
Pagi hari yang sama, seperti biasa. Rutinitas yang dikerjakan setiap hari kerja. Kesibukan yang dimulai sejak pagi, hingga sore hari.
Pria yang raut wajah dingin, kepada semua orang. Tapi, seperti anak kecil, jika didepan istrinya. Merengek minta ini itu, dipagi buta.
"Peluk." Merentangkan kedua tangan, dengan mata yang masih terpejam.
Sarah menurut saja, biar urusan cepat selesai dan bayi besar ini segera bangun.
"Cium." Menunjuk pipi kiri dan kanan. Setelah, mendapat kecupan, ia kembali menunjuk dahi dan hidungnya. Yang paling akhir, bibirnya yang tersenyum puas.
"Sudah, sekarang bangunlah!" Sarah masih berada dalam pelukan Ervan. Ia susah bergerak, karena pria itu, melilitnya seperti ular
"Lima menit, lagi."
Hanya helaan napas, yang terdengar dari Sarah. Ia tahu betul, waktu lima menit, menurut Ervan. Lima menit, yang bukan perhitungan orang normal.
"Van, ini sudah satu jam. Ayo, bangun!" Sarah menggoyang tubuhnya, minta dilepas.
"Baru satu menit, sayang."
Satu menit dari mana! Tubuhku sudah mau remuk, teriak Sarah dalam hati. Ia tidak mau membuang energinya dipagi hari, dengan berteriak. Sarah berusaha melepaskan tubuhnya. Goyang sana, goyang sini, sampai kepalanya menanduk dagu sang suami.
"Apa sih, kau seperti cacing kepanasan!"
"Aku keram."
"Keram?" Ervan langsung bangun. "Aku akan memijitmu. Mana yang keram?"
Modus pijit memijit, Sarah sudah tahu bagaimana endingnya. Untungnya, dia sedang datang bulan.
"Tidak perlu. Aku mandi dan ganti pembalut."
Ervan mundur, kata pembalut seperti popok baginya.
"Apa banyak?" Ervan sedikit penasaran, dengan tamu sang istri setiap bulan.
"Apanya?"
"Itu." Menunjuk dengan matanya.
"Kamu mau lihat?" goda Sarah.
"Tidak, terima kasih."
Sarah terkikik, lalu segera bangkit. Ervan sendiri masih bermalas-malasan diatas tempat tidur. Tengkurap, sambil memeriksa ponselnya.
Alan, tidak ada di apartemennya. Sepertinya semalam, dia tidak pulang. Pesan Tirta.
"Cih, merepotkan. Dia seperti gadis muda, yang patah hati. Menyebalkan." Memutar tubuhnya, dengan posisi terlentang, masih memegang ponselnya. "Apa susahnya bilang cinta, pada wanita itu? Ck, dasar payah!"
Lihat, siapa sekarang yang sedang mengomel tidak jelas. Benar-benar, telah lupa bagaimana dia dulu.
"Halo."
"Kau sudah periksa dirumah sakit?"
"Belum."
"Kenapa belum?"
"Hei, ini masih pagi. Aku bahkan baru bangun dan belum sarapan." Suara omelan Tirta, terdengar lebih berani.
"Aku tidak menyuruhmu sekarang, bodoh!"
Tirta membisu, dibalik telepon. Kalau bukan sekarang, lalu apa maksud pertanyaannya tadi.
__ADS_1
"Aku akan menelponnya."
Tut. Sambungan terputus.
Ervan membuang ponselnya dengan malas. Mengurus percintaan Alan, seperti mengurus gadis muda yang masih labil.
"Apa dia mau bunuh diri?"
Ervan tertawa sendiri, dengan ucapannya. Jika Alan melakukan itu, ia akan ikut merasa malu.
"Dasar, bodoh. Mau mempermalukan persatuan kita."
Pintu kamar mandi terbuka. Sarah sudah terlihat segar, dengan handuk yang melilit diatas kepalanya.
"Sedang menertawakan, apa?"
Ervan melambaikan tangan, menepuk atas tempat tidur.
"Kenapa?" Sarah duduk, disamping sang suami.
"Menurutmu, apa wajar, jika pria bunuh diri, karena ditolak?"
"Wajar saja. Siapa yang tahu, perasaan seseorang."
Deg.
Wajah Ervan berubah, pias. Pikirannya, tertuju pada Alan yang putus asa.
"Bagaimana cara pria bunuh diri?"
Sarah bengong. Pertanyaan, apa ini? Kenapa menanyakannya padaku?
"Mana aku, tahu. Kenapa sih, bertanya tentang seperti itu? Memangnya, siapa yang mau bunuh diri?"
Apa sih!
"Dalam drama, biasanya pria bunuh diri dengan cara keren. Menembak diri, overdosis, atau melompat, mungkin. Memangnya, kenapa?" tanya Sarah lagi, yang kini merasa penasaran.
Ervan tidak menjawab. Ia mengecup sang istri dan buru-buru, masuk dalam kamar mandi.
"Gawat, gawat! Dasar, bodoh!" Ervan mandi dengan cepat, tidak seperti biasanya. Ia bahkan sudah selesai, padahal belum lima menit.
"Kok, cepat?" Sarah bingung, dengan sang suami yang sudah selesai.
"Mana pakaianku?"
Sarah membantu Ervan memakai baju dan mengikat dasi.
"Aku pergi. Cup!"
Ervan sudah berlari keluar. Ia bahkan tidak mendengar Sarah, yang memanggilnya untuk sarapan.
Dalam perjalanan, Ervan mengendarai mobil sendiri. Tidak menunggu Tirta, yang harus berdandan dulu.
"Halo. Kenapa? Aku sedang sarapan." Suara kunyah-kunyah terdengar.
"Cepat! Alan mau bunuh diri!"
"Apa?" Suara panik dan batuk karena tersedak, terdengar dari balik telepon. Sambungan belum terputus, karena Tirta masih mengatur napasnya.
"Aku menunggumu di apartemennya."
Ervan memutuskan sambungan telepon. Melaju dengan fokus, dengan kecepatan tinggi.
Ditempat berbeda, Tirta yang sudah rapi meneguk habis kopinya, yang masih panas. Lidahnya hampir terbakar, tapi dengan cepat membungkam mulutnya dengan roti tawar. Ia berlari, dengan panik. Menabrak barang-barang disekitarnya dan tersandung di karpet. Setelah keluar, Tirta kembali masuk karena melupakan kunci mobilnya. Sungguh, ia sangat panik dan tidak fokus, mendengar berita dari Ervan.
__ADS_1
Kedua sahabat itu, kini berdiri didepan pintu apartemen Alan. Wajah mereka pias, tidak ada candaan, kali ini. Ervan terus menekan bel, tapi tidak ada jawaban.
"Dia tidak ada. Bagaimana jika dia sudah mati didalam?"
Plak. Ervan memukul lengan Tirta.
"Buka. Kamu, kan tahu, kunci sandi apartemennya."
Tirta mengangguk. Dengan cepat, menekan angka, hingga akhirnya pintu terbuka.
Deg.
Hal pertama yang mereka lihat, adalah banyak botol minuman alkohol. Diatas meja dan diatas lantai. Rumah berantakan, pakaian menggantung dan berserakan di sofa.
"Van." Suara Tirta gemetar, situasi rumah yang kacau, menjadi pertanda buruk.
"Telpon, dia."
Tirta merogoh ponselnya, mencari kontak Alan.
"Tidak aktif." Wajah Tirta semakin pias, pikiran buruk semakin mengacaukan kewarasannya.
"Sial! Kemana dia?"
Ervan mencari dalam kamar. Keadaannya, cukup rapi, tidak seperti diruang depan.
"Kita ke rumah sakit," ujar Ervan, yang segera beranjak keluar.
"Kalian siapa?" Seorang wanita muda, tetangga apartemen Alan. Ia baru saja tiba, hendak masuk dalam apartemennya.
"Kami, teman pemilik apartemen ini. Kamu tahu, kemana dia?"
"Kalian temannya? Baguslah." Wanita itu bernapas lega. "Kemarin malam, sepertinya pak dokter mabuk berat. Aku menegurnya, tapi dia tidak membalasku. Dia tampak kacau, bahkan penampilannya berantakan. Dia pergi malam itu dan sampai sekarang, belum kembali."
Perasaan Ervan dan Tirta, semakin kalut. Otak mereka blank, karena tidak tahu harus kemana, mencari Alan. Pria itu, hanya sibuk di rumah sakit dan apartemennya.
Setelah mengucapkan terima kasih, mereka segera pergi.
"Apa kamu mengingat sesuatu? Mungkin tempat yang biasa dikunjungi Alan."
"Tidak. Setiap ada masalah, dia hanya memanggil kita di apartemennya."
"Ah, sial! Kemana si bodoh ini?"
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Mungkin, ada temannya yang mengetahui keberadaan Alan."
"Kamu gila? Kita saja tidak tahu, apalagi mereka. Sudah sebaiknya, beritahu otak kecilmu untuk berpikir, kemana Alan pergi?"
Kamu pikir otakku ini, penyihir, yang bisa mengetahui keberadaan pria itu, gumam Tirta. Lagi pula, kenapa juga sih, dia harus menghilang?
Tunggu!
"Ada apa?" Ervan melihat ekspresi Tirta yang mendadak bersemangat.
"Aku ingat sekarang. Dia mengatakan padaku, kalau dia menyukai pemandangan dari jembatan gantung, yang berada dikampung halaman Sarah."
"Terus kenapa?" Ervan mengernyitkan alisnya.
"Mungkin saja dia berada disana."
"Kamu stress, Tirta. Untuk apa, dia kesana melihat jembatan? Kamu pikir dia mau terjun?"
Deg.
Mereka berpandangan, wajah pias dan tangan gemetar.
__ADS_1