuan besar, untuk membicarakannya.”


“Kau memerintahku?”


“Maaf, saya hanya menjalankan tugas.”


Ervan menapaki anak tangga, sambil mengumpat. Suaranya menggelegar karena emosi, membuat para pelayan menjadi takut. Ia membanting pintu dengan kuat, hingga terdengar dilantai bawah. Ervan merogoh ponselnya menghubungi Tirta, yang mungkin bisa membuatnya keluar dari rumah.


“Aku terjebak, dalam rumah. Keluarkan aku.”


“Maaf, Van. Presdir, menyita kunci mobilku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.”


“Ahhhh, siaal.” Ervan membanting ponselnya, hingga berserakan.


Kali ini, ia benar-benar terperangkap dalam rumahnya sendiri. Ia mendengus kesal, dadanya naik turun menahan emosi yang sudah memuncak di kepalanya. Ia mengambil telepon rumah, diatas meja nakas.


“Bawakan aku, ponsel baru.”


Tak lama, suara ketukan pintu terdengar, Ervan segera membuka dan menyambar ponsel yang baru saja di bawa kepala pelayan. Ia menekan angka menghubungi Alan.


“Kau dimana?”


“Di rumah sakit. Aku sudah tahu, Tirta menghubungiku. Tapi, aku tidak bisa membantumu.”


“Bukan itu, bantu aku bujuk wanita itu. Aku sudah kehabisan waktu.”


“Aku mengerti.”


Kini Ervan hanya bisa duduk, menunggu kabar baik dari Alan dan menunggu kedatangan ayahnya untuk protes. Ia kembali mengambil ponselnya dan menelpon Alan.


“Ada apa, lagi? Aku belum menemuinya, aku masih ada pasien.”


“Ceritakan padanya, tentangku dan kejadian itu. Yakinkan, ia mau berperan menjadi gadis itu dan mengganti namanya.”


“Apa kau gila? Kau pikir dia mau melakukannya?”


“Tidak peduli, bagaimana kau yakinkan dia. Tapi, dia harus melakukannya.” Menutup sambungan begitu saja.


Ervan kembali menunggu dengan perasaan berkecamuk. Berharap wanita itu mau mengabulkan keinginannya. Dalam kesendiria, terdengar suara langkah kaki berhenti tepat didepan pintu kamar, lalu mengetuk perlahan.


“Tuan muda, tuan besar sudah kembali, menunggu Anda di ruang kerja.”


Ervan langsung bangkit, membuka pintu lalu berlari ke ruang kerja ayahnya dilantai yang sama. Ervan membuka pintu, dilihatnya ayah dan ibunya sudah duduk menunggu dengan secangkir teh yang masih beruap.


“Duduk,” kali ini sepertinya ayah yang akan memberikan penjelasan. “Papa sudah dengar dari ibumu, tentang penolakanmu. Seperti yang ibumu katakan, maka Papa juga akan melakukan hal yang sama.”


“Pa, Ervan memiliki hak untuk menolak. Ini pernikahan, Pa. Bukan permainan dan Ervan yang menjalani bukan Papa dan Mama. Bagaimana bisa Papa menjodohkan dengan gadis baru sekali Ervan temui?”


“Kalau itu masalahmu, Papa akan memberimu waktu untuk berkenalan dan berkencan dengan Clarissa. Agar, kau bisa mengenalnya dengan baik. Dengar, Ervan Papa tidak bisa menerima seorang gadis yang tidak setara dengan kita.”


Sial! Kenapa aku terpojok seperti ini?

__ADS_1


Ervan membisu, ia tidak bisa membantah lagi. Ia menatap ayah dan ibunya, keluar dari ruangan tanpa sepatah kata. Sepertinya, keputusan ayahnya tidak bisa diubah lagi. Suara notifikasi dari ponsel, membuyarkan lamunannya. Ia menatap layar, jantungnya berdegub tidak beraturan saat melihat nama yang mengirmkannya pesan singkat. Ervan mengatur napas, berdoa dalam hati, pesan ini akan menjadi penentu masa depannya.


Dia setuju, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi.


__ADS_2