
Ibu Ervan sudah tiba di rumah, ia meminta pengasuh untuk membawa si kecil menjauh darinya. Masih dalam keadaan marah, ia melangkah masuk di kamar putranya. Kamar masih kosong, karena Sarah belum pulang.
Ibu Ervan membuka lemari, menggeledah dengan hati-hati. Tidak menemukan apa-apa, ia mengambil sebuah koper yang tersimpan diatas lemari. Koper yang sudah usang, tapi masih disimpan dengan baik.
Di dalamnya, ada sebuah map dan beberapa pakaian lama dan bingkai foto. Mama menatap sesaat, lalu meletakkannya kembali. Ia mengambil map dan membukanya.
Akta lahir cucunya, surat nikah, sertifikat rumah atas nama Sarah, buku tabungan dan surat perjanjian.
Mama mengambil secarik kertas itu, membacanya dengan cermat. Kedua mata membelalak, ia menutup mulutnya yang hampir memekik.
"Tidak, aku tidak percaya. Ervan, apa yang sudah kamu lakukan."
Mama memegang kepalanya yang sudah pusing. Menarik napas dengan air mata yang sudah menetes jatuh.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa Ervan, kenapa? Apa wanita dalam ceritamu hanya kebohongan? Jika benar, kamu memperkosa seorang gadis, dimana dia? Kenapa kamu membawa orang lain?"
Mama masih menangis, putranya telah berbohong dan yang membuatnya semakin sakit, ia sudah menganggap Sarah menantunya dan cucu yang sudah sangat ia sayangi.
Mama bersandar sesaat, masih menatap isi koper itu. Sebuah buku berukuran kecil, menarik perhatiannya. Ia meraih, membuka perlahan. Hanya ada catatan, yang isinya Mama tidak mengerti.
"Apa ini?"
Meraih foto berukuran dompet, foto bayi laki-laki yang baru saja lahir. Mama kembali membuka buku catatan itu, yang ternyata ada beberapa foto yang terselip didalamnya.
Masih foto yang sama, bayi laki-laki dengan pakaian yang berbeda. Terakhir, sebuah foto pria yang diambil dari jarak jauh. Tapi, wajahnya masih terlihat jelas.
"Ervan!"
Mama semakin tenggelam pada kesalahpahaman. Melihat foto putranya, ia berkesimpulan, wanita itu sudah menargetkan putranya jauh-jauh hari. Sepertinya, ia sudah tidak butuh hasil tes DNA lagi. Karena, semua sudah sangat jelas.
Mama kembali mengatur isi koper itu, seperti semula. Meletakkannya di atas lemari, seperti sediakala.
Di lantai bawah, Sarah baru saja tiba, ditangannya membawa paper bag.
"Bik Sri, dimana putraku?"
"Sedang tidur, Nona."
Sarah menapaki anak tangga, berjalan menuju kamar bayi yang terletak disamping kamarnya.
"Sayang." Mengecup kepala putranya.
Dibelakang, ibu Ervan masuk, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu sudah pulang?" Menghampiri ranjang bayi, tempat Sarah berdiri. "Bagaimana pakaiannya, apa ada yang cocok?"
"Ada, Ma. Aku hanya mengambil dua."
"Baguslah, pakai itu saat kita ke arisan minggu depan."
Sarah mengangguk, menatap mertuanya yang melangkah pergi keluar kamar. Tidak seperti biasanya, dia akan mencium atau mengganggu bayinya saat sedang terlelap.
Apa mama sedang lelah? Bergumam dalam hati, dengan pikiran positif.
__ADS_1
Tak lama, pintu diketuk, pelayan dari balik pintu memintanya keluar untuk makan siang.
"Iya, bik. Sebentar."
Sarah keluar kamar, menuruni anak tangga. Tampak ibu Ervan duduk menunggu. Ia langsung duduk, tapi belum ada gerakan untuk memulai makan siang.
"Ma," panggil Sarah. "apa aku boleh ijin keluar?"
"Kemana?"
"Aku ingin pulang kampung dan berziarah di makam orang tua serta kakakku."
Mama masih menatapnya, entah apa yang dipikirkan sampai begitu lama memberikan jawaban.
"Berapa lama?"
"Hanya tiga hari."
"Baiklah, tapi jangan membawa cucuku."
"Maaf, Ma. Tapi, aku harus mengenalkan Ersan kepada orang tuaku. Aku belum pernah memperkenalkan mereka, sejak ia dilahirkan."
Apa kau berencana kabur? Batin Mama berteriak. Sejak menemukan surat perjanjian kontrak pernikahan, ia sudah memberikan cap ada menantunya. Dia seorang penipu, begitulah ia memberikan nama sekarang.
"Ya, sudah kamu pergilah. Ajak Ervan sekalian, biar berkenalan dengan orang tuamu."
"Terima kasih, Ma."
Sarah masih berpikiran positif, mungkin dia lelah atau banyak pikiran. Sehingga, mertuanya tidak banyak bicara hari ini. Tapi, tetap saja ia masih merasa aneh.
"Bik Sri," panggil Sarah, saat masuk dalam kamar si kecil.
"Ada apa, Nona?"
"Bik, kalian hari ini kemana saja?"
Sarah berjalan duduk di sofa, merangkul pengasuh anaknya untuk duduk bersama.
"Cuman jalan-jalan di taman, terus ke rumah teman Nyonya."
"Hanya itu?"
Bik Sri mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa lagi. Karena, ibu Ervan hanya berkata demikian.
Sarah menghela napas, mungkin ia terlalu banyak berpikir.
"Apa ada yang terjadi di rumah teman mama?"
Kini bik Sri yang bingung, memutar otaknya sambil membuang pandangan entah dimana. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan senyum dibuat-buat.
"Bik," panggil Sarah.
"Maaf, Nona." Memaksa senyum. "Tadi saya cuman duduk diteras rumah. Jadi, tidak tahu ada kejadian apa."
__ADS_1
Melihat Bik Sri kebingungan, Sarah hanya bisa mengambil kesimpulan sendiri. Mungkin semua berkaitan dengannya atau mungkin juga, karena gosip yang beredar di kantor. Mertuanya merasa malu memiliki menantu sepertinya, yang pernah bekerja sebagai cleaning servis.
Tapi, bukankah ayah mertuanya sudah mengetahui semua tentangnya. Bahkan mungkin, satu-satunya yang tidak mengetahui identitasnya hanyalah Ervan. Karena, pria itu masih memanggilnya dengan nama Tamara.
"Bik, aku ke kamar dulu."
Sarah, melangkah menuju kamar sebelah. Saat pintu terbuka, ia menatap mertuanya yang duduk menunggu diatas tempat tidur.
"Mama." Sedikit tersentak, lalu berjalan masuk setelah menutup pintu. "Apa Mama butuh sesuatu?"
PLAK,
Sarah memegang pipinya, menatap bingung sang mertua.
"Penipu!" Mama menatap tajam. "Katakan berapa Ervan membayarmu?"
Sarah mengerti, kenapa ibu mertuanya mendadak berubah. Gosip yang tersebar membuat wanita itu, menyelidiki tentang identitasnya.
"Masih belum menjawab!" Mama melempar surat perjanjian, mendarat di wajah Sarah.
"Mama menemukannya?" Sarah tersenyum getir.
"Iya, mau berapa lama kamu mau menipu keluarga kami."
Sarah merobek kertas perjanjian itu, menghamburkannya diatas lantai.
"Aku tidak pernah menipu siapapun. Surat ini adalah permintaan putramu."
"Maka, tinggalkan rumah ini! Aku tidak ingin membesarkan seorang anak yang bukan darah daging putraku."
Sarah tertawa, sambil menggelengkan kepala. Lucu juga, pikirnya. Tapi, ia merasa lega karena dapat pergi secepat mungkin.
"Mama tidak perlu mengusirku, aku akan pergi tanpa diminta. Tapi, tolong beritahu putramu agar ia tidak melupakan perjanjiannya."
"Kamu." Kemarahan mama seperti akan meledak. "Perempuan tidak tahu malu."
Sarah sudah menurunkan kopernya, mengambil beberapa barang miliknya.
"Jangan khawatir, Nyonya. Aku tidak akan mengambil barang yang bukan milikku."
"Baguslah, jika kamu mengerti. Secepatnya, kamu pergi sebelum Ervan pulang."
Mama berjalan pergi, diambang pintu ia kembali memutar badan.
"Aku harus memanggilmu Sarah atau Tamara?"
Sarah tidak peduli, ia masih sibuk mengatur barangnya.
"Aku menerimamu tanpa pikir panjang, untuk menebus kesalahan putraku yang sudah memperkosamu. Tapi, ternyata kamu bukan orangnya."
Sarah menatap mertuanya, berdiri dengan posisi tegak.
"Dia memang memperkosaku!"
__ADS_1