CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 47. Badai belum berlalu


__ADS_3

Situasi yang menegangkan sudah teralihkan, setelah keluarga Clarissa pergi. Tirta sudah membubarkan anak buahnya, sementara dua saksi sudah diantar pulang, setelah babak belur.


Jika dipikir-pikir, masalah sudah selesai. Tapi, entah kenapa wajah cemberut, mama dan Sarah masih tergambar. Mama mengerucutkan bibir, menyindir nyindir suaminya, yang bingung dengan letak kesalahannya.


"Kalau, papa diposisi Ervan, pasti tuh perempuan udah habis." Mama membuang muka.


"Apa sih, Ma. Kok, bawa-bawa papa?"


"Jangan pura-pura, pasti gitu, kan. Pasti langsung main banting!"


Papa bingung, istrinya sedang membicarakan apa. Ia melirik putranya, yang hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


Mama baru saja melihat video putranya, tentang kejadian malam itu. Ia memaksa untuk melihatnya sendiri. Begitu selesai, ia justru menatap tajam suaminya.


"Mama, kenapa sih? Memang, Papa salah apa?"


"Pa, kalau ada perempuan nari-nari didepan papa, pasti nggak nolak, kan? Pasti disikat habis, kan?"


Izzam geleng-geleng kepala, sang istri sedang cari masalah. Ia memilih bangkit, hendak pergi.


"Papa, tidak menjawab, karena pasti kayak gitu!" Mama melirik Ervan dan Sarah.


"Ma, udah, ya. Papa mau kembali kerja. Ervan, ayo, bangun!"


"Papa tidak boleh pergi, sebelum menjawab." Sandra bangkit, menghadang. "Benar, kan?"


"Tidak, benar, Ma. Papa sayang dan cinta, sama sama mama."


"Bohong! Mama, tidak percaya. Pasti papa, nggak bisa nolak, iya kan!"


"Sebenarnya, itu mungkin saja. Apalagi, kalau mama marah-marah nggak jelas."


Bugh, bugh.


"Keterlaluan!!"


Mama berlari menuju kamar, dengan mata berkaca-kaca.


"Papa, jadi suami kok begitu?"


"Diam, ini semua gara-gara kamu. Kenapa sih, nunjukkin video itu ke mama?"


"Mama yang maksa. Emang apa hubungannya?"


"Mama lagi cari perhatian."


Izzam pergi menyusul sang istri. Meletakkan kembali tas dan jasnya diatas kursi.


"Sayang."


Kosong.


Ervan tidak menyadari Sarah, sudah tidak ada ditempatnya. Mungkin, sang istri menuju kamar, melihat anak mereka.


Ditepi ranjang, Sarah duduk dengan wajah yang masih cemberut. Dia hanya seorang diri, karena si kecil sudah dibawa pengasuh, diruangan bermain.


"Kamu kenapa? Aku sudah membuktikan semuanya, tapi kenapa sepertinya, kamu senang."


"Apa perasaan kamu?" Sarah menatap tajam, mencari kebohongan dari sorot mata sang suami.


"Hah!!"


"Perasaan saat dia seperti itu dihadapanmu. Perasaan saat kamu menyentuh dan membuka pakaiannya."

__ADS_1


"Tidak ada. Aku tidak tertarik, sumpah." Mengangkat dua jarinya.


"Bohong. Kamu pikir, aku percaya. Kamu pria normal, mustahil tidak tergoda." Suara Sarah meninggi.


"Hei, aku berkata jujur. Balon miliknya memang besar besar dan bulat, dari milikmu. Terus, membuat penasaran. Tapi, aku tidak ada nafsu dan tertarik."


Plak, plak.


"KELUARR!!"


"Sarah, Sarah." Ervan mencoba bertahan, saat tubuhnya didorong menuju pintu. "Aku sudah berkata jujur, kenapa kamu masih marah?"


"Bulat dan besar, dari milikku." Sarah menunjuk dadanya. "Wah, kau sangat keterlaluan. Aku sampai berpikir, kau pasti tidak tahan untuk meremasnya seperti kelapa parut."


"Itu kenyataan. Kenapa kau marah? Seharusnya, kamu bangga memiliki suami yang bisa menahan segala godaan."


"KELUAAAARRR!!!"


Brak.


Ervan mengelus dada, saat pintu dibanting dengan kerasnya. Ia bingung, dengan kesalahannya yang letaknya berada dimana.


Diruang tengah, nasib sama dialami sang ayah. Pria paruh baya itu, duduk dengan menopang kepalanya.


"Papa, kenapa?"


Izzam hanya menghela napas panjang, malas untuk menjawab.


"Kamu sendiri, kenapa? Papa dengar, Sarah mengusirmu."


Ervan juga menghela napas, lalu duduk disebelah sang ayah.


"Aku bingung. Salah aku, apa? Jujur salah bohong salah. Maunya apa sih?"


"Papa juga, gitu. Dulu, waktu papa pacaran sama mama. Papa tuh, nggak pernah benar. Salah melulu. Sekarang, kayaknya mama lagi kumat."


"Jadi, bagaimana menyelesaikannya?"


"Gampang. Tinggal minta maaf, rayu sana sini dan jangan lupa berikan pujian setingi-tingginya "


"Apa langsung beres?"


"Tidak. Mereka akan menjawab, bohong, kamu bohong."


"Lalu?"


"Yah, tinggal mengelak saja."


"Dulu, mama maafin papa berapa lama, untuk kasus seperti ini?"


"Tidak lama, cuma tiga hari."


"Tiga hari!" protes Ervan. "Lama banget, Pa. Trus, Papa ngapain aja, selama tiga hari."


"Ya, itu, minta maaf, trus merayu. Pokoknya, lakukan saja semuanya. Yang penting, cepat beres, dari pada diusir dari kamar."


"Aneh juga, ya, perempuan!"


"Begitulah. Kata orang, perempuan itu tidak pernah salah."


Sesi curhat berakhir, keduanya memilih kembali ke perusahaan dari pada tinggal di rumah tapi dicuekki.


Ayah dan Ervan, semobil, dengan Daniel yang mengemudi. Keduanya, melanjutkan sesi curhat di dalam mobil, sambil mencari solusi untuk menghadapi para istri sepulang kerja nanti.

__ADS_1


"Apa ada yang harus aku lakukan?" tanya Ervan, sembari berjalan masuk dalam lift bersama Tirta.


"Tidak ada, semua pekerjaan sudah diambil oleh sekretaris presdir."


"Kalau begitu, bantu aku cari solusi."


Pintu lift terbuka. Ervan berjalan lebih dulu, Tirta menyusul dibelakangnya.


"Solusi apa?" tanya Tirta, saat mereka duduk diatas sofa.


"Sarah sedang marah, gara-gara video itu."


"Marah kenapa? Kamu, kan tidak melakukan apa-apa."


"Itu dia, masalahnya. Dia tanya perasaan aku saat itu. Aku jawab jujur, dia malah murka."


"Memangnya, kamu bilang apa?"


"Yah, aku tidak tertarik, meski balonnya besar dan bulat."


"Balon??"


Ervan lupa, kalalu sekretarisnya sangat polos. Tidak mengerti, istilah kekinian.


"Itu." Ervan menunduk, matanya menujuk saku jasnya.


Tirta ikut. Melihat jasnya. Tidak mengerti, kembali menatap Ervan dengan wajah bingung.


"Ah, sudah. Kamu membuatku bertambah lelah, dengan sifatmu. Sebaiknya, kamu mencari pacar dan segera menikah."


"Apa tidak bisa kamu memberitahuku secara langsung?"


"Tidak, itu terlalu sensitif."


***


Di rumah Sarah dan ibu, duduk berdua dihalaman belakang. Menikmati secangkir teh dan cemilan diatas meja. Dihadapan mereka, si kecil bermain dengan sebuah bola ditemani pengasuhnya.


"Mama dengar, kamu berteriak mengusir Ervan."


"Maaf, Ma. Sarah hanya emosi."


"Tidak apa, sayang. Kedua laki-laki itu, harus diberi pelajaran." Menyesap tehnya dengan perlahan.


"Ma, Sarah minta maaf. Sarah sudah bicara kasar pada Mama waktu itu."


"Mama juga minta maaf, sudah menamparmu. Sekarang. kita lupakan semuanya dan mulai hidup baru."


"Iya, Ma. Terima kasih. Sarah, akan mencoba yang terbaik untuk keluarga kita."


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Bagaimana jika kamu menambah cucu mama? Pasti akan sangat ramai, jika mereka berlarian dalam rumah."


Mama tersenyum dengan imajinasinya.


"I ... itu,"


"Jangan takut, Mama akan menyewa pengasuh banyak-banyak, untukmu. Ah, iya!"


Mama bangun tiba-tiba, ide cemerlang terlintas begitu saja. "Tunggu, disini!"


Mama beranjak, memanggil kepala pelayan, mengisntruksikan ini dan itu, yang tidak terdengar oleh Sarah. Setelah selesai, ia kembali duduk.


"Ntar, malam pakai baju tidur, yang mama siapkan."

__ADS_1


"Iya, Ma."


Sarah menerima tanpa bertanya lebih lanjut,


__ADS_2