
Satu bulan berlalu.
Tepatnya, pagi ini. Hotel tempat berlangsungnya, acara pernikahan Alan dan Zia digelar.
Keluarga besar Alan, sebagian sudah menginap di hotel ini, dari tiga hari yang lalu. Sementara, keluarga lainnya menginap di rumah keluarga terdekat.
Keluarga Izzam, juga memberikan kontribusi besar, pada pernikahan putra sahabatnya.
Pukul Sepuluh pagi, acara akad nikah, akan dilakukan. Izzam dan sang istri, sudah berangkat satu jam yang lalu. Mereka tidak menunggu, putra dan menantu mereka. Seperti biasa, dua orang itu, selalu berlama-lama dalam kamar.
"Van, ini sudah jam sembilan. Minggir sana!" Sarah mendorong tubuh sang suami, yang menempel erat.
"Kita, kan bukan penghulu. Untuk apa, cepat pergi!"
Menempel dengan tangan melilit, seperti ular.
"Tidak enak, Van. Papa dan Mama, sudah pergi. Masa iya, kita masih disini."
"Lima menit lagi."
Sarah menghela napas panjang. Kesal, iya. Lima menit, menurut perhitungan Ervan mungkin berjam-jam.
sekitar setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda, sang suami akn bangun. Pelukannya pun, belum mengendor.
"Van, sudah setengah sepuluh. Cepat bangun!"
"Lima menit lagi."
Plak.
Lima menit, sampai malam dan acara berakhir, ia akan terus mengatakan lima menit.
Sarah sudah bangun, setelah terbebas dari pelukan dan suami. Berjalan masuk kamar mandi, tanpa mengatakan apa-apa.
"Aku akan pergi sendiri," ujar Sarah, yang baru keluar dari kamar mandi. Ia segera mengeringkan rambutnya.
Ervan sudah berlari masuk kamar mandi, setelah mendengar sang istri, yang akan pergi sendirian.
Sarah masih memilih baju, saat Ervan sudah keluar dengan rambut yang basah.
"Ini baju, yang disiapkan ibu."
Ervan tidak menjawab. Matanya, sibuk meneliti pakaian sang istri, diatas tempat tidur. Puas. Ia mengambil pakaian miliknya.
Sarah masih berdandan. Sambil menunggu, Ervan menyelesaikan pekerjaannya didepan layar komputer. Ia juga sibuk menelpon, sana sini. Kadang suara lembut, dingin, bahkan berteriak. Ia akan tersadar, saat mata Sarah sudah melotot padanya.
Gara-gara Ervan, mereka keluar dari kamar, sudah jam sepuluh lewat beberapa menit.
"Paman, mana putraku?" tanya Sarah, ada kepala pelayan.
"Nyonya besar, sudah membawanya pergi bersama pengasuh."
Sarah menatap Ervan, penuh kekesalan. Yang ditatap, hanya cengar-cengir, tanpa berani menatap balik.
Ervan mengemudi sendiri, karena Tirta masih di perusahaan menggantikannya. Pria satu itu, mungkin akan datang terlambat.
Lokasinya tidak cukup jauh, tapi karena kepadatan lalu-lintas, membuat perjalanan mereka menjadi terhambat.
Sarah menatap jam tangannya yang melingkar di pergelangannya. Ia menghela napas berkali-kali dengan kesal. Sudah jam sebelas dan mereka belum sampai.
Pada saat, kendaraan mulai sepi, Ervan menambah kecepatan. Helaan napas, sang istri membuat nyalinya menciut, tak berani bersuara. Bisa-bisa, ia berakhir di kamar tamu, malam ini.
Mereka sudah tiba. Banyak kendaraan yang terpakir disana.
"Ini gara-gara kamu," desis Sarah.
"Maaf. Aku ketiduran."
__ADS_1
Keduanya masuk lift, bersama beberapa orang yang menggunakan gaun pesta. Beberapa dari mereka menyapa, keduanya. Ervan hanya tersenyum sekilas. Seperti biasa, sifatnya didepan umum, selalu berbeda.
Mereka tiba di ballroom yang luas. Tampak kursi yang sediakan sudah terisi. Sepertinya, Ervan dan Sarah masih beruntung. Karena, Alan belum melakukan ijab kabul.
"Bapak, ibu, sekalian. Kita akan segera mendengarkan, proses ijab kabul yang akan dilakukan oleh ayah kandung dari mempelai wanita."
Ervan segera menggandeng tangan sang istri. Berjalan melewati beberapa tamu, yang berdiri menyapanya. Ervan tersenyum, membalas sapaan, lalu segera menuju kursi. Disana, kedua orang tuanya, sudah duduk menunggu.
"Kenapa kalian sangat lama?" tanya Mama kepada Ervan, yang pasti menjadi penyebabnya.
"Macet, Ma."
Ervan tersadar, ada orang lain dimeja mereka.
"Kau, bukannya di perusahaan?"
"Aku akan pergi, kalau acaranya sudah selesai."
"Bagus, bagus."
Acara ijab kabul berlangsung dengan khidmat. Para tamu, bersamaan mengucapkan kata 'Sah', setelah para saksi mengatakannya terlebih dahulu. Semua bertepuk tangan sambil bersorak bahagia.
Pengantin wanita pun, muncul bersama ibunya yang menggandeng tangannya.
"Dia sangat cantik," puji Sarah.
"Istriku lebih cantik," balas Ervan.
Para tamu, satu persatu menemui pengantin diatas pelaminan, untuk memberi ucapan selamat. Ada juga, yang memilih untuk menikmati hidangan, dengan alunan musik yang terdengar merdu.
Kedua orang tua Ervan, ikut berjalan menuju pelaminan. Begitu juga, Ervan, Sarah dan Tirta.
"Selamat, yah, dokter."
"Terima kasih, Kakak ipar."
"Hah, akhirnya kau laku juga!" Ervan menepuk baju Alan. "Hadiahmu, aku kirim dirumah."
"Kau harus mengantri, dengan seniormu."
Mereka terkekeh. Kemudian giliran Tirta, memberikan selamat.
"Kapan kau akan menyusul?" tanya Ervan.
"Jangan membahasnya disini."
"Kau menunggu adiknya, selesai kuliah?" seru Ervan. "Kau bisa-bisa sudah menjadi kakek. Hahahaha.... "
Tirta mengabaikan Ervan. "Hadiahmu, aku kirim dirumah."
"Kalian, berdua, apa tidak bisa memberikannya langsung?"
Mereka mengabaikan Alan, berpindah pada pengantin wanita.
"Selamat, yah!" ujar Sarah yang memeluk Zia. "Kau sangat cantik."
"Terima kasih," balas Zia.
Ia juga menerima ucapan selamat dari Ervan dan Tirta.
Turun dari pelaminan, mereka kembali duduk ditempat semula. Dari jauh, orang tua Ervan tampak sibuk meladeni beberapa orang, yang menghampiri mereka.
Pengasuh putra Sarah, Tiba-tiba muncul, entah dari mana.
"Nona."
"Oh, putraku. Kalian dari mana?"
__ADS_1
"Tuan muda kecil, bermain dengan gadis kecil disana."
Sarah sudah memangku putranya. Si kecil mulai bercerita, yang membuat Ervan dan Tirta tertawa.
"Wah, putraku sudah pintar. Lanjutkan, Nak!"
Sarah melotot.
"Kak Tirta."
Semua menoleh. Gadis kecil, yang bulan lalu membuat masalah, untuk Tirta. Ia tampak berbeda dengan gaun dan make up di wajahnya.
"Anak kecil. Kau pulang, rupanya!"
"Iya, Kak Ervan."
Alinna mengambil posisi duduk, disamping Tirta yang sama sekali, tidak mau menatap dan menyapanya.
"Kak, Tirta. Kapan melamarku?"
"Aku sudah punya pacar, jangan mengganguku."
Ervan sudah mau membuka mulut. Tapi, Sarah sudah melotot lebih dulu. Dengan cepat, ia menarik tangan Ervan untuk pergi. Ia tidak mau mengganggu Tirta dan gadis itu.
"Jangan bohong, Kak! Aku tahu, Kak Tirta masih sendiri."
Tirta tidak peduli. Ia menghabiskan minumannya diatas meja dan bangkit.
"Aku harus kembali bekerja."
Alinna mengikuti langkah Tirta dengan senyum menyeringai. Entah apa yang ia rencanakan.
Dalam lift, Tirta beberapa kali menggelengkan kepalanya. Ada yang aneh dengan penglihatannya yang tiba-tiba buram dan kepalanya yang pusing.
"Kak Tirta, kenapa?"
"Jangan menyentuhku." Tirta berpegangan pada dinding.
Alinna tidak menggubris. Ia tetap menggandeng tangan Tirta, yang seperti kehilangan tenaga.
"Alinna. Kau membuatku membencimu."
"Maksud, Kak Tirta apa?"
"Jangan berpura-pura." Tirta menghempaskan tangan Alinna dengan kuat.
Alinna mematung. Ia takut, melihat wajah Tirta dipenuhi amarah.
Pintu lift terbuka. Tirta segera keluar dan Alinna masih mengikutinya.
"Hei, kau!" panggil Tirta pada salah satu karyawan perusahaan yang menjadi supirnya, saat datang. "Antar aku!"
"Kak, Kak Tirta. Dengarkan aku!"
"Minggir!" desis Tirta yang berpegangan pada karyawan tadi. "Aku menggapmu sebagai adikku. Tapi, kau melakukan ini?"
"Kak, aku.... "
"Ini pertemuan terakhir kita! Jangan pernah menggangguku dengan pesan dan telepon mu."
Tirta segera pergi, meninggalkan tempat. Kepalanya semakin pusing dan kedua matanya semakin berat.
"Jangan ke apartemanku!
"Bawa aku dikediaman CEO."
"Baik, Pak."
__ADS_1
Tirta tidak ingin kejadian dirinya dijebak terulang. Kediaman Ervan, adalah tempat yang aman baginya dalam pengaruh obat tidur.
Alinna. Jangan pernah, kita bertemu lagi!!