
Ervan, Alan dan Tirta, sudah diperjalanan, menuju kampung halaman Sarah. Mereka berpamitan, mengatakan akan keluar kota untuk urusan pekerjaan.
"Sampai disana? Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku sudah, bilang. Kita melakukan survei terlebih dahulu. Fokus pada jalananmu, Tirta."
Alan yang duduk disamping kemudi, menatap lurus pada jalanan didepannya. Sebenarnya. Pikirannya saat ini berada ditempat lain.
Yah, dokter Zia, seorang ahli bedah. Yang berhasil memporak-porandakkan hatinya. Wanita yang tidak pernah membalas tatapannya dan mengibarkan bendera perang. Padahal, mereka baru bertemu, tapi wanita itu sudah terlihat membencinya.
"Sudah, jangan memikirkannya lagi!" Ervan menepuk bahu Alan. "Masalah, cintamu akan terselesaikan setelah urusanku beres."
Cih!!
Yah, si boss egois, mulai berpendapat. Padahal, Alan tahu, Ervan pria kaku dan dingin. Memangnya, solusi apa yang akan diberikannya nanti.
Menghabiskan waktu tiga jam, Tirta menepikan kendaraan didepan sebuah rumah, dengan cat putih bercampur krim. Dan dikelilingi pagar kayu.
"Kau yakin, itu rumahnya?" Ervan menunjuk rumah itu, tampak berbeda dari ingatannya saat itu.
"Hmm, mereka memberitahuku. Katanya, rumah ini, sudah berpindah tangan. Si pemilik, sudah merenovasi semuanya."
"Berpindah tangan? Si nenek tua itu, menjualnya padahal bukan rumah miliknya." Ervan emosi. Brak. Pintu tertutup dengan keras. Ia melangkah masuk halaman, setelah membuka paksa pintu pagar.
Tok, tok, tok.
Berulang kali, dengan suara keras, tapi tidak ada jawaban. Ervan tidak menyerah, bahkan menendang pintu berkali-kali.
"Hei, sudahlah. Kau mau merusaknya! Ini rumah orang, bukan rumahmu!" Tirta mulai kesal, dengan sifat Ervan yang belum berubah.
"Kalian mencari siapa?"
Mereka memutar badan. Pria tua, berdiri didepan pintu pagar. Ditangannya, memegang sebuah parang.
"Kau lihat! Kita akan mati disini." Tirta berbisik.
"Kenapa dia membawa parang, siang-siang begini?" Timpal Alan, yang juga berbisik.
"Kami mencari pemilik rumah ini." Ervan menjawab, karena kedua sahabatnya sibuk mencerna situasi.
"Oh, dia tidak tinggal disini. Dia hanya datang sesekali. Dia berasal dari kota. Kalian bisa datang minggu depan. Dia biasanya datang akhir pekan atau kalau dia sedang libur."
"Baiklah. Terima kasih."
Si kakek itu pergi. Tirta dan Alan bernapas dengan lega. Benda tajam, membuat mereka merinding. Bukan karena takut, tapi bingung, jika kakek tua itu yang menjadi lawan mereka.
"Bukankah, ini hari sabtu? Mungkin. Dia akan datang sebentar lagi."
__ADS_1
"Kamu benar. Tapi, sebaiknya kita menuju makam. Lalu, kembali lagi. Mungkin, dia akan datang sore nanti."
Ervan mengangguk, mendengar saran dari kedua sahabatnya. Ketiganya, akhirnya masuk mobil. Kembali melanjutkan perjalanan menuju taman perkuburan, yang letaknya tidak jauh.
Tirta memarkir kendaraan, sembari memperhatikan keadaan sekitar yang sangat sepi.
"Tempat ini, membuatku merinding!"
Tirta berlari, mengikuti langkah Ervan dan Alan, yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Mana?" Ervan menoleh pada Tirta. Karena, pria itu, lebih tahu posisi makam, daripada dirinya.
"Lurus, belok kanan, lurus lagi." Tirta menggerakkan tangannya, sesuai jalur yang akan mereka lewati.
"Kau yang pimpin jalan!"
Tirta akhirnya berjalan lebih dulu, dengan dua sahabatnya mengekor dibelakang.
Tiga buah gundukan tanah, ditumbuhi rumput dan dedaunan kering diatasnya. Batu nisan dengan nama yang terukir, menandai pemilik makam.
Salah seorang penjaga makam, datang menghampiri mereka. Kakek dengan jenggot yang sudah memutih dan sebuah oarang ditangannya.
"Bukankah, dia si kakek yang tadi?" Ketiganya saling menatap.
"Kalian ingin berziarah?" tanya si Kakek, yang ikut duduk berjongkok.
"Baiklah, saya akan membantu membacakan doa."
Ketiganya mengangguk, lalu mengangkat kedua tangan. Mereka terdiam, mendengarkan kakek membaca doa dengan khusyu. Setelah, selesai mereka mengusap, lalu menyalami si Kakek.
"Apa Anda semua keluarganya?" tanya si Kekek.
"Iya, Kek. Saya suami Sarah dan mereka berdua saudara saya."
"Sarah?" si Kakek seperti sedang berusaha mengingat nama itu. "Ah, iya. Si kembar, Sarah. Apa dia baik-baik saja? Sudah begitu lama, ia pergi dari kampung ini."
"Dia baik-baik saja, Kek."
"Baguslah. Dia anak yang baik. Dulu mereka hidup bersama dengan kakaknya, Tamara. Tapi, suatu hari bajingan dari kota, datang menghancurkan masa depan gadis itu."
Glek!
Ervan menelan ludah dengan kasar, bahkan ia menahan napas sejenak. Sementara, Alan dan Tirta tertunduk menahan tawa, yang hampir pecah.
"Apa Kakek mengenal Sarah dan keluarganya?" tanya Ervan, yang berusaha tenang.
"Tentu saja. Orang tuanya, adalah orang yang dermawan. Sementara, Tamara adalah orang yang sangat menyayangi adiknya. Dia rela tidak bersekolah demi bekerja, agar Sarah bisa menyelesaikan pendidikannya. Mengingat, kehidupan mereka dulu, membuatku emosi. Pria brengsek dan bajingan itu, membuatku ingin mengulitinya hidup-hidup."
__ADS_1
"Kakek tahu, yang menimpa Sarah?" tanya Ervan lagi, ia berusaha tenang, padahal kedua tangannya sudah gemetar.
"Siapa yang tidak tahu, pria bajingan itu." Si kakek bangkit dari posisinya, emosinya meluap-luap. Mengayunkan parang didepan Ervan. "Dia pria yang tidak punya hati nurani, bajingan, dan brengsek. Mudah-mudahan, dia berumur pendek."
Alan dan Tirta saling mencubit. Sungguh, tawa mereka ingin meledak sekarang. Rasanya. Ingin berguling-guling diatas pasir, untuk melepas tawa.
Sementara, Ervan tidak ingin bertanya lagi. Karena, semua jawaban si kakek, justru seperti ribuan anak panah yang melesat dan menancap di dadanya.
"Oh, iya, Kek. Tentang, rumah orang tua Sarah. Kalau boleh tahu, siapa yang sudah membelinya?" Kali ini Alan yang bertanya, setelah berhasil menguasai dirinya.
"Setelah, rentenir itu meninggal. Anak-anaknya yang hidup di kota, menjual rumah itu. Katanya, dibeli seorang dokter. Saya pernah bertemu, beberapa kali. Orangnya sangat baik dan sopan."
Ketiganya, mengangguk. Berpikir, bagaimana cara mendapatkan rumah itu kembali? Sepertinya, akan lebih sulit dari mana berurusan dengan rentenir.
Si kakek sudah pergi. Untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara, ketiga sahabat itu, masih duduk dibawah pohon, depan makam keluarga Sarah.
"Bagaimana sekarang?" tanya Tirta yang sibuk mencabut rumput.
"Kita cari warung makan, sambil menunggu si dokter itu. Aku penasaran, seperti apa dia."
"Aku juga. Lagi pula, ini sudah jam tiga, mungkin sebentar lagi, dia datang."
Mereka segera bangkit, berjalan meninggalkan makam. Sebelum, benar-benar pergi, Ervan berpesan pada si Kakek agar membersihkan makam, keluarga istrinya. Ia juga berpesan, agar si kakek, memanggil beberapa tukang untuk memperbaiki makam keluarga Sarah.
Di warung makan yang cukup sederhana. Ketiganya duduk, dibangku kayu, berhadapan, dengan meja panjang sebagai pembatas. Mereka memesan menu berbeda-beda, ayam goreng dan bebek goreng lalapan, pecel lele dan soto ayam. Ketiganya, hanya memesan es teh manis, karena hanya itu yang tersedia di warung itu.
Makanan sudah tersaji, masih panas dan beruap. Mereka sangat menikmati hidangan dengan suasan alam yang menyejukkan.
"Aku kenyang," ujar Tirta yang memegang perutnya.
"Bagus, jadi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan." Ervan meneguk es teh miliknya.
Sudah pukul empat lewat beberapa menit, mereka memutuskan untuk segera kembali di rumah orang tua Sarah.
Hanya beberapa menit, perjalanan mereka sudah tiba. Sebuah mobil berwarna putih, terparkir dihalaman rumah. Ketiganya langsung turun, tapi Alan dengam cermat memperhatikan mobil yang tidak asing dan seolah pernah melihatnya dimana.
"Kenapa? Ayo, jalan!" Ervan mendorong Alan, yang tiba-tiba berhenti didepannya.
Tirta sudah mengetuk pintu rumah, bersama Ervan. Alan masih sibuk dihalaman, dengan mengelilingi badan mobil.
"Siapa?" Suara wanita dari dalam rumah, bertanya sebelum akhirnya ia membuka pintu.
Deg.
Alan membeku, menatap wanita itu dari halaman rumah.
"Zia!!"
__ADS_1