CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 14 Rahasia Ervan


__ADS_3

Dia setuju, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi.


Ervan menghela napas lega, tersenyum sesaat. Ia tidak memperdulikan syarat apa yang diajukan wanita itu, yang penting ia harus keluar selamat dari lobang neraka ini.


Pukul tujuh malam, kedua orang tuanya sudah bersiap menuju rumah Clarissa, tapi tidak dengan Ervan ia masih berada dalam kamar mencari cara untuk berbicara dengan ayahnya, agar tidak terlihat mencurigakan, karena yang akan disampaikannya terlalu tiba-tiba.


Tok....tok....tok...


“Tuan muda, Tuan besar dan Nyonya sudah menunggu Anda dilantai bawah.”


“Katakan pada mereka, aku tidak mau pergi.” Teriaknya.


Tak lama, suara langkah kaki mendekat, membuka pintu dengan kasar. Ervan menelan ludah, saat ayahnya yang datang dengan tatapan tajam.


“Kau mau mempermalukan Papa lagi? Bukankah kita sudah membicarakan hal ini?”


“Maaf, Pa. Aku tidak bisa, jangan memaksaku.”


“Katakan pada Papa, apa kamu punya pacar? Jika ia, bawa kemari perkenalkan, maka Papa akan memikirkan perjodohan ini.”


“Aku tidak punya.”


“Lalu, kenapa kau menolak? Kenapa?” Suara papa semakin meninggi.


“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa,” Suara Ervan terbata, pikirannya terlintas tentang gadis itu, menangis dan bersimpuh di kakinya.


“Katakan pada Mama, sayang? Sebenarnya, kenapa kamu menolak?” giliran Mama yang membujuk putranya dengan nada yang lembut.


“A ... aku,” Air mata Ervan menganak sungai. “Aku pernah memperkosa seorang gadis, Ma.”


JEDAARR


“Apa?”


Mama tersentak, begitu juga papa, mereka menatap putranya yang tertunduk dengan air mata yang menetes jatuh diatas lantai.


“Ervan, lihat Mama. Apa itu benar? Katakan pada Mama?”


Ervan mengangguk, air matanya masih menetes jatuh.


“Aku minta maaf, Ma. Aku benar-benar tidak bisa, aku takut.”


Papa menghampiri putranya, ada perasaan marah menggelitik. Tapi saat melihatnya menangis, mengakui perbuatannya, ia tahu bahwa Ervan sudah menderita dengan rasa bersalah yang ia simpan dalam hati.


“Sekarang, bicaralah dengan jujur. Apa yang terjadi?”


Ervan mengangkat wajah, menatap kedua orang tuanya yang menuntut penjelasan.


Dua tahun lalu...


Ervan mengunjungi salah satu anak perusahaan mereka berada  di Kota XX, yang bergerak di industri minuman.


Ia diajak melihat perkebunan teh dan kopi, serta pabrik yang baru saja diresmikan untuk mengolah daun teh dan biji kopi. Disanalah ia bertemu Sarah, gadis yang bekerja sebagai penanggung jawab Quality Control.


Ervan terkesan dengan Sarah yang gesit dalam bekerja, bukan hanya itu ia juga cermat dan teliti. Saat berada di laboratorium pengujian, Sarah memberikan banyak penjelasan, membuat penilaian Ervan semakin tinggi terhadapanya, cerdas dan mampu mempresentasikan dengan baik. Saat itulah keduanya sering bertemu.


Selama seminggu Ervan berada di kota itu, selama itu pula, ia sering bertemu Sarah. Hingga saat malam kepulangan Ervan, ia diajak oleh manajer pabrik untuk merayakan keberhasilan mereka mengembangkan produksi terbaru. Ervan sama sekali tidak pernah menyentuh alkohol, tapi malam itu ia melanggar prinsipnya. Ia menghabiskan beberapa botol, hingga mabuk. Lalu, diantar pulang oleh salah satu karyawan di villa miliknya, di tempat itu Sarah sudah menunggunya, karena harus memberikan dokumen yang Ervan minta.


“Sarah, Pak Ervan mabuk. Tolong, bantu antar ke kamar.”


“Oh, iya, Kak.”

__ADS_1


Keduanya pun memapah tubuh Ervan masuk dalam kamar, lalu membaringkannya.


“Tolong selimuti dan buka sepatunya. Aku harus kembali, karena pak manajer masih berada di mobil.”


“Baik, Kak. Nanti, saya lakukan.”


Karyawan itu pun pergi, meninggalkan Sarah dengan seorang pria yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri.


Dengan hati-hati, Sarah membuka sepatunya, lalu perlahan mengangkat kepala atasannya untuk mengalaskan bantal, tapi pria itu terbangun, menatapnya dengan tajam.


“Maaf, Pak. Saya hanya mau mengalas kepala Bapak dengan bantal.”


Ervan menarik pinggang Sarah hingga menempel diatas tubuhnya, lalu mendaratkan ciuman di bibir gadis itu dengan paksa. Sarah meronta-ronta, memukul dada bidang Ervan. Ia segera berlari ke arah pintu, saat Ervan melepaskan tubuhnya. Tapi sayang, ia kembali tertangkap dan jatuh ke atas tempat tidur.


“Hiks, Pak. Tolong, tolong lepaskan saya.” Sarah mengiba, air matanya bercucuran, saat ia tahu apa yang akan terjadi padanya malam ini.


Dengan tenaganya yang tersisa, Sarah kembali melawan memukul-mukul dada Ervan, sambil berteriak meminta tolong dengan suaranya yang mulai serak. Ia terus mengiba dan memohon, agar Ervan tersadar, tapi semua sia-sia, pria itu sudah dikalahkan oleh nafsu.


Detik berikutnya, kehormatan yang Sarah jaga selama ini, akhirnya direnggut dengan paksa.


Kembali ke Ervan....


Setelah mendengar pengakuan Ervan, orang tuanya syok terutama mama. Ia mengelus dadanya, tidak percaya kenapa putranya sebejat ini.


“Sekarang, dimana gadis itu Ervan? Apa yang terjadi padanya?” Mengguncang bahu putranya dengan kuat.


“Dia ... dia ... " Ervan jatuh bersimpuh di hadapan orang tuanya. Lidahnya kelu, untuk menjawab.


"Ervan, jawab Papa."


"Dia hamil, Pa dan ...."


Ervan memegang pipinya, yang memanas. Ia tidak pernah melihat orang tuanya, semarah ini, apalagi menamparnya. Tapi, ia pantas mendapatkannya, lirihnya dalam hati.


"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Hah!" Papa semakin mengguncang bahu Ervan yang masih menunduk.


"Katakan, di mana gadis itu? Apa yang terjadi padanya?"


Ervan menggeleng, mulutnya terkunci untuk menjawab, sesuatu yang akan membuat orang tuanya murka.


BRUKK,


Papa dan Ervan menoleh, melihat mama yang jatuh tidak sadarkan diri.


“Mama,” teriak keduanya, lalu mendekat.


“Siapkan mobil, cepat.” Mengangkat tubuh istrinya, berjalan menyusul Ervan yang terlebih dahulu berlari keluar kamar.


Suasana rumah mencekam, saat tuan besar membawa turun istrinya dengan menggendongnya. Ditambah, Ervan yang berlari dengan wajah yang diliputi kecemasan. Kepala pelayan turut berlari ke halaman rumah, membuka pintu mobil, membantu tuan besar masuk. Ketiganya pun berangkat, dengan perasaan khawatir.


Depan pintu UGD, ketiganya sudah disambut para dokter, termaksud direktur rumah sakit, yang mendengar Nyonya besar jatuh pingsan. Mereka segera melakukan pemeriksaan, saat berada diruang penanganan, Ervan dan Papa menunggu dengan cemas.


Seorang dokter senior, keluar menemui mereka. Ia menunduk hormat, lalu menguraikan hasil pemeriksaannya dengan hati-hati.


“Bagaimana dengan istriku?”


“Nyonya sudah siuman. Ia perlu beristirahat, saat ini tekanan darahnya naik dengan drastis. Untuk itu, Nyonya perlu di rawat dan sebisa mungkin menjaga agar ia tidak stress.”


“Kami mengerti, dokter. Terima kasih.”


“Sama-sama, Tuan. Kami akan memindahkan beliau diruang perawatan.”

__ADS_1


Papa menatap Ervan, amarahnya sudah berkurang tergantikan dengan perasaan cemas akan sang istri. Menepuk kursi disebelahnya, mengajak untuk duduk.


“Van.” Menghela napas dengan berat. “Papa masih tidak percaya kamu sebejat itu!”


“Maaf, Pa.”


“Untuk saat ini, kamu jangan menemui ibumu, biar dia pulih dulu. Setelah, itu kita akan membicarakannya lagi.”


“Tapi, pa.” Menoleh.


“Jangan membantah, jika mama melihatmu, ia terus bertanya tentang gadis itu. Sebaiknya,


kamu pulang biar Papa yang disini.’


Mengangguk pasrah, ia berjalan pergi dengan langkah lesu, memperhatikan sekelilingnya. Tampak wajah-wajah murung mengisi ruangan ini, ada yang terdiam dengan air mata yang menetes, ada juga menunggu dengan tegar tapi wajah yang terlihat cemas. Sama dengan keadaanya saat ini, diliputi rasa cemas yang tak berujung.


Ervan masih terdiam dalam mobil, duduk bersandar dengan mata terpejam. Salah satu tangannya menyentuh kepala, apa aku harus jujur saja atau melanjutkannya? Gumamnya dilanda kebingungan.


Di dalam rumah sakit, Papa sudah mendorong brankar istrinya bersama para dokter dan perawat. Tepat di depan pintu ruangan, pria menggunakan jas putihnya, keluar dari ruangan yang berada dihadapannya.


“Alan.”


“Presdir,” Gelagapan, seketika memasang badan di depan pintu tempatnya berada.


Mati aku! Kenapa aku sial sekali?


“Ikut aku.”


Alan berjalan masuk dengan perasaan was-was, menerka-nerka, apa yang akan ditanyakan presdir padanya. Menunggu, dengan jantung yang akan melompat keluar.


“Duduk.”


“Terimakasih, Presdir.”


“Apa kamu sudah tahu keadaan istriku?” Menoleh ke ranjang pasien.


“Su ... sudah, Ervan baru saja menghubungiku.”


“Dimana gadis itu?” Papa tidak ingin berbasa-basi.


DEG


Bagaimana ini? Berpikir Alan, berpikir.


“Saya tidak tahu, Presdir. Sepengetahuan saya, Ervan meninggalkannya malam itu.” Tertunduk dengan kedua tangan saling mencengkam, dalam hati berdoa keselamatan.


“Bagaimana dengan, Tirta? Apa dia juga mengetahuinya?”


“Iya, Ervan menceritakan kepada kami.”


Papa mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya. Yang ditatap, semakin menciut, menatap kedua lututnya yang bergetar.


“Pergilah.”


Alan bangkit, menunduk hormat, sebelum berjalan membuka pintu dengan hati-hati, kembali menutupnya dengan napas yang terasa sesak. Haaa! Membuang napas lega, lalu mempercepat langkahnya meninggalkan ruangan itu.


Papa mendekati sisi ranjang, mengelus rambut istrinya yang tertidur karena pengaruh obat. Mengecup perlahan, menggenggam tangannya.


“Ma, cepatlah pulih. Papa akan mencari cucu kita, untuk menemani mama nanti. Mama juga akan punya menantu yang akan diajak berbelanja, seperti yang lainnya.” Kembali mengecup, lalu merogoh ponselnya.


“Daniel, selidiki apa yang terjadi tentang putraku di kota XX, dua tahun lalu.” Memutuskan sambungan telepon, setelah mendengar jawaban diseberang sana.

__ADS_1


__ADS_2